
Seorang perempuan dengan perut buncitnya tengah menikmati pemandangan dan sejuknya udara kota Bandung.
Dia Evelyne, saat dia sudah menikah Evelyne memutuskan untuk pindah ke Bandung. Berusaha meninggalkan kenangan baik maupun buruk yang pernah terjadi di Jakarta, dia tidak bisa terus terlilit kenangan yang membuatnya terpuruk.
Evelyne kini bahagia dengan apa yang dia miliki, Evelyne sedang duduk di taman belakang rumahnya, sembari mengusap perutnya yang akan terus membuncit.
"Mama" ucap seorang anak kecil memeluknya erat.
"Hei, dimana ayahmu" tanya Evelyne, tiba-tiba seseorang menyodorkan potongan buah. Evelyne memakan buah itu.
"Kamu ngapain disini? Tidak dingin?" Tanyanya dan Evelyne menggeleng.
"Aaaa" Evelyne menerima suapan buah itu.
"Azelyn mau juga" ucap anak kecil perempuan yang kini berusia 5 tahun.
"Makasih" ucap Evelyne.
"Sampai kapan kamu mau bilang makasih?"
"Emang gak boleh?"
"Ya boleh-boleh aja, tapi jangan terlalu sering sayang" ucapnya dan memeluk Evelyne.
"Ma... Hari ini omma datangkan?" Tanya Azelyn.
"Nggak sayang, hari ini kita ke rumah omma ya.." ucap Evelyne.
"Yeeay ke rumah omma" riang Azelyn.
"Azelyn udah minum susu?" Tanya Evelyne dan Azelyn menggelengkan kepalanya.
"Biar mama buatin susu ya" Evelyne hendak beranjak. "Biar aku aja, sekalian buatin untukmu" ucap suami Evelyne dan beranjak.
Evelyne tersenyum senang. Dia melihat punggung suaminya yang semakin menjauh.
"Azelyn duduk sini samping mama" pinta Evelyne dan Azelyn duduk disampingnya.
Evelyne bahagia bersama keluarganya yang sekarang, ditambah lagi dia menantikan kelahiran buah hatinya yang baru saja berusia tujuh bulan dalam kandungan.
"Ini dia susu hangat buat para princess"
"Azelyn mau kemana? Ini susunya udah jadi kok mau pergi?" Tanya suami Evelyne.
"Mau nangkap kucing"
"Nanti dulu, minum dulu susunya, nanti ayah bantu" Azelyn langsung menuruti permintaan ayahnya. Dia duduk lagi disamping Evelyne dan meminum susunya.
"Axel makasih" ucap Evelyne.
"Tuuh makasih lagi, dibilangin jangan kebanyakan bilang makasih ngeyel banget kamu" Axel mencubit hidung Evelyne.
"Sakit"
"Manja banget sih" Axel mengusap perut Evelyne.
"Inget jangan kebanyakan bilang makasih, bilang I love you kek" ucap Axel.
"I love you" ujar Evelyne.
"Evelyne dia gerak" Axel merasakan pergerakan dari dalam perut Evelyne, Evelyne mengangguk dan tersenyum.
"Dia nggak sabar pengen lihat ayahnya" Evelyne mendapat kecupan manis pada keningnya.
"Axel terimakasih sudah menerimaku dan Azelyn dengan baik"
"Aku mencintai kalian, kini kalian adalah para princess yang harus ku jaga. Aku beruntung memilikimu Evelyne. Sebenarnya aku sudah menyukaimu saat di sekolah dasar dan karena itu aku selalu mendaftar ke sekolah yang sama denganmu, tapi aku tidak berani mengungkapkan apa yang ku rasakan, apalagi saat SMA Azelvin juga mencintaimu, jadi aku memilih untuk memendam perasaan ku bertahun-tahun. Tuhan telah baik padaku karena mempersatukan kita pada akhirnya"
"Saat anak kita lahir nanti ku mohon jangan membeda-bedakan perlakuanmu kepada Azelyn, anggap dia seperti anak kandungmu sendiri" pinta Evelyne.
