
Evelyne berjalan cepat dengan sangat kesal, bagaimana tidak ? Evelyne menunggu Azelvin.
Azelvin memintanya untuk bertemu di kafe Zachary tapi sudah satu jam lebih Azelvin tidak kunjung datang. Dan kemudian ada seorang sopir taksi yang memintanya untuk ikut atas perintah Azelvin dan Evelyne menuruti permintaannya. Lalu sekarang? Ia berada di pantai si sopir meninggalkannya begitu saja, Evelyne juga tidak tahu dimana Azelvin.
"Mbak" ucap seorang pria yang memberinya bunga.
"Eeh apa ini?" Tanya Evelyne tapi orang itu pergi. Tidak lama kemudian datang juga seseorang yang memberikan bunga lagi, hal itu terus terjadi sampai ditangannya penuh dengan bunga.
Kemudian ada seseorang berkostum koala memegang kertas yang bertuliskan 'ikuti aku' jadi Evelyne mengikuti seseorang berkostum koala itu.
Tiba-tiba terdengar alunan musik dan ada banyak orang yang berjajar. Evelyne melewati mereka yang melemparkan kelopak bunga ke arahnya.
Tidak sampai disitu Evelyne juga melihat anak-anak kecil yang berjajar rapi dengan menggunakan baju yang bertuliskan.
I β€οΈ Y O U
Kemudian terlihat kembang api menghiasi langit, disiang hari seperti ini? Ini konyol, hal itu membuat Evelyne tertawa singkat.
Dia berjalan lagi dan mendapati kelompok bunga mawar yang tersusun rapi membentuk hati.
Evelyne melihat ke sekitar dan dia mendapati Azelvin yang sedang tersenyum kearahnya, Evelyne melangkahkan kakinya mendekat kearah Azelvin. Tapi Azelvin memajukan satu tangannya seolah memberi tanda agar Evelyne berhenti, akhirnya Evelyne menghentikan langkahnya.
Azelvin tengah memegang beberapa kertas? Atau apa Evelyne juga tidak tahu.
Azelvin membalikkan salah satu papan yang bertuliskan.
Aku bukanlah orang yang pandai mengukir kata indah
Lalu Azelvin membalikkan papan lain yang bertuliskan.
Aku bukanlah orang yang mengungkapkan perasaanku dengan benar
Azelvin membalikkan papan lagi yang bertuliskan.
Aku bukanlah orang yang baik dalam melakukan hal romantis
Azelvin membalikkan papan lagi yang bertuliskan.
Aku menyukai malam dan siang
Aku menyukai laut dan langit
Aku suka semua tentang mu
Azelvin membalikkan papan lagi yang bertuliskan.
Tapi aku tidak menyukai kehilanganmu, aku membenci itu
Azelvin membalikkan papan yang bertuliskan.
Jangan pergi dariku
Evelyne mengangguk kepalanya. Azelvin membalikkan papan yang bertuliskan.
Apa kau sekarang berpikir aku seperti remaja labil dengan tingkat kebucinan tinggi?
Itu membuat Evelyne terkekeh geli. Azelvin melanjutkan kegiatannya lagi.
Tidak apa jika kau berpikir begitu selama kau bahagia
Hal itu membuat Evelyne mengacungkan jari jempolnya.
Cinta? Apa yang kau pikirkan tentang itu?
Evelyne mengangkat kedua bahunya.
Cinta adalah perasaan wajar yang akan dialami manusia, ada yang mudah mencintai namun ada juga yang tidak. Cinta membahagiakan tapi terkadang ia menyakitkan yang pasti cinta itu seperti sebuah alkohol dengan kadar tinggi... Ya cinta itu memabukkan.
Evelyne menggelengkan kepalanya melihat tingkah Azelvin sekarang.
Dan aku bukanlah orang yang mudah mencintai
Azelvin membalikkan papan lain.
Tapi saat ada kau dibumi ini mungkin hal itu tidak berlaku lagi
Itu membuat Evelyne tertawa kecil.
I
Jantung Evelyne sudah mulai berdetak kencang.
Love
__ADS_1
Apa yang akan tertulis selanjutnya? Namun... Ternyata tidak ada yang tertulis. Karena yang dipegang Azelvin kini adalah sebuah cermin yang memantulkan bayangannya. Hal itu membuat Evelyne melangkahkan kakinya cepat dan memeluknya.
"Suka?" Tanya Azelvin dan Evelyne mengangguk.
"Boleh aku memiliki jari manis mu" ucap Azelvin meraih tangan Evelyne dan memasangkan sebuah cincin pada jari manisnya.
"Untuk apa kau meminta jari manis kalau kau bisa memiliki semuanya" ucap Evelyne.
"Benarkah?" Tanya Azelvin dan Evelyne mengangguk antusias.
