
Evelyne sudah pulang ke rumahnya, rumah pemberian seseorang yang tidak akan pernah bisa dia lihat lagi di dunia. Rumah yang menyimpan banyak kenangan.
Evelyne duduk di dekat jendela kamarnya, hari ini cuacanya sedang kurang bagus, langit diselimuti oleh awan abu-abu gelap, tetesan air mulai turun perlahan, bukan hujan yang deras tetapi mampu membuat hawa dingin menyeruak ke tubuh Evelyne.
Evelyne mengusap buku pemberiannya yang seharusnya Edzard berikan saat ulang tahunnya, tetapi apa boleh buat.
Evelyne mulai membuka buku itu, terdapat banyak foto yang tertempel. Evelyne mengusap foto Edzard.
Hai Evelyne Chalesthane Mariolin
Beratkan? Aku tahu keadaan ini cukup sulit dan kita tidak bisa menghindari ini.
Maaf karena tidak membiarkanmu hadir disaat-saat terakhirku. Perlu kau tahu, memberikanmu senyuman adalah hal yang wajib bagiku, maka dari itu aku tidak sanggup berada dihadapanmu tanpa memberikan sebuah senyuman, ku harap kau mengerti.
Meninggalkanmu adalah hal yang sulit dalam hidupku, tapi aku sudah tidak hidup saat kau membaca ini hehe.
Mendapatkan ciuman darimu itu adalah perpisahan yang indah
Aku tahu kau punya niat yang baik
Aku hanya mencoba menemukan kata-kata yang tepat untukmu
Aku berjanji aku sudah belajar dari masa lalu
Tapi sekarang aku tidak baik-baik saja
Aku sangat lelah
'bersabarlah kau akan sembuh'
Seberapa banyak dokter mengatakan itu
Pada akhirnya akan selalu tetap sama
Tidak ada harapan bagiku untuk lebih lama lagi meskipun aku mau
Biarkan aku berhenti mencoba
Biarkan aku berhenti berjuang
Biarkan aku menyerah
Biarkan aku pergi
Kalau itu tidak baik untukmu
Sorry
Pernahkah aku terlintas dibenak mu?
Apakah kau pernah memikirkan 'apakah dia baik-baik saja?'
Jika iya maka itu sudah cukup bagiku, aku tahu aku tidak bisa mengharapkan hal yang lebih.
Aku tak masalah menjadi terlupakan
Tak apa menjadi tempat yang jauh
Sekarang tak ada βkitaβ
Jangan menangis, jangan menangis
Suatu hari, saat kau melihat kita kebelakang
Jika kenanganmu tentangku indah
Saat kau berjalan sendiri tanpa sandaran
Banyak air mata jatuh tak tertahan
Tutup matamu
Aku akan ada disana, dalam ingatanmu
Aku akan tertidur disana, dihatimu
Dikartu ulang tahun yang kau pegang, meniup liin
Dan didepan pintumu
Saat aku menciummu selamat malam
Aku akan ada disana, selalu disisimu
Aku akan bernapas, tanpa suara
Mari bertemu diujung kenangan kita
aku sangat merindukanmu
Aku tau ini tak bisa terjadi, tapi aku ingin melihatmu
Maaf aku merusak cinta kita dengan kenangan
Jangan mencari ku karena aku hanya akan hadir dalam ingatan
Aku mungkin takkan pernah bisa lupa
Seluruh janji yang tak bisa kita simpan
Aku akan ada disana
Aku akan ada disana
__ADS_1
Tak apa jika kau tidak melihatku
Yang perlu kau tahu, aku akan senang melihat kebahagiaan mu dari sini
Berjanjilah padaku untuk selalu bahagia
Agar perjuanganku tak sia-sia
Evelyne berbahagialah...
Aku akan menunggu
"Edzard saat kau memintaku untuk menunggu, kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Tapi tenanglah aku akan bahagia disini, tetaplah merindukanku" Evelyne tersenyum dengan air mata yang mengalir.
__________
Evelyne menggunakan pakaian serba hitam dengan payung hitam yang ia pegang karena langit masih menurunkan airnya meskipun tidak begitu deras, hanya gerimis ringan.
Evelyne meletakkan payungnya di tanah, mengusap nisan yang bertuliskan Edzard Zachary. Nama yang terukir dihatinya, nama yang akan selalu terlintas dibenaknya.
Evelyne tidak berbicara apapun, Evelyne juga tidak menangis, dia hanya diam membisu menatap makam dengan pilu. Puncak kesedihan seseorang saat ia sudah tidak bisa menangis lagi.
