
*Tok tok tok ( mengetuk pintu )
"Yumi ayo bangun, sudah jam berapa ini, nanti kau bisa telat ke sekolah sayang".
"Iya-iya ma aku sudah bangun, dan ini akhir pekan ma, bukan hari sekolahku",berjalan membuka pintu kamar.
*krek (membuka pintu)
"Apa mama lupa lagi kalau hari ini adalah akhir pekan?"
"Benarkah, kenapa mama lupa lagi ya. Ya sudah turunlah untuk sarapan setelah mandi, mama mau pergi ke tempat tante Rina dulu. Bye sayang", emmuach..(mengecup kening putrinya).
"Iya ma hati-hati di jalan", melambaikan tangan.
Namaku adalah Ayumi Anastasya, umurku akan menginjak 16 tahun bulan depan. Aku hanya tinggal berdua dengan ibuku yaitu Putriana Sesilia Pamungkas.
Ayahku....entahlah...aku juga tak pernah melihatnya sejak kecil, setiap aku menanyakan tentang ayah, ibu selalu memasang wajah sedih dan terlukanya, jadi aku tak pernah berani menanyakannya lagi karena tak ingin membuatnya merasa sedih.
Aku juga tak ingin tau siapa ayahku itu, aku sangat membenci pria brengsek itu karena telah meninggalkan kami berdua dan aku berharap pria tak bertanggung jawab itu tak akan muncul lagi dan mengganggu kehidupan kami.
Kata ibu aku terlahir kembar dan memiliki seorang kembaran laki-laki, tapi ia juga menghilang karena diculik seseorang saat ibu baru melahirkan kami dan itu bersamaan dengan kepergian ayah, jadi ibu mengira jika kakak laki-lakiku dibawa oleh ayah.
Entah apa yang terjadi di hidupku ini, memiliki ayah dan seorang kakak, tapi aku sendiri tak tau siapa dan dimana mereka.
Sebenarnya jauh di lubuk hati Yumi, ia sendiri tak menyadari bahwa sesungguhnya ia sangat ingin mengetahui keberadaan ayahnya dan membawanya tinggal bersama ibunya.
Namun ketika melihat kesedihan dan kekecewaan di mata ibunya ia menutupi rasa penasarannya itu dengan kebencian terhadap ayahnya.
"Aaaa..... aku sangat bosan di rumah, kenapa ibu akhir-akhir ini sering ke tempat tante Rina, aku jadi kesepian sekarang", membenamkan tubuhnya di kasur.
Ia pun kemudian turun kebawah menuju meja makan untuk menyantap sarapan yang telah di siapkan ibunya.
Setelah sarapan dan membersihkan peralatan makan. Ayumi kembali ke kamarnya karena tak ada hal lain yang bisa dilakukannya lagi di rumah ia berencana mengajak sahabatnya pergi jalan-jalan.
Ia meraih ponselnya dan menghubungi sahabat satu-satunya itu.
"Vi, apa kau ada waktu hari ini, aku sangat bosan sekarang, ayo temani aku jalan-jalan".
"Maaf Yumi, hari ini aku dan keluargaku akan pergi berlibur ke Singapore sekalian menemani ayahku melakukan perjalanan bisnisnya"
"Baiklah, tak apa. Selamat bersenang-senang dan salam untuk paman dan bibi ya, bye", mengakhiri panggilan.
Yumi termenung sesaat setelah melakukan panggilannya. Ia menatap lama ke luar jendela kamarnya.
Sejujurnya ia sangat iri dengan sahabatnya yang memiliki keluarga yang lengkap dan sangat menyayanginya, tidak seperti dirinya yang bahkan sekarang ia merasa bahwa ibunya mulai menghindarinya juga.
"Tuhan, aku tau engkau telah mempersiapkan hal yang terbaik untukku dan terima kasih karena kau masih memberikan seorang ibu untuk berada di sisiku". Ucapnya optimis.
Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, ia pun memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke taman kota dengan mengendarai sepedanya.
Suasana di taman kota tampak sangat asri dan menyejukkan jiwa, di sana juga terdapat danau teratai yang sekarang bunganya sedang bermekaran dan harum, selain itu berbagai jenis bunga yang bermekaran tak kalah indahnya menghiasi taman.
Jika Yumi sedang merasa sedih, ia selalu datang ke tempat itu untuk menenangkan dirinya.
Sesampainya di taman ia berkeliling sesaat sebelum memutuskan untuk istirahat di sebuah bangku taman di dekat sebuah danau dan terdapat pohon rindang berdaun merah di dekat kursi itu.
Ia duduk sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap langit biru cerah.
Perlahan ia menutup mata untuk merasakan hembusan angin lembut yang menerpa tubuhnya dan suara kicauan burung yang indah didengar membuatnya merasa tenang.
Ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, tampak beberapa keluarga tengah bercengkrama dan bersenda gurau dengan bahagianya.