"Maukah kau menjadi milikku dan menjalani hidup bahagia denganku?" Tanya Azelvin dan lagi-lagi Evelyne mengangguk.
"Maukah kau mengajariku tentang arti kehidupan yang sesungguhnya, maukah kau menjalani kehidupan bersamaku, aku tidak bisa menjamin kau akan terus bahagia disisiku tapi aku akan berusaha membuatmu bahagia. Evelyne Chalesthane Mariolin maukah kau menjadi pendamping hidup Azelvin Aleston" tanya Azelvin.
"Untuk apa?" Ucap Evelyne. "Aku menolak" imbuhnya yang membuat Azelvin mengeratkan pelukannya dan mencium keningnya.
"Apa yang kau pikirkan dengan kembang api disiang hari?" Tanya Evelyne.
"Kau tidak suka?" Tanya Azelvin.
"Aku suka semua tentangmu" ucap Evelyne.
"Dasar kau copy paste" cibir Azelvin yang menggelitiki Evelyne.
"Apa aku melakukannya dengan baik?" Tanya Azelvin.
"Apa?" Tanya Evelyne yang tidak paham.
"Ini" ucap Azelvin.
"Aah... Siapa seseorang yang melakukan ini dengan romantis"
"Aku, apa benar kau suka?"
"Sangat suka. Milik siapa ini yang melakukan semuanya dengan baik" ucap Evelyne mencubit pipi Azelvin.
"Milikmu"
"Benarkah?"
"Iya"
"Sungguh?"
"Kau tahu dimana Jackson sekarang?" Tanya Azelvin.
"Hei dia ayahmu"
"Memang, kau tahu dia dimana"
"Kalau dia ayahmu seharusnya kau panggil dengan benar, dan kenapa kau bertanya keberadaannya padaku, mana aku tahu"
"Kau sungguh tidak tahu? Padahal kau akan menyukainya jika kau tahu"
"Memangnya Mr. Jack kemana?"
"Korea"
"Melakukan perjalanan bisnis? Atau berlibur?"
"Tidak. Dia sedang menemui calon besannya agar mendapatkan restu untuk anaknya" ucap Azelvin yang membuat Evelyne senang.
.
.
.
.
.
Hari ini entah mengapa dia sangat bahagia. Evelyne memegang testpack yang menunjukkan hasil positif dan dia juga sudah periksa ke dokter dan memang Evelyne positif hamil.
Evelyne awalnya terkejut dengan hal itu tapi ia tidak perlu khawatir bukan? Azelvin mencintainya,jadi Evelyne hendak memberi tahukan ini pada Evelyne.
Dilamar dengan romantis.
Dan sekarang Evelyne tengah mengandung anak Azelvin. Betapa bahagianya dia.
Evelyne senyum ketika mendapatkan sebuah pesan masuk dari Azelvin, Azelvin ingin bertemu dengannya malam ini.
Jadi Evelyne tengah menyiapkan baju yang cocok untuk dia kenakan. Evelyne bahkan merias wajahnya agar terlihat cantik. Evelyne kini sudah siap menemui Azelvin ditanam dekat rumahnya. Jadi Evelyne berjalan kaki saja sudah sampai.
__ADS_1
Tapi kenapa harus gerimis?
Tiba-tiba saja itu membuat perasaan Evelyne tidak enak.
"Aah Evelyne hanya gerimis tidak apa" ucapnya pada diri sendiri.
Ternyata sudah ada Azelvin disana, Azelvin yang semula duduk kini dia berdiri di hadapan Evelyne.
"Kau cantik" ucap Azelvin yang membuat pipi Evelyne bersemu.
"Ada yang ingin aku katakan" ucap Evelyne dan Azelvin bersamaan.
"Kau saja dulu" ucap Evelyne.
"Mari akhiri ini" tiga kata yang Azelvin ucapkan barusan berhasil membuatnya kehilangan kebahagiaan yang dia rasakan tadi.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu harus mulai menjelaskannya dari mana tapi kau perlu tahu alasannya" kata Azelvin.
"Katakan" ucap Evelyne dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kau tahu Anna?" Tanya Azelvin.
Anna? Sepertinya Evelyne pernah mendengar itu.
*Scroll part 40 oke*
"Dia yang sudah membuat ku seperti ini, membuat masa-masa kecil hingga kini kurang kasih sayang dari orang tua, dia yang membuat mama menderita karena tidak mendapatkan cinta dari papa. Anna dia seseorang yang dicintai papa, seseorang yang secara tidak langsung telah menghancurkan keluarga ku, seseorang yang juga membuatku menderita" tutur Azelvin. Evelyne menatapnya dengan iba.
"Anna, itu adalah nama saat Caroline Quenby Loveta masih kecil. Caroline yang sudah menghancurkan keluargaku" imbuh Azelvin.
