
Akhirnya kami berdua bisa meninggalkan Vika dan Dito dengan perasaan tenang. Aku merasa lega sekali, gak bisa membayangkan seandainya aku tak pernah melihat testpack itu apa yang bakal mereka lakukan jika tidak mengatakan pada orang tuanya.
"Sayang..." panggil Dani padaku, kami mulai meluncur meninggalkan dua keluarga yang tengah bahagia dalam pedihnya itu.
"Iya..." jawabku.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Dani.
"Enggak lega aja, mereka berdua terselamatkan." jawabku.
"Oh iya ada yang mengganggu pikiran ku sih." ucapnya kemudian.
"Hmmm apa itu?" tanyaku.
"Aku lihat ada yang aneh sama Dito, kenapa dia natap kamu beda dari biasanya, dan bentar-bentar, jangan-jangan terjadi sesuatu yang aku nggak tau."
"S... Sesuatu kaya gimana?"
"Ya aku nggak tau, tapi kamu juga, aku ngerasa perhatian kamu ke dia beda."
"Beda gimana, okkee baik aku cerita, jadi gini, tapi kamu jangan salah paham ya."
"Iya..."
"Dito ngaku dia suka sama aku udah lama banget sejak aku pindah kesini, ternyata dibelakang ku dia udah ngelakuin banyak hal tanpa aku tau sebelumnya, aku hargai dia dengan mendengarkan ceritanya sampai akhir, dia tau kalau kita saling suka tapi terjebak dengan identitas saudara, dia tau kamu suka aku, dan dia bilang, mungkin kalau bukan Dani yang jadi cowok aku dia masih bakalan berjuang untuk dapetin aku, tapi karena itu kamu ya udah dia mundur."
"Terus...."
"Ya.. ya udah... Gitu doang."
"Aku bilang terus.. ya terus cerita gausa bohong."
"Maksud kamu apa?"
"Dia nggak ngelakuin apa-apa ke kamu? jujur Sya, aku sih sangsi, dia bisa tuh hamilin cewek dan kamu juga cewek yang dia suka." cecar Dani.
"Dia cium aku... tapi nggak kaya yang kamu pikirin Dani, mungkin kamu cuma denger aja dari ceritaku dan kamu mikirnya... nggak tau lagi mau ngomong apa."
Dani menghentikan mobilnya tangannya meremas kemudi lalu memukulnya. Aku tau dia marah, ya tentu aja marah, ceweknya di cium cowok lain.
"Kamu kenapa mau dicium dia, kamu suka sama dia?"
"Kamu apa-apaan sih, emang aku segampang itu di mata kamu, aku hanya nggak sempat ngindar aja, ya kali kamu sengaja ciuman di toilet sama mantan kamu." aku mulai menggunakan andalan para cewek, saat cewek salah maka cowok lebih salah, semoga dia nggak memperpanjang masalah, takut banget dia marah.
Dia menjalankan mobil nya lagi tanpa berkata-kata.
Tapi aku masih melihat rahangnya mengeras pelipisnya berdenyut-denyut.
"Dann.. iya aku salah aku minta maaf, kamu percaya dong sama aku, lagian Dito juga mau nikah sama Vika, dia mungkin suka sama aku, tapi di hatiku hanya kamu. Harusnya kamu ngerti lah, kalau aku suka sama dia mungkin dari awal aku udah baper sama dia daripada kamu." jelasku.
"Untung cowok itu Dito, kalau nggak aku habisin tuh anak." ucapnya kemudian tanpa memandangku.
"Dia nggak ada maksud apa-apa dan aku sama dia juga nggak pernah ada apa-apa?"
"Mungkin aku salah karena cara nenangin Adhis waktu itu gak bener, tapi kamu nggak seharusnya bales aku kaya gini, aku sayang sama kamu, aku nggak mau disentuh cowok lain, rasanya sakit banget, beneran kalau bukan Dito udah pasti aku gebukin." lanjutnya.
"Tapi aku sama sekali gak bermaksud buat bales kamu." jawabku.
"Kenapa kamu diem aja, harusnya dia mulai dekat kamu udah menjauh."
"Aku nggak tau kalau dia bakalan ngelakuin itu, emang tiap kali kamu cium aku tiba-tiba, aku pernah sempat ngindar enggak kan, tapi aku beneran sama dia nggak ada apa-apa, kamu percaya dong."
"Nggak tau... kamu kaya nggak ada niat buat bales perasaan ku dari awal." lanjutnya.
"Daaaaan... " potongku.
"Udah aku nggak mau debat, ujung-ujungnya cuma buat aku kecewa dan kamu yang nangis ya kan."
