Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan

Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan
Sahabat


__ADS_3

Setelah mengantarkan Rina, Rehan tak langsung pulang ke rumahnya. Ia mampir ke warung kopi di pinggir jalan. Warung kopi itu milik seorang mantan napi. 5 tahun setelah ia keluar dari penjara ia memutuskan membangun usaha dan berniat meninggalkan pekerjaan kotor masa lalunya itu. Mamat Kojek namanya, Rehan sering mampir ke tempat itu untuk sekedar merokok atau minum kopi. Baginya warung kopi itu seperti rumah keduanya, ia akan selalu menyempatkan waktu untuk mampir ke warung itu.


Ia memesan sebuah kopi. Kopi yang sangat pahit. Nampak Mamat Kojek terlihat sibuk menyiapkan pesanan Rehan, dan menyeduh air dari sebuah tungku. Sesekali ia meniupkan api di tungku itu dengan bambu. Jika api itu terlihat mengecil ia menambahkan kayu bakar dan kulit kelapa yang kering agar api tetap menyala.


Ia terkadang melirik ke arah Rehan, nampak Rehan menempelkan pipinya ke atas meja, ia terlihat sangatlah lesu. Saat segelas kopi sudah selesai di buat, ia meletakannya di samping Rehan. Rehan pun bangkit, matanya terlihat memerah, pandangannya kosong. Rambutnya sangat acak-acakan. Benar-benar seperti orang mabuk.


“Lu kenapa, Han?” tanya Mamat Kojek yang keheranan dengan anak itu. Biasanya ia tak terlihat sebegitu kacaunya.


“Gapapa, Bang,” jawab Rehan. Namun sekejap ia memikirkan sesuatu, Mamat Kojek pasti dapat memberikan solusi atas masalahnya.


“Bang lu kenal Rina kan? Pacar gw. Dia minta nikah, Bang.”


“Ya tinggal nikahin lah. Kasihan anak orang digantungin.”


Rehan mengambil sebatang rokok. Ia menyalakan rokok tersebut dan menghisapnya. Ia tak bersuara sejenak. Selang beberapa kedipan mata ia menghembuskannya. Asap terlihat mengebul dimana-mana. Perasaannya mulai agak sedikit tenang.


“Bukan gitu bang, lu tahu kan gw masih pengangguran. Mau kasih makan apa tuh anak orang.”


“Hadeh lu aneh ya. Lu gak lihat gw. Seorang mantan napi bisa buat usaha sendiri. Apalagi lu yang lulusan SMK”


“Tapi kalau buat usaha kan biayanya banyak.”


“Lu kan anak orang kaya, minta aja sama bapak lu.”


Namun Rehan kali ini tak setuju dengan ucapan Mamat Kojek. Meskipun ia anak orang kaya namun ia juga anak orang pelit. Jangankan untuk modal usaha, untuk biaya bulanan waktu sekolah saja susahnya minta ampun. Ia berfikir sejenak, Mamat Kojek pasti punya cara agar cepat mendapatkan uang.


“Bang, lu punya cara biar bisa dapat uang banyak dalam waktu singkat gak?”


Mamat Kojek benar-benar seorang yang berpengalaman. Ia jelas sudah tahu tentang segalanya. Namun ia tak langsung menjawab, ia berfikir sejenak. Hingga akhirnya ia mengucapkan sesuatu,


“Abang benci mengatakan ini, tapi Abang tahu caranya. Meskipun begitu Abang justru menyarankan agar lu gak melakukannya. Karena untuk mendapatkan uang banyak dengan cepat tidak bisa dilakukan dengan cara-cara baik ditambah resiko nya yang bahaya bisa membuat lu bernasib seperti abang. Tapi abang tahu lu udah dewasa, lu tahu mana yang baik dan mana yang buruk buat lu.”


“Cara apa tuh, Bang?

__ADS_1


“Merampok”


……….


Keesokannya sesuai apa yang mereka rencanakan, mereka datang ke tempat tersebut, tepatnya 500 meter dari rumah makan dengan 2 sepeda motor, dimana Zero berboncengan dengan Muslih, dan Rehan membawa sepeda motornya sendiri. Mereka datang tepat pukul 10. Mereka sudah sangat rapi dengan kemeja putih dan celana hitam, mereka membawa beberapa amplop coklat, karena mereka berniat tidak hanya meletakkan lamaran ke tempat itu saja, namun ke beberapa tempat lain.


Sebuah rumah makan yang cukup terkenal di daerah tersebut. Disana menyediakan berbagai macam olahan ayam, pelanggannya pun cukup banyak. Begitu juga dengan karyawannya. Mereka menghadapnya, menatap dengan jelas sebuah spanduk lebar nama rumah makan tersebut “Rumah Makan Ayam Baik”. Mereka pun melangkahkan kakinya masuk ke rumah makan tersebut.


