
Hari ini adalah one fine day bagiku, karena, hari ini adalah kelulusanku, walaupun tanpa kedua orang tua, namun aku cukup bahagia, ada orang tua Dani yang bersedia mendampingin kelulusanku di acara sekolah nanti, Mama Dani menjadi wali Dani dan papa Dani menjadi waliku.
Kami berempat bahkan menyempatkan diri foto bareng di both yang tersedia.
"Dan kamu tau nggak, papa benar-benar deg deg an di panggil papa sama Syaluna di depan teman-teman kamu." kata om Angga usai kami berfoto ria dan menunggu hasilnya.
"Papa emang suka lebay, emang kenapa deg deg an?" tanya Dani.
"Soalnya papa belum pernah ikut training jadi mertua." jawab om Angga sambil cekikikan.
Jelas saja pipiku blushing mendengar itu.
"Papa tuh ada-ada aja deh." sahut mama Dani.
"Iya tunggu bentar lagi juga jadi mertua beneran..." tambah Dani.
"Jadi nggak sabar .." kata om Angga.
"Ya makanya dicepetin aja pa, biar Syaluna gak ngeyel cari kerja, aku nggak mau dia kerja." kata Dani.
"Dani kamu apaan sih, kamu sendiri kerja aja belum, mau nyusahin orang tua lagi, makanya aku kerja biar bisa nikah sama kamu pakai uang kita sendiri." jawabku sewot.
"Nahhh tuh dengerin istri kamu ngomong, hormati keputusannya Dan, dia berhak bahagia dengan jalan yang dia pilih, kalau saatnya nanti menikah pasti menikah kok." kata om Angga.
"Iya om... setuju." ucapku.
"Oh iya Minggu depan kan nikahan Vika, katanya diselenggarakan di gedung dengan undangan terbatas saja." kataku.
"Iya dilaksanakan di hotel Savana, mau datang takut baper." bisik Dani padaku.
"Baper pingin nikah?" tanyaku kemudian.
"Takut emosi lihat kamu sama Dito." bisiknya.
"Masih mau dibahas?" tanyaku.
"Enggak sayang... maaf." ucapnya.
"Ya gak papa kalau mau dibahas lagi ayok." jawabku sambil tertawa melihatnya kelabakan.
"Sayang...." panggilnya sesaat setelah aku terdiam.
"Apa?" aku balik bertanya.
"Kurang-kurangin ya makan dan minum pake gula." jawabnya.
"Kenapa?"
"Kamu manisnya kebanyakan." jawab Dani. membuatku tertegun dan blushes.
"Pipi kamu merah tuh." tunjuknya ke pipiku.
Aku berusaha menyembunyikan nya dari Dani.
"Udah sini gak pake sembunyi-sembunyi. Aku suka kamu yang malu-malu, aku suka kamu yang tersenyum setiap saat, aku suka kamu seeeeeemuanya setiap hal sekecil apapun itu bikin aku makin cinta dari hari ke hari." bisiknya.
Aku makin menjauh dan menutup telingaku malu banget kalau om sama Tante dengar gombal nya Dani.
---
Malam ini, aku menghadiri pernikahan Vika di hotel Savana. Aku menggunakan Wearstatuquo Juno v neck berwarna dusty rose, cantik sekali warnanya aku suka. Dani masuk kekamarku untuk melihat persiapan ku menghadiri pernikahan sahabat kami
"Sayang kamu pakai baju ini?" tanya Dani.
"Ehmm kenapa? nggak cocok ya, dadanya terlalu rendah? tapi kan emang modelnya v neck... by, apa warnanya nggak cocok apa gimana?"
"Bukan masalah dadanya rendah, toh nggak ngefek yang lihat juga gak bakalan nafsu soalnya rata sih." jawabnya sambil menahan tawa.
Aku buru-buru menyilangkan tanganku di depan dada.
"Terus?" tanyaku.
"Kamu cantik pakai ini, tapi kamu kelihatan kurus banget. Dan... aku sedih lihatnya." jawabnya.
"Ohh aku bisa ganti kok." jawabku. Aku mengambil salah satu Wearstatuquo lagi dari dalam lemari ku kali ini lebih polos dengan potongan simple namun flowly dibagian bawah.
"Kalau ini?" tanya ku.
"Coba saja dulu." jawabnya.
Aku segera menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian ku.
"Gimana?" tanyaku saat keluar dari kamar mandi.
"Perfect..." jawab Dani sambil mengangkat jempol dan telunjuknya membentuk syimbol ok.
__ADS_1
"Ya udah berangkat yuk." ajakku.
"Siap sayang."
