Harus Bagaimana

Harus Bagaimana
pov ayu


__ADS_3

hari sudah siang saat aku tiba dirumah, seperti biasa aku disambut mbak ku Mia sambil menggendong putri keduanya yang masih berusia 5 bulan, aku sangat menyayangi keponakan ku yang memiliki mata bulat hidung bangir serta rambut keriting dan berkulit putih, sama seperti warna kulit kakak ipar ku, berbeda dengan mbak mia yang memiliki kulit sawo mateng


"udah pulang dek, gimana rasanya di hari pertama kamu sekolah,gak kerasa sekarang kamu udah smp, udah dapat temen belum??? "aku diberondong pertanyaan oleh mbak Mia tak lupa senyum yang mengembang menyambut ku pulang


" iya mbak baru pulang, capek banget cuacanya panas, alhamdulillah udah dapat teman,aku masuk ya mbak"jawabku sambil membuka pintu, mbak Mia hanya menganggukkan kepalanya sambil berlalu pergi kerumahnya

__ADS_1


"assalamu'alaikum" tak lupa ku ucapkan salam meski aku tau tak ada orang di rumah mengingat emak dan abah di ladang,setidaknya aku selalu mengingat pelajaran agama yang diajarkan padaku di tempat mengaji


hari ini pukul 12.30 wib aku sampai di rumah masih, langsung kebelakang untuk mengambil wudhu dan mengerjakan sholat dzuhur


selesai sholat aku langsung ke dapur guna menyantap siang karena cacing di perutku sudah berdemo minta di isi, walau hanya dengan sayur seadanya tanpa lauk aku tetap bersyukur karena masih banyak di luar sana yang tidak bisa makan bahkan tak memiliki tempat tinggal,berlanjut mengerjakan pekerjaan rumah membersihkan serta menyapu rumah adalah rutinitas ku dari kecil setidaknya mampu membantu meringankan pekerjaan emak

__ADS_1


masih teringat jelas saat cacian dan hinaan orang tua sahabatku yang tak memperbolehkan nya berteman denganku karena keadaan ku yang dianggap miskin oleh mereka


"ngapain kamu pulang sama ayu,udah berapa kali dibilangin gak usah temanan sama ayu, dia itu anak orang miskin, paling nanti kamu dimanfaatin sama dia, paham kamu neli" ucap bibi dan pamannya saat bertemu dijalan sepulang sekolah, neli ya neli sahabatku yang lembut bahkan baik hati hanya bisa meneteskan air mata saat diseret oleh bibi dan pamannya yang menjemputnya


aku tau seperti apa kehidupan neli sahabatku, dia anak korban perceraian orang tuanya, yang mana sang ayah hanya pria miskin yang berasal dari kampung tetangga sedangkan sang ibunya merupakan anak pertama dari juragan kaya dikampung ku,kakeknya yang biasa ku panggil uwak memiliki watak yang ramah dan baik hati menyukai anak-anak, sedangkan sang istri memiliki tutur kata yang lembut tapi sayang memiliki sikap yang sombong begitu juga dengan bibi dan pamannya sombong dan bicara kasar, bagi mereka neli harus di jauhkan dari anak-anak sepertiku karena membawa dampak yang buruk karna kemiskinan orang tuaku

__ADS_1


aku hanya tersenyum mengingat semua perlakuan mereka padaku, karena aku tidak seperti itu walaupun aku anak orang miskin setidaknya aku memiliki kecerdasan di atas rata-rata sehingga mempermudah ku untuk bergaul di manapun aku berada


contohnya hari ini, meskipun aku agak kesal karena harus berjemur di lapangan sekolah menunggu pembagian kelas aku sudah memiliki teman, ya walaupun dia seorang pria tapi setidaknya dia enak di ajak ngobrol meskipun sedikit cerewet sepertinya dia memiliki pribadi yang lembut dan ramah, dan tanpa sadar aku tersenyum mengingat pria konyol itu, ya dia abdullah sahabat pertamaku di sekolah tingkat pertama ini.


__ADS_2