
Sekitar jam delapan malam kami sampai dirumah, bersamaan dengan Tante Maya yang baru saja turun dari mobilnya. Dani jalan duluan sambil memegangi perutnya aku khawatir takut dia masuk angin soalnya nggak pake jaket semua isi perutnya udah terkuras habis karena muntah tadi.
"Kalian dari mana?" tanya beliau.
"Habis jalan-jalan Tante." jawabku masih sempat nungguin Tante buat masuk barengan.
"Tante bawain sate tahu, nih Dani suka." ucap Tante Maya menyerahkan bungkusan plastik itu kepadaku.
"Tante... emang Dani takut naik bianglala?" tanyaku.
Tante Maya gak bisa nahan ketawa.
"Iyaaaa dari kecil dia nggak mau naik gituan, Tante pernah pingin bangettt karena liat temen-temenya pada naik, Tante paksa lahhh turun dia mabok muntah-muntah sambil nangiss." jawab Tante Maya.
"Sejak saat itu dia nggak pernah mau naik lagi, bahkan Tante nggak mau maksa dia, kenapa? barusan kamu ajak dia naik?"
"I... iya Tante, habis Syaluna pikir dia cuma pura-pura."jawabku lirih takut Tante Maya bakalan marah.
"Dia mau naik?" imbuh Tante Maya.
"Mau Tante."
"Wahhh hebat loh, demi kamu dia mau ngalahin rasa takutnya, sekarang dia dimana?"
"Mungkin ada dikamar Tante." jawabku.
Kami berdua menaiki anak tangga menuju kamar Dani, setelah mengetuk pintu, aku memutar handle lalu melongok kedalam. Dia telungkup diatas tempat tidurnya.
"Dan..." panggilku.
"Kata Syaluna kamu tadi naik bianglala ya." kata mamanya.
"Iya ma... demi dia bisa maafin aku, sekarang masih pusing, mau tidur bentar ya." ucapnya tanpa bergeming.
"Ini tadi mama bawakan sate tahu kesukaan kamu, kalau udah mendingan kamu makan ya." ucap mamanya. Aku jadi merasa bersalah.
"Ya udah mama tinggal ya." pamit mamanya.
"Iya ma..." jawab Dani.
Aku juga berniat meninggalkan dia dalam istirahatnya, namun langkahku terhenti.
"Mau kemana?" tanya dia.
"M... mau ke kamarku." jawabku.
"Disini aja temenin aku." perintahnya.
Dia membalikkan badannya sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kamu udah bikin aku kaya gini terus mau ditinggalin." katanya.
"Eh... iya aku temenin kok." aku mendekat lalu duduk di sebelahnya.
"Maaf ya aku nggak ngerti kalau jadi kaya gini." ucapku.
"Udahhh jangan nyalahin diri kamu sendiri, itu juga kemauanku agar kamu mau maafin aku." sahutnya, lalu kembali berbaring di pangkuanku sambil memejamkan mata.
Aku menarik selimut dan menutupnya sebatas dada. Dia mulai terlelap. Rasanya sedih juga lihat dia sakit.
kutarik perlahan bantal di dekatku lalu mengangkat kepala Dani dan menidurkannya diatas bantal.
Sementara aku berdiri dari tempatku meluruskan kaki ku yang kram.
Kuedarkan pandang keseliling kamar yang semua tertata simetris dengan kamarku, hanya beda warna dan interior saja.
pada side dekat pintu kulihat dua poster yang tertata rapi yakni gambar wajah sang aktivis HAM Munir dan juga Penyair demonstran Widji Tukul. Aku baru tau kalau Dani memiliki jiwa sosial yang tinggi, pantas dia terpilih jadi ketua OSIS yang programnya sukses 100%.
Di sebelah kanan ranjang ada lemari putih dengan kunci yang masih menggantung logo Arema FC.
Sementara sisi kirinya ada nakas dengan sebuah frame foto telungkup yang mungkin jatuh saat dia mengambil sesuatu. Aku membukanya dan ternyata foto ku, aku yakin dia ambil dari feed Instagram ku. Selain photo frame juga ada waker dan lampu meja.
Kemudian di sebelahnya ada sebuah meja belajar lengkap dengan rak buku. Masih ada set PlayStation, gitar, sofa dan led tv sebesar 32inch. Aku merapikan beberapa buku yang berantakan dan tercecer dari raknya.
