Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan

Harapan? : Antara Mimpi Dan Kenyataan
Antara Uang dan Muslih


__ADS_3

Beberapa hari ini nampak ia semakin giat membaca buku. Kemarin saja ia berhasil menamatkan sebuah buku karya "Pramodya Ananta Toer" dalam waktu 1 hari. Mungkin memang karena ia memiliki banyak waktu luang, hingga untuk menamatkan sebuah buku saja itu bukanlah hal sulit baginya. Hari ini ia berniat membeli sebuah buku baru. Buku-buku di lemarinya nya sudah ia baca semua dan itu cukup membuatnya agak gelisah. Benar-benar Zero adalah penggila buku.


Pagi itu Ayah Zero sibuk dengan kegiatannya di rumah, sehingga motor tersebut tidak terpakai untuk hari ini. Ayah Zero terlihat sedang membuat cetakan untuk menyablon. Zero pun menghampiri ayahnya. Ia menatap ke luar rumah, hari ini sangat cerah, pikirnya.


“Ayah bolehkan aku pinjam motornya?”


“Mau kemana?"


“Aku mau membeli sesuatu. Hanya sebentar saja. Tidak lama.”


Ayah Zero hanya mengangguk. Mungkin karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


Zero pun segera mengambil jaketnya yang digantungkan di kamarnya, lalu bergegas mengambil helm dan naik ke motor tersebut.


Zero seseorang yang agak malu. Hingga ia merasa kurang percaya diri jika harus membeli di toko buku sendirian. Ia mengingat muslih saat itu, ia pun berniat pergi ke rumah Muslih.


Zero menyusuri perkampungan itu, sebuah perkampungan yang lebih pantas disebut perumahan. Nampak rumah-rumah berjejer rapi, sesekali ia melihat anak-anak sekolah yang berjalan hendak berangkat sekolah.


“Anak yang bahagia…,” ucap Zero.


Suaranya begitu kecil kerana teredam helmnya hingga orang diluar tidak bisa mendengar apa yang diucapkannya.


Ia membelok di tikungan itu, sebuah tikungan dengan gapura kayu yang agak kehitaman, mungkin karena bekas cat atau semacamnya.


Motornya kini berhenti, di sebuah rumah yang begitu kecil namun rapi, di luarnya terlihat sangkar burung dengan seekor burung yang terus-menerus berdecit. Zero menatap rumah tersebut, agaknya ia tidak terlalu yakin bahwa penghuni rumah ada di dalamnya. Namun itu tidak menjadi persoalan, ia tetap turun dari motornya dan beberapa kali mengentuk pintu tersebut.


“Mus....”


Seeorang terlihat membukakan pintu. Matanya masih kabur dengan bola mata yang memerah. Rambutnya sangat berantakan, begitu juga pakaiannya yang hanya menggunakan kolor dan baju yang terlihat sobek di bagian ketiaknya.


“Baru bangun?” tanya Zero.


Namun Muslih hanya mengangguk, ia mempersilahkan Zero untuk duduk di depan terasnya. Lalu ia masuk kembali ke rumahnya.


Setetlah beberapa lama, Muslih keluar dari rumah tersebut. Mukanya terlihat sudah dibasuh dengan air hingga kini wajahnya terlihat lebih segar.

__ADS_1


“Ada apa pagi-pagi begini Ro?”


“Pagi? Matahari sudah terik begini kau sebut pagi?”


Muslih sedikit tersenyum hingga nampak giginya yang masih menguning itu.


“Alah untuk seorang pengangguran seperti kita bukannya ini masih pagi.”


Zero tak menjawab pernyataan tersebut. Ia justru memalingkan pandangan ke arah dalam rumah tersebut, rumah tersebut sangat sepi walaupun sebenarnya ibu Muslih masih berbaring di kasurnya.


Muslih menatap Zero yang kini matanya menjelajahi rumahnya. Ia terlihat agak ragu, nampak raut mukanya yang sangat gelisah.


“Ro, gw pinjam uang lu. Boleh gak?”


“Hmmm,,, buat apa?”


“Gini, lu kan tau adik gw kan masih sekolah dan bentar lagi akan ada ujian di sekolahnya. Lu kan juga tahu penghasilan orang tua gw boleh dibilang pas-pasan lah…” Ia belum sempat menyelesaikan ucapannya.


