Hello! Choco Velvet

Hello! Choco Velvet
Maaf


__ADS_3

Aku turun dari mobil dan melenggang menuju kamarku lalu mengunci kedua pintu kamar yang menghubungkan balkon dan rumah inti.


"Dani bodohhhh... kenapa tega banget sih kamu..." ucapku sambil memukul-mukul boneka Cony yang tempo hari dia menangkan dari Timezone buat aku, puas memukulnya aku memeluknya sambil menangis.



"Aku berharap terlalu tinggi padamu." ucapku pada boneka itu.



"Tapi dengan mudahnya kamu menghancurkan semuanya." lanjutku.



Sya....



Kemudian berkali-kali kudengar suara ketukan di pintu. Aku sama sekali tak menghiraukan panggilannya, kutelungkupkan wajahku ke balik selimut lalu tertidur dengan mata yang masih bengkak.



Aku terdengar saat kudengar pintu diketuk dengan kencang dan teriakan Vika memanggilku namaku.



"Iya Vik... bentar." aku membuka pintu dan dia kaget melihat segala kekusutanku.



"Diihhh ngapain, kamu berantem sama Dani? mata kamu bengkak tuh dah kek mata lebah." oceh Vika.



"Kita berangkat sekarang?" tanyaku.



"Iya.. buruan mandi trus dandan biar cantik." lanjutnya.



"Iya..." ucapku.



Usai mandi dan mengganti pakaian dengan yang lebih sedap dipandang aku melangkah gontai menghampiri Vika yang tengah asyik vc dengan Dito di lantai bawah.



"Eh... suami kamu mana, tumben gak keliatan?" tanya dia kemudian mengakhiri panggilannya dengan Dito.



"Tau..." jawabku.



"Kalian pada kenapa sih, berantem?" tanya Vika lagi.



"Udah yuk ah berangkat." ajakku.



"Kamu nggak izin dulu, kita mau keluar?"



"Nggak perlu." jawabku.



"Ketus banget sih, nggak ngerti deh." gumam Vika.



"Ya udah berangkat yuk." ajaknya.



Kami menuju Transmart untuk mencari barang yang Vika cari. Otakku sedikit terhibur dengan melihat suasana baru diluar sini.



"Btw nggak mau cerita?" pancing Vika saat memihat aku sudah mulai tenang.



"Hmmmmm" aku menarik nafas dalam-dalam.



"Tadi aku lihat Dani sama mantannya lagi ciuman." jawabku sekenanya.



"What????"



"Masa sihhh... Dani sama mantannya, kayanya nggak mungkin deh." lanjutnya masih tidak percaya.



"Gimana ceritanya kok bisa."



Aku diam tak menjawab, aku malas mengulang cerita yang buat aku sakit hati itu.



"Okkee nggak papa, kalau kamu nggak mau cerita sekarang." kata Vika selanjutnya.



"Makasih Vik, udah mau ngertiin aku." ucapku padanya.



"Never mind baby... sekarang yukk cari sesuatu buat Dito."



"Emang kamu ada rencana buat kasih apa?"



"Kalau otak ku seencer itu buat mikir aku gak ngajak kamu kesini."



"Dasar..." gumamku.



"Halahhh whatever lah.. makan dulu yuk." ajaknya.



"Ya kalau aku sih ngikut aja..." jawabku.



"Yukkk kita muasin perut yang keroncongan dulu." ajak Vika. kami berputar-putar mencari makanan yang bikin ngiler. Karena kebetulan lantai ground di Transmart Malang adalah foodcourt.



Kami memesan menu komplit takoyaki yang sangat menggoda. Usai makan baru kami melanjutkan cari kado buat Dito. Sebenarnya aku beberapa kali merasakan ponselku bergetar, pasti panggilan dari Dani, tapi aku sengaja mengacuhkannya.



"Iya apa Dan??" Vika menjawab telepon dari Dani, rupanya karena kesal dia nanyain aku ke Vika.



"Ada sama aku, kenapa?"



"Apa-apa?"



"Di Transmart."



"Iyaaa..."



"Nggak papa kan?"



"Okkee siap."



"Iyaaaa bawel."


Kemudian Vika menutup telponnya.


"Suami kamu nyariin." ucapnya.



"Dia bilang apa?"



"Dia nanya, apa kamu lagi sama aku gak? aku jawab iya, dimana, di Transmart, ya udah pulang jangan malem-malem gitu katanya." jelas Vika.



"Hmmm ya udah." ucapku.



"Lega ya akhirnya dicariin." sindirnya.