Tanpa sadar ia meneteskan air matanya dan memandang langit kembali melihat burung-burung yang sedang melintas terbang bebas di atasnya.
"Apa kalian juga bahagia bersama keluarga kalian".
Yumi melangkah mendekati tepian danau dan menyentuh bunga tulip dan lili putih yang ada di sekeliling danau.
Tanpa ia sadari tak jauh dari tempat ia berada ada seorang pria muda berumur sekitar 18 tahunan berjalan mendekati danau.
Pria itu mengambil beberapa batu kecil di tepi danau lalu melemparkannya ke danau dan ada beberapa yang mengenai bunga teratai di danau tersebut.
"Pergilah dan jangan pernah kembali", teriak pria muda itu sambil melempari batu ke danau teratai.
__ADS_1
Yumi menoleh ke arah suara teriakan itu, dan mengerutkan keningnya saat melihat seseorang tengah melempari batu ke danau teratai.
Ia juga melihat beberapa lemparan pria itu berhasil merusak bunga teratai yang ada di danau.
"Apa yang dilakukan orang itu".
Ia pun segera berjalan menghampiri pria muda itu.
"Hei kakak, apa yang kau lakukan, kau bisa merusak semua bunga yang sedang bermekaran sangat indah itu"
"......" masih melempari batu ke danau.
Merasa di abaikan, Yumi pun mendekat dan menjewer telinga pria itu.
"Kakak aneh, hentikan itu, jangan merusak keindahannya lagi", teriak Yumi di telinga pria itu.
"Aww...aww..aww, lepaskan telingaku gadis bau. Apa kau tau tubuhku ini sangat berharga dan jangan berteriak di telingaku", gerutunya sambil memegang telinganya yang tengah di tarik Yumi.
"Aku tak peduli itu, salah kau sendiri yang tak mengindahkan peringatanku"
"Lepaskan aku bilang", bentaknya dingin dan memegang tangan Yumi.
Tatapan mata mereka bertemu dan membuat mereka menatap lama.
Namun tak berapa lama seorang pria paruh baya menghampiri mereka.
"Ehem...tuan, apa anda sudah selesai", tanya pria paruh baya itu yang tampak seperti seorang pelayan.
Yumi dan pria muda itu melirik ke arah orang itu bersamaan.
"Hei, kakak aneh, jika kau kesini untuk merusak bunga-bunga di danau itu lagi, maka jangan kemari atau kau akan berhadapan langsung padaku kelak", ucapnya lalu pergi meninggalkan pria muda itu.
"Apa-apaan gadis bau itu"
"Tuan...", pelayan itu mengingatkan nya kembali
"Ayo kembali"
Selepas meninggalkan pria itu, Yumi berkeliling taman kembali sebelum pergi ke tempat lainnya sambil mengomel tentang kelakuan pria muda itu.
"kau datang lagi"
"Iya bibi, aku sekalian lewat jadi singgah membeli bunga untuk ibu", tersenyum lembut.
Setiap akhir pekan Yumi selalu pergi ke toko bunga untuk membelikan bunga mawar hijau kesukaan ibunya, namun minggu ini sudah 3 kali ia membeli bunga di toko tersebut.
"ini mawar hijau seperti biasanya dan ini aku berikan bunga daisy untukmu sebagai bonus karena kau pelanggan tetap ku" ucap penjaga toko
"Terima kasih banyak bibi, sampai bertemu lagi". Mengambil bunga dan meletakkannya di keranjang sepedanya.
Yumi melanjutkan perjalanannya ke sebuah toko kue favoritnya dan membeli beberapa roti dan cake untuk di santap bersama ibunya nanti di rumah.
"wah yumi tumben kau sendiri, dimana temanmu yang selalu bersamamu setiap datang kemari"
"em, dia sedang ada urusan"
"Berapa totalnya kak?"
Pemilik toko segera menunjukkan struk tagihan pada Yumi.
"ok ini uangnya, terima kasih dan sampai jumpa lagi".
Setelah membeli kue, Yumi kembali ke rumah saat hari sudah menunjukkan jam makan siang.
Saat tiba di rumah ia mencari keberadaan ibunya.
Biasanya ibu akan kembali sebelum jam makan siang untuk mereka makan bersama, tapi hari ini Yumi tak melihat keberadaan ibunya di rumah.
"Kemana ibu pergi, apa masih di tempat tante Rina"
Ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi ibunya, namun tak bisa dihubungi. Lalu ia mencoba menghubungi tante Rina tapi juga sama tak mendapatkan jawaban.
"haiisshh, kenapa mereka tak bisa di hubungi"
__ADS_1
Yumi berjalan ke meja makan dan meletakkan kue yang di belinya ke atas meja makan, lalu ia meletakkan bunga yang di belinya pada sebuah vas di dekat ruang tamu.