“Langsung ke intinya aja, jangan berbelit-belit,” ucap Zero yang memotong ucapan muslih.


“Gw mau pinjam uang.”


“Berapa?”


“Yah, Ayah gw udah gak bayar sekolah adik gw selama 3 bulan ini. Dan ya lo tahu kondisi keluarga gw akhir-akhir ini gimana. Ibu gw dari kemarin sakit-sakitan dan ia perlu biaya cukup banyak. Sedang penghasilan ayah gw masih pas-pasan”


“Berapa?” cegat Zero.


“600 ribu”


“Gila! Lu minta uang sebanyak itu ke seorang pengangguran.”


Zero Nampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya di saku celanya ada beberapa uang mungkin sekitar 100 ribu, namun uang itu akan digunakannya untuk membeli buku yang ia inginkan.


“Gw gak tahu harus minta ke siapa lagi”

__ADS_1


“Bahkan stok obat ibu gw hampi habis. Dan harganya cukup mahal.” Kini raut muka muslih agak memerah. Matanya terlihat berbinar-binar namun ia mencoba mengusapnya dengan tangannya.


Namun ia mencoba untuk tegar. Meskipun sangat terlihat sekali raut muka muslih begitu bersedih.


“Ouh yah. Tadi lu kesini mau apa?”


“Ah gak. Gw Cuma mau tanya. Lu udah dapat panggilan belum?” Zero Nampak sedikit tidak enak hati dengan temannya itu. Ia merasa bahwa temannya memerlukan waktu untuk sendiri. Dan bukan waktunya untuk mengajaknya ke toko buku.


“Belum”


“Ouh gitu ya. Yaudah deh gw pulang dulu.”


Zero begegas bangkit dari tempatnya. Ia langsung menaiki motornya. Ia sadar bahwa kawannya itu sedang tidak ingin diganggu, yang ia inginkan hanyalah uang untuk membayar biaya sekolah adiknya dan juga untuk membeli obat ibunya. Zero pun tak kuat hati atas itu, ia ingin sekali membantu temannya namun dikantongnya hanya ada uang 100 ribu dan akan dipergunakan untuk membeli buku.


Namun tak habis akal ia teringat oleh Rehan. Zero langsung menancapkan gas menuju ke rumah Rehan. Namun setelah ia sampai di rumah Rehan temannya itu tidak ada di rumah. Ibunya bilang kalau dia tidak tahu dimana anaknya dan dari kemarin anaknya itu tidak pulang ke rumah kembali. Ibunya berpesan kalau ia bertemu dengan Rehan, ia diminta untuk membujuknya untuk pulang ke rumah. Zero pun hanya mengiyakan.


Namun dalam keadaan seperti itu, Zero tahu kemana ia harus pergi. Ia sangat paham dengan temannya itu karena mereka adalah teman baik. Sudah jelas apa yang orang tua Rehan tidak tahu ia tahu.


“Ia pasti ke tempat Mamat Kojek,” pikir Zero di perjalanan menuju warung kopi tersebut.


Ia kini sudah sampai di warung kopi milik Mamat Kojek. Sebuah warung kopi dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Atapnya ditutupi dengan seng yang berkarat. Namun itu cukup untuk melindungi orang yang di dalamnya dari panas dan hujan.


Pintu terlihat dibiarkan terbuka sehingga siapa saja ynag lewat di depannya dapat mengetahui apa yang terjadi didalamnya.


Benar saja, Rehan terlihat duduk disana. Ia nampak sedang berbicara dengan Mamat Kojek, sebuah pembicaraan yang agaknya mengasyikan.


Zero pun turun dari motornya, ia langsung masuk ke warung tersebut. Namun sebelum ia berucap sesuatu Rehan buru-buru menyambarnya.


“Nah ini dia orangnya. Kawan baikku.”


Ia merangkul zero dengan ketatnya. Tangan kanannya terlihat mengalungkan diri di pundak Zero. Zero agak risih dan dengan tanganya ia mencoba menyingkiran tangan Rehan dari pundaknya.


“Duduk duduk.” Rehan menyuruh temannya untuk duduk di kursi panjang itu.


Mohon Kritik dan Saran

__ADS_1


Dari Seorang Pemula


__ADS_2