HEARTBREAK

HEARTBREAK
CHAPTER 53


__ADS_3

"Kangen sama gue ya? Tumben telfon"


"gue benci sama Lo" celetuk Evelyne melalui sambungan telepon.


"Berhari-hari nggak ketemu gue, bikin Lo sakit jiwa" ucap Azelvin yang sebenarnya dapat dilihat dalam jangkauan mata Evelyne.


"Kalian keterlaluan" ucapan Evelyne yang membuat Azelvin mengedarkan pandangannya.


"Dih nggak jelas Lo, ganggu gue kerja aja"


"Kerja?"


"Iyalah emang gue kaya Lo nggak ada kerjaan, gue tutup teleponnya ya" Azelvin mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.


Evelyne berjalan menjauhi tempat dia berdiri tadi, berjalan entah kemana. Sebenarnya Evelyne tidak sendirian, Axel menemaninya.


"Lo mau kemana?" Tanya Axel yang tidak dijawab apapun oleh Evelyne, bukan bermaksud mengacuhkan hanya saja Evelyne juga tidak tahu dia akan kemana.


"Ayo ikut gue" ajak Axel, tanpa meminta persetujuan dari Evelyne dia menarik tangan Evelyne begitu saja.


Dan kini mereka sedang duduk di sebuah kursi. "Tangis Lo nggak akan merubah keadaan" Axel berusaha menghilangkan keheningan.


"Kenapa? Kenapa orang yang gue sayang selalu ninggalin gue, Tuhan mempermainkanku dengan baik" lirih Evelyne karena tangisnya.


"Perpisahan adalah akhir dari pertemuan, sedih boleh tapi Lo harus siap untuk menerima kenyataan" nasehat Axel yang kemudian membuat keheningan.


"Gue punya cara biar Lo bisa mengurangi kesedihan Lo"


"Lempar batu ke danau" tebak Evelyne karena mereka berada tidak jauh dari sebuah danau.


"Bukan, ini nih..." Axel menyodorkan balon yang entah dia dapat dari mana.


"Coba deh Lo tiup balon sampai balonnya meletus itu bisa bikin Lo sedikit lebih lega" ucap Alex tetapi Evelyne hanya diam.


"Gini deh, kita tanding aja, siapa yang lebih dulu niup balon sampai meletus bisa meminta satu permintaan apapun"


"Apapun?" Tanya Evelyne


"Iya, tapi cuma satu permintaan"


"Iya-iya"


"Gimana?"


"Oke" Evelyne menyetujui, Evelyne mulai meniup balon lebih dulu.


"Curang Lo" kesal Axel yang kemudian meniup balon, Axel menekan balon yang ditiup Evelyne dengan kedua tangannya, sehingga balon yang sudah mengembang cukup besar itu menjadi kehilangan udara udara.


"Yaah... Curang banget lo, Lo lebih curang dari gue" Evelyne, sementara itu balon yang ditiup Axel berhasil meletus.


"Gue menang" Axel meledek Evelyne.


"Lo curang jadi kita harus tanding ulang" pinta Evelyne yang disetujui Axel, mereka meniup balon secara bersamaan. Evelyne melakukan apa yang dilakukan Axel tadi yang membuat balon Axel mengempis dan Axel membalas Evelyne, begitu terus sampai mereka harus kelelahan karena meniup balon.


Evelyne tertawa melihat Axel yang masih berusaha meniup balon dengan muka merahnya, dan Evelyne menekan balon Axel kuat mengeluarkan udara dari balon ke mulut Axel, yang membuat Evelyne semakin tertawa.


"Gue capek" hembusan nafas Axel tidak beraturan.


"Oke, kita tanding ulang, kali ini nggak ada yang boleh curang" Evelyne mengajak Axel berjabat tangan dan Axel menerimanya.


Mereka mulai bertanding meniup balon dengan sportif, tapi Axel sengaja meniup balonnya dengan pelan, alhasil balon Evelyne yang terlebih dahulu meletus.


"Yeaay gue menang, Lo harus kabulkan satu permintaan gue"


"Oke, tapi permintaan Lo harus masuk akal ya... Ntar malah Lo minta buat gue pindahin pantai selatan ke utara lagi"


"Nggaklah, tapi... Gue nggak tahu sekarang mau minta apa, jadi... boleh nggak kalau gue mintanya lain waktu dan sebagai gantinya Lo boleh minta satu permintaan ke gue karena Lo udah menang tadi... ya meskipun curang"


"Ini kesempatan buat Lo Axel, eeh nggak nggak" ucap Axel dalam hati.


"Eem gue minta lo buat menerima kenyataan dan menghadapi ini dengan hati yang ikhlas" pinta Axel


"Itu dua permintaan Axel kan gue bilangnya satu"


"Satu kok, itukan masih satu kalimat"


"Tapi ada dan nya"


"Evelyne intinya lo harus hadapi kenyataan ini, ayo kita ke rumah Edzard, gue temenin"


"Gue...gue laper, kita makan dulu ya" alasan Evelyne.