Setelah itu aku membuka tirai jendela dan membiarkan cahaya rembulan masuk menerobos rimbunnya daun menjatuhkan siluet indah di lantai putih bersih dengan hambalan motif Chevron warna abu putih.
Kurebahkan diri diatas sofa sambil memandangi gemerlap bintang di langit malam. Kubuka ponselku dan kuketikkan keyword "lowongan kerja malang".
Lalu bermunculan lah dalam feed ku dari berbagai postingan lowongan kerja. Mataku tertuju pada sebuah postingan dari sesorang yang menunjukkan lowongan kerja di Giant MOG.
"Deket sini kan, yesss simpen ah buat nanti." ucapku.
"Sayang kamu ngapain?" tanya Dani yang mungkin terganggu dengan reflek ku barusan.
"Enggak kok..." aku segera berlari lari mengusap dahinya agar kembali terlelap.
"Kamu jangan kemana-mana, disini aja." ucapnya dengan mata terpejam.
"Iyaaa aku disini kok." jawabku.
Aku berputar dan mengambil sebuah bantal lalu meletakkan disamping bantal Dani, kemudian berbaring di sebelah nya.
Kupandangi setiap inchi wajahnya, ngeselin tapi selalu kurindukan. Kudengar handle pintu diputar dari luar lalu masuklah Papa dan mamanya.
"Payah harusnya aku tetap berada di sofa, gimana nih, udah ahh kepalang tanggung, pura-pura tidur aja, lagian juga kami nggak sedang kontak fisik." aku merutuk-rutuk kebodohanku dalam hati.
"Looh adiknya tidur disini?" tanya papa Dani.
"Iyaa jadi tadi itu ceritanya nggak tau si Dani bikin salah apa, terus dia berusaha minta maaf, kayanya ya udah keterlaluan pa, Syaluna Sampek kesel banget gitu, nahh mereka main lah, ke alun-alun Batu mungkin mereka bilang naik bianglala kok, papa tau sendiri kan Dani paling anti sama bianglala dari kecil, naah ini demi dapat maaf dari Syaluna pakek akal-akal naik segala, jadi ya gitu deh, pulang gak berdaya." terang mama Dani.
"Nggak kerasa ya, udah pada dewasa, kayanya aku harus berhenti perlakuin Syaluna sebagai adiknya, bukannya mereka berdua pacaran." kata papa Dani.
"Mama pingin Syaluna kuliah pa, tapi Dani cerita ke mama dia bersikeras mau kerja, katanya nggak mau nyusahin kita. Padahal mah mama dengan senang hati, udah dapat anak perempuan segitu manisnya ya kan pa."
"Iya ma, tapi kalau maunya dia kerja ya udah, jangan dipaksa, kasian nanti malah jadi beban dia seumur hidup, dia nggak bisa Nerima kebaikan orang gitu aja, semuanya diitung berusaha mau dikembalikan nanti. Asal mama season dia nanti, jangan sampai dia masuk Amerta grup."
"Iya pa."
"Terus pa... yang jadi pikiran mama, gimana kalau Dani minta nikah sama Syaluna pa, gimana ngomong ke eyangnya. Dan selama ini eyang mereka juga gak tau kan sebenarnya Syaluna siapa, mereka hanya tau Syaluna kita temuin di depan butik, selebihnya mereka nggak tau."
__ADS_1
"Masalah itu... gampang papa yang urus, mama gak usah khawatir, papa yang jelasin ke eyangnya, lagian mama gak seneng dapat anak perempuan yang manis tingkah lakunya kaya Syaluna."
"Ya seneng pa... kalo mama boleh jujur, sebenarnya mama udah sering ngebayang-bayangin mereka punya anak yang lucu-lucu cantik ganteng. Ahh udah lah pa, jadi ketinggian mimpinya kan. Mereka sekolah aja belum kelar." ucap mama Dani.
"Tapi dari kecil kayanya Dani udah suka loh sama Adiknya, ingat waktu mereka TK kita ajak jalan-jalan ke Jakarta ke rumah eyangnya, pas Syaluna sakit, Dani cuma melongo dan jagain adiknya, padahal Aurel, Bintang dan lainnya pada main kan."
"Ooh iya... sebenarnya kalau kita sadar perhatiannya udah beda ya."