"Marahh tapi masih saling cari, benci tapi masih saling rindu." lanjutnya.



"Dia doang yang nyari aku nggak..." elakku.



"Barusan nanyain dia bilang apa kan, itu apa artinya kalau nggak masih cari tau." jawabnya.



"Udahh beresin masalahnya, kamu sama dia nggak pantes marahan, pantesnya tuh mesra an..." lanjutnya.



Aku nggak menanggapi omongannya, karena maklum dia nggak ngerti kejadian yang sebenarnya, aku hanya ngangguk sambil tersenyum.



Dan akhirnya setelah hampir putus asa ngikutin Vika muter-muter Transmart dia dapat wangsit buat kasih kado apaan ke cowoknya. Vika mengajakku mengunjungin counter parfum, dibelikannya sekotak parfum Hugo boss, yang mengingatkan ku pada aroma Giorgio Armani nya Dani.



"Dahhh lega... kenapa nggak dari tadi aja." ucapnya.



"Ya kamu nya sih, harusnya udah ada plan mau beli apa." sahutku.



"Hehehehehe biar kamu ada gunanya buat aku."



"Nemenin muter-muter gitu?" tanyaku.



"That's right." jawabnya.



"Ya udah aku antar pulang ya, habis ini aku mau dinner sama Dito."



"Udah kamu tenang aja, aku masih mau cari udara segar, kamu pulang aja dulu." jawabku.



"Laaah gak bisa gitu, aku yang tanggung jawab kalau ada apa-apa nih, aku telpon Dani suruh jemput."

__ADS_1



"Nggak jangan-jangan aku gak mau segampang itu maafin dia, enak aja... udah salah ntar kapan-kapan diulangi lagi da tu sama dia." tahanku.



"Trus kamu mau kemana?" tanya Vika.



"Udah gini aja, aku bareng Sampek taman kunang-kunang ya, ntar kamu pulang aku mau tinggal bentaran aja, nanti pulang aku telpon Dani kok." jawabku.



"Gitu beneran nih, ntar kalau ada apa-apa sama kamu bisa dihabisin Dani aku Sya."



"Udah kamu tenang aja, gak bakalan lama kok, aku bentar doang." jawabku.



"Ya udah deh hayukk, sampai Taman kunang-kunang doang nih, ehhh disitu tempat mahasiswa-mahasiswa nongkrong, ntar kamu digodain sama mereka \*\*\*\*\*\* Luh." kata dia kemudian.



"Enggak kamu tenang aja." sahutku.



"Ya udahlah..." kata Vika pada akhirnya."



Kami berdua meninggalkan Transmart dan Vika nurunin aku di taman kunang-kunang. Memang ramai sih disini sore hari biasanya, namun menjelang Maghrib kaya gini jadi sepi. Aku duduk di salah satu kursi yang ada disana.



Vika melambaikan tangannya kemudian berlalu. Aku masih menikmati Jungle Juice mangga premium ku. Sampai ada beberapa mahasiswa yang baru aja tiba disana.



"Sini dek gabung sama kita, nggak papa jangan sendiiran disitu ntar kesambet loh."



Aku hanya mengangguk dan membalasnya dengan senyum.



"Gilaaa senyumnya plek... ajak ke kosan yukk."



"Lahh mau ngapain gila lu omes malu-malu in."



"Bodoh banget nih anak ada yang bening dianggurin."



"Dari bentukkanya sih masih SMA kayanya."



Mereka bertiga akhirnya mendekat dan duduk diantara tempat dudukku.



"Sekolah dimana?"



"Bina Cendika."



"Kelas berapa?"



"XII."



"Hmmm seger bener pantesan.."



Aku mulai merasa gak enak, dari kata-katanya pasti tuh mereka mahasiswa omes, alias otak mesum.



"Main ke kosan yuk."



"Ayoolah dijamin seru."



Aku meraih tas ku dan berdiri dari tempat dudukku berniat mau kabur dari mereka. Namun salah satu dari mereka menahan tanganku.



"Mau kemana, belum juga kenalan."



"Lepasin..." ucapku.



"Yang gini nih gw demen."



"Hehh dek kalau aku jadi kamu mending nurut aja, disini sepi gak ada yang bakal nolongin kamu."



Aku menghempaskan tanganku dan mencoba lari sekuat tenaga. Sampai tiba-tiba sebuah motor berhenti di depanku, saat aku hendak nyebrang ke tempat yang lebih ramai. Di tempat sesepi ini apalagi keadaan petang hari saatnya semua orang menunaikan sholat Maghrib.