"Sayang... kamu nggak bahagia jadi pacar aku?" tanya Dani begitu kami sudah berada di dalam mobil.
"Kok kamu nanya gitu?" aku mengernyitkan dahi.
"Soalnya kamu kurus banget aku takut kamu nggak bahagia sama aku, maaf ya, aku belum bisa bahagiain kamu, tapi aku janji bakalan ngelakuin apapun agar kamu bahagia, agar kamu bangga menjadi pasangan ku." jawabnya dengan nada bergetar.
"Ya ampun baby.... emang kamu pakai standard bahagia yang mana sih, aku bahagia tau sama kamu, ya emang badan aku kecil, dari dulu juga kurus kok, kalau kamu pikir bahagia ku itu saat kamu bisa beliin aku macem-macem, ngajak dinner di tempat mewah, kasih kado barang-barang branded, dan bla bla bla itu. Maka kamu salah, aku bahagia hanya saat kamu bahagia bareng aku, saat kamu penuh perhatian, saat kamu peluk aku, jagain aku, lindungin aku, lihat kamu tersenyum. Udah bahagia banget kok." ungkapku.
"Kalau memang ada yang harus diperbaiki dalam hubungan kita kamu bilang ya." pintanya.
"Siap sayang..." jawabnya.
---
Kami beruda masuk ke ballroom yang hari ini menjadi tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan Vika. Begitu melihat kami dia langsung memanggilku.
Saat aku mendekat dia langsung memelukku, seketika ekspresi wajahnya berubah. Itu sangat menggangguku, memaksaku berpikir apa ada yang salah disana.
"Sya... kamu plisss jangan makan atau minum apapun ya, dari tadi sore ada beberapa orang asing, iya mereka nyamar jadi pengunjung sampai sekarang belum pulang, aku takut mereka antek-antek Amerta atau musuhnya, dia pasti kesini karena tau kamu bakalan ada disini, aku takut mereka bakalan bawa kamu, atau bunuh kamu disini, nggak beberapa sih banyak banget, aku pikir keluarga Dito, tapi Dito malah balik nanya dia pikir keluargaku, jadi siapa lagi dong kalau bukan mereka." ucap Vika.
"Daannnn kamu jangan jauh-jauh dari Vika ya, jangan misah-misah." lanjutnya.
"Iya Vik, kamu tenang aja." jawab Dani.
Dito menghampiri kami dan dia mengatakan hal serupa. Dani bergabung bersama Dito dan teman-temannya tidak jauh dari tempatku, Sementara, Vika menahanku untuk terus berada disisinya.
"Mau minum?" tanya Vika.
"Boleh..." jawabku.
"Bentar kamu disini aja, biar diambilin adik aku ya. Kamu mau cocktail nggak, kadar alcohol rendahhh banget kok, sebagai penambah cita rasa aja, aku udah minum dari tadi siang." jelas Vika.
"Mau dong."
"Ya udah biar diambilkan dulu ya." ucap Vika.
"Okkeee..."
"Mura.... tolong ambilkan kakak semangkok cocktail ya." pinta Vika pada sepupunya.
"Baik kak... dari belakang apa dari meja depan?"
"Okkke kak..." jawab Mura.
Beberapa saat kemudian Mura kembali, dia membawa semangkuk besar cocktail yang terlihat sangat menyegarkan dan irisan buahnya begitu menggoda.
Vika langsung mencicipinya terlebih dulu begitu Mura pergi, setelah menunggu sekitar 10 menit tidak ada reaksi apa-apa dia baru memperbolehkan aku untuk menuang kedalam gelas.
"Hmmmm seger banget...." ucapku.
"Ehhh amann kok habisin nggak papa, kamu pasti laper nggak makan soalnya." bisik Vika.
"Hehehehe iya..." jawabku.
Nggak terasa aku sampai nambah 3 gelas, sambil ngobrol dan ngerumpi sama Vika. Dan udah hampir satu jam, semakin malam tamu undangan keluarga Vika maupun Dito semakin banyak, Dani juga sama Dito dan lainnya masih asyik ngerumpi kayanya.
"Vik kamu nggak undang teman-teman sama sekali?" tanyaku.
"Ada sih beberapa, kaya Lala, Dinda, Bella dan Naura. Ehhh nah itu mereka baru datang."
"Haiiii... sini.." panggil Vika pada mereka.
"Syaaa.... Vika, nggak nyangka kamu bakal nikah secepat ini, gilaaa mewah banget pernikahan kamu Vik, aku aja Sampek minder sepatuku nginjak lantai ballroom." oceh Dinda.
"Ehhhh teman-teman cuma kita doang nih?" tanya Bella.
"Iya emang tertutup kok." kata Vika.
