
Aku selesai mandi sore ini, sunyi sekali hanya terdengar desisan dari hairdryer ku. Dani belum pulang, aku tau dia kwalahan ngadepin kuliah dua prodi. Kasihan sih tapi sudah keputusannya jadi aku hanya bisa mendukungnya.
Kumatikan hairdryer dan menyimpannya kedalam laci. Aku beranjak dari duduk ku untuk mengambil pakaian dari dalam lemari, karena masih kukenakan handuk kimono berwarna kuning terang untuk menutupi badan ku usai mandi.
Baru saja beberapa langkah meninggalkan kursiku, Dani masuk dia menyerahkan kantong plastik berisi story mou choco Velvet padaku.
"Wuuu.... makasih." ucapku.
"Iya sayang..." wajahnya terlihat sangat lelah dan berantakan.
"Hari yang berat?" tanyaku, sambil mulai meminum choco Velvet.
"Enggak kok... kamu udah makan belum?"tanya Dani, sambil merapatkan handukku yang tanpa aku sadar sedikit terbuka bagian depan.
"Habis aku mandi kita cari makan diluar yuk." ajaknya. Dia berjalan keranjang ku lalu merebahkan diri diatasnya.
"Iya..." jawabku. Aku melanjutkan langkahku menuju lemari untuk mengambil pakaian. Kuambil setelan sporty berwarna baby pink dari sana dan membawanya ke kamar mandi karena aku tidak bisa mengusir Dani, kubiarkan dia istirahat, aku bisa mengganti pakaian di kamar mandi.
Saat aku keluar dari kamar mandi kulihat Dani sudah terlelap dalam tidurnya. Kulepaskan sepatu dan kaus kaki yang masih melekat padanya. Lalu kutata bantal untuk nya.
Kuangkat kepalanya perlahan dan kuganjal bantal dibawahya.
"Makasih sayang." ucapnya dengan mata terpejam.
Ponsel Dani bergetar, awalnya aku nggak peduli sampai pop up itu menunjukkan sebuah foto yang diambil dari kejauhan dan objek dalam foto tersebut adalah butik mama Dani.
Kubuka dan kulihat pesan tadi. benar itu adalah butik Tante Maya, pengirimnya adalah nomor baru, dan untuk apa mengirim ke Dani aku juga tidak tahu. Kutekan home lalu kuletakkan kembali ponselnya di sisi Dani.
"Apa mungkin ada yang sedang mengintai Tante Maya, dia ingin Dani kesana, atau bakalan...." Aku tidak bisa menerka-nerka lagi. Kuusap keringat yang membasahi wajah Dani, ku kecup bibirnya perlahan, dan jujur ini pertama kalinya aku mencium Dani, aku hanya takut kalau-kalau nanti bakalan tidak bisa kembali kesini. Lalu berdiri dan meraih ponselku diatas nakas.
Aku order grab yang akan datang tidak lebih dari 5 menit karena lokasi ku dekat dengan salah satu driver yang sedang on the way.
Sampai di butik, aku langsung masuk gitu aja dan mencari tanteku. Beliau sedang sibuk melayani pelanggan yang cukup ramai hari ini. Tante Maya segera menghentikan aktivitasnya saat menyadari kedatangan ku.
"Loohh sama siapa sayang?"
"Sendirian Tante, Dani tidur tadi, terus Syaluna bingung mau ngapain yaudah main aja kesini."
"Oohhh gitu... mau bantuin Tante nggak?"
"Mau Tante... Syaluna bisa bantu apa nih?" tanyaku.
"Ini bawa buku desain Tante ke atas ya, taruh di meja Tante, agak kerepotan bawa banyak buku nih." jawab Tante Maya.
"Baik Tante." jawabku.
Kuterima buku itu kemudian menapaki anak tangga menuju keatas. Sesekali kulempar pandangan keluar jendela. Tidak ada yang aneh, lantas apa?
Aku masuk ke ruangan Tante Maya di lantai dua. Sebelum masuk ruangan kujumpai beberapa karyawan tengan memotong bahan dan menjahit ada juga yang menyulam Payet, ada juga model dan fotografer yang tengah melakukan pemotretan.
Kubuka pintu perlahan lalu udara dingin dari AC menyeruak keluar dari pintu yang terbuka. Aku berjalan menuju meja lalu kuletakkan buku yang kubawa diatasnya tak lupa kuambil remote AC dan kumatikan AC nya karena tidak dibutuhkan di ruangan ini.