Evelyne berusaha tegar dia tidak mau membuat Edzard kecewa dengan tangisnya, sudah cukup ia bersedih dan merasakan kepedihan dunia, ini memang sudah saatnya Edzard merasakan kebahagiaan yang kekal. Evelyne tidak mau mengganggu kebahagiaan Edzard karena tangisnya.
Entah sudah berapa lama Evelyne disini, sampai badannya mulai terasa pegal. Evelyne berdiri sebetulnya dia tidak ingin pergi sekarang namun langit mulai gelap, bahkan tetesan air hujan sudah tidak ada lagi.
"Edzard sampai jumpa" Evelyne lebih senang mengucap sampai jumpa daripada selamat tinggal. Karena ia yakin mereka akan kembali bertemu dalam keadaan yang lebih baik.
___________
Evelyne menggosokkan kedua telapak tangannya karena merasa kedinginan, tadi saat ia berada di pemakaman tidak merasakan dingin meskipun dia berdiam diri lama disana, tapi kenapa sekarang dia baru merasa kedinginan.
Tiba-tiba Evelyne merasa ada yang menyelimuti jaket pada tubuhnya, Evelyne menoleh kebelakang.
"Axel"
"Hai" sapa Axel sembari melambaikan tangan.
"Kok lo bisa ada disini?"
"Udah dari tadi"
"Ngapain?" Tanya Evelyne
Axel tersenyum sejenak dan menjawab. "Memperhatikan seseorang yang sedang galau, berjam-jam berdiam diri di pemakaman, gue takutnya Lo kerasukan"
"Dasar penguntit" cibir Evelyne
"Gue nggak sengaja lihat lo kok, karena gue baik gue takutnya Lo kerasukan atau semacamnya jadi gue merhatiin Lo"
"Nggak dingin apa?" Tanya Axel."Pakai tuh jaket gue" pinta Axel.
"Terimakasih"
"Gue traktir apa aja yang Lo mau gimana? Jangan nolak dong, bisa hancur reputasi gue sebagai fuckboy kalau Lo nolak ajakan gue" Evelyne menerima ajakankan Axel.
_____
"Mau pesen apa?" Tanya Axel
"Terserah"
"Dasar, Lo cewek yang ke... Ke berapa gue juga lupa, harus banget gitu kalau pesen makanan cowok yang mikir? Nggak ada menu terserah"
"Samain aja kalau gitu"
"Gak ada..."
"Gue pulang aja kalau gitu"
"Oke-oke duduk. Gue pesan makan dulu" Axel beranjak.
"Jangan sedih gitu dong, kemarin Lo bisa ketawa masa sekarang enggak?" Pinta Axel
"Gue nggak sedih, gue diem aja"
"Heeem ya, kelihatan banget kalau Lo sedih tau nggak" cibir Axel tapi Evelyne hanya diam. Keadaan hening dan sangat canggung.
"Kerjaan Lo gimana?" Tanya Axel
"Gak gimana-gimana"
"Ooh. Lo kerja dimana emang?"
"Alsh galaxy company"
"Ooh iya lupa"
"Pacar Lo nggak marah?" Tanya Evelyne
"Lo percaya nggak? Gue lagi jomblo"
"Axel jomblo? Emang bisa?"
"Sebenarnya agak aneh sih rasanya, tapi gue lagi nggak mau buang-buang waktu"
"Udah sadar sekarang"
"Sebenarnya udah dari dulu gue sadar, tapi ya gitu. Rasanya nggak enak kalau nggak ada teman"
"Terus Lo kenapa pacaran kalau emang kenyataannya cuma mau berteman"
"Lo nggak paham sih derita cogan. Padahal gue cuma mau berteman tapi mereka salah paham, bilang gue gantungin merekalah, nggak ngasih kepastianlah. Kalau gue bilang gue cuma mau berteman pasti mereka kecewa, ya... Apa boleh buat mau nggak mau gue harus jadiin mereka pacar gue"
__ADS_1
"Uuum gitu, emang selama ini Lo nggak ada perasaan sama seseorang gitu?" Tanya Evelyne
"Ada"
"Kenapa Lo nggak pacaran sama dia?"
"Masalahnya gue nggak tahu dia suka nggak sama gue, kalau dia nolak gue bisa-bisa hancur reputasi gue" ucapan Axel membuat Evelyne geleng-geleng kepala dan terkekeh geli.
"Menurut lo cinta anak SD itu gimana?" Tanya Axel
"Itu cinta monyet kalau kata orang" jawab Evelyne
"Tapi cinta itu masih ada sampai sekarang"
"Ya berarti itu cinta sejati"
"Cinta sejati ya?" Tanya Axel dan Evelyne mengangguk.
"Gue nggak bisa lama-lama, gue harus kerja" pamit Evelyne
"Gue anterin ya?"