"Jangan-jangan kamu...." ucap Bella terpotong.
"Iyaaaa sssttt jangan ember deh ah." sahut Vika.
"Btw foto-foto dulu dong." ajak yang lain.
"Ayo Sya..." ajak mereka padaku.
"Iya bentar aku ke toilet bentar ya." pamitku. Aku merasa kaya tipsy gini sih, apa mungkin karena kebanyakan cocktail ya, tapi alcoholnya rendah kata Vika. Kepalaku kliyengan.
Aku berjalan pelan-pelan menjaga kewarasan otakku. karena fisikku udah nggak mendukung,Ini terjadi karena hati atau liverku, sudah tidak bisa lagi memproduksi enzim alkohol dehidrogenase untuk mengubah alkohol menjadi asetaldehida.
Tiba-tiba aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku, begitu dari jauh melihat Dani, perasaanku seakan bahagia banget dan melayang entah kemana, bahkan otakku juga memikirkan hal-hal diluar kendali ku, seperti aku membayangkan bercinta dengannya.
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku dan berusaha mengontrol emosi, kutepuk-tepuk keningku berusaha menyadarkannya dari mabuk alkohol, ada yang aneh, pasti seseorang memasukkan alkohol dengan kadar tinggi kedalam minumanku, aku menoleh ke meja tempatku duduk tadi namun mangkuk dan gelas cocktail yang ada disana semula sudah menghilang. Iya benar ini pasti ada kesengajaan.
Jadi aku memutuskan berjalan kearah Dani, aku takut kalau-kalau bakalan pingsan dan mereka membawaku pergi. Namun secara perlahan, Aku mulai hilang konsentrasi dan sulit mengingat semua hal yang terjadi sebelumnya. Pandanganku tampak kabur, aku lelah, juga mengantuk.
Dan sekarang aku jadi sulit berdiri juga berjalan. Pandanganku semakin kabur, hitam, dan tidak jelas. Aku berusaha memusatkan kendali indra ku pada ujung jari yang kubiarkan mengambang diudara mencari pegangan, di tengah dengungan suara mereka yang kian melemah kemudian mute.
Aku tetap melangkah perlahan, sampai akhirnya aku terjatuh pada tumpukan piramid gelas kaca yang ada di depanku, Gelas-gelas itu jatuh berantakan dan aku tak peduli berapa banyak pecahannya melukaiku. kepalaku benar-benar nyeri tak tertahankan.
Mereka semua terpekik dan sebelum kesadaranku hilang, kurasakan tangan Dani mengangkatku tangannya mengusap wajahku yang berlumuran darah.
"Vika apa yang terjadi kenapa dia begitu pucat dan kulitnya membiru?" tanya Dani pada Vika dan lainnya yang melingkar mengeremuniku.
Beberapa orang merangsek berusaha mengangakatku. Namun Dani dan Dito menghalangi.
"Dia istri saya, dan sedang sakit, biar saya saja yang membawanya pulang." bentak Dani.
"Jangan ada yang berani sentuh dia." bentak Dito. dia terus menahan laju orang-orang itu sampai Dani berhasil mengangkatku.
"Pak tolong anterin temen saya sampek mobilnya." ucap Dito pada staff wo atau security yang juga ada disana, aku nggak paham karena hanya pendengaran ku yang sedikit tersisa.
---
Aku mulai siuman dan membuka mata, kulihat sekitar ku Dani juga kedua orang tuanya tengah terlelap. kuedarkan pandang, aku baru menyadari bahwa aku sedang dalam perawatan, kejadian terakhir yang aku ingat adalah aku berada di pesta pernikahan Vika.
Ada seseorang yang mencoba mencelakai ku, toleransi ku terhadap alkohol adalah sangat rendah dan ada seseorang yang sengaja memasukkan alkohol kadar tinggi, untuk membuatku tak sadarkan diri.
Kuhembuskan nafas panjang, dan aku baru sadar kalau pada hidungku terpasang alat bantu pernafasan.
Aku membukanya karena merasa aku sudah baik-baik saja.
Tenggorokan ku kering, rasanya haus banget, aku ingin minum, namun berkali-kali Dani kupanggil dia tidak menyahut, mungkin karena dia kecapekan.
Aku beringsut mengulurkan tanganku ke nakas. Tubuhku masih lemah seberapa kuat aku berusaha menahan gelas berisi air minum itu tetap jatuh dan pecah.
Dan kegaduhan ku membangunkan mereka, mereka melompat dari tidurnya untuk menyongsong ku.
"Sayang kamu udah bangun?" tanya mama Dani.
