Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan

Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan
Harapan : Mimpi dan Kenyataan


__ADS_3

Dalam kepedihan yang mendalam itu, sebuah telephone masuk seakan memecah suasana tersebut. Itu Muslih teman baiknya. Rehan mengusap air matanya, mencoba kembali hidup selayaknya seorang lelaki yang kuat dan tegar.


“Iya.”


“Han, lu kenapa gak jawab chat dari gw?” Tanya Muslih.


“Iya maaf. Baru buka hp nih.” Rehan benar-benar tidak bisa menyembunyikan tangisnya. Nada suaranya agak menggetar karena menahan kepedihannya.


“Yaudah gapapa, Eh besok naruh lamaran yuk. Ada loker nih di Rumah Makan.”


“Boleh, jam berapa?” Tanya Rehan. Ia mulai agak tenang kali ini. Mungkin itu bisa menjadi jalan keluar atas masalahnya, pikirnya dalam hati.


“Jam 10”


……….


Tulisan-tulisannya kini sudah sangat terkenal, bahkan diantaranya menjadi buku paling dicari di dunia tahun ini. Ia kini sudah memiliki sebuah rumah berkat kerja kerasnya, sebuah rumah besar dengan 2 tingkat, yang mana dindingnya terbuat dari lapisan kaca yang tak mudah pecah, lantai lantainya berasal dari marmer terbaik yang nampak seperti sebuah air yang menggenang. Bahkan kini, ia memiliki sepasang kursi sofa dari bulu domba yang lebih empuk dari milik keluarga Rehan. Tak hanya itu, di rumahnya kini dihuni oleh beberapa gadis, gadis yang cantik nan seksi.


Begitulah keadaanya saat ini, tak ada yang perlu di tangisi lagi, segalanya sudah ada digenggamannya. Bahkan jika ia mau, ia dapat membeli semua orang yang menghinanya dahulu. Membungkam mulut mereka dengan uang-uang yang ia dapatkan berkat kerja kerasnya. Hidupnya dipenuhi dengan keglamoran dan kesenangan. Tak akan lagi ditemuinya, sebuah hidup yang dapat membuat siapa saja menangis karena mendengarnya dan kasihan kepadanya. Ia benar-benar tahu apa yang diinginkannya.


Namun dalam keadaan dimana kekayaan dan kepopuleran mengendalikannya, ia justru lupa akan segala masa lalunya, baik sahabat, ataupun keluarga. Dalam dirinya hanya terfikirkan soal uang dan uang. Baginya untuk sekarang harta di atas segalanya, apalagi ia memikirkan kembali saat ia masih berada di bawah, orang-orang justru membuatnya semakin jatuh. Disaat titik itu ia merasa sangat tidak berguna.


Dalam puncak kejayaannya itu, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya, Ia masuk ke Rumah Zero tanpa permisi sedikitpun saat Zero sedang duduk di kursi sofa bulu dombanya yang sangat empuk. Ia seorang pemuda 25 tahun-an, dengan perawakan agak kurus dan tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 163 cm. rambutnya diponi kesebelah kiri yang nampak seperti sebuah kuda poni yang tersambar angin. Tatapannya menandakan bahwa ia sangat mengenal Zero, namun Zero justru tidak mengenalinya. ia menghadap Zero dengan tampang marah, benar-benar tangannya makin mengepal. Zero keheranan atas itu karena ia tak mengenal siapa pemuda yang ada di depannya.

__ADS_1


“Kau telah melakukan sebuah hal yang merugikan dirimu sendiri. Segalanya yang bersamamu saat kau membutuhkan kini malah kau telantarkan. Kau Zero, sebuah angka nol. Ingat kata-kataku. Jika kau terus begini kau akan kembali kepada titik saat nama itu hanya menjadi nama yang dimiliki oleh pecundang. Bahkan lebih buruk dari itu. Ingat perkataanku.”


Setelah itu, pemuda tersebut berbalik pergi meninggalkan Zero yang agak kebingungan.


“Masih ada waktu untuk merubahnya. Nasib baik hanya akan datang pada orang yang baik.” Pemuda itu menutup pintu tersebut dengan sangat tidak sopan.


Zero tak kenal siapa pemuda itu, darimana asalnya atau siapa namanya. Yang jelas pemuda itu benar-benar seseorang yang tidak sopan. datang tanpa permisi, mengancamnya, dan kini malah pergi tanpa sebuah penjelasan.