"Danii...." pekikku.



Antara terkejut dan lega rasanya.




"Untung Vika tadi kasih tau aku suruh jemput kamu disini."



"Kalau aku telat gimana, disini sepi ngapain kamu cari penyakit kesini."



"Kalau kamu diapa-apain sama mereka gimana."



"Biasa aja ngomong nya gausah teriak-teriak aku juga ngerti kok."



"Kamu masih marah sama aku?" tanya Dani kemudian.



"Ya kali aku gak ada rasa sama kamu, kalau sampai aku liat kamu ciuman sama mantan terus ngerasa baik-baik aja."



"Maaf sayangg maaf, aku tadi kebawa suasana."



"Semua cowok sama aja." sahutku.



"Okke sekarang kamu mau aku gimana, biar kamu bisa maafin aku?" tanya Dani.



"Ya kamu usaha dong, mikir sendiri." jawab ku.



"Pacar aku kenapa serem banget sih marahnya."



"Okkee kita jalan-jalan." jawab Dani.



Dia meraih tanganku dan melingkarkan ke pinggangnya. Sebenarnya aku senyum-senyum sendiri tapi gengsi aja buat kasih tau ke dia kalau aku sebenarnya ya udah maafin dia.



Hampir 45 menit dan kami belum sampai di tempat tujuan.



"Kita mau kemana?" tanyaku.



"Nanti juga bakalan tau."



Setelah aku berpegangan padanya, dia memacu motornya dengan kencang. Dan tiba juga kami di alun-alun kota Batu.



"Ini kota paling dingin di Malang ya?"



"Ehmmm iya... bisa dibilang gitu." jawabnya.



"Pantesan langsung kerasa dinginnya."



Dipikirnya aku ngode, langsung di buka jaketnya dan menangkupkan padaku.



"Jangan sok, nanti kamu masuk angin."



"Enggak aku kulit badak kok gak bisa masuk angin."



"Ya udah kalo gitu." jawabku.



"Naik bianglala yuk." Ajakku kemudian



"Lahhh aku takut sayang, beneran dari kecil aku gak berani naik gituan."



"Ehmmmmmmm aku mau naik, pingin..." rengekku.



"Ya udah deh ayok." kata Dani pada akhirnya.



Kami mengantri dan itu lama sekali untuk tiba giliran kami. Dani terlihat gelisah saat antrian semakin mendekat ke arah bianglala.



Aku memeluknya dari belakang agar dia tidak kabur, dia melirikku aku hanya tersenyum dengan wajah tak bersalahku.



Dia memegangi tanganku yang melingkar diperutnya. Entah kenapa rasa kesalku seharian sudah hilang tiba-tiba.


__ADS_1


"Kamu beneran takut?" tanyaku lirih.



"Hmmmm enggak kok." aku tau dia mencoba menutupi ketakutannya.



Dan akhirnya tiba giliran kami. Kami masuk ke kabin bianglala warna merah, dan Dani langsung pucat wajahnya. begitu kabin kami mulai terayun-ayun dan naik secara perlahan.



"Lama banget muternya." keluhnya sambil berpegangan erat pada kursinya, membuatku tertawa geli.



"Sayang hadap sini..." panggilku sambil mengabadikan dalam sebuah foto.



"Iiiih jahat banget kamu sayang, moment gini baru mau panggil sayang."



"Kamu beneran takut?" tanyaku mulai khawatir saat kami berada di puncak dan berhenti tepat di puncak



"Wwwooi Napa berenti sih?" dia mencoba melongok kebawah namun buru-buru kembali menarik kepalanya.



"Ehhh buset dah tinggi banget, mana angin nya kenceng."



"Bang... turunnya bisa dipercepat gak sih."



"Sayang malu tau, udah jangan teriak-teriak." aku masih menahan tawa.



Sampai akhirnya kami berhasil turun, dia buru-buru keluar dan mencari tempat sepi kemudian muntah seada-adanya. Aku baru panik.



"By kamu nggak papa?" tanyaku sambil memijit tengkuknya.



Dia menggelengkan kepala namun masih melanjutkan muntahnya, sampai lama banget kayanya sampai udah gak ada lagi yang bisa dimuntahin.



Kemudian berdiri sambil menatapku, kasihan banget penampilan nya udah kacau banget tapi masih bisa tersenyum. Aku mengambil tissu basah dan minyak kayu putih dari dalam slingbag ku.



Kubersihkan bibirnya lalu kuoleskan minyak kayu putih di tengkuk dan pelipisnya.



