Hello! Choco Velvet

Hello! Choco Velvet
Another Kisses


__ADS_3

Aku masih merasakan sedikit sakit diperutku, namun rasa dingin dari seragam yang basah kuyup ini memaksaku untuk bangun dari istirahatku.


Ada Dani dan Dito disana. Aku memegangi perutku sambil berusaha menjangkau lengan Dani yang sedikit jauh dari tempatku. Mereka sedang berbicara pada petugas UKS.



"Ehh... Sya, kamu udah sadar. Ini kamu ganti baju kamu yang basah ya." Dani menyerahkan padaku satu stel seragam baru serupa seragam yang aku pakai.



"Masih sakit Sya?" tanya Dito.



"Enggak udah mendingan kok." jawabku.



"Vika mana?" tanyaku.



"Dia ada di ruangan kepala sekolah, Nadia di sidang, didatangkan juga orang tuanya. Vika jadi saksi buat kekerasan yang kamu terima tadi." jawab Dito.



Aku segera meraih seragam baru ditangan Dani, lalu menarik korden hingga mereka berdua tidak bisa melihatku mengganti baju. Setelah itu aku bangun dan merapikan seragam basahku, kemudian menitipkan ke Dani.



"Sya mau kemana?" tanya Dani.



"Aku bantuin Vika, aku hanya bertujuan buat melindungi dia tadi, nyatanya aku masih saja merepotkan." jawabku.



"Kamu udah nggak papa?" tanya Dani lagi.



"Iya aku nggak papa." jawabku sambil berlalu.



Aku masuk ke ruang kepala sekolah, di sana sudah ada beberapa guru, bapak kepala sekolah juga orang tua Nadia. Nadia sendiri masih ditemani dua pengikut setianya yang turut menangis.



"Nah ini pak teman saya yang menjadi korban." ucap Vika kepada mereka semua.



Orang tua Nadia memandangiku mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu ibunya meminta maaf atas nama putrinya. Disitu kemarahan ku menjadi-jadi.



"Ibu... ini bukan kesalahan ibu, ibu tidak perlu mengiba pada saya untuk meminta maaf, biarkan putri ibu yang menangani masalahnya sendiri Bu, jika setiap kali dia melakukan kesalahan lalu ibu yang meminta maaf maka tak akan ada jeranya Bu."



"Nadia... mama malu dengan perbuatan kamu, mama tidak akan pernah lagi membela kesalahan kamu, minta maaf sekarang sama teman kamu atau mama nggak akan biayain pendidikan kamu lagi."



Setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya Nadia mendekatiku dan meminta maaf padaku. Dia bahkan menangis merengek-rengek seperti anak kecil. Hingga aku benar-benar memaafkannya.



"Untuk Nadia Anara, mohon maaf setelah mengkaji kasus kamu, bapak dan para jajaran guru memutuskan untuk mengeluarkan kamu dari sekolah." kata pak kepsek.



Orang tua Nadia hanya membisu, wajah ibunya terlihat sangat sedih dan kecewa pada anaknya.



"Pakkk saya mohon pak, saya tau saya salah, saya sudah meminta maaf dan saya janji tidak akan mengulanginya lagi, saya mohon pak sekolah hanya menghitung hari dan saya tidak mau kehilangan ijazah saya pak." pinta Nadia.



"Maaf pak... kalau boleh saya menyampaikan pendapat saya, sebenarnya mengeluarkan pelaku bullying dari sekolah merupakan tindakan yang tidak mendidik anak untuk memperbaiki perilaku mereka yang keliru, sebaiknya jangan kita keluarkan tapi kita buat jera." ucapku.



Mendengar pendapatku membuat wajah Nadia pucat pasi, aku tidak ingin mengeluarkan dia dari sekolah memang, tapi aku ingin membuatnya jera.



"Terus saran kamu apa Syaluna?" tanya bu Mirna.