"Kamu kenapa kaya gini sih?" ucapku pelan.
"Kamu yang kenapa kaya gini, kalau kamu emang suka sama dia harusnya dari awal ngomong ke aku, bukannya dibelakang ku mainin perasaan."
"Ya udah iya aku emang salah, kamu puasin aja nuduh aku, bilang ini itu terserah kamu, toh kamu udah nggak mau dengerin aku lagi."
Dia mengacak-acak rambutnya lagi, wajahnya memerah karena amarah, dan aku takut melihatnya seperti, aku memilih diam dan menunduk.
Sampai dirumah dia langsung masuk ke kamarnya, tanpa mempedulikan ku. Gitu amat ngambeknya, padahal kemarin aku lihat dia juga ciuman sama cewek lain dan ngambeknya gak lama.
Aku pergi kekamarku, merebahkan diri diatas tempat tidur sambil sesekali kutengok kearah pintu juga ponselku. Hampir berjam-jam aku sengaja nungguin dia, biasanya dia nyelonong masuk aja ke dalam kamar, kali ini dia sama sekali nggak kelihatan batang hidungnya.
Aku juga sengaja lewat di depan kamarnya berkali-kali melakukan hal yang gak penting kaya naruh pakaian kotor, ambil minum, ambil buah dari kulkas, tapi dia sama sekali gak peduliin aku.
"Tau ahh... kalau mau ngambek-ngambek aja sana, aku udah minta maaf juga, jadi kesel deh."
Kulirik jam dinding masih bercokol di angka 4, kenapa waktu kaya lama banget sih kalau di diemin Dani kaya gini. Aku mengambil slingbag ku lalu keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Aku sempat berhenti dan mendongak keatas Dani sama sekali nggak nanya aku mau kemana.
Akhirnya kuputuskan buat order grab menuju Gramedia di jl. Basuki Rahmad. Padahal ada yang lebih dekat di Mall Olympic Garden juga di Malang Town Square, entah kenapa sengaja aja menghindar biar sekalian gak pulang-pulang, kesel banget rasanya dicuekin baru tau deh.
Hampir sejam aku muter-muter di Gramedia nggak jelas, padahal cuma ambil satu buku berjudul Daisy dan beberapa komik romance. Setelah itu aku keluar, nyeberang, masuk KFC karena laper, udah hampir gelap hari, tapi Dani sama sekali nggak nyari aku.
Setelah memesan menu kombo aku naik ke lantai dua. sambil membawa nampan berisi menu komplit yang aku pesan. Sebenarnya aku gak ada niat buat alay dengan foto makanan lalu dijadiin story, namun rasanya gatel aja biar di notice Ama Dani. Aku juga sempat membuat Boomerang dengan background banyak anak dibelakangku sedang party mungkin salah satu diantara mereka ultah, sedangkan aku harus luas dengan kesendirian ku.
Tapi nggak juga, dia liat doang nggak nanya aku sama siapa, pulang jam berapa. kesel dan sedih banget rasanya. Sambil nangis kuhabiskan makananku lalu jalan ke alun-alun aku duduk di pojok baca yang menghadap ke Ramayana.
__ADS_1
Ku sobek wrap yang membungkus novel Daisy di tanganku lalu mulai membacanya. hari semakin gelap dan mataku sudah tidak bisa lagi dipaksa untuk membaca. Hujan turun dengan derasnya, tinggal aku sendirian di pojok baca. kumasukkan novel kedalam tasku lalu kuambil ponselku.
Bersamaan dengan ponsel ku genggam, led nya berkedip merah, sedetik kemudian ada panggilan masuk dari Dani.
"Sayang..." panggilku sambil kuhapus airmata kekesalanku.
"Sayang siapa?" tanya dia.
"Sayangnya aku..." jawabku.
Dia tersenyum.
"Kamu dimana hujan-hujan kaya gini?" tanya Dani kemudian.
"Aku di alun-alun kota, pojok baca sudut depan Ramayana." jawabku.
"Jangan kemana-mana, aku kesana." ucapnya sambil menutup telpon. Lega sekali rasanya. Aku mengambil cermin kecil di dalam tas ku, kurapikan rambut juga menghapus debu tipis yang menempel diwajahku.
Jarak dari Ijen Nirwana ke alun-alun kota malang lumayan juga sih, tapi nggak sampai setengah jam sudah kulihat Agya merah milik Dani parkir di halaman depan Ramayana. Dan dari jauh dia menatapku.
Aku berjalan mendekat, namun Dani memintaku untuk tetap diam ditempat ku. Dia berlari-lari kecil menuju tempatku. Kemudian berteduh di bawah naungan yang sama, aku mengusap rambutnya yang basah juga wajahnya.
