
Tak terasa sudah sekitar 2 Km mereka menuntun sepeda motor itu. Mereka nampak sudah mulai kelelahan. Sepanjang jalan Zero dan Muslih menuntun sepeda motor yang bocor itu. Begitu juga Rehan, meski ban motor nya tidak bocor namun sebagai kawan yang baik ia dengan sukarela menuntun sepeda motornya itu.
Hingga akhirnya di ujung jalan ketika jalan yang lurus itu berubah membelok, mereka melihat sebuah tambal ban yang sangat kecil. Bahkan sangat kecil sehingga mereka sempat tidak yakin dengan apa yang mereka lihat. Namun setelah mendekat mereka menyadari bahwa itu benar-benar tambal ban. Mereka pun senang akan hal itu, dan segera menuntun dengan cepat sepeda motor tersebut ke tempat tambal ban itu berada.
“Bang, tambal bang”
“Ouh iya, Dek,” ucap pemilik tambal ban yang sudah tua.
Tambal ban tersebut sangatlah sepi, tak nampak dalam pandangan mata satu atau dua orang yang menambalkan bannya. Itu semua sangat jelas karena letaknya yang jauh dari perkampungan atau perkotaan, mungkin hanya sedikit kemungkinan orang yang bersliweran di daerah tersebut.
Kalaupun misal ada, mungkin saja itu orang yang kesasar yang tidak tahu jalan, atau orang bodoh saja yang berusaha menghindari polisi namun justru terdampar di tempat tersebut atau memang orang yang benar-benar bodoh. Benar-benar kemungkinannya kecil seseorang bisa menimpa sial di tempat seperti itu.
Sang pemilik tambal ban tersebut mengambil peralatannya, ia mencoba melepaskan ban tersebut. Meski dengan peralatan yang seadanya dengan 2 buah linggis saja, karena memang hanya itu peralatan yang ia punya. Sang pemilik sebenarnya sudah terlalu tua untuk pekerjaan itu, terlihat sekali dari caranya yang sangat susah payah untuk melepaskan bannya.
Namun diluar dugaan pemilik tambal ban itu berhasil melapaskannya meskipun waktu yang dibutuhkan cukup lama. Setelah berhasil, ia mengambil sebuah ember yang berisi air dan memasukan ban dalam yang sudah dilepaskan itu. Sesekali ia menatap ke tiga pemuda tersebut, yang kini sudah duduk di sebuah kursi kayu yang kropos.
Pandangannya sedikit mengamati dengan teliti ke arah ketiga teman kita ini dengan pandangan yang aneh. Setelah beberapa kejapan mata pandangannya berpaling kembali ke pekerjaannya.
“Dek, habis melamar pekerjaan?” tanya pemilik tambal ban tersebut.
__ADS_1
Tangan-tangannya terlihat dengan kaku menyalakan sebuah alat pemanas. Ia meletakkan ban tersebut di alat tersebut. Lalu duduk menghadap ke arah tiga kawan kita ini.
“Iya, Pak. Ternyata susah ya Pak cari pekerjaan,” jawab Muslih
“ya memang seperti itu, Dek”
“Maaf ya, Dek. Bapak boleh kasih nasihat gak?”
“Boleh, Pak,” jawab Muslih
“Gini ya. Kalau kalian sudah dapat pekerjaan. Kalian jangan pernah percaya kepada siapapun. Di dunia pekerjaan semua bisa menjadi lawan bahkan orang yang terlihat baik sekalipun. Tak terkecuali teman akrabmu sendiri. Dunia kerja adalah dunia yang mengerikan. Jadi Bapak sarankan agar berhati-hati.”
“Kalian liat orang tua ini” ia menunjukkan tangannya ke mukanya sendiri, “Ia dulu orang hebat di departeman pemerintahan, dengan jabatan yang terpandang pula, sehingga ia bisa berseol kemanapun ia mau. Tetapi sekarang kalian lihat bagaimana nasibnya? Mengerikan. Dan jadi apa sekarang ia? Seorang penambal ban. Dan itu semua terjadi karena temannya. Temannya melaporkan sesuatu kepada atasannya yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan. Dan itu membuat orang tua ini dipecat dari pekerjaan. Dan sekarang bagaimana hidupnya? Ia menjadi seorang penambal ban yang menyedihkan.”