Ujung jariku menyentuh sesuatu yang agak keras seperti hard cover book, dan saat kulihat ternyata sebuah album foto lama yang berada di salah satu sudut meja. Kuambil dan kubuka lembar demi lembar album tersebut
Ternyata foto keluarga, ada foto Dani mulai dari masih tengkurap, belajar jalan sampai duduk manis diatas kuda kayu, ada foto Tante Maya sama om Angga juga yang sedang nggendong Dani dengan wajahnya yang imut.
Dilembar terakhir ada foto bayi lain yang memakai selimut dan bantal guling dengan logo huruf A. Itu pasti aku... aku tersenyum mengusap foto bayi kecil itu, Tante Maya sungguh menyanyangiku sampai sempat mencetak fotoku dan meletakkannya diantara album keluarga.
"Iyaa... ini kamu, masih bayi, cantik ya, sekarang udah gede juga cantik kok." kata Tante Maya tiba-tiba yang membuatku kaget.
"Maaf Tante, tadi Syaluna cuma penasaran dengan album ini, terus buka-buka bentar." ucapku.
"Enggak papa kok sayang, kamu pingin tau mama kamu kaya gimana?" tanya Tante Maya.
Beliau mengambil Album lain dari rak buku desain.
Lalu kembali lagi ke tempatku. Sambil tangannya mbolak-balik mencari foto yang dimaksud.
"Ini..." tunjuknya pada sebuah foto.
"Ini mama kamu, Rania... ini foto yang kita ambil pas usai nugas terakhir di OSIS, Tante udah nggak punya foto ini sebenarnya, tapi beberapa waktu yang lalu, Tante minta dari temen Tante yang cowok ini, ya udah Tante simpan, mau Tante bawa pulang buat tunjukkin ke kamu tapi lupa terus maklum udah tua." jelas Tante.
"Iya Tante...." jawabku. Pandanganku masih menekuri wajah dalam foto itu, cantik banget mamaku. Dan tak terasa airmataku menitik disana.
Tanpa bertanya kenapa, Tante Maya langsung memelukku.
"Mama kamu cantik, baik, halus bahasanya, nggak pernah neko-neko nggak pernah pacaran, pokoknya benar-benar gadis yang baik, Tante juga nggak ngerti ada kengerian apa di keluarga suaminya sampai dia mengakhiri hidupnya." ucap Tante Maya.
"Atas nama mama, Syaluna pingin minta maaf ke Tante karena sudah merepotkan selama ini, dan juga mau berterimakasih untuk telah menyayangi Syaluna seperti ini."
"Iya sayang... ya udah turun yuk apa masih mau lihat-lihat dulu?"
"Iya Tante...bentar lagi Syaluna nyusul kok." jawabku.
"Ya udah Tante duluan ya." pamit Tante Maya.
Aku melangkah mendekat kearah roller blind dan mengintip keluar jendela. Di depan butik, tepatnya diseberang jalan ada sebuah mobil Van hitam yang terparkir sejak aku sampai disini tadi. Tidak berapa lama kulihat dua orang berseragam yang beberapa kali menekan telingannya mungkin mereka memakai alat komunikasi seperti dalam film-film agen rahasia.
__ADS_1
Kemudian mereka memacu mobilnya dengan kencang dan meninggalkan butik Tante, pikiranku langsung teringat Dani yang kutinggalkan dirumah sendirian. Aku bergegas keluar dari ruangan Tante Maya dan menuruni tangga menuju lantai bawah.
"Tante Sya pulang dulu ya, Dani nyariin katanya mau diajak makan diluar." ucapku.
"Ohhh gitu, ya udah hati-hati ya, Tante pulang agak malam kayanya."
"Iya tante... Tante juga hati-hati ya." aku mencium tangan Tante Maya kemudian melangkahkan kaki meninggalkan butik.
Driver yang aku order baru tiba sesaat setelah beberapa kali kuhubungi nomor Dani namun tak ada jawaban. Aku bergegas mengambil helm yang diberikan oleh bapak driver lalu naik keatas motor.
"Makasih pak..." ucapku begitu motor berhenti didepan rumah dan aku menyerahkan uang kepada drivernya.
"Kembaliannya mbak..." ucapnya.
"Oh iya makasih pak.." aku mengambil kembalian lalu buru-buru membuka gerbang dan menutupnya lagi.
Aku masuk berpapasan dengan mbak yang mau keluar untuk membuah sampah organik.
"Mbak tadi ada tamu?" tanyaku.
"Enggak ada ya mbak setau saya, memang mbak Luna ada janji sama orang mau datang kerumah, maaf soalnya saya dibelakang." jawab mbak.
"Ohh enggak kok mbak, makasih." ucapku.
"Iya mbak..." si mbak melanjutkan langkahnya sambil menenteng plastik sampah keluar rumah.
Aku berlari keatas menuju kamarku. Pintunya sudah terbuka dan aku langsung masuk, Dani sudah nggak ada, mungkin dia sudah bangun dan kembali ke kamarnya.
Aku pergi ke kamar Dani, tepat disamping kamarku. Aku masuk kedalam kulihat kamarnya kosong.
"Dannn...." panggilku.
"Danii...."
Kulihat kamar mandi juga kosong. Ponselnya nggak ada.
"Mungkin tanya ke mbak, apakah Dani keluar barusan."
Namun saat aku berbalik Berpapasan dengan Dani yang baru masuk. Sepertinya dia baru saja dari dapur untuk mengambil segelas air putih, terlihat dari sebelah tangganya yang memegang gelas berisi air minum. Aku memeluknya tanpa alasan.
"Kamu dari mana aku cariin?" tanyaku.
"Ehmm aku dari butik."
"Ketempat mama? ngapain? kok nggak minta tolong aku anter kesana sih?" tanya dia lagi.
Aku melepaskan pelukanku lalu berjalan dan memilih salah satu sudut diatas ranjang Dani kemudian duduk disana.
"Ehmmm tadi aku lihat pesan di Hp kamu, dan aku takut Tante kenapa-napa jadi aku kesana."
"Pesan apa?" dia mengecek ponselnya.
"Loohh ini... siapa yang ngirim, terus kamu tadi kesana sendirian? Sayang kamu tu nggak tau bakalan ada apa-apa, kamu tau kan kamu dalam bahaya, jadi lain kali kalau ada apa-apa jangan keluar sendiri."
"Iya maaf, habis tadi aku kepikiran, takut mereka gangguin Tante, tapi pas nyampe sana, nggak ada apa-apa. Jadi kepikiran kamu yang dirumah sendirian, jadi aku pulang."
"Ya Allah sayang... harusnya kamu bangunin aku, tapi ada apa ya, kenapa ada yang ngirim ini ke aku, mungkin tujuannya adalah untuk manggil aku kesana, biar kamu dirumah sendirian." dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Tapi dari pagi aku dirumah sendirian by..." sahutku.
"Oh iya..." Dani mengambil satu tempat di sampingku untuk duduk.
"Terus maksudnya ngirim ke aku apa? pusing aku mikirnya, kamu udah nyampek sana tapi nggak ada apa-apa?"
"Ada Van hitam yang parkir lurus depan butik, terus beberapa saat kemudian ada dua orang berseragam kaya waktu insiden Nala itu, merkea seperti menerima perintah selanjutnya kemudian pergi gitu aja."
"Tapi mereka nggak lihat kamu kan?"
"Aku kurang yakin, tapi kayanya bukan aku yang diincar, kalaupun ngincer aku pasti udah sejak di ojol aku di hadang kan."
"Iya sayang kamu bener."
"Biar aku coba chat balik ya." ucap nya kemudian mengetik reply untuk chat nomor baru tadi.
Maksud kamu apaan?
Hai Dan... apakabar, lagi kangen sama kamu.
Siapa
__ADS_1
Aku Nala...
Dani melengos dan menunjukkan padaku balasan chat tersebut.
"Kirain siapa, taik lu..." ucap Dani. tanpa membalas pesannya lagi.
Tolong jagain Syaluna ya...
Iyalahhh
Sampai sangkarnya jadi dan aku ngambil dia hhhhhh
Anjing lu... aku nggak bakalan biarin kamu ambil dia dari aku.
Dia itu adik aku, aku yang lebih berhak nentuin hidupnya bukan kamu, kalau kau mau tetap Deket sama dia bisa kok, kamu nikah sama aku, dengan gitu kalian tetap bisa ketemu nanti.
Aku mengambil ponsel nya dan meletakkan jauh dari kami.
"Udah.... kamu capek kan, kamu laper kan makan yuk, tadi kamu ngajak aku makan diluar kan." ucapku.
"Mereka beneran nyiapin rencana besar buat kamu, dan aku sama sekali nggak ada persiapan untuk itu."
"Udah jangan dipikirin, om kan udah nyiapin 4 penjaga dirumah, jadi walaupun aku sendirian dirumah masih ngerasa aman kok, ada mbak juga yang nemenin, kamu jangan mikirin itu deh, fokus saja sama belajar kamu, katanya biar bisa jadi suami yang aku banggain. Btw kalau nanti kita punya anak, anak pertama kamu pingin cewek apa cowok?"
"Maaf ya aku jadi sering ninggalin kamu sendirian sayang, kalau aku nggak ambil double degree mungkin waktuku masih banyak buat kamu." dia mengusap pipiku perlahan.
"Duuhh... udahlah aku seneng kok kamu ambil double degree, lagian aku aman kok dirumah, kalau ada apa-apa aku bakalan lari dikeramaian." jawabku.
Dia memelukku lagi dengan erat lalu left a kiss for a second.
"Jadi... cewek apa cowok?" tanya ku saat ciuman kami berakhir.
"Apanya?"
"Yang tadi aku nanya, anak pertama kita, kamu sih nggak fokus kebanyakan pikiran." jawabku.
"Ohh iya... aku mau anak pertama kita cowok, karena... biar bisa jagain mama nya waktu aku tinggal kerja." jawabnya.
"Ehmmmm so sweet banget sih, kalau misal ternyata cewek gimana kamu nggak kecewa kan?"
"Ya enggak lahhh aku justru bersyukur dan bahagia banget di karunia dua bidadari cantik. Pasti cantik banget kaya kamu." jawabnya.
"Ehmmmm emang aku cantik?" tanyaku sudah pasti kedua pipi berlomba blushing.
"Dari kecil kamu cantik, kalau nggak mana bisa bikin aku jatuh cinta dari umur 7 tahun, gila aja..." ucapnya sambil mencubit kedua pipiku.
"Sakit.." ucapku melepaskan cubitan nya.
"Sama cewek yang waktu itu kerumah?"
"Yang mana?"
"Temen kamu yang cewek-cewek kerumah yang bilang suka sama kamu itu."
"Nggak lahh... cantik kamu lah sayang, kayanya hati aku udah berhenti di kamu, nggak ngefek tuk walaupun diluar sana banyak cewek-cewek yang bilang suka atau gimana, karena dari awal aku berjuang cuma buat kamu."
"Iya deh iya percaya kok." ucapku.
"Bentar... cincin kamu mana?" tanya Dani
menanyakan cincin yang pernah dia kasih sewaktu di Kanjuruhan dulu.
"Aku melepasnya kemarin." jawabku sambil menyembunyikan jemariku.
"Kenapa? ohh kamu pasti nungguin cincin asli buat pernikahan kita kan..." tebaknya.
Aku hanya mengangguk, walaupun sebenarnya bukan itu alasannya.
"Bohong... bukan itu alasannya, kenapa kamu lepas?"
"Kenapa? aku tau kamu nggak mandang berapa harga nya, terbuat dari apa, gimana modelnya, karena waktu pertama kali aku pakein ke kamu, kamu seneng banget."
"Sayang jawab kenapa?"
"Aku tiba-tiba merasa nggak layak memakai cincin itu, bahkan setelah aku pikir-pikir aku nggak layak buat kamu." ucapku lirih.
"Kenapa kamu mikir gitu, aku nggak tau, barusan kamu bicara tentang masa depan tentang anak kita tiba-tiba sekarang kamu bilang kamu nggak layak buat aku, maksud kamu apasih?" dia mengguncangkan ku agak keras.
Aku justru terisak, menyadari aku menangis dia minta maaf padaku.
"Maaf sayang, aku nggak bermaksud kasar sama kamu, aku hanya.... emosional aja, maaf sayang." ucapnya kemudian sambil mengangkat wajahku dan menghapus airmata yang hangat meleleh dipipiku.
Dia memelukku tanpa menanyakan lagi apa alasanku melepas cincin itu. Mungkin menunggu sampai aku tenang dan mau mengatakan padanya.
__ADS_1
Alasan sebenarnya adalah, perasaan ku padanya begitu kuat seperti jalinan cincin itu mengikat jemariku, aku tidak mau suatu saat ketika aku meninggalkannya akan membuatnya hancur, mungkin memang aku akan memberinya keturunan tapi aku tidak yakin bisa berada disisinya untuk selamanya, perpisahan kami kelak mungkin mengakhiri pernikahan kami, dan aku tidak bisa menyimpan apapun kecuali cincin ini sebagai sepenggal kenangan masalalu kami.