"He em ma, ada-ada aja kamu Dan... emang kalau sifat kerasnya nurun dari papa nya, kalau udah cinta ya udah diterjang aja gak peduli adik sendiri, kan beneran di pacar juga sekarang." kata papa nya sambil ketawa.
"Pah... jangan kenceng-kenceng, nanti mereka bangun kasian, ya udah yuk ah, keluar, biarkan mereka istirahat." Ucap mama Dani sambil menyelimutiku.
"Ya udah ayok..." ajak papa Dani, kemudian mereka berdua keluar dan hanya menyisakan keheningan setelahnya.
Kurasa aku menangis, entah kenapa nyesek banget rasanya, aku bukan siapa-siapa diantara keluarga ini, tapi mereka terus memikirkan yang terbaik buat aku.
Aku menelungkup dan membelakangi Dani. Setelah ku mencoba self healing, akhirnya aku bisa memejamkan mata dan membiarkan kepenatan hatiku enyah untuk sementara waktu.
Hingga saat aku setengah sadar, kurasakan tangan Dani memelukku dari belakang, kulihat langit masih gelap. Jam di dinding menujukkan jam 4 subuh.
Aku lega sekali kupikir kami bakalan kesiangan.
Aku berbalik kearah Dani dan kaget banget karena dia udah bangun. Aku bahkan sempat menarik diriku kebelakang beberapa centi dari jarak semula.
"Ya Allah segitu kagetnya." ucap Dani.
"Maaf..." ucapku, aku segera berbalik ke posisi ku semula.
Dani merapatkan pelukannya, bahkan aku sampai bisa merasakan detak jantungnya.
"Kamu tidur aja lagi, gantian aku yang jagain kamu." ucapnya.
"Aku sayang kamu." lanjutnya.
"Iya." jawabku.
Sentuhan dingin merayap di pipiku, mataku mengerjap, kamar Dani udah terang, cahaya matahari sudah sempurna masuk dari jendela.
Aku langsung bangkit, dan kulihat Dani sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Haaaa jam berapa?" tanyaku
"Setengah 7." jawabnya.
"Ya ampunn mati aku, kamu jahat banget sih gak bangunin aku." ucapku kesal langsung bangkit dari tidurku dan merapikan bajuku yang lecek lalu berlari keluar kamar.
"Kamu aja yang ngebo, aku udah bangunin kamu gak denger." jawabnya masih kudengar sambil membuka pintu kamarku.
Aku buru-buru mandi, memakai seragam, mengambil beberapa buku dan memasukkannya kedalam tas. Kemudian berlari kebawah nyusul Dani yang udah siap dengan mobilnya.
"He sayang jangan lari-lari." tegur mama Dani saat aku melewati ya di meja makan.
Aku mendadak menghentikan kakiku dan berbalik salam dan cium tangan mereka.
"Hati-hati jangan lari-larian." pesan om Angga.
"Enggak pa, dia aja yang molor." sahut Dani.
"Udah-udah nanti ujung-ujungnya kalian berantem, udah sana berangkat." perintah mama Dani.
Aku masuk, menurunkan kaca jendela dan memastikan penampilanku sudah wajar melalui spion di depanku.
"Ya ampunn... aku lupa belum nyisir rambut." ucapku.
"Nggak kelihatan kok, tetep cantik." sahutnya.
"Haduuhh kamu sengaja emang ya?" tanyaku.
"Enggak sayang, sumpah aku udah bangunin kamu tapi kamu merem lagi, masa kamu lupa? kamu bilang bentar lagi." kata Dani.
"Ehmmm iya bagian itu kayanya aku ingat deh." ucapku kemudian.
"Aduuh bodoh banget sih." keluhku.
"Siapa yang bodoh?" tanya Dani.
"Ya aku siapa lagi."
Dia mengusap rambutku lalu mencubit pipi ku dengan gemas. Aku berjalan gontai ke kelas mengekor di belakang Dani dan mengacuhkan semua padangan yang tertuju padaku.
Sampai di kelas mereka bertiga mengambutku dengan heboh.
"Ya ampunn Sya, jelek banget sih, habis ngapain kamu sama Dani?" tanya Lala sambil memandang ku juga Dani bergantian.
"Kamu nggak sisiran?" tanya Vika.
"Iya niiihhh aku bangun kesiangan." jawabku sambil duduk di tempatku. Vika menyodorkan sisirnya padaku. Dani melangkah ke tempat duduknya di belakangku.