“Dan kalian tahu, dunia pekerjaan dipenuhi dengan muslihat dan tipu daya. Apapun bisa terjadi di dalamnya. Kau pernah dengar berita tentang seorang penipu? Disana kalian akan melihatnya, tidak hanya satu atau dua. Mungkin semua. Apalagi para atasan atasan yang akan membuatmu harus mengucurkan keringat lebih. Membakar lemak-lemak kalian hingga menjadi seorang yang kurus kering. Menyuruh kalian bekerja seperti mesin dan melakukan pekerjaan keras hingga kalian cukup diam menerima semua ini, jam kerja yang lebih banyak, berkurangnya gaji dan lemburan yang panjang. Kalian akan mengalami kehidupan kritis dengan ancaman yang menghadang dimana-mana. Dan kau tahu dimana mereka saat kalian berada dalam posisi kritis? Mereka bermain golf di taman-taman rumah mereka atau memandikan anjing mereka.”
Si pemilik tambal ban menghentikan ucapannya. Ia menatap ke arah tungku pemanas itu. Ia mengambilnya, menatapnya dengan seksama berulang-ulang kali. Membolak-balikkan ban tersebut. Setelah dirasa benar, ia memasang kembali ban tersebut. Ia masih terlihat sangat payah dalam memasangnya. Mungkin butuh waktu 5 – 10 menit. Namun ketiga teman kita sangat sabar menunggu.
“Sudah, Dek,” pemilik tambal ban berdiri. Dan membetulkan posisi sepeda motor itu.
__ADS_1
“Ouh makasih ya, Pak,” Muslih memberikan 5 lembar uang seribuan dan 10 koin 5 ratusan.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke rumah.
Setelah ketiga teman kita sudah jauh meninggalkan tempat itu. Pemilik tambal ban mengambil sebuah kaleng. Sebuah kaleng yang sudah penyok di kedua sisinya, kaleng itu berisi paku-paku kecil. Ia berjalan agak menjauh dengan motornya dari tempat itu mungkin 500 meter. Ia terlihat menyebar kan paku tersebut diperjalanan ke arah tambal ban.
“Dasar anak bodoh,” ucap Bapak Tua itu. Nampak bibirnya agak menyeringai yang dilanjut dengan gigitan paku di ujung kiri bibirnya. Ia masih melanjutkan kegiatannya menyebarkan paku kecil hingga menjauh dari tempat tambal ban tersebut.
………
Mereka masih menunggu panggilan tersebut. Sudah hampir 5 hari mereka meletakkan lamaran namun tak kunjung ada berita baik dari pemilik perusahaan. Itu membuat mereka sedikit putus asa.
Begitulah keadaan mereka, Padahal pekerjaan itu amatlah dibutuhkannya. Beberapa hari ini Rina semakin sering menanyakan kepada Rehan tentang kejelasan hubungannya ditambah dengan janji yang diucapkan nya itu jelas membuat Rina merasa diberi harapan.
Begitupula Muslih yang terlihat sangat gelisah, sudah dua bulan ayahnya belum sanggup membayar uang bulanan adiknya, adiknya pun terancam tidak bisa mengikuti ujian jika adiknya tidak membayar kan untuk bulan ke tiga.
Diantara ke-tiga teman kita, Zero lah yang terlihat cukup beruntung, meskipun ia sama-sama belum bekerja. Namun masalahnya hanya sebatas pada penilaian saja, dan ia tidak terlalu memusingkan itu. Baginya hidup mendengarkan omongan orang adalah kehidupan yang sia-sia.
Dalam masa penganggurannya, Zero menulis beberapa tulisan-tulisan, baik puisi, novel, atau cerpen. Ia sangat suka pada dunia literasi. Hari-harinya pun dipenuhi dengan membaca buku dan menulis sesuatu. Ia seringkali berkhayal bahwa ia akan bisa membukukan tulisannya itu, hingga ia bisa menjadi penulis yang sukses.
__ADS_1
Mohon Kritik dan Saran
Dari Seorang Pemula