"Oke tapi Lo harus janji, setelah Lo makan kita ke rumah Edzard dan ingat jangan menyalahkan siapapun, apalagi menyalahkan dirimu sendiri" nasehat Axel dan Evelyne mengangguk singkat.


Setelah makan mereka berjalan menuju rumah Edzard. "Vel, Lo tau nggak kita itu satu SD, SMP, dan SMA"

__ADS_1


"Masa sih... Gue taunya kita satu SMA"


"Ya, itupun karena gue temannya Azelvin"


"Enggak juga, waktu MOS Lo kan pernah bantuin gue tapi waktu itu gue belum tau siapa nama Lo, Lo nggak nanya nama gue sih, jadi gue agak ragu buat tanya nama Lo"


Evelyne kembali sedih saat melihat rumah Edzard. "Evelyne Lo pasti bisa" yakinkan Axel memberi semangat.


"Lo pulang aja" pinta Evelyne


"Serius? Nggak mau ditemenin?... Oke gue pulang kalau gitu" pamit Axel dan pergi sembari melambaikan tangannya, Evelyne hanya melihat kepergian Axel tidak berniat untuk melambaikan tangan bahkan tersenyum saja tidak.


Evelyne memencet bel rumah Edzard dan nampak seorang wanita membuka pintu.


"Evelyne" Bianca terkejut dengan kehadiran Evelyne.


Evelyne diam memandang Bianca, Bianca tahu bagaimana perasaan Evelyne, maka Bianca menghampiri Evelyne dan memeluknya memberikan ketenangan. Evelyne yang semula diam kembali terisak.


"Ayo masuk" ajak Bianca dengan suara paraunya, Bianca jauh lebih merasa sedih dibandingkan Evelyne tetapi Bianca mencoba mengikhlaskan, larut dalam kesedihan tidak berguna.


Evelyne mengikuti langkah Bianca dengan perlahan.


"Evelyne kamu datang? Kamu sudah tahu? Maafkan om ya... Om sempat marah-marah ke kamu, itu permintaan Edzard Om tidak enak jika menolak permintaannya" ucap Ravindra yang merasa bersalah pernah memarahi Evelyne saat Evelyne datang ke kantornya untuk mencari Edzard.


Evelyne hanya mengangguk, lagipula memang Evelyne tidak mempermasalahkan hal tersebut.


"Tadi Azelvin baru saja pulang, apa Azelvin sudah tahu kalau kamu sudah kembali dari Jepang?" Tanya Ravindra, bagaimana Ravindra tahu Evelyne baru kembali dari Jepang, kalau bukan di rencanakan apa namanya?


"Evelyne boleh ke kamar Edzard?" Tanya Evelyne. Ravindra dan Bianca mengangguk. Evelyne melangkahkan kakinya menuju kamar Edzard, Evelyne membuka pintu kamar Edzard dengan ragu.


Setelah itu Evelyne menyalakan lampu dan menutup kembali pintu.


Evelyne duduk di ranjang Edzard, matanya menelusuri setiap sudut ruangan sembari mengingat kenangan yang pernah terjadi disini yang tidak akan pernah bisa dia ulangi lagi.


Evelyne mulai terisak kala dia mengingat saat memberikan surprise ulangtahun Edzard yang tidak akan pernah bisa dia lakukan lagi.


"Edzard Lo jahat banget sama gue, kenapa Lo ninggalin gue?" Ucap Evelyne sendu, rasanya dia masih belum yakin apakah dia bisa tanpa Edzard.


Evelyne melihat sebuah surat di atas meja.


Biar gue tebak pasti lo lagi baca surat inikan?


Bener nggak?


Bener dong pasti, gue cenayang


Sorry ya, gue bikin Lo dimarahin bokap gue


Hehe


Sekali-kali Lo dimarahin bokap gue, biar bokap gue juga merasakan marahin orang selain Edzard yang tamvan eaa.


Dan juga pasti Lo kesel kan? Nunggu di Jepang lama banget, mana nggak ngapa-ngapain lagi, kasian... Pasti Lo ngumpatin om Jackson, tapi udah ya ngumpatnya, semua atas kemauan gue


Karena gue nggak sanggup


Gue nggak bisa dihadapan lo tanpa senyuman, gue nggak bisa senyum ke Lo padahal ada di hadapan Lo, itu hal terberat buat gue, gue mohon supaya Lo paham


Sekali lagi maaf


Dan ooh ya tentang gue suruh Lo buat balas dendam sama Azelvin itu cuma akal-akalan gue supaya Lo nggak trauma lagi, supaya Lo nggak takut lagi sama Azelvin, Azelvin bukan orang yang patut ditakuti dia orang baik. Gue kenal dia dari kecil jadi gue percayakan Lo sama dia.


Dia janji sama gue dia yang akan jagain lo.


Semoga kalian bahagia


Jangan sedih dong, usaha gue sia-sia kalau sampai lo nangis.


Gue tunggu Lo disini oke...


Edzard


Sayang Evelyne


"Edzard.... Ed" ucap Evelyne sembari menangis tersedu-sedu.


"Orang yang seharusnya pergi itu bukan Lo, harusnya gue Edzard... Edzard gue nggak yakin bisa tanpa kehadiran lo Ed, Edzard balik Ed, jangan pergi... Gue mohon jangan pergi, gue...gue nggak sanggup Ed, gue nggak bisa. Siapa yang akan peluk gue kalau gue sedih... Siapa yang akan menghibur gue, siapa yang akan semangatin gue saat gue putus asa, siapa yang akan mendengar keluh kesah ku, siapa yang akan bilang gue akan kesana, Lo tunggu ya... siapa yang akan bilang kaya gitu kalau gue panggil namanya dengan sedih... Sekarang walaupun gue panggil Lo berkali-kali sambil nangis darah Lo nggak akan datang Ed...


G


ue nggak bisa kaya gini, gue nggak bisa lihat senyum Lo lagi, gue nggak bisa peluk Lo lagi, itu hal buruk Ed... Gue nggak mau kaya gini, please Ed, Edzard" Evelyne kembali menangis, sia-sia semua sudah terjadi tidak bisa merubah apapun lagi.


"Bisakah ku menawar pada Tuhan aku saja yang pergi" lirih Evelyne.


"Edzard gue capek nangis terus, Lo nggak ada niatan buat hibur gue, atau peluk gue, seenggaknya lo senyum ke gue, Ed" entah sudah berapa lama Evelyne menangis, entah sudah seberapa hancur hatinya, tidak ada yang tahu bukan?

__ADS_1


Edzard itu lebih dari seorang sahabat untuknya, Edzard melakukan apapun untuk membuat Evelyne bahagia, bahkan sampai mengabaikan kesehatannya. Edzard selalu berkata iya untuk Evelyne, Edzard yang membuat Evelyne bangkit, yang menjadi tiang penyangga untuknya, yang menjadi sandaran untuknya. 24 jam waktu dalam sehari dan Edzard akan datang untuknya jam berapapun itu, meskipun jaraknya jauh Edzard akan berlari dan cepat-cepat untuk datang. Tapi sekarang bukan jarak penghalang bagi mereka, takdir kejam ini adalah penghalang yang tidak akan bisa mereka tentang.


Evelyne melihat buku yang dia berikan kepada Edzard sebagai hadiah ulang tahun Edzard yang bahkan tidak Edzard berikan saat ulang tahun Evelyne, seperti rencana mereka. Tuhan sudah mempunyai rencana lain untuk mereka rupanya.


Evelyne mengusap buku itu, kemudian memeluknya erat. Membuka buku itu saja Evelyne sudah tidak sanggup, yang bisa Evelyne lakukan hanya menanggis dan terus berharap Edzard kembali.


____________


Evelyne membuka matanya dan melihat ke sekeliling, dimana ia?


"Evelyne syukurlah kamu sudah sadar, Bunda khawatir" ucap Bianca, Evelyne hanya diam dan melihat ke sekeliling.


"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan" jelas Bianca.


"Bunda... Sebenarnya Edzard kenapa?"


"Dia sakit, Edzard sudah lama mengidap leukemia, mungkin saat itu kamu masih kerja di kafe bersama Edzard" ucap Bianca, Evelyne menjadi teringat saat dulu dia masih kerja di kafe Zachary, saat itu Edzard menghindar dari Evelyne, ternyata Edzard sakit dan berada di apartemen barunya, dan saat itu Edzard menolak untuk diperiksa oleh dokter, apa saat itu Edzard sudah mengidap leukemia?


*Buat yang lupa scroll part awal-awal ya*


"Bunda, Evelyne mau ke makamnya Edzard"


"Besok ya... tunggu sampai keadaan mu membaik, Oh iya bunda mau pulang soalnya bunda harus banyak istirahat, bunda udah telfon Azelvin bentar lagi Azelvin kesini" pamit Bianca untuk pulang.


Saat hening seperti ini, Evelyne kembali teringat pada Edzard. Hal itu membuatnya sedih lagi.


"Edzard udah lama sakit dan gue baru tahu saat semuanya sudah terlambat... Sahabat macam apa gue ini, Edzard selalu ada buat gue tapi gue? Bahkan hal penting kaya gini gue nggak tahu" Evelyne menyalahkan dirinya dan kembali menangis, entah sudah berapa lama waktu yang dia habiskan untuk menangis hari ini.


Ekheem


Deheman seseorang membuat Evelyne menoleh dan menghentikan tangisnya.


Seperti yang dikatakan Bianca akhirnya Azelvin datang, Azelvin menghampiri Evelyne dan menghapus air matanya.


Mereka diam sejenak dalam keheningan, Azelvin menghembuskan nafas kasar.


"Bukan cuma Lo yang merasa kehilangan" Azelvin memeluk Evelyne.


"Azka, Zidan, eyang, Edzard mereka pasti bahagia disana. Semanis apapun perpisahan akan terasa menyedihkan, tapi bukan berarti kita harus terlarut dalam kesedihan" Azelvin sembari mengusap kepala Evelyne memberikan ketenangan untuknya.


"Rasanya waktu berlalu begitu cepat, aku belum siap kehilangan tapi Tuhan sudah mempunyai rencana lain. Aku nggak ngerti apa ini hukuman buatku? Atau memang takdir sedang mempermainkan ku" racau Evelyne.


"Suuuts... Jangan begitu, berpikirlah positif Tuhan selalu mempunyai rencana terbaiknya, kita hanya perlu menjalani dengan pikiran jernih...


Jujur aku juga belum bisa menerima kenyataan bahwa Edzard sudah pergi, aku dekat dengannya saat kecil kemudian berpisah bertahun-tahun dengan ego masing-masing, bahkan saat SMA kami bertingkah seperti orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya, kami bermusuhan dan kemudian berkat kau kami berbaikan, lalu bermusuhan lagi dan Edzard pergi, menurut mu apa aku baik-baik saja dengan ini?"


Azelvin juga sama hancurnya dengan Evelyne, mereka sama-sama merasa kehilangan.


"Kau pingsan tadi? Apa yang kau lakukan sampai seperti ini?" Tanya Azelvin tapi Evelyne hanya diam.


"Aaissh... Jangan melakukan hal bodoh, itu tidak akan merubah apapun, kau ingat? Itu katamu saat aku tahu aku gagal menjadi ayah yang baik" nasehat Azelvin yang masih saja diabaikan oleh Evelyne.


"Edzard... Edzard, aku sudah berjanji padanya untuk menjagamu dan membahagiakanmu, apa menurutmu aku bisa menggantikan posisi Edzard?" Tanya Azelvin.


Tiba-tiba ada yang membuka pintu sehingga membuat Azelvin melihat kearah pintu dan tidak melihat Evelyne yang mengangguk singkat.


"Sayang... Kenapa bisa gini sih? Evelyne Lo gak papa kan? Lo sedih banget ya pasti? Tenang aja Vel, Edzard pasti baik-baik aja disana, Lo harus tetap semangat jangan kaya gini, Edzard pasti nggak seneng lihatnya kalau Lo kaya gini. Lo udah makan belum? Belum makan ya...? Wajahmu pucat gitu, pusing? Perlu gue..." Ucap Grace dengan beruntun saat baru saja datang.


"Lo hanya perlu diam, itu membuat Evelyne nyaman" pinta Azelvin. Grace memberikan tatapan tajamnya pada Azelvin yang membuat Azelvin memutar bola matanya malas. Hancurlah moment-nya bersama Evelyne. Hal itu membuatnya mendengus kesal.


"Apaan sih Lo, kaya nggak seneng gue dateng" ucap Grace dengan sengit.


"Emang"


"Tuuh Vel dia tuh nyebelin banget, kenapa Lo biarin dia disini sih.. eh Azelvin mending lo pulang" usir Grace.


"Lo aja sana yang pulang"


"Udah ya, jangan pada berantem. Gue perlu istirahat" ucap Evelyne


"Evelyne ini ada buah buat Lo, gue beliin baikan gue? Emang kaya Azelvin kesini nggak bawa apa-apa"


"Buah doang, sombongnya udah kaya ngasih berlian, eeh gue ngasih bunga buat Evelyne"


"Yee... Emang Evelyne makan bunga"


"Waah ngeselin banget lo, udah pernah dicekek belum, sini" ucap Azelvin.


"Evelyne gue pamit ya, ada macan ngamuk, bhaay... Jangan kangen oke" ucap Grace dan berjalan cepat sembari menjulurkan lidahnya pada Azelvin.


"Nggak ada yang bakal kangen sama Lo" ucap Azelvin.


"Dia emang kaya gitu ya?" Tanya Azelvin kesal. Evelyne mengangguk dan tertawa singkat. Azelvin tersenyum melihat Evelyne.


"Oh ya... Tadi gue bilang kalau Edzard..." Ucapan Azelvin terhenti karena Evelyne menyela.

__ADS_1


"Aku ingin istirahat" ucap Evelyne memejamkan matanya.


"Ooh oke" ucap Azelvin pasrah.


__ADS_2