"Laperr... makan yuk ke kantin, masa iya ini udah hari-hari terakhir kita disekolah masih gini aja, yukk ah cabut." ajak Dinda.
"Ayo Vik... Sya.." tambah Lala.
"Iya kalian duluan aja habis ini kita nyusul." jawabku yang masih sibuk dengan rambutku.
"Nih udah... yukk susulin mereka laper juga aku." aku mengembalikan sisir Vika padanya.
"Iya taruh aja di tas." jawabnya masih sibuk dengan hp nya. Aku meraih tas Vika dan menaruh sisir itu didalamnya. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kotak berwarna biru yang masih terbungkus plastik.
"Vik... kamu beli ini?" tanyaku.
Dia buru-buru merebut kembali tas itu dariku dan menutupnya.
"Vika... kamu nggak mungkin beli itu cuma iseng aja kan." lanjutku. Dani yang mungkin mengetahui dan mendengar pembahasan kami hendak mendekat namun aku mengisyaratkan untuk berhenti dan tetap berada di tempat duduknya.
__ADS_1
"Vik...." panggilku aku mencoba menelusuri pikiran dari sahabatku yang selalu pasang badan buatku, pandangannya menekuri lantai dan jari-jari nya beradu satu sama lain.
"Iya Sya... dari SMP emang aku punya siklus haid yang gak teratur kadang 3 bulan sekali, kadang 1 bulan dua kali." jawabnya.
"Terus, kamu nggak mungkin beli testpack kalau kamu nggak kepikiran hamil kan." bisikku.
"Iya Sya aku sama Dito emang udah kelewat batas. Dan saat ini aku udah telat 7 Minggu, dulu mungkin aku nggak pernah setakut ini kalau telat, namun karena aku sama Dito sering ngelakuin itu aku jadi takut Sya." jawabnya terbata-bata.
"Ya udah ayo ketoilet kita harus memastikannya." ajakku.
"Aku takut Sya, gimana kalau aku beneran hamil." ucapnya.
"Aku yang ngomong ke Dito buat tanggung jawab." jawabku.
"Aku sudah ngomong masalah ini ke Dito Sya, sebenarnya dia juga takut kalau aku emang hamil gimana dengan orang tua kami." jawab Vika.
"Aku sama Dani bakalan bantu ngomong ke orang tua kamu, ayo sekarang kita tes."
Akhirnya Vika nurut saja dan kami pergi ke toilet, tak lupa dia membawa testpack nya.
"Gimana?" Dani chat ke aku menanyakan hasil test tersebut.
"Belum..." jawabku.
"Aku ketempat Dani." balas Dani.
"Iya" jawabku.
Sesaat kemudian Vika keluar dengan wajah pucat. Aku yang penasaran langsung merebut testpack itu darinya, tak peduli Vika sudah mencucinya apa belum, tak penting bagiku. Kulihat dua garis tercetak dalam strip kecil tersebut.
Belum sempat aku menenangkan Vika tiba-tiba dari bilik lain keluar Nadia bersama gengnya.
Dia menatapku lalu merebut testpack yang aku pegang.
"Apaaa... dasar pecun, bisa-bisanya kamu hamil anaknya Dani." dan dia langsung menyeretku kedalam bilik lalu menyiram mengguyur ku dengan air kamar mandi yang dingin itu sampai aku basah kuyup dan gak bisa nafas. Sementara dua anak buahnya memegangi tangan Vika dengan kuat agar tak bisa menolongku.
"Nggak bisa... aku nggak mau anak ini nyusahin perjuanganku, kamu harus mati." dia memukul dan menendang perutku berkali-kali sampai aku terduduk tak berdaya.
"Nadia stoppp!!!!" teriak Vika. Nggak papa mungkin seperti ini rasanya saat kita pasang badan buat melindungi orang yang kita sayang.
Aku tak akan sanggup jika mereka tau bahwa Vika yang hamil dan bakalan di ghibahin semua anak 3 angkatan. Nggak bisa... biar aku yang Nerima semua ini.
"Tunggu kalian salahhh..."
"Diaammm kamu Vika, berhenti belain sampah, pecun ini gak layak hidup diantara kita, kamu tau sebelum ada dia, kamu tuh care sama kita, tapi setelah ada dia, kamu berpaling ke dia." jawab Nadia dengan amarahnya.