Zero sedikit memantaskan pakaiannya, ia sedikit gugup. Terlihat beberapa kasir dengan pakaian seragam lengkap, menyambut mereka.


“Selamat datang di Rumah Makan Ayam Baik. Ada yang bisa saya bantu?”


“Kami ingin melamar pekerjaan di sini,” ucap Muslih. Mereka mencoba memberikan kesan yang baik. Dengan senyuman yang terkesan dipaksakan itu.


“Ouh baik. Silahkan tinggalkan dokumennya.” Ketiga teman kita ini memberikan dokumennya kepada kasir tersebut.


“Tunggu panggilan selanjutnya ya."


Kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah pabrik pembuatan kain. Disana Nampak pabrik yang cukup besar dengan dinding berwarna putih dengan sedikit pola garis-garis. Seorang satpam sudah menghadang kami di depan pintu. Mereka pun menyodorkan lamaran tersebut, namun satpam langsung menolaknya dengan alasan pihak perusahaan tidak membutuhkan seorang lelaki.


Akhirnya mereka berhasil menghabiskan lamaran tersebut, akan tetapi saat hendak pulang. Tiba-tiba ban belakang sepeda motor milik Muslih bocor. Sebuah hal yang tidak diinginkan, ditambah tak nampak dalam pandangan mata mereka tambal ban yang dekat dengan daerah tersebut.


“Bannya bocor Mus?” tanya Zero yang nampak kebingungan saat itu.


“lo keberatan sih!”


“loh kok lo nyalahin gw!”


“Udah-udah lebih baik kita tuntun sampai ke tambal ban,”ucap Rehan berusaha memisahkan.


……….


Ia sadar kedua temannya itu sama-sama memliki watak yang keras. Hingga terkadang ia yang harus memisahkannya. Bahkan saat sekolah dulu mereka hampir bertengkar hanya untuk sebuah masalah yang sebenarnya tidak terlalu penting. Namun memang hal tersebut sering menjadi pertengkaran di seluruh dunia.

__ADS_1


“Bumi itu datar.” Muslih dengan tegaknya mengatakannya di depan teman-temannya di kantin milik Wa Sum.


“Tolol lu! Bumi itu bulat!” ucap Zero yang agak memekik.


“Apa lo bilang, lu yang *****! Bumi itu datar!” ucap Muslih, sambil menyergap kerah baju Zero. Ia menggenggamnya dengan erat.


Dalam keadaan seperti itu Zero masih tak mau kalah, ia masih berpegang teguh pada pengetahuanya. Pembuktiannya sudah jelas bahwa bumi itu bulat. Namun Muslih tidak mau menerimanya, tak terelakan Muslih memukul muka Zero, hingga berdarah pada bibir sebelah kirinya. Dalam keadaan seperti itu, Rehan lah satu-satunya yang bisa diandalkan. Hanya dia yang mampu memisahkan pertengkaran mereka.


“Mau bulat atau datar, itu bukan alasan kalian untuk bertengkar. Kalian berdua itu teman, tidak boleh bertengkar apapun alasannya.”


Ucapan itu cukup meredakan pertengkaran yang memanas itu. Keduanya pun sedikit tenang.


Namun anehnya, meski kedua teman kita ini sempat baku hantam, dalam sekejap saja kedua teman kita ini kembali akur. Seperti tak pernah terjadi sesuatu pada mereka. Hal itu melegakkan Rehan dan teman lainnya.


“Jika kalian benar kalian tidak akan mendapat apa-apa dan jika kalian salah kalian juga tidak mendapat apa-apa. Benar dan salah kadang sulit untuk diprediksi,” tambahnya.


Namun dalam kericuhan yang sempat mereda itu, seseorang dari ujung gang kantin itu menyeloteh,


“Bumi itu segitiga sama sisi.”


Semua orang menatap ke arah suara tersebut. Tak terelakan kedua teman kita tersebut langsung menyerbu ke arah suara itu. Diikuti teman yang lain yang tak ingin kehilangan momen itu.


“Hajar dia,” ucap Rehan yang kini paling bersemangat untuk menyerbunya.


“Eh kita kan gak boleh berantem sama teman sendiri,” ucap Zero kepada Rehan.


“Emang lo kenal dia?


“Gak.”


“Yaudah hajar.”


Begitulah keadaan mereka. Sebagai 3 sekawan yang sangat akrab sudah jelas perkelahian akan sering terjadi menjadi bumbu persahabatan tersebut. Namun itu bukan alasan untuk bermusuhan hingga berlarut-larut. Pertengkaran tersebut justru menjadikan mereka semakin dekat dan kompak. Begitulah seni dalam persahabatan. Segalanya begitu indah bahkan jika itu menyangkut kekurangan.

__ADS_1


Mohon Kritik dan Saran


Dari Seorang Pemula


__ADS_2