"Tanpa kamu minta aku akan melakukan itu" ucap Axel.
Flashback
Hujan deras mengguyur badan Evelyne. Evelyne terduduk di jalan, meratapi takdirnya. Ia tahu sekarang sudah waktunya untuk melupakan semuanya tentang Azelvin agar dia dapat melanjutkan hidupnya.
"Evelyne" ucap seseorang keluar dari mobilnya.
"Lo ngapain hujan-hujanan?" Tanya Axel yang kebetulan melewati jalan itu, jalan menuju rumah Evelyne. Sepulang kerja Axel memang sering sengaja melintas jalan ini hanya sekedar untuk melihat rumah Evelyne, konyol bukan? Tapi itulah cinta.
"Evelyne Lo kenapa nangis?" Tanya Axel.
"Wajah Lo pucat vel, kita ke rumah sakit ya" ajak Axel namun Evelyne menggeleng, tapi Axel tidak menyerah dia mengendong tubuh Evelyne membawanya masuk ke mobilnya.
"Axel gue basah, mobil Lo"
"Gak masalah" ucap Axel.
"Anterin gue ke rumah"
"Kita ke rumah sakit aja, muka Lo pucat" ucap Axel dan Evelyne menggeleng. Akhirnya Axel mengalah dan mengantarkan Evelyne ke rumahnya.
Axel mengendong Evelyne memasuki rumahnya.
"Lo ganti baju ya... Biar gue bikin teh" memangnya Axel tahu dimana letak dapurnya? Sudahlah lagipula rumah Evelyne tidak luas pasti mudah untuk Axel menemukan dapurnya. Evelyne mengganti bajunya dan duduk di sofa.
"Ini minum" ucap Axel, Evelyne meniup teh buatan Axel dan meminumnya.
Axel pergi entah kemana, ternyata Axel membawa selimut dan sebuah handuk yang dia ambil dari kamar Evelyne. Axel menyelimuti tubuh Evelyne dan mengeringkan rambut Evelyne.
"Evelyne Lo kenapa?" Tanya Axel, Evelyne tidak menjawabnya sehingga terjadilah keheningan sampai...
"Lo pernah bilang Lo akan kabulin satu permintaan guekan?" Ucap Evelyne dan Axel mengangguk.
"Nikahin gue" Evelyne membuat Axel terkejut.
"Gue tahu ini konyol dan Lo akan menolak permintaan konyol ini. Tapi... Sekarang gue hamil, gue hamil anaknya Azelvin dan Azelvin nggak mengakui anaknya, gue bingung harus gimana? Anak ini butuh nama ayah yang tercantum di datanya. Gue nggak akan nuntut Lo banyak-banyak cukup itu aja dan ketika anak ini lahir Lo boleh ceraikan gue" ucap Evelyne terisak. Axel memeluknya memberikan kekuatan, Axel terkejut dengan penuturan Evelyne barusan, bagaimana bisa sahabatnya melakukan hal seperti ini?
"Gue akan nikahin Lo tapi ada satu syaratnya" ujar Axel.
__ADS_1
"Apa?"
"Tidak akan ada perceraian dan kita menjalaninya seperti pasangan suami istri sewajarnya"
"Itu dua Axel"
"Tapikan satu kalimat"
"Ada dan nya berarti dua" ucap Evelyne terkekeh kecil yang membuat Axel tertawa.
"Evelyne, aku akan menikahimu dan aku tidak akan mau main-main. Kita menikah sungguhan bukan semata-mata untuk mengisi nama diatas kertas" ucap Axel.