"Diberikan saja catatan di rapor milik Nadia, tentang ulahnya hari ini, dengan begitu dia memiliki record perbuatan tidak baik, dan akan selalu menjadi pertimbangan universitas manapun, walau dia lolos UTBK/SNMPTN/SBMPTN, selanjutnya rapor dia dengan black record akan menjadi pertimbangan di sisi lain, saya yakin hal ini akan memberikan efek jera kepadanya." usulku.



"Brillian..." jawab Kepala sekolah.



"Dengan mengeluarkan dia dari sekolah, dia bisa dengan mudah pindah ke sekolah lain dan tapi dengan cara seperti ini kamu nggak bakalan ngulangi perbuatan kamu di masa depan." mendengar penjelasan pak kepala sekolah, Nadia menangis penuh drama.



"Maaf Nad, aku nggak bermaksud jahat sama kamu, tapi kamu yang selalu jahat sama aku dengan segala verbal kamu, kamu bilang aku anak pungut, sampah, parasit, pecun, belum lagi perlakuan fisik yang menyakitiku, mungkin akan sebanding dengan rasa sakit ditolak perguruan tinggi, belajarlah menerima kenyataan, berjuanglah dengan jujur, dewasalah." ucapku.



"Kenapa kamu sejahat itu sama teman kamu disekolah Nadia, mama nggak pernah ngajarin kamu seperti itu, mama malu Nadia, mama malu.... mau ditaruh mana muka mama kalau semua orang tau alasan kamu tidak di terima di perguruan tinggi hahhh???" bentak mama Nadia.



Kira-kira satu jam kemudian, masalah itu usai. Aku dan Vika meninggalkan ruang kepala sekolah dengan tenang. Ada Dito sama Dani, yang sudah menanti kami di taman dekat lab. akuntansi.



"Rencana kita Sayang, pulang sekolah kita kerumah mereka buat bantuin ngomong sama orang tuanya." ucap Dito.



"Gini aja, kamu antar Vika pulang kerumahnya dan bantu meyakinkan orang tuanya, aku temenin Dito pulang dan meyakinkan orang tuanya." usulku.



"Kenapa kamu nggak sama Vika aku sama Dito?" tanya Dani mengandung kecemburuan disana.



"Baby, sayanggg... kalau aku bisa naik motor aku bakalan anter Vika, dan ngomong sama orang tuanya, aku gak bisa naik motor, kalaupun kita mau bareng-bareng ke rumah Vika pakai mobil kamu, kita buang-buang waktu dengan belum kasih tau orang tua Dito." terangku.


__ADS_1


"Ehmm ya udah kalau gitu, boleh deh, Aku anter Vika kerumah, sambil sebisa mungkin aku jelasin ke orang tua Vika. Terus kalau beres sama Dito kamu ajak kerumah Vika ya." kata Dani. Rupanya dia masih lemah dengan bujukan "Sayang" dan "Baby".



Pulang sekolah, sesuai rencana kami langsung ekskusi sesuai peran masing-masing. Sebelumnya aku menenangkan Vika bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setelah itu aku membuka pintu mobil Dani, dan mempersilakan Vika masuk.



"Hati-hati ya..." ucapku pada mereka.



"Kamu juga sayang." balas Dani.



Aku mengangguk kemudian menghampiri Dito yang sudah siap diatas motornya.



"Udah?" tanya dia.



"Iya" jawabku.



Setelah memakai helm ku, aku naik keatas motor Dito. Aku belum pernah kerumah Dito sebelumnya, Rumahnya berada di sekitaran jl. Bandung III. Kami sampai dirumah mewah di perkampungan jl. Bandung. Yang pasti rumah Dito dua kali lebih besar dan lebih mewah dari rumah Dani, tapi dia sama sekali nggak pernah terlihat bergaya Hedon.



Aku mengikutinya masuk kedalam rumah. Ada mama nya yang tengah bermain bersama anak tetangga di ruang tengah bersama dengan seekor kucing.