"Aku sayang kamu." ucapnya.
"I...iya.." jawabku, masih diliputi rasa bersalah dan takut padanya.
"Iya apa?"
"Iya aku juga sayang kamu." jawabku.
"Maaf..." ucapku kemudian.
"Iya... aku juga minta maaf, udah kaya gini ke kamu, habis aku kesel sama Dito." ucapnya.
"Kamu boleh cemburu kamu boleh marah, tapi kamu harus tau bahwa aku cuma cinta sama kamu." terangku.
"Makasih sayang." ucapnya.
"Ayo pulang, dingin banget disini, aku udah kaya orang bodoh drama sendirian biar di notice sama kamu." ajakku.
Dia melepas jaketnya kemudian memasangkannya padaku.
"Masih hujan, nggak papa nih kita jalan ke tempat parkir. tadi aku mau muter biar dekat, tapi kan dilarang muter." ucapnya.
"Iya nggak papa kok kita kesana aja.
Aku mengikuti Dani lari-lari kecil sambil menutup kepalaku dengan telapak tangan. Sampai di tempat parkir mobilnya, Dani membukakan pintu untukku dan mempersilakan ku masuk.
Haattttsiii...
Cepat sekali merespon padahal baru kena air hujan. Aku menepuk-nepuk dahiku yang pening.
"Yaahhh... jangan sakit dong sayang." ucap Dani begitu beres bisa keluar dari area parkir.
"Enggak kok... nanti minum obat sembuh besok pagi sekolah." jawabku.
Aku melihat titik air hujan dari rambutnya yang jatuh mengalir ke wajah dan belakang telinganya. Kuambil tissu lagi lalu kuusap perlahan basahan air hujan yang ada di wajah Dani.
"Makasih sayang" ucapnya.
Sampai dirumah kulempar begitu saja slingbag ku keatas ranjang, dan aku buru-buru mengganti pakaian ku yang basah dengan baju hangat. kulilitkan handuk dikepala ku untuk mencegah air kembali menetes di pakaianku.
Aku duduk di depan meja riasku dan kunyalakan hairdryer. Dani masuk sambil membawa dua cangkir berisi Energen kacang hijau untuk kami.
Dia duduk sofa dan meletakkan cangkir diatas meja. Aku mengulurkan kabel hairdryer sepanjang aku bisa duduk di sebelah Dani.
Dia mulai menikmati Energen hangatnya. Dan aku masih sibuk dengan keberisikan hairdryerku.
"Aaaa..." ucapnya menyendokkan Energen untukku. Aku membuka mulut untuk menerimanya.
"Sini biar aku keringkan rambut kamu." ucapku.
Aku mengambil sisir lalu mengarahkan hairdryer kerambut Dani. Ponselnya bergetar diatas meja, kulihat panggilan video dari Farhan. Dia mengangkat nya.
"Ada apa?"
"Tank.... woiii darimana aja sih kamu, kami barusan pushing, ancurr dahhh gara-gara si Egi."
"Kenapa?"
"Halahhh biasalah, agendakan Mabar malam ini ketua, dirumah kamu aja."
"Dirumah ku?" tanya Dani.
"Iya... bentar itu Syaluna?" tanya dia.
Dani mengarahkan kamera videonya ke aku, aku hanya melambaikan tangan sambil terus mengeringkan rambutnya.
"Waduuhhh kalian baru ngapain? pada basah semua tuh rambut. Ehh emang ya hujan-hujan gini hawanya jadi pingin mepet mulu."
__ADS_1
"Ngomong apa sih lu..." kata Dani.
"Ehh Farhan... awas aja kamu nyebarin hoax." ucapku.
"Enggak-enggak tenang aja, aman di aku." katanya.
"Ya udah lanjutin sana, baru juga satu ronde." ucap Farhan.
"Bacot sekali lagi, kuputusin juga leher kamu, mauuu??" kata Dani.
"Ampunn ketua... ya udah Farhan undur diri dari hadapan anda sekalian." ucapnya sambil terkekeh.
"Udah jangan dipikirin, anak-anak emang rusuh ngomongnya." kata Dani kemudian.
"Nih minum dulu, keburu dingin gak enak." ucapnya .
"Iya..." jawabku aku mematikan hairdryer dan mengambil cangkirku.
"Mereka mau datang jam berapa?" tanyaku.
"Nggak tau katanya malam ini, sekarang jam berapa?" dia balik bertanya.
.
Aku melihat jam dindingku sudah menunjukkan jam setengah tujuh malam.
"Sayang bantu aku beresin kamarku yuk, bisa downgrade aku kalau mereka lihat kamarku kumuh hahahaha." pintanya.