Sebulan setelah mengatakan itu mereka menikah dan beruntungnya Evelyne karena keluarga Axel menerimanya dengan baik. Setelah menikah mereka pindah ke Bandung selain karena bisnis Axel, mereka juga pindah karena permintaan orang tua Axel. Dan itu kesempatan untuk mereka memulai hidup baru. Sementara orang tua Evelyne kini sudah tinggal di Bandung juga, jadi mereka dekat dengan keluarga.
Saat Evelyne sudah menjadi istri sah Axel sebenarnya Evelyne sangat canggung, tapi karena Axel adalah orang yang friendly jadi Evelyne mudah menyesuaikan keadaan. Axel memperlakukannya dengan baik, Axel selalu sigap. Apalagi saat Evelyne melahirkan Azelyn Chalesthane, Axel menemaninya yang tengah merintih menahan sakit.
Sejak Azelyn lahir Evelyne baru merasakan kalau dia telah mencintai suaminya itu.
Flashback end
"Omma" Azelyn berlari memasuki rumah neneknya, rumah ibundanya Axel. Orangtuanya Evelyne juga ada disana, mereka memang sengaja berkumpul hari ini, sementara kakak perempuannya Axel dia akan datang agak terlambat nanti bersama suaminya. Ayah Axel sudah meninggal dua tahun yang lalu.
"Azelyn jangan lari-lari sayang" ujar Evelyne.
"Cucu omma sudah datang rupanya" sambut Nita ibunya Axel.
"Omma perut Mama makin besar, Azelyn takut meletus" penuturan Azelyn membuat orang yang mendengarnya tertawa karena tingkah lucunya.
"Mama Papa" Evelyne memeluk kedua orang tuanya.
"Gak sabar lihat cucu mama" ucap Caroline dan ternyata Mario juga mengatakan hal yang sama. Azelyn tiba-tiba saja pergi entah kemana, Axel yang melihatnya mengikuti langkah Azelyn.
"Azelyn kenapa?" Tanya Axel tapi Azelyn malah menangis.
"Kenapa sayang? Bilang sama ayah... Azelyn mau ice-cream?" Tanya Axel yang membuat Azelyn menggelengkan kepalanya.
Mereka semua menghampiri Azelyn dan Axel.
"Azelyn kenapa?" Tanya Evelyne namun Azelyn masih tetap diam, Evelyne menyenggol bahu Axel seolah berkata ada apa? Tapi Axel mengangkat kedua bahunya.
"Cucu omma yang paling cantik kok nangis" ucap Nita.
"Jangan sedih-sedih gitu dong, kita kumpul keluarga tapi Azelyn kaya gitu bikin Mama sedih, Mama ada salah? Mama minta maaf deh, Azelyn jangan gitu" Evelyne membuat Azelyn menangis semakin kencang.
Evelyne jadi bersedih melihat putrinya seperti ini, tiba-tiba Evelyne merasa perutnya sakit.
"Aakh" ringisnya sembari memegang perut.
"Evelyne" Axel terkejut ia segera menggendong Evelyne dan menidurkan Evelyne di ranjang.
"Evelyne perlu papa panggil dokter? Atau kita ke rumah sakit saja" tanya Mario.
Azelyn berada diambang pintu sembari mengintip keadaan Evelyne.
"Tidak perlu Pa, udah lumayan karena diusap-usap Axel" Evelyne yang tersenyum karena Axel mengusap lembut perutnya.
"Mama Azelyn minta maaf" ucap Azelyn.
"Iya sayang jangan gitu lagi ya... Kamu bikin Mama khawatir, kenapa sih memangnya?" Tanya Evelyne.
"Mau ke mall" bohong Azelyn.
"Yaudah nanti kita ke Mall ya" ucap Evelyne.
"Sekarang kita makan dulu" Axel membantu Evelyne, sementara Azelyn dia digendong oleh Mario.
"Azelyn sayang" panggil Aira kakak perempuan Axel yang baru saja datang, Aira mengendong Azelyn.
Mereka makan siang bersama.
"Andai aku memiliki anak" ucap Aira semberi memperhatikan Azelyn yang sedang makan dengan lucunya.