"Siang Tante." sapaku.



"Ehh... temannya Dito ya, Tante pikir tadi sama Vika." balas mama Dito dengan ramahnya.



"Iya ma, habis ini kita mau kerumah Vika." jawab Dito.


Dari dalam melongok seorang laki-laki paruh baya yang tengah asyik membaca Harian Radar Malang.



"Tumben nggak sama Vika?" tanya Papa Dito.


"Iya om setelah ini ada acara dirumah Vika." jawabku, aku pikir Vika pasti sering kesini orangtuanya sudah kenal baik dengan Vika, dia emang sosok yang pantas disayang semua orang.



Dito mengajakku ke kamarnya, lalu menutup pintu. Dia mengacak-acak rambutnya.



"Aku bisa membantumu mengatakan pada orang tuamu." ucapku.



"Sya..." panggilnya dia mulai menangis, dan aku nggak tau apa yang ada dipikirannya, kenapa dia nangis, takut sama orang tuanya atau ada masalah lain.



"Kamu jangan nangis, kenapa? ada masalah lain yang kami nggak ngerti?" tanyaku.




Aku mendengarkan tanpa memotongnya sedikitpun.



"Seandainya pacar kamu bukan Dani, aku pasti masih berusaha buat dapetin kamu, tapi pacar kamu Dani aku bisa apa, kamu ingat sejak kamu pindah kesini, waktu kita Diklat OSIS tanda pengenal mu hilang, sementara besok harus pelantikan harus lengkap, aku nyari di setiap inchi sekolah buat nemuin tanda pengenal kamu, saat proposal dies natalis kita rusak karena Vika tumpahin bakso, aku ngetik ulang semuanya demi kamu, saat kamu sendirian di ruang OSIS, aku selalu liatin kamu dari jauh mastii gak ada yang ganggu kamu selain Dani, Aku tau kalian bersaudara sudah dari dulu, aku juga tau kalian terlibat cinta terlarang, kalian saling suka, tapi terbatasi karena identitas sebagai saudara, sampai akhirnya aku juga tau kalian bukan saudara, aku menyaksikan semua sampai kalian jadian, hanya karena aku percaya sama Dani aku membiarkanmu bahagia dengan dia, jika bukan Dani mungkin aku masih bersikukuh mempertahankan kamu Sya." Dia mengungkapkan semuanya sekarang, tapi sudah terlambat.



"Misalkan kamu mengungkapkann semuanya sebelum aku jadian sama Dani, mungkin aku masih mempertimbangkan nya Dito... tapi sekarang udah beda." jawabku.



"Dan kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kamu lakukan pada Vika." lanjutku.



"Iya aku ngerti Sya, dengan aku melangkah menjadi ayah dari bayi Vika, maka berakhir juga perasaanku buat kamu. Makasih karena kamu aku bisa bertahan sampai sejauh ini." ucapnya.



Aku menepuk-nepuk bahunya, dan kuberikan senyum atas keberanian nya mengungkapkan perasaanya padaku juga telah melepaskan ku untuk Dani. Dia menatapku, lali menciumku. Aku hanya terdiam saat dia melakukannya, mungkin aku bisa saja menghindar tapi, entahlah aku tidak bisa berfikir jernih.



"Tugas kamu menjagaku udah selesai Dito, makasiih buat semuanya yang udah kamu lakuin buat aku." Ucapku begitu dia selesai menciumku.



"Jika aku boleh meminta satu hal buat kamu, apa kamu mau mengabulkan nya?" lanjutku.



"Apa itu?"



"Jadilah suami yang baik buat sahabatku, jadi ayah yang baik dari anak sahabatku, jagalah mereka sepanjang hidupmu." ucapku yang disambut lelehan airmata olehnya.



"Iya.. aku tau Sya, aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat mereka." ucapnya.



Setelah mencuci muka dia mengajakku keluar dan menemui orag tuanya.



