Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan

Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan
Muslih


__ADS_3

………..


Di lain tempat, di sebuah perumahan kecil, perumahan yang sebenarnya adalah sebuah perkampungan, namun rumahnya terkesan rapi hingga menyerupai sebuah perumahan. Nampaklah sebuah rumah kecil, rumah sempit yang bewarna kuning, di dalamnya seorang pemuda masih duduk di atas kasurnya.


Siang itu, ia tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan. Setidaknya ia sudah bangun dari pukul 8 pagi, setelah ia mandi dan bersih-bersih, tak ada kegiatan lagi yang ia lakukan. Ia pun memutuskan duduk di atas kasurnya, menatap sebuah cermin. Cermin kaca yang ditempatkan tepat di depan kasurnya. Bayangan itu adalah wajahnya, ia menatap cermin itu.


“Hah, siapa aku?” ucap Muslih dengan nada lusuh


“Aku Muslih, tapi siapakah Muslih itu? ” ucapnya kembali.


"Muslih bukan siapa-siapa," jawabnya yang seakan-akan menjawab pertanyaan nya sendiri.


Ia tak seperti pemuda yang ia kenal 3 bulan lalu. Setelah ia lulus ia jadi agak sedikit menggunakan akalnya, sedikit memperdulikan apa yang saat sekolah tak pernah ia pedulikan. Padahal saat sekolah ia tak peduli apapun, mungkin segalanya. Semua yang ada di hadapannya nampak begitu tak menarik saat itu. Tetapi setelah lulus sekolah, ia sudah berubah, mungkin, atau justru ia sedikit gila karena itu.


Ia terus memandangi cermin itu. Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya muncul dari belakang pintu itu, mungkin usianya sekitar 50 tahun, dengan badan yang agak gempal dan tatapan yang menakutkan. Ia menghampiri Muslih yang sedang memandang ke arah cermin. Ia memegang pundaknya. menepuk-nepuk pundaknya beberapa kali.


“Gimana, udah dapat?” tanya Ayah Muslih.


“Belum yah,”


“Udah sabar, nih ada lowongan kayaknya sih sedang butuh banyak, besok daftar deh, nanti Ayah yang nemenin,” ucap Ayah Muslih.

__ADS_1


Ayah Muslih terkesan peduli sekali, meski tatapannya menakutkan namun di depan anaknya ia menjadi seorang yang amat peduli, lemah lembut, dan selalu mendukung keinginan anaknya. Ayah Muslih selalu menyuruh Muslih untuk segera mendapatkan pekerjaan, mungkin karena Orang tua Muslih masih memiliki anak di SMK itu, dan ia membutuhkan banyak biaya untuk biaya bulanan. Setidaknya jika Muslih sudah bekerja, ia dapat membantu menanggung biaya sekolah adiknya.


“Gak usah yah, aku sama temenku aja,” ucap Muslih.


“Ouh gitu, yaudah deh, kesana loh ya beneran jangan sampai nggak,” ucap Ayah Muslih yang mulai berjalan meninggalkan Muslih sendirian.


Muslih menghela nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Ia menatap ke arah kasurnya. Masih berantakan. Ia berniat merapikannya,


“Nah ini dia,” ia mengambil handphone nya yang sebelumnya tertutup sprei kasurnya. Ia menghubungi temannya, Zero, dan juga Rehan.


“P”


“Han, ada lowongan nih, daftar yuk besok.”


Ia melampirkan sebuah foto, foto sebuah loker di rumah makan. lalu ia lanjut menghubungi Zero.


Setelah itu, Muslih melemparkan handphone nya ke atas kasur, kasur itu masih berantakan, Muslih sudah tak peduli untuk merapikan kasurnya, pikirannya sudah tertuju kepada hal lain.


Ia berjalan menuju ke sudut ruangan yang lain, ia menemui ayahnya yang sedang tertidur di kasur itu, di dalam kamar yang amat sempit mungkin sekitar 2 × 4. Semalaman ayahnya harus bekerja, ia menjalani shift malam yang begitu melelahkan di sebuah pabrik sumberdaya alam.


“Yah....” Muslih sedikit menggoyangkan badan ayahnya.

__ADS_1


Ayahnya pun bangun, ia membalikan badannya, menatap Muslih dengan wajah yang masih mengantuk, “Ada apa?”


“Besok motornya aku bawa ya”,


“iya, iya.”


Begitulah Muslih menjalani hari-harinya, ia tidak bisa pergi kemana-mana karena harus bergantian sepeda motor dengan ayahnya karena jadwal kerja ayahnya sangat tidak pasti, terkadang ia berangkat pagi pulang sore, terkadang ia berangkat sore pulang malam, terkadang pula ia berangkat malam pulang pagi. Begitulah tak ada yang bisa diperbuat, karena ia hanyalah seorang bawahan.


Namun itu tak menjadi persoalan saat sekolah dulu, saat sekolah Muslih berangkat dengan sepedanya, sebenarnya bukan ia saja, Zero dan Rehan pun seperti itu. Mereka tak gengsi akan itu, meskipun kebanyakan anak sepantaran mereka sudah memiliki kendaraan pribadi, melewati kehidupan mereka melalui kisah cinta yang problematic, pergi ke sana kesini, hiburan, foya-foya lalu meng-upload nya di sosmed. Namun itu tak terjadi pada ketiga kawan kita ini, meskipun mereka kadang iri akan hal itu, namun mereka sadar siapa dirinya dan siapa orang yang mereka irikan.


Meski terkadang keinginan mereka melampui tindakan mereka, namun hal itu justru yang menguatkan segala tekadnya, tekad untuk menjadi lebih. Dengan harapan yang sebenarnya sudah mereka impikan, setidaknya untuk menjadi orang yang berguna.


Namun itu dulu, sebelum mereka lulus sekolah, sekarang mereka hanya menjadi pengangguran di rumah, menjalani hidup yang amat membosankan dengan cacian-cacian di setiap perjalanannya. Sekarang harapan mereka hanya satu, memiliki sebuah pekerjaan.


………..


Mohon saran dan kritiknya


Dari seorang pemula


 

__ADS_1


__ADS_2