"Iya ayok... aku habisin bentar ya." Ucapku.
Aku selesai dengan minumanku lalu membawa kedua cangkir tadi ke bawah. Kemudian masuk ke kamar Dani. Kulihat Dani tengah merapikan tepat tidurnya dan Jallen Gabor berwarna putih di lantai itu tengah berputar dengan mandiri membantu pekerjaan kami membersihkan dan menyapu lantai.
Aku merapikan rak buku dan meja televisi. setelah semua selesai, aku berjalan mendekat kearah Dani untuk membantunya melipat selimut.
"Udah selesai sayang?" tanya Dani.
"Udah..." jawabku, aku tidak melihat kalau si bundar vacum cleaner sudah jalan sampai di tempatku, kakiku terantuk saat jalan dan jatuh terhuyung menimpa Dani.
Dia menangkap ku dengan masih membentang bed cover di kedua tangannya.
"Auuuww..." gumamku lirih.
"Hati-hati sayang, kamu nggak papa?"
"Maaf.. aku nggak liat ada si ini..." ucapku, aku bangun dari pelukan Dani lalu memeriksa apakah vacum cleaner itu baik-baik saja.
"Sayang... aku nanya apa kamu baik-baik aja, kaki kamu barangkali kena, aku nggak nanyain vacum cleaner itu udah biarin aja." lanjut nya, sambil jongkok didekatku.
Vacum cleanernya mati, aku mencoba menekan kembali tombol power tapi nggak bisa.
"Kok nggak bisa..." ucapku, Dani tersenyum sambil meraih vacum cleaner dan menjauhkannya dari ku. Dia mengangkat wajahku dan mengecup bibirku.
"Dia nggak papa, mungkin habis daya, udah lama gak aku isi, kamu nggak perlu mikirin dia." ucapnya kemudian.
"Ya takut rusak..." jawabku.
"Aku takut kamu yang terluka."
"Ahhh lebay dasar, gitu doang."
"Tapi perasaan aku ke kamu nggak gitu doang sayang."
Dia hendak menciumku lagi, namun tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuk lah pasukannya. gilaa wajahku langsung pucat, kenapa nggak ngetik pintu dulu, dan kenapa kami nggak dengar mereka serombongan naik keatas. Mana posisi kami lagi seperti ini, pasti otak mereka udah Travelling kemana-mana.
"Uwoooww.... belum selesai juga." ucap Farhan sambil masuk tanpa rasa sungkan.
"Loohhh kamu disini Sya?" tanya Dirga.
"Kalian.... hayoooo habis ngapain? kamu kerumah Dani dan mau aja diajak kekamar Sya." tambah Egi.
"Ehh nggak kaya gitu kok... iya tadi aku sama Dani emang keluar terus pulangnya aku diminta mampir, mau pulang juga masih hujan, dia bilang ntar aja pulang nya nunggu hujan reda ya udah aku bantu dia beres-beres kamar." jawabku.
"Ehhmmm kirain..."
"Yaudah kamu duduk sini aja, nih nonton tv, aku Mabar dulu ya." pamit Dani sambil menyerahkan remot tv padaku.
Terpaksa kuikuti sandiwara ini, padahal aku ngantuk pingin tidur dan kamarku cuma disebelah. Aku rebahan di ranjang Dani sampai samar-samar mataku terpejam.
"Gila... kamu nemu cewek kaya dia dimana sih?" tanya Erick.
"Kenapa...?"
"Sabar banget jadi cewek, nggak pernah marah, nggak pernah teriak-teriak barbar, dia bahkan nurut banget sama kamu, kamu suruh nunggu pamit Mabar, dia nurut tuh nungguin kamu nonton tv Sampek ketiduran, cewek lain mah udah teriak-teriak liat cowoknya main game." jawab Erick.
"Iya dia emang spesial..." jawab Dani.
"Jagain ketua... jangan main ena-ena aja loh, cewek modelan kaya gitu emang langka, sekalinya disakitin bakalan mbekas selamanya dihati." sela Dirga.
"Btw kamu sama dia udah?" tanya Farhan.
"Lahhh gila kali..." ucap Dani sambil melempar sesuatu ke arah Farhan.
"Cinta itu nggak perlu pembuktian lewat \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* bro, dan nyentuh hati nggak harus lewat dada." jawab Dani membuat darahku berdesir, dia emang nggak pernah minta aku buat sampai kesana, mungkin pernah dia remas dadaku tapi sebatas bercandaan doang buat nerangin from noob to mastah, dia sama sekali nggak ada nafsu buat melakukannya lebih jauh.
__ADS_1
"Makasih udah mencintai aku dengan tulus."