"Maaf Tante, tapi Syaluna haus banget tadi dan tangan Sya masih gemetar buat pegang gelas Tante." ucapku.
Dani memakaikan lagu alat bantu pernafasan padaku, tapi aku menolaknya.
"Aku udah nggak papa kok." tolakku.
Om Angga memanggil perawat untuk memastikan kondisiku, setelah diperiksa dan mereka mengatakan bahwa aku sudah membaik, aku bisa bernafas lega. Mereka bilang aku sudah tak sadarkan diri sejak 3 hari yang lalu. Dani mengambilkan ku segelas minum lalu membantuku duduk, aku lihat jam tangan Dani menunjukan jam 3 dini hari.
"Kenapa bisa aku gak sadarkan diri begitu lama?"
"Kemarin Vika sama Dito kesini, mereka sedih banget lihat keadaan kamu, dan Dito bilang, pihak kepolisian menemukan semangkuk cocktail yang telah dicampur oleh Lapen di dapur. Botol Lapen telah dibuang ke tempat sampah. Mereka akan mengusut kasus ini sebagai percobaan pembunuhan, karena Lapen termasuk alkohol paling mematikan nomor dua di dunia." Kata Dani.
"Lapen?" ulangku.
"Iya... minuman primadona penduduk Jogja yang mengandung 98,6 alkohol tercampur dengan gula dan airmineral ini termasuk 10 alkohol paling mematikan di dunia, kadar alkoholnya tinggi banget, dan toleransi alkohol kamu rendah sayang,kamu masih beruntung, karena dokter bilang ada yang koma sampai waktu yang lama bahkan meninggal." tambahnya.
"Jogja?" tanyaku.
"Iya seperti yang dibilang Vika sama Dito waktu itu, orang-orang aneh yang bukan keluarga mereka sudah pasti orang-orang Amerta."
"Mereka sudah berani nyelakain kamu ditempat rame." kata om Angga.
"Terus kenapa bisa ada Lapen dalam minumanku?waktu itu kan yang diminta ambilin, Mura, salah satu keluarganya Vika." ucapku mencoba mereka ulang ingatan yang tersisa.
"Iya Vika sempat nanya-nanya juga ke Mura, dia marah besar, diawal sudah bilang pastikan ia sendiri yang ngambil minuman jangan sampai ada campur tangan orang lain mulai dari ambil mangkuk Sampek niangin cocktail, nah disitu Mura bilang kalau sewaktu dia mau ambil mangkuk buat cocktail, ada seorang pelayan yang sudah menyiapkannya, katanya mau ditaruh di meja-meja juga, jadi dia nggak curiga karena Mura emang nggak tau apa-apa, diambilkan mangkuk berisi cocktail dari salah satu pelayan di dapur itu. Terus dia bawa kedepan, Vika juga sempat nyicipin kan tapi dia nggak minum banyak cuma sesendok aja, makannya nggak begitu ngefek ke dia, lebih jelasnya kalau Vika datang lagi, biar dia yang ceritakan sendiri ke kamu, sekarang kamu istirahat aja jangan mikir macem-macem." kata Dani.
"Pa... keberadaan Syaluna diantara kelurga kita begitu lemah, dia hanya anak angkat nya Ariadi, yang secara kasarnya sudah ditinggalkan sama mereka, dan dia tidak memiliki kekuatan hukum di keluarga kita, jika ada apa-apa sama dia, kita pun nggak berhak apa-apa atas dirinya, selain..." ucap mama Dani.
"Selain apa ma?" tanya Dani.
"Selain kamu sama Syaluna menikah secara sah Dimata hukum dan masuk kedalam kartu keluarga kita, baru kita berhak atas dirinya, karena dia istri kamu dan menantu di keluarga kita."
"Ya udah nikahin aja ma..." ucap Dani dengan mata berbinar.
"Kalau Syaluna udah pulih kita bicara sama eyang ya." kata papa Dani.
"Okke pa..." kata Dani.
"Aku nggak bisa kerja?" tanyaku.
"Enggak ada... nggak kerja kerja an, kamu dirumah saja ya, please kamu harus ngerti sayang, mereka udah nggak bisa diem lagi." kata Dani.
"Iya aku paham..." jawabku.
Tante Maya memelukku dan menepuk-nepuk bahuku.
"Kalau mama Rania, mama kandung Syaluna
menitipkan Syaluna ke Tante, maka Tante akan jagain kamu, dan gak akan melepas kamu ke tangan mereka."
"Makasih Tante." aku tersenyum.
"Papa harus tambah pengamanan extra dirumah, mereka banyak anggota dan sangat kuat." kata papa Dani.
__ADS_1
"Iya harus pa..." jawab mama Dani.