Nadia menarikku yang sudah kedinginan, dia membenamkan wajahku kedalam bak mandi yang penuh air, kemudian menjambak rambutku dnega kencang untuk menariknya.
"Dasar sampahhhh.... parasiitttt, \*\*\*\*\*... you better dying." Umpat Nadia.
Belum puas dia menyiksaku, dia menendang perutku untuk kesekian kalinya.
"Kamu nggak boleh nikah sama Dani, bayi ini harus mati, aku nggak mau tau." lanjutnya.
Aku sudah tak bisa lagi menahan sakit dan kedinginan di seluruh badanku, kucoba tegakkan diriku dengan tenaga yang tersisa. Kutatap tajam matanya dan kutahan kaki yang hendak menendang ku lagi.
"Okkee kamu mau apa, toh kalau aku hamil anaknya Dani dia bakalan nikah kok sama aku." jawabku menantangnya.
Dia masih sempat menamparku dengan keras sampai membuat Vika histeris, namun di tamparan kedua kutahan tangannya dan kupelintir tidak sampai disitu aku menggiringnya keluar bilik.
Sebenarnya pandanganku sudah gelap mataku buram, namun aku tak ingin terjatuh disini. Tendangan Nadia di perutku tadi benar-benar membuat perutku sakit bukan kepalang.
Saat aku sampai di depan Vika dengan wajah kedua anak buahnya yang mulai panik, Datang Dani dan Dito.
"Ada apa ini?" tanya Dani.
"Aku tidak mungkin terus diam menerima semua perlakuan mu padaku." ucapku.
"Nadia..." ucap Dani.
"Kamu apain Syaluna Sampek kaya gini, dia nggak pernah kasar ke orang lain, kecuali kamu udah benar-benar keterlaluan sama dia."
"Dani aku nggak bermaksud gitu, aku emosi aja pas tau dia hamil anak kamu." jawab Nadia. Aku melepaskan tangannya dan membiarkan nya bergabung dengan gengnya.
"Enggak gitu Nad, kamu salah, Syaluna nggak hamil tapi..." Terang Vika.
"Sebenarnya aku tadi nemuin testpack itu di sini, dan aku penasaran milik siapa, sampai kamu tiba-tiba datang dan menyerang ku."
Vika mulai menangis, dia tidak menyangka aku masih menyelamatkan namanya.
"Tapi... tapi .."
"Tapi apa... kamu siram aku, kamu tendang perut aku kamu pukul sepuasnya, berharap anak dalam perutku bakalan mati ya kan." aku terus mendesaknya sampai dia tak berani menatap wajahku.
"Apa.... tendang, mukul??" tanya Dani.
"Dannn enggak aku nggak bermaksud..."
"Nadia aku kecewa sama kamu, dan kali ini kamu nggak kayak dikasihani, kamu tau kamu bisa kena kasus pembulian dan kekerasan. gak ada satu bulan lagi kita lulus Nad, tapi kamu beneran bisa dikeluarkan dari sekolah."
"Sya pliss maafin aku Sya,... Dan jangan bawa masalah ini ke kepolisian Dan..." pinta Nadia.
"Keluar kamu sekarang." bentakku.
"Hentikan dan kendalikan dirimu jangan selalu betindak kasar ke orang lain. kamu tau apa yang kamu lakuin ke aku sakit banget Nad." ucapku.
"Sya maafin aku.."
"Keluar Nad, aku bilang keluar."
Mereka bertiga keluar dan lari terbirit-birit. Aku tak sanggup lagi berdiri, dan ngelesot di lantai, sambil memegangi perutku. Aku meringis menahan sakit namun kusembunyikan wajahku dari mereka.
"Sya... kamu nggak papa, Dani... Nadia brutal banget, Syaluna nggak pernah semarah itu ke orang lain kamu tau dia kan."
"Dia kesakitan banget bawa ke UKS." kata Dito.
__ADS_1
Dani menggendong ku yang basah kuyup ke UKS. Disana petugas segera memberikan pertolongan sebisa mungkin. Dan Vika melaporkan kasus kekerasan tadi ke kepala sekolah yang langsung ditindak lanjuti.
Aku sudah tak bisa lagi mendengar pertanyaan dari petugas UKS karena, lama kelamaan kesadaranku menghilang.