"Kamu beneran takut?"



"Sebenarnya nggak takut..." jawabnya.



"Masih ngeles lagi.." .



"Enggak sayang cuma pusing aja kalau di ketinggian."



"Ehmmm ya itu termasuk salah reaksinya sayang."



"Ohh gitu ya, jadi udah dimaafin nih? ya kali Sampek aku mau pingsan gak dimaafin." ucapnya.



"Iyaaa iyaaa aku maafin, lain kali kamu ulangi lagi aku bakal tinggalin kamu," tegasku.



"Iya sayang maaf."



"Dah berdiri ayok." ajakku.



Dia lantas berdiri dan memelukku.



"Pliss jangan marah lagi dan jangan tinggalin aku kaya tadi, aku kacau banget sumpah hari ini." ungkap Dani.



Aku membalas pelukannya dan merapatkan diriku padanya.



"Kamu jangan gitu lagi ke aku, sedih banget rasanya." ucapku.



"Iya sayang." ucapnya seraya mengecup puncak


kepalaku. Lalu sedetik kemudian kami saling melepaskan diri saat ada beberapa orang yang terdengar mendekat.


"Mau makan apa, ayo kita cari kuliner yang enakk." ajaknya.



"Aku udah makan sama Vika tadi. kita cari jajanan aja yuk."



"Ya udah sayang, ayok." jawabnya pasrah.



"Ehhh itu telur gulung kesukaan kamu sayang." dia menunjuk ke penjual telur gulung.



"He em..." aku bersemangat untuk mendekat.



"Bang telur gulung ya 10rb ya." ucap Dani.



"Banyak banget by, kebanyakan."



"Udah nggak papa." jawabnya.



Setelah menunggu beberapa menit saja, telur gulung sudah berada di tanganku. Aku makan sambil kita jalan ke tempat parkir sepeda motor tadi.



"Ini enak banget by, kamu mau?" aku menawarkan sekantong telur gulung kehadapannya. Namun dia justru memilih melahap setusuk yang aku pegang.



"Itukan punyaku, masa aku kasih kamu yang baru, kamu milih sisa gigitanku." aku bersungut-sungut.



"Jangankan sisa gigitan kamu, bekas kamu, bibir kamu pun aku mau." jawabnya sambil terkekeh.



"Ya udah pulang yuk, keburu malam tambah dingin di sini." ajaknya.



"Atau mau nge VIP banyak Villa di sini." ucapnya sambil mengerling nakal padaku.



"Pulang." sahutku.



"Kenapa nggak mau?" tanya dia.



"Masih nanya lagi." jawabku.



"Iya sayang iya..." sahutnya.



Setelah aku turut naik dibelakangnya, dia memacu motornya dengan kencang melesat membelah jalanan kota Batu.



"Jangan kenceng-kenceng Dan..."



"Apa??"



"Jangan kenceng-kenceng sayang..."



Dan Dani langsung mengurangi laju motornya.



"Begitu di panggil sayang langsung denger." bisikku pelan.



"Lagian tumben kamu bawa motor?" tanyaku kemudian.



"Biar kamu bisa meluk aku dari belakang kaya gini. Aku ngerti kalau pake mobil kamu bakalan ngejauh kaya tadi siang." jawabnya.



"Hmmmm...." gumamku



"Kenapa?" tanyaku.



"Aku masih nggak ngerti, kenapa bisa kamu ringan banget berciuman dengan mantan?"



"Sayang udah jangan dibahas, aku ngaku aku yang salah, tapi aku nggak mau berantem lagi gara-gara ini, dan aku sudah jelasin kalau aku cuma kebawa suasana aja." jelasnya sambil memegangi tanganku dengan sebelah tangannya.



"Kamu jangan ngambek lagi dong sayang, aku tuh beneran sedih pas kamu acuhin."



"Ntar kalau kamu mau putus, pas kamu udah kuliah, bilang aja langsung jangan pakek drama ya aku nggak suka." ucapku.



"Aku nggak mau putus sama kamu."jawabnya tegas membuatku kaget karena dia menaikkan nada bicaranya.



"Sampai kapan pun aku nggak mau putus, lulus sekolah kita nikah." lanjutnya.



"Aku mau kerja." elakku.


__ADS_1


"Okke aku kasih kamu kesempatan, tali gak lama-lama, kemudian kita nikah, kamu hamil kita punya anak dan udah bahagia selamanya, kamu jadi ibu dari anak-anakku dan aku jadi suami tanggung jawab yang kerja buat anak dan istri." jawabnya.


__ADS_2