Namun di dalam kebingungan itu, tiba-tiba suara ringtone, dengan penyanyi Ayu Ting-ting menggema. Suara itu makin mengeras dan mengeras. Zero mencoba menutup telinganya, namun sia-sia suara itu mampu menembus lipatan kulit itu dan menusuk gendang telinganya.


Suara itu makin memekik, Zero mulai kembali ke alam sadarnya. Ia sedang duduk di toilet jongkoknya. Ia menatap ke sekitarnya, “Apa yang terjadi?” tanyanya dalam hati.


Suara Ayu Ting-ting itu makin mengeras, ia mengangkat telephonenya yang ia simpan di saku sebelah kiri kolornya. Ia mengambil handphonenya, lalu mengangkat panggilan tersebut.


“Nak Zero, Rehan main kesana gak?” Tanya suara wanita tersebut dengan nada yang cemas.


“Sialan, demi cicak gurun. Masih untung handphone gw gak rusak,” maki nya di dalam kamar mandi itu.


Beberapa lama setelah kejadian tersebut, Zero langsung memakai pakaiannya, ia menuju ke teras depan rumahnya. Ia duduk di tempat itu, sambil memikirkan kejadian apa yang terjadi padanya tadi. Ia mengkhayal menjadi seorang yang kaya, lebih tepatnya seorang penulis yang kaya. Namun entah kenapa semua itu berubah. Seseorang tersebut mengancamnya, mengancamnya akan nasib buruk yang akan menimpanya.


“Siapa dia?” tanya Zero dalam hatinya.


“Jika orang itu datang cuman untuk menyengsarakan hidup gw. Gw bakal mencegahnya bahkan meskipun gw gak kenal orang itu,” gerutu nya dalam hati.

__ADS_1


Tiba-tiba suara motor terdengar. Sebuah motor bebek dengan 4 orang menaikinya, 2 orang dewasa dan dua orang anak kecil. Ternyata itu keluarganya. Zero masih terlihat melamun, sedang motor itu kini sudah tepat dihadapannya.


“Lihat, anak kita. Kerjaannya cuman melamun saja,” ucap Ayah Zero.


“hah, mau gimana lagi nyari kerja kan sekarang susah,” ucap Ibu Zero membalas ucapan Ayah Zero.


“Anak Pak Samad saja sudah kerja. Ini mah memang Zeronya aja yang malas, cita-citanya jadi pengangguran sukses mungkin.” Bersama dengan itu ia turun dari motor bebek tersebut. Dan langsung masuk ke rumahnya, diikuti keluarganya yang lain.


Zero yang tadinya tidak bereaksi. Kini langsung tersadar mendengar ucapan tersebut. Ia mungkin marah, mungkin juga sedih, mungkin juga gelisah, mungkin juga merasa tak berguna, segala perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Hidupnya kini benar-benar dipenuhi kebencian pada dirinya sendiri, yang tidak bisa berbuat sesuatu dengan umur yang sudah dewasa ini.


Kini ia mengingat masa lalunya saat baru dilahirkan dimuka bumi ini, semua seakan berharap pada bayi kecil itu, ayahnya, ibunya, neneknya tetangganya, buyutnya, semua sangat yakin pada bayi tersebut.


“Anak ini akan menjadi orang besar,” ucap Ayah Zero.


Begitu pula saat sekolah, saat SD, SMP, SMK, ia menjadi anak yang cukup pandai. Semua orang kagum padanya. Guru-guru sangat menghargainya, bahkan petugas kantin pun selalu memujinya.


“Anak pandai ini akan menjadi orang besar,” ucap seorang guru berkacamata itu.


“Teman kita ini akan menjadi orang besar,” ucap teman-temannya.


“Anak rakus ini akan menjadi orang yang besar,” ucap petugas kantin itu.


Namun kenyataannya, anak itu tidak menjadi apa-apa. Ia hanya menjadi orang yang besar, dalam artian yang sesungguhnya. Ia tidak menjadi dokter, guru, polisi, tentara, PNS, ia hanya menjadi orang besar, dengan berat 70 Kg. Benar-benar orang besar. Satu satunya waktu anak ini menjadi orang besar yang sukses hanyalah lewat mimpi dan khayalannya.

__ADS_1


Mohon Kritik dan Saran


Dari Seorang Pemula


__ADS_2