"Ma... Pa... maaf, mungkin Dito nggak bisa menjadi anak yang membanggakan mama sama papa, mungkin Dito telah tega mengubur dalam-dalam mimpi kalian, maaf pa... ma." ucap Dito kepada kedua orang tuanya yang tengah duduk santai di tepi kolam koi.



"Kamu ngomong apa sih?" tanya papa nya.



"Maaf pa... tapi Dito mohon, kasih restu Dito buat nikah di usia muda, Dito harus tanggung jawab dengan apa yang udah Dito lakuin ke Vika."


__ADS_1


"Vika hamil?" tanya mama nya langsung to the point.



"Iya ma." jawab Dito.



Seketika keheningan tercipta di rumah megah itu, hanya terdengar suara dari kecipak air karena koi koi tadi berebut makanan.



"Kalau udah menikah, bilang sama Vika, mau ya tinggal disini." ucap mama Dito kemudian, suaranya melunak.



"Kamu tetap bisa kuliah, Vika juga, nanti anak kalian biar mama yang rawat." lanjutnya.



"Sebenarnya papa udah nyiapin nama buat cucu, tapi papa nggak nyangka bakalan secepat ini dikasihnya. Ya udah ayo kita temui orang tua Vika, kasian dia pasti kalut." ajak papa Dito.



Aku dan Dito terbengong-bengong dibuatnya, mereka sangat baik hati, entah hati mereka terbuat dari apa.



"Kenapa, kamu bingung sama om sama tante?" tanya mama Dito.



"I... iya Tante." jawabku.



"Dulu om sama Tante ini, kawin lari, karena ditentang kedua orang tua, yahh namanya juga sudah cinta mau gimana lagi, kami diusir dari rumah, akhirnya nyari kontrakan kecil banget sepetak di Surabaya mahal. Terus papanya usaha jualan bakso, waktu Tante hamil Dito keadaanya memprihatinkan. Tapi dia anak yang nurut sejak kecil nggak pernah nyusahin orang tua, dia mau diajak susah, nggak pernah macem-macem, pokoknya nurut banget, akhirnya papanya diajak temennya pindah ke Malang, buat nggedein usaha baksonya. Disini papa nya Dito berhasil bikin warung kecil-kecilan, sampai akhirnya bisa bikin rumah kaya gini. Papa Dito sekarang sudah memiliki lebih dari 100 cabang di Jawa timur, kasian Dito dari kecil nggak pernah liat wajah kakek sama neneknya, Tante tau gimana pedihnya, makanya Tante ngertiin Dito, Tante nggak membenarkan apa yang dia lakukan tapi dia harus tanggung jawab, nggak papa, Tante paham sebaik-baiknya nya anak tante, tapi dia tetap remaja normal yang ngerti cewek cantik, Vika baik loh, dia juga cantik." kata Tante akhirnya aku mengerti.



"Iya Tante ,Vika emang baik, kelewat baik malah, makasih Tante udah mau Nerima sahabat saya." ucapku.



"Iya Tante ganti baju dulu ya, habis ini kita kerumah Vika." pamit mama Dito.



Perjalanan kami sampai di sebuah gang kecil di jl. Pekalongan. kami harus turun dari mobil karena masuk ke halaman Vika nggak ada space buat parkir mobil.



"Ma... pa... kalian tunggu di depan ya, biar Dito dulu yang ngomong ke ayahnya Vika." kata Dito.



Orang tua Dito duduk di teras sedangkan kami berdua masuk kedalam. Disana ada Dani juga Vika tengah duduk di depan tv bersama ayahnya.



"Gimana?" tanyaku ke Dani, dia menggelengkan kepala."



"Ehh nak Dito silakan duduk, tumben kesini rame-rame ada acara apa emangnya?" tanya ayah Vika



"Ehmmm... gini yah, sebenarnya Dito kesini, mau ngelamar Vika, saya ingin mempertanggung jawabkan kesalahan yang sudah saya lakukan ke Vika, mohon jangan marah yah, Maaf Dito sudah berbuat kelewat batas sama Vika."