Yumi tinggal di sebuah apartment di kawasan elit salah satu daerah di korea selatan, tentunya ia tinggal bersama ibunya dan ibunya merupakan seorang dokter spesialis mata di sebuah rumah sakit ternama milik sahabat ibunya.
Ibunya memilih kawasan ini karena terkenal dengan sistem keamanan yang baik serta penjagaan yang ketat sehingga ia bisa tenang meninggalkan putrinya saat ia bekerja.
Meski pun ibunya seorang spesialis mata, terkadang juga membantu dokter lain dalam menangani pasien lain, dan itu juga yang menjadi penyebab ibunya selalu sibuk di rumah sakit.
Yah, jika ibunya merasa nyaman serta menikmati pekerjaannya, tak masalah bagi Yumi yang selama ibunya tetap sehat dan baik-baik saja.
Ia pun menunggu ibunya pulang hingga larut malam.
Jam telah menunjukkan pukul 11.30 malam. Yumi masih menunggu ibunya di ruang tv sambil menonton drama favoritnya.
"hahh....(menghela nafas)"
"Ibu bahkan melewatkan makan malam juga".
"Apa aku menyusul ke tempat tante Rina saja ya" , pikir Yumi
Ia pun bersiap-siap untuk menjemput ibunya di klinik.
Sebelum pergi, Yumi tak lupa berpesan terlebih dahulu kepada penjaga rumah untuk memberitahu ibunya bahwa dia pergi menjemput ibunya ke rumah sakit, jika nanti ternyata ibunya tiba lebih dulu di rumah, ia tak mau jika ibunya tak melihatnya berada di rumah, itu akan membuat ibu tercintanya menjadi panik dan khawatir.
Setelah keluar dari halaman, ia berjalan menuju taxi yang telah ia pesan sebelumnya.
Saat di jalan menuju rumah sakit tempat ibunya bekerja, tanpa sengaja pandangannya beralih pada sosok tua renta di persimpangan jalan yang tengah kesulitan menyebrang.
Yumi menyuruh supir taksi berhenti dan ia langsung keluar dari mobil untuk membantu wanita tua itu menyebrang ke sisi jalan lainnya.
Setelah membantu wanita tua itu menyebrang, Yumi tak langsung meninggalkannya, justru ia ingin mengantarnya hingga sampai ke rumah wanita tua itu.
la begitu tak tega melihat sosok tua yang renta itu berada di jalan yang sepi dan terlebih lagi udara teras lebih dingin karena hujan akan segera turun.
"Nenek, dimana rumah nenek, biar saya antar sekalian ya, ini sudah malam dan nenek hanya sendirian. Bagaimana jika nanti ada orang yang berniat jahat pada nenek".
"Terima kasih banyak gadis kecil, hatimu sungguh mulia. Tapi itu tak perlu karena sebentar lagi akan ada yang menjemput ku di sini".
"Benarkah, syukurlah jika begitu. Saya pergi dulu nenek, semoga nenek selalu diberi kesehatan dan kebahagian" Yumi pun berbalik melangkah pergi menuju taxi yang di tumpangi nya tadi.
"Tunggu, terimalah ini sebagai ucapan terima kasihku". teriak orang tua tersebut.
"Tak perlu nenek, saya sangat senang bisa mambantu dan bertemu dengan nenek".
"Terima saja gadis kecil, dengan benda ini berada padamu, nenek bisa menemukanmu lagi jika kita berjodoh dan nenek sudah menganggap mu sebagai cucu nenek, jadi jangan menolak hadiah kecil dari pertemuan ini jika kau tak ingin nenek bersedih"
Merasa tak enak hati, mau tak mau Yumi menerima pemberian wanita tua itu yang ternyata sebuah kalung dan mengucapkan terima kasih atas hadiah yang menurutnya sangat indah itu.
Yumi pun pergi melanjutkan jalannya menuju rumah sakit. Dan benar saja tak lama setelah kepergian Yumi sebuah mobil mewah berhenti di dekat wanita tua itu dan keluarlah sosok pria yang tampak lebih tua dari wanita tua itu.
"Sayang dari mana saja kau, berhentilah berpergian seorang diri, aku bisa gila jika kau terus melakukan ini"
"Hahahaa...tenang saja pak tua, ini yang terakhir kalinya dan aku juga telah menemukan seorang cucu perempuan yang aku inginkan untuk menemaniku nanti"
Pria tua itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istri tercintanya itu. Sudah beberapa kali istrinya pergi keluar sendirian dengan alasan untuk mencari seorang cucu perempuan untuknya padahal di keluarganya sudah memiliki 1 cucu laki-laki dan 2 cucu perempuan tapi tetap tak bisa membuatnya merasa senang.
Mereka berdua pun masuk ke mobil dan meninggalkan tempat tersebut karena hujan mulai turun.
Yumi kini telah berada di rumah sakit namun ternyata ibunya tak berada di sana, lalu ia pergi ke ruangan dokter Rina untuk menanyakan keberadaan ibunