Hello! Choco Velvet

Hello! Choco Velvet
A new Days


__ADS_3

Aku sudah pulang dari rumah sakit sejak 3 hari yang lalu, namun masih saja disuruh bedrest, calon suami dan calon mertuaku emang suka over memperlakukan ku seperti manusia lemah tak berdaya. Aku baru bangun dari tidur siangku, kulihat Dani duduk di ujung ranjang dan tatapannya sedang fokus pada layar hp nya barangkali karena dia membelakangiku.


Aku bangun dan melongok dari balik bahunya. Kuletakkan kepalaku di pundaknya. Ternyata dia sedang mantengin pengumuman SBMPTN.



"Sayang mataku pusing deh liat nama sekecil ini, tolong bantuin baca pengumuman ya, walaupun aku gak berharap seratus persen, hahaha soalnya yah kamu tau sendirikan kemampuan ku seperti apa, jadi kalau misal aku gak lolos gak papa ya." ucapnya dia berbalik dan menyerahkan ponselnya padaku.



"Iya... ya harus optimis dong, selama kamu sudah melakukan yang the best, pasti kamu lolos, karena aku yakin dengan kemampuan kamu." Aku menerima ponsel yang menampakan pdf hasil download dari link LTMPT



Aku scroll ada 3040 halaman, Wahh banyak banget, pasti seneng kalau bisa masuk Universitas yang kita impikan. Mataku sampai juling nge scroll, dan jantungku mulai deg-degan saat di halaman 940 kutemukan



DAFTAR PESERTA LULUS SELEKSI JALUR SBMPTN 2020


PESERTA TES DI PUSAT UTBK UNIVERSITAS BRAWIJAYA-MALANG


Aku mencari nama Dani disana. Kubuka lebar-lebar mataku, sementara Dani gelisah sambil sesekali menghembuskan nafas beratnya, aku tidak tau apa yang dia pikirkan. Aku takut dia berekspektasi terlalu tinggi dan kecewa. Namun aku salah.



"Ini by... kamu lolos SBMPTN, beneran ini nama kamu." ucapku menunjukkan nama nya. Aku melompat kegirangan.



Dia merangsek mendekat dan memeriksa nomor dan prodi nya.



"Iya bener.... Alhamdulillah." ucapnya dia sangat bahagia, tak pernah aku melihat raut wajahnya secerah itu sebelumnya.



"Selamat ya sayang... kamu emang pantas bahagia." aku memeluknya.



"Btw kamu ngerjain aku ya... harusnya dicek di laman SELMA UB enter nama dan tanggal lahir bisa kan?"



"Ooohh iya... ya Tuhannnn tau gitu nggak repot-repot dari tadi aku baca dari atas kebawah, maaf sayang ya aku beneran lupa, kamu sendiri kalau ingat kenapa nggak bilang sama aku?"



"Hehe aku sendiri juga lupa, tapi aku bangga sama ketua ku, atau abang ku, atau pacar ku, hihihi entahlah pokoknya aku bangga sama kamu."



"Makasih sayang, kamu tau aku ambil jurusan apa?"



"Apa?" tanyaku penasaran.



"Aku ambil double degree." jawab Dani membuat


mulutku menganga lebar.


"Kamu sanggup?"



"Ya harus sanggup, aku ingin punya masadepan yang baik biar bisa jadi suami yang bisa selalu kamu andalkan, biar nanti bisa dapet kerja yang bagus, biar bisa nyukupin nafkah buat anak istri." jawabnya.



"Hmmmm ntar kalau kamu lulus double degree selera kamu bukan aku lagi." sahutku.



"Huuhhh kapan sih kamu bisa mikir positif, padahal aku udah mati-matian tes dua prodi agar bisa jadi lulusan yang berkualitas nanti, kamu masih aja mikir yang nggak-nggak, semua aku lakukan buat kamu, buat masa depan kita Sya."



"Iya iyaaa aku ngerti kok, bercanda sayang.."



"Kamu ambil jurusan apa?" lanjutku.



"Master joint Degree aku ambil Ilmu Komputer, dan Doctoral joint Degree nya aku ambil Kimia, hehehe jauh ya, nggak papa emang sengaja kalau udah mumpuni aku bisa jagain kamu dari bahaya baik dari cyber maupun racun-racun, so sweet nggak sih?" tanya dia sambil menarikku lebih erat dalam pelukannya.



"Ah kamu ada-ada aja deh, orang lain ambil jurusan sesuai minat dan keinginan mereka kamu ambil jurusan karena pingin lindungin aku."



"Karena aku nggak punya goal lain selain kamu." jawabnya.



"Ehmmm... " gumamku menanggapinya dengan manja yang kubuat-buat.



"Dan, karena kamu udah kuliah dan kita bakalan jarang ketemu secara intens, boleh nggak obatnya aku pegang sendiri? Cuma buat jaga-jaga aja, kamu juga gak ada bersama ku setiap saat kan?" tanyaku sambil melepaskan pelukannya.



Dia terlihat menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan. Telapak tangannya singgah pada kedua pipiku.



"Maaf sayang ya, aku jadi gak bisa selalu nemenin kamu, tapi aku janji gak bakal bikin kamu kesepian kok dirumah. Sebisa mungkin aku terus pulang begitu kuliah selesai."



"Iyaaa... kamu udah deh fokus aja sama kuliah, aku dirumah aja aman kok." jawabku.



"Udah jangan mikir macem-macem ya." lanjutku.


"Iya sayang... kamu juga percaya sama aku ya. Pokoknya gak ada wanita lain yang aku perjuangkan lebih dari kamu. Aku nggak mau di lain hari kamu nethink ke aku bilang ada cewek baru lah apa lah aku nggak mau denger pokoknya, cuma ada kamu... ok?"



"Ok..." jawabku.



"Ya udah bentar aku ambil obatnya dulu ya." pamitnya, aku mengangguk.



Beberapa saat kemudian dia kembali, dengan membawa botol obatku.



"Janji nggak boleh lagi disalah gunakan, fungsinya adalah untuk mengatasi panic attack bukan anti depressan." pesannya sebelum melepas obat itu untukku.



"Iyaaaa janji..." jawabku.



"Kamu tetap bebas cerita ke aku apapun masalahnya ok?"



"Ok..."



"Jangan ngerasa kamu sendirian, ok?"



"Ok.."



"Hmmm... aku sayang kamu." ucapnya sambil memelukku. Aku mengambil botol itu dari tangan Dani yang tersilang di punggungku.



"Aku juga sayang kamu..." balasku.

__ADS_1



"Entah kenapa denger kamu balas sayang, panggil baby, panggil sayang, rasanya malah kaya... entahlah.... jangan pernah berpikir buat ninggalin aku, awas ya, dimana pun kamu berada aku bakal nemuin kamu." ucapnya.



"Iyaaa iyaaa kamu tuh lucu deh, dulu pingin dipanggil sayang, pingin dibales sayang, sekarang aku udah lakuin itu semua kamu mikirnya aku aneh." ucapku.



"Sini peluk..." ucapnya sambil memelukku.


---


14 hari Berlalu


Kami sekeluarga sudah kerumah Eyang, aku sempat takut luar biasa saat papa Dani mulai menjelaskan maksud kedatangan kami. Namun diluar dugaan eyang menyambut baik niat kami, dan mereka menetapkan pernikahan kami 3 bulan lagi. Lega sekali rasanya. Aku berusaha menghubungi nomor mama dan papa ku, tapi mereka sama sekali tidak merespon panggilanku.



Ya sudahlah aku bisa apa kalau mereka sudah tidak menghiraukanku lagi.



"Kamu tidak sendirian, walaupun bapakmu si Ariadi sudah meninggalkan kamu, eyang.. tetap eyang kamu, kamu sudah nggak ada bedanya sama cucu-cucu eyang yang lainnya, jangan sedih." ucapan eyang masih terngiang di telingaku.



Aku nggak tau aku harus bagaimana bersikap, apakah aku harus bersyukur pada Tuhan atau aku harus berterimakasih pada mama kandung ku yang telah mengirimku kepada keluarga yang penuh kasih sayang, aku nggak tau hati mereka terbuat dari apa, yang jelas hati mereka sangat lembut dan penyayang.



Aku membuat jamur krispi kesukaan Dani, Kuangkat dari tirisan dan menuangkan keatas piring. Sebentar lagi dia pulang kuliah, pasti senang kalau aku bikinin kudapan kesukaannya.



Tok... tok.. tok...



Aku bergegas membukakan pintu, kulihat Dani berdiri didepan pintu tapi dia tidak sendirian, ada 3 cewek dan 2 cowok bersamanya.



Walaupun seketika raut wajahku berubah, tapi aku mempersilakan mereka masuk.



"Sayang mereka teman-teman aku dari kelas kimia, mau belajar bareng dirumah nggak papa ya." ucap Dani.



"Wiiihhh cantik banget, siapa Dan, adik kamu?" tanya cowok jangkung dengan kaos hitam yabg berada di sisi kanan Dani.



"Bukann dia calon istri ku." jawab Dani. Aku membalasnya dengan senyuman.



"Udah mau nikah aja kamu Dan?" tanya cewek berjilbab nude di sisi kiri Dani.



"Iya dong... yaudah duduk yuk." ajak Dani pada mereka semua.



"Aku bawain minuman ya." ucapku.



"Sayang kamu ngapain? udah sama aku aja disini, biar mbak yang nyiapin." ajak Dani.



"Udah nggak papa." ucapku.


setelah


"Mereka berenam, 3 cowok 3 cewek... bisa nggak sih otakku nggak mikir yang aneh-aneh."



Aku mengambil teko kaca dan menuang minuman rasa jeruk kedalamnya, kuambil 6 gelas dan kutata rapi diatas nampan. Saat aku akan mengangkat nampanku kulihat Dani berjalan keatas mungkin mengambil buku atau apa.




"Calon istri Dani kenapa nggak kuliah?"



"Nggak tau, terus mereka tinggal bareng gitu dirumah ini?"



"Nggak tau... tanyakan aja pada yang bersangkutan."



"Sayang sih cantik-cantik dikurung dirumah aja."



"Ya emang kenapa, bagus dong, aku bisa nempelin Dani di kampus."



"Anjirr udah mau nikah dia."



"Yakann sebelum janur kuning melengkung, kalupun udah melengkung juga bisa dicopot ganti yang baru."



"Aseekkkk..."



"Iya nggak... bener kan aku..."



"Iya bener-bener."



"Emang sejauh apa kamu suka sama Dani?"



"Sejauh.... udah mau gila.."



"Waaah parah lu..."



"Dan aku selalu bisa bikin cowok bertekuk lutut padaku."



Tiba-tiba Dani muncul dari belakang ku dan mengambil perlahan nampan yang aku bawa.



"Sini biar aku bantuin sayang" ucapnya.



"Yaudah kamu belajar ya, aku mau kekamar dulu, ada jamur krispi kesukaan kamu."



"Waah Makasih sayang, kamu nggak mau nemenin aku?" tanya Dani kemudian.



"Mau.. tapi nggak tau letih banget rasanya." jawabku.



"Oh ya udah kamu istirahat nanti aku temenin ya."


ucapnya sambil mendaratkan bibirnya pada puncak kepalaku. Aku tersenyum lalu meninggalkannya.

__ADS_1


Sampai dikamar aku menangis, kenapa rasanya sakit sekali hatiku. Aku nggak mau kehilangan dia, aku nggak mau. Dan ocehan teman-teman Dani terus terputar dalam otakku.



Kuambil botol Fluoxetine ku, kulihat hanya tersisa 7 butir saja, aku menuangnya ke telapak tanganku. Kuminum 3 butir sekaligus. Lalu kuletakkan botol beserta airputih diatas nakas.



Emosi ku belum stabil, airmataku terus mengalir, hatiku terasa dicabik-cabik. Aku menginginkan efek yang cepat dari obatku, aku ingin kembali tenang dan bahagia.



Kuambil lagi 3 butir dan menenggaknya. Kurebahkan diri agar saat aku membuka mata nanti pikiranku lebih tenang emosi ku stabil dan gak stres lagi, ternyata aku salah aku baru saja terlelap beberapa saat tiba-tiba mual lalu tidak butuh lama langsung muntah


sebanyak-banyaknya kupegangi perut dan mencoba mengatur nafasku yang pendek sampai rasanya sesak banget. Kepala ku pusing.


Jangan-jangan aku overdosis obat yang aku minum tadi. Suhu badanku naik drastis kemudian aku mulai berhalusinasi melihat Dani berciuman dengan Adhisty tapi saat berbalik bukan Adhis melainkan cewek teman Dani tadi, pikiranku semakin kacau, aku mencoba keluar kamar untuk memanggil Dani, namun baru saja aku turun dari tempat tidur tubuhku kaku lalu lunglai tak berdaya dan terjatuh di lantai mungkin aku masih menyisakan sedikit kesadaran saat kurasakan sekujur tubuhku bergerak menyentak berulang-ulang.



"Sayang.... ya Allah kamu kenapa bisa gini?" Kurasakan tangan dingin menepuk pelan pipi ku dan sebelah tangan lain menggenggam tanganku. Berapa saat kemudian tubuhku serasa melayang diudara lalu mendarat di tempat yang nyaman.



"Mama... mah pulang ya, Syaluna tiba-tiba kejang tadi, badannya demam tinggi, dia udah pucet banget ma, aku udah telpon dokter tapi belum datang."



"Iya ma cepetan ya..."



"Udah enggak ma, sekarang udah tenang tapi masih belum sadar juga."



Dari semua Indra ditubuhku hanya pendengaran ku yang samar-samar berfungsi lagi, aku belum bisa membuka mata.



Setelah beberapa saat semua kembali ke tubuhku, semula melayang kemana-mana energi dalam tubuhku kini aku bisa membuka mata perlahan menggerakkan jemariku. Kulihat Dani begitu cemas, matanya tak lepas dariku.



Begitu melihatku membuka mata, dia langsung mendekapku, kulihat Dani terisak.



"Kamu kenapa?"



Dia melonggarkan dekapannya lalu mengusap dan merapikan rambutku yang berantakan. Matanya tertuju pada botol obat yang ada diatas nakas. Dia membukannya dan matanya terbelalak begitu melihat obat ku habis hanya tersisa satu butir saja.



"Kamu minum semua?"



"Sayang kamu minum ini semua?"



"Ini bahaya kamu overdosis, kamu tau kan ini bahaya sayangg...",



Aku mencoba bangun dan ingin kujelaskan semuanya, dia membantuku sambil memegangi punggungku pada detik berikutnya.



"Aku sudah bilang kalau ada apa-apa cerita ke aku jangan kaya gini, kamu bisa-bisa meninggal karena obat yang kamu minum. Kamu kenapa giniin aku sih sayangg, kamu janji gak bakal nyalah gunain obatnya kan."



"Maaf..." hanya satu kata yang berhasil aku ucapkan saat ini.



"Maafin aku sayang, maafin aku kalau mungkin teman-teman aku tadi bikin kamu nggak nyaman, bikin kamu kecewa, maafin aku, aku nggak akan ngajak mereka kerumah lagi."



Pintu kamarku terbuka lalu masuklah mama Dani bersama seorang dokter. Dokter memeriksa detak jantung, dan suhu badanku. Mama Dani terlihat menghembuskan nafas berat.



"Kamu apain adik kamu?" tanya Tante Maya begitu dokter keluar dari kamarku, setelah memeriksa dan memberikan obat padaku.



"Aku nggak ngapa-ngapain ma." jawab Dani.



"Kamu jangan kelewatan ya sama Syaluna, dia bukan orang lain, sekalipun dia calon istri kamu, tapi dia tetap anak perempuan mama. Dia nggak mungkin Sampek overdosis minum obatnya kalau kamu nggak bikin ulah." tegas mama Dani.



"Cewek-cewek yang barusan keluar tadi siapa, yang papasan sama mama di depan pintu?"tanya mama Dani kemudian.



"Mereka teman Dani ma, satu kelompok di kelas Kimia."



"Lain kali jangan ajak temen perempuan kamu kerumah, mama nggak suka."



"Kalau ada apa-apa sama adik kamu, mama nggak bakalan maafin kamu, paham." Mama Dani yang marah membuatku kasian sama Dani.



"Tante udah... Syaluna udah nggak papa, maaf Syaluna yang salah bukan Dani." ucapku.



"Jangan belain dia." ucap Tante Maya.



"Dani dengerin mama ya, mama mungkin udah salah, dengan membiarkan kamu sexuality harassment ke adik kamu, mama tau kamu cium dia, peluk dia, suka godain dia mama biarin aja, tapi kalau kamu kelewatan sama dia, mama bakalan pisahin kamu sama dia."



"Ma Dani minta maaf, tapi Dani nggak ada maksud buat melecehkan Syaluna, Dani sayang banget sama dia."



"Maaf Tante... Dani nggak salah, karena... karena kami memang saling mencintai satu sama lain, jadi Syaluna nggak pernah merasa di lecehkan."



"Syaluna jangan belain Abang kamu, kalau dia salah ya salah jangan dicari pembelaannya." tegas mama Dani.



"Tapi... Tante..."



"Udah sayang kamu istirahat ya." ucap mama Dani.



"Iya Tante..." Aku kembali berbaring dan menarik selimutku.



"Jagain adik kamu dengan baik, jangan bikin Mama marah lagi." ucap Tante maya, meninggalkan kami berdua.



"Maaf... kamu jadi dimarahin sama Tante." ucapku.



"Udah... jangan dipikirin, aku emang salah gak bisa jagain kamu, maaf sayang ya, kamu juga kenapa tega ngelakuin itu ke aku, kalau kamu gak bisa tertolong gimana, kamu tau aku gak bisa hidup tanpa kamu." Dani meraih tanganku dan menggenggam jemariku dengan erat, dia menangis.



"Dan... kamu jangan nangis, aku jadi ngerasa bersalah."



"Aku nggak pernah main-main sama kamu, harusnya kamu ngerti, apapun yang dibilang temenku tadi harusnya kamu cuekin, karena aku cuma cinta sama satu wanita dan itu kamu, kamu wanitaku, dan aku sama sekali nggak berniat buat ngelecehin kamu, karena aku sayang sama kamu." jelasnya

__ADS_1



"Iya aku ngerti... maafin aku." ucapku. kugenggam balik tangannya untuk membuatnya lebih tenang.


__ADS_2