"Nggak usah" tolak Evelyne dan Axel mengangguk paham.
____________
"Oooh" Azelvin terkejut saat melihat Evelyne yang sudah berada di ruangan. "Sudah merasa baikan?" Tanya Azelvin dan Evelyne hanya mengangguk.
"Ada banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan hari ini"
"Baik Sir" jawab Evelyne
Azelvin mengangguk singkat dan kemudian duduk ditempatnya, menyelesaikan pekerjaannya.
Evelyne merasa kedinginan ditambah lagi AC yang menyebabkan suhu semakin dingin, sebelumnya Evelyne tidak pernah merasa seperti ini, Evelyne merasa kepalanya berdenyut-denyut.
"Evelyne kau baik-baik saja?" Tanya Azelvin dan Evelyne mengangguk.
Evelyne terus memaksakan untuk menyelesaikan pekerjaannya dan menyampingkan rasa sakit pada kepalanya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Akhirnya dia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Tetapi Azelvin masih berkutat dengan komputernya, pasti Azelvin tidak mengizinkannya untuk pulang terlebih dahulu,jadi Evelyne memilih untuk tidur di mejanya.
Saat dia bangun ternyata dia terbaring di ranjang, Evelyne tidak asing dengan ruangan ini, ya ini ruang rahasia yang ada di dalam ruangan Azelvin, tentu saja Azelvin yang memindahkannya siapa lagi?
Evelyne ke luar dari ruangan itu dan mendapati Azelvin yang sedang berkutat dengan komputernya.
"Mau secangkir kopi?" Tanya Evelyne
"Eeem" ucap Azelvin sembari mengangguk, "kau sudah bangun?" Tanya Azelvin.
"Tentu" ucap Evelyne dan berjalan ke sudut ruangan, disana terdapat french press, untuk membuat kopi.
"Kau tidak tidur dengan nyenyak rupanya" ucap Azelvin.
"Eeem ku rasa" Evelyne mengangkat bahunya.
Evelyne menyodorkan kopi pada Azelvin. "Terimakasih" Azelvin, Evelyne mengangguk.
"Apa masih lama?" Tanya Evelyne
"Entahlah, bisa saja seperti itu"
"Butuh bantuan?" Ujar Evelyne
"Sudah tidak pusing?" Tanya Azelvin yang membuat Evelyne heran, dari mana Azelvin tahu. "Kau pikir aku tidak tahu, aku memperhatikan mu" ucap Azelvin.
"Ooh tak apa sudah lebih baik"
"Ingin ke rumah sakit?" Tanya Azelvin
"Tidak perlu, ini sudah terlalu larut" jawab Evelyne
"Kau ingin segera pulang? Kalau begitu biar ku selesaikan ini di rumah"
"Tidak perlu aku akan menunggu" ucap Evelyne yang membuat Azelvin terheran. "Pasti tidak akan nyaman jika bekerja di rumah" Evelyne melanjutkan ucapannya.
"Ooh, kalau begitu tidurlah"
"Eem" Evelyne mengangguk, Evelyne menarik kursinya dan meletakkan kepalanya di meja kerja Azelvin. Meja kerja Azelvin lumayan panjang dan lebar jadi tidak menggangu.
Azelvin memperhatikan wajah damai Evelyne yang sedang tertidur, senyuman terulas dibibirnya.
Azelvin membelai lembut rambut Evelyne. Azelvin membisikkan sesuatu pada Evelyne dan mengecup singkat kening Evelyne.
__________
"Apa sekarang kau bisa menerimaku?" Tanya Azelvin, mereka kini berada di depan rumah Evelyne karena Azelvin mengantarkannya pulang.
"Bagaimana?"
"Kau tahu aku mempunyai perasaan terhadap mu, aku tidak ingin mengajak kau berpacaran, aku ingin lebih serius" ucap Azelvin
"Maaf tapi, aku belum memikirkan hal itu sekarang, aku harap kau mengerti"
"Eem, selamat malam" Azelvin mengangguk dan mengusap kepala Evelyne.
"AKU BAIK-BAIK SAJA, AKU AKAN MENUNGGUMU" teriak Azelvin dan melambaikan tangannya. Evelyne menyunggingkan senyumnya dan hendak melambaikan tangannya namun dia berlagak seperti sedang mengusir nyamuk.
Evelyne selesai membersihkan diri. Dia duduk di atas ranjang dan mengusap foto Edzard.
"Aku harus bagaimana?" Ucap Evelyne, Evelyne meletakkan foto Edzard di sampingnya dan menyelimuti foto itu bersama dengan tubuhnya.
"Selamat malam" ucap Evelyne pada foto itu.
__ADS_1