Harus Bagaimana

Harus Bagaimana
senyum para pekerja


__ADS_3

abdullah berjalan menapaki jalan setapak yang sudah dicor semen agar mempermudah para pekerja mengangkut buahan dari kebun ke gudang untuk pengepakan, tak hentinya ia bersyukur melihat hasil panen nenek yang melimpah serta kegigihan sang nenek meneruskan usaha yang dirintisnya bersama almarhum sang kakek yang telah berpulang sejak abdullah masih berusia 1 tahun.


tak jauh dari tempatnya berdiri abdullah melihat beberapa pekerja yang sedang membawa gerobak yang disandingkan dengan motor roda dua membawa hasil panen menuju ke gudang untuk ditimbang dan pilah sesuai kualitas buah,


para pekerja sangat mengenal juragan kecil mereka karena merupakan cucu Satu-satu nya pemilik kebun tempat mereka bekerja


"selamat siang den" sapa salah satu pekerja yang melintas


"siang juga pak, gimana hasil panen hari ini?? " tanya abdullah sambil tersenyum


"alhamdulillah, melimpah den. berkat usaha nyonya yang tak pernah lelah mengajarkan kami caranya agar terhindar dari hama" jawab sang pekerja


"alhamdulillah kalo begitu pak" "oh iya, nenek dimana ya pak, tadi aku ke gudang tapi kayak nenek gak ada, " ucap abdullah

__ADS_1


"oh, itu den nyonya ada di kebun bantu petik hasil panen"


"ya, udah kalo gitu aku ke sana dulu ya pak" "mari"sambil menundukkan kepalanya tanda menghormati orang yang lebih tua darinya,ya itu la abdullah, walaupun ia cucu seorang pemilik perkebunan namun tak membuatnya menjadi tinggi hati baginya derajat tiap manusia itu sama


tak berapa lama akhirnya ia sampai di tempat neneknya yang sedang memetik buah


" assalamu'alaikum nek"sapa abdullah


"Wa'alaikum salam", " eh cucu nenek dah sampai "


"alhamdulillah, hasil panen kali ini berlimpah berkat kerja keras para pekerja yang merawat dan menjaga kebun buah dengan sepenuh hati"" jawab nenek sambil tersenyum


sambil mengedarkan pandangannya abdullah juga membantu memetik buah yang telah matang,tak begitu jauh abdullah melihat beberapa remaja gadis yang juga sedang memetik buah di kebun neneknya bersama beberapa ibu-ibu yang juga sedang bekerja

__ADS_1


"nek, itu beberapa anak-anak yang sedang memetik buah apa juga bekerja disini?? "tanya nya pada sang nenek


" oh anak-anak gadis itu, iya mereka membantu kedua orang tuanya bekerja disini"


"emang mereka tidak sekolah nek" masih dengan rasa penasaran nya


"mereka masih sekolah, sepulang sekolah biasanya mereka dijemput ayah ataupun ibunya buat bantu di kebun, karena di rumah mereka terkadang tak ada orang kalo lagi musim panen bukannya apa kan takut aja jika anak gadis seorang diri di rumah yang sepi, karena itu kebanyakan dari para orang tua membawa anaknya kekebun, lumayan la buat tambahan jajan mereka katanya""jelas sang nenek panjang lebar, abdullah hanya mengangguk-angguk kepala tanda mengerti atas apa yang dijelaskan sang nenek.


"kalo gitu, aku juga boleh dong pulang sekolah langsung ke kebun" ucapan abdullah sambil memainkan kedua alisnya


"boleh, asalkan tugas sekolahmu tidak terbengkalai"" ucap sang nenek


tak terasa sang mentari mulai berlabuh ke peraduannya menyelesaikan tegasnya, begitu juga sang pekerja walaupun nenek sudah berulang kali mengingat kan agar mereka berhenti bekerja sebelum pukul 16.30.tapi mereka tak pernah mendengarkan bahkan masih bekerja meski hari hampir gelapgelap dengan senyum yang masih mengembang

__ADS_1


senyum para pekerja dengan ketulusan hati atas dedikasi sang nenek yang tak membedakan antara mereka yang menumpang hidup dane menyambung nyawa buat anak dan cucu mereka.


__ADS_2