Ayah Vika menarik Vika mendekat kearahnya lalu menamparnya kuat-kuat.



"Ini balasan kamu buat ayah, yang udah rawat kamu sendirian besarin kamu nyekolahin kamu, ini yang berikan untuk ayah, anak nggak tau diri, Kita ini orang miskin Vika, mau ditaruh mana muka ayahmu ini yang gak becus mendidik anak."



"Ayah... maafin Vika yah." ucap Vika.



"Kamu boleh pacaran sama Dito tapi papa berkali-kali menegaskan kalian nggak bisa menikah, perbedaan kita cukup jauh, ayah nggak mau di keluarganya kelak kamu dihina anak orang miskin. Vika kamu mana ngerti perjuangan ayah nakkk.."



Mendengar itu masuklah kedua orang tua Dito, mereka memeluk Vika dan membantunya berdiri dari duduk simpuh nya dibawah kaki ayahnya.



"Maaf pak, kami orang tua Dito, bapak mohon tenang, saya sama sekali tidak membenarkan perbuatan mereka pak, tapi semua sudah terjadi, mereka mungkin melakukan kesalahan pak, tapi jangan pernah membunuh masa depan mereka, izinkan saya menikahkan anak saya sama putri bapak, dia anak yang baik pak, saya janji saya akan memberikan kebebasan untuk mereka berdua, untuk tetap melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, saya yang bertanggung jawab menggantikan ibu Vika ,biar anak mereka saya yang rawat, dan izinkan kami membiayai pendidikan Vika nantinya pak." ucap mama Dito.



"Lihat kamu Vika, ayah jadi nggak ada harga dirinya disini, kamu gugurkan bayi itu, kalau kamu mau kuliah ayah bisa cari uang buat kamu." kata ayah Vika.



"Ayah... Dito mohon, papa sama Mama sangat sayang sama Vika, mereka sama sekali tidak ada niat buat merendahkan ayah disini, mereka hanya ingin yang terbaik buat kami." ucap Dito.



Ayah Dito diam tak bergeming. Matanya menerawang jauh, kemudian butiran bening mengalir diantara wajahnya yang menua digerus kerasnya kehidupan.



"Om... saya dulu adalah bayi yang ditemukan di sebuah pintu di depan butik, saya tidak tau orang tua saya siapa, saya tidak tau alasan mereka membuang saya, saya tidak pernah tau bagaimana rasanya di peluk orang tua saya, saya tidak pernah tau apakah mereka menyesal atau bangga memiliki anak seperti saya. Saya hanya ingin... bayi yang dikandung sahabat saya ini, memiliki kehidupan yang seharusnya, apakah om tega kalau cucu om harus dibunuh sebelum sempat melihat wajah kakeknya, kakek yang selalu dibanggakan oleh ibunya." ucapku berlinangan airmata.



Mendengar penuturanku ayah Vika menangis tergugu kemudian memeluk anaknya.



"Maafkan ayah... maafkan ayah, ayah terlalu egois." ucap ayahnya dengan terus terisak.



"Ayah maafin Vika yah, Vika udah ngecewain ayah." mereka berdua saling memeluk dan tenggelam dalam tangisnya.



"Pak buk maafkan saya sudah bicara yang bukan-bukan." ucap ayah Vika pada orang tua Dito.



"Iya pak sama-sama, kami paham perasaan bapak sebagai orang tua tunggal yang berjuang seorang diri." ucap papa Dito.



Akhirnya mereka berunding menentukan hari pernikahan, yaitu bulan depan tepat satu Minggu setelah kelulusan kami. Aku memeluk Vika, perasaanku sudah lebih baik, aku tenang karena mereka bisa bersatu dalam ikatan yang sah.

__ADS_1



Aku melihat kearah Dito dan tersenyum padanya kukasih jempol padanya, dan dia tersenyum.


__ADS_2