"Tapi vin, kau tidak bisa menyalakan mamaku dalam hal ini, dia tidak melakukan apapun pada keluarga mu" ucap Evelyne, air matanya sudah mulai membasahi pipinya.
"Benar, dia memang tidak melakukan apapun, tapi sudah mampu menghancurkan keluargaku, hebat bukan?"
"Vin jika kau pikir mamaku salah dalam hal ini maka pikir saja begitu... Tapi tidak bisakah kau melupakan semuanya dan seperti yang kau katakan kita memulai kehidupan baru yang lebih indah"
"Melupakan... Semudah itu kau bilang melupakan. Jika kau yang berada diposisiku apa kau juga bisa melupakan?" Ujar Azelvin yang membuatnya semakin menangis.
"Kenapa kau tidak bisa melupakan itu? Cobalah untuk memaafkan... Aku saja bisa memaafkan perbuatan mamamu ke anakku, pasti kamu bisa memanfaakan mamaku yang bahkan tidak bersalah" ucap Evelyne.
"Kenapa kau masih membahas tentang Azka, kau bilang tidak ada yang perlu disalahkan, tapi apa sekarang? Hah? Apa? Kau naif. Dan dengar aku tidak senaif dirimu yang memaafkan sesuatu dengan mudah"
"Silahkan pikiran dan lakukan semaumu. Tapi ku mohon dengarkan dulu, aku ingin memberitahukan sesuatu"
"Bahkan aku tidak mau mendengar satu katapun darimu. Jadi akhiri saja ini" ucap Azelvin yang membalikkan badannya hendak pergi.
"AZELVIN... Mana semua janji yang pernah kau ucapkan, apa itu omong kosong? Kenapa kau melimpahkan itu padaku aku tidak bersalah dalam hal ini" ucap Evelyne yang membuat Azelvin membalikan badannya.
"Jika kau anggap itu omong kosong silahkan. Dan aku tahu itu bukan kesalahanmu, tapi jika kau yang berada diposisiku apa kau bisa melakukannya. Apa kau bisa memaafkannya begitu saja? Tidakkan? Jika kau berada diposisiku aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama sepertiku. Kita tidak bisa menjalani ini, jadi lebih baik kita masing-masing saja. Hiduplah dengan bahagia" Azelvin berbalik membelakangi Evelyne.
"Satu lagi, aku mengucapkan selamat karena kau berhasil membalaskan dendammu. Kau berhasil membuat ku jatuh cinta dan kau hanya harus pergi meninggalkanku dan dendammu terbalaskan" imbuh Azelvin.
"Itu adalah niatku pada mulanya, tapi sekarang berbeda aku tidak ingin melakukan hal itu. Dan asal kau tahu sejak awal aku tidak benar-benar ingin melakukan itu" ucap Evelyne dan Azelvin tidak merespon. Azelvin mulai melangkahkan kakinya pergi. Hujan deras mulai mengguyur kota Jakarta dan membasahi tubuh mereka.
"AKU HAMIL" teriak Evelyne, Azelvin menghentikan langkahnya dan kemudian membalikkan badannya.
"Siapa yang tahu itu anak siapa" ucap Azelvin yang kemudian mulai melangkahkan kakinya lagi.
Evelyne tidak habis pikir dengan ucapan Azelvin tadi.
"AZELVIN ALESTON JIKA KAU PERGI KU MOHON JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI" teriak Evelyne dan jatuh sehingga dia terduduk di aspal. Azelvin menghentikan langkahnya sejenak, namun setelah itu dia mengambil langkah lebar dan tidak berhenti lagi ataupun hanya sekedar menoleh kebelakang.
Azelvin pergi, dia benar-benar pergi.
Evelyne harus sanggup untuk tidak bertemu dengannya lagi, apapun yang terjadi nanti dia harus menghadapinya sendiri.
Tak ada lagi Azelvin yang selalu menghibur dengan lelucon bodohnya.
Tak ada lagi Azelvin yang siap 24 jam untuknya.
Tak ada lagi Azelvin yang memberikan pelukan hangat untuknya.
Tak ada lagi Azelvin yang akan menemaninya.
Azelvin yang sekarang berbeda dengan Azelvin yang dia kenal.
Evelyne sudah tidak mengharapkan semua akan sama seperti dulu lagi.
Mau tak mau Evelyne harus menghadapi ini sendiri.
Dibawah tetesan air hujan Evelyne menangisi takdirnya. Menghapus semua kenangan, menghilangkan semua rasa karena keadaan sudah berbeda. Dia harus bangkit tidak ada gunanya terus terpuruk.
__ADS_1
Untuk anak yang masih berada didalam kandungannya dia harus kuat, dia harus mampu menjalani ini, Evelyne tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Meskipun Azelvin tidak menerima anak ini tapi Evelyne tetap akan membesarkan anak ini apapun resiko yang akan dia terima.