"Jangan begitu" ujar Kenan. Kenan adalah orang terpandang di kota Bandung. Mario dan Axel mendapatkan pekerjaan dengan bantuan Kenan. Kenan orang kaya yang mendapatkan istri namun tidak memiliki anak tapi Kenan tetap menerima keadaan istrinya.
"Apa sebaiknya kalian mengadopsi anak, kata orang sih buat mancing gitu" pendapat Nita.
"Benar kata omma, jangan sedih begitu" pinta Kenan dan Aira tersenyum mengangguk, tetapi dia tidak yakin dia bisa hamil, apa salahnya mencoba iyakan?
"Azelyn nanti jadi ke Mall?" Tanya Evelyne, Azelyn hanya mengangguk singkat.
"Cucuku merajuk karena ingin ke Mall rupanya" ucap Nita.
"Anak-anak kadang menganggap serius hal sepele dan menganggap sepele hal serius" ucap Mario.
.
.
.
.
.
"Telfon jika ada apa-apa" nasehat Axel.
"Ini hanya Mall Axel" ujar Evelyne.
"Tetap saja berhati-hatilah. Azelyn jaga mama oke" pinta Axel dan Azelyn mengangguk paham. Axel tidak bisa menemani ke Mall karena dia harus bekerja.
"Azelyn mau beli apa?" Tanya Evelyne.
"Ice-cream sama makan" jawab Azelyn mengandeng tangan Evelyne.
"Pelan-pelan sayang" ucap Evelyne yang merasa Azelyn mengajaknya berjalan dengan terburu-buru.
"Perut Mama sakit lagi?" Tanya Azelyn dan Evelyne menggelengkan kepalanya.
"Azelyn mau ice-cream yang mana?"
__ADS_1
"Coklat"
"Ini pegang" Evelyne menyodorkan ice-cream.
Evelyne melihat deretan sepatu yang memikat manik matanya.
"Kesana bentar yuk" ajak Evelyne dan Azelyn hanya mengangguk.
Entah kenapa ia ingin sekali membeli sepatu untuk Axel, Evelyne mondar-mandir memilih sepatu.
"Azelyn capek"
"Yaudah Azelyn tunggu sini ya, mama mau beli sepatu buat ayah" ucap Evelyne dan pergi meninggalkan Azelyn yang duduk menikmati ice-cream.
Evelyne kembali setelah dia mendapatkan apa yang dia mau. Evelyne kembali ke tempat dimana Evelyne meninggalkan Azelyn tadi, tapi Azelyn tidak ada disana.
"Azelyn" teriak Evelyne.
"Ada apa mbak?"
"Pak lihat anak kecil yang tadi duduk disini nggak?" Tanya Evelyne.
"Oh anak cewek yang pake baju biru lagi makan ice-cream itu"
"Iya pak"
"Tadi sih saya lihat dia sama cowok seumuran mbak, saya kira itu bapaknya. Tadi mereka kearah sana mbak"
Evelyne berjalan cepat sembari menelepon Axel untuk memberi tahukan apa yang terjadi.
"Azelyn" panggil Evelyne yang melihat Azelyn.
"Kamu dicariin mama kemana-mana tahunya disini, tadi mama bilang tunggu, kenapa Azelyn kesini"
"Maaf ma... Azelyn beli boneka sama om baik" ucap Azelyn yang kebingungan dimana hilangnya orang yang tadi bersamanya.
"Lain kali kalau diminta mama nunggu ditungguin dong. Azelyn bikin Mama khawatir" Evelyne berucap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf ma... Mama jangan nangis ya..." Azelyn mengusap pipi Evelyne.
"Azelyn mau beli bonekakan? Pilih mau yang mana"
"Em... Azelyn belum lihat yang Azelyn suka"
"Kita coba kesana yuk" ajak Evelyne dan Azelyn mengangguk.
Setelah sekian lama bingung akhirnya Azelyn menjatuhkan pilihan pada boneka berwarna biru "Mau Doraemon"
"Yang itu, tinggi Mama nggak bisa ambil" Evelyne mencoba meraih boneka itu. Seseorang meraih boneka itu lebih dulu. Evelyne menatap tidak percaya siapa yang dia lihat.
"Om baik" ucap Azelyn senang.
"Mama ini om baik, om baik ini mamanya Azelyn" Azelyn antusias.
"Kita pulang aja ya sayang, beli bonekanya lain kali aja" pinta Evelyne meraih Azelyn kepelukannya.
"Tapi ini bonekanya..."
"Kasih ke omnya aja"
"Tapi ma.."
"Azelyn, dengerin mama ya..." Evelyne sedikit membentak Azelyn yang membuat Azelyn diam.
"Kita pulang" Evelyne meraih tangan Azelyn.
"Azelyn ini bonekanya biar om yang bayar. Azelyn kesana ya... Ada boneka bagus disana"
"Azelyn kita pulang sekarang ya, sayang" ucap Evelyne yang tidak diindahkan oleh Azelyn. Azelyn malah lebih menuruti ucapan seseorang yang baru saja dia temui. Azelyn pergi memilih boneka lain dan mengabaikan permintaan Evelyne.
"Hai" satu kata yang bisa saja merubah semuanya, satu kata yang berhasil membuat perasaannya campur aduk, satu kata yang membuat matanya berkaca-kaca.
"Kita bertemu lagi" ujar orang itu menyunggingkan senyumnya.
"Kata orang jodoh pasti bertemu" ucapnya yang membuat Evelyne muak, Evelyne hendak pergi namun tangannya dicekal Azelvin.
"Apa Azelyn itu anakku?" Tanya Azelvin.
"Siapa yang tahu itu anak siapa"
Damn
Evelyne mengucapkan kalimat yang Azelvin ucapkan bertahun-tahun yang lalu.
Azelvin mencekal tangan Evelyne dengan kuat yang membuat Evelyne meringis kesakitan.
Buugh
Sebuah pukulan yang berhasil mendarat diwajah Azelvin membuatnya tersungkur.
"Axel stop" Evelyne mencegah terjadinya perkelahian. "Axel stop Axel" Evelyne memeluk Axel dari belakang untuk menyegahnya.
"Bego. Lo punya otak nggak sih? Inget dulu Lo udah meninggalkan Evelyne dan jangan harap Lo bisa memiliki bahkan bertemu Evelyne, sekarang Evelyne milik gue begitu juga Azelyn. Mereka tangung jawab gue jadi kalau Lo berani-beraninya ganggu mereka Lo berurusan sama gue" ucap Axel. Azelvin bangkit dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Hahaha... Sekarang memang mereka milikmu, tapi nanti? Siapa yang tahu?" Ucap Azelvin yang membuat Axel memukulnya lagi.
"Axel stop" Evelyne mencegah.
"Lo nggak waras atau Lo nggak punya otak? Lo tuh harusnya mikir, Lo udah ninggalin Evelyne waktu itu jadi Lo nggak berhak buat balik seenak jidat Lo" Axel emosi.
"Axel udah, kita pulang aja ya"
"Nggak vel, kamu harus bilang ke dia supaya dia nggak ganggu kamu lagi" ucap Axel.
"Udahlah kita pulang aja"
"Evelyne" ucap Axel yang membuat Evelyne mendekat kearah Azelvin.
"Azelvin Aleston jika kau pergi ku mohon jangan pernah kembali... Kau ingat aku pernah mengucapkan hal itu, jadi kau tahu apa yang seharusnya kau lakukan sekarang. Jangan datang lagi padaku, aku benar-benar sudah hidup bahagia seperti yang kau ucapkan dulu" ucap Evelyne menarik Axel dan Azelyn untuk pergi, sementara Azelvin menatap kepergian mereka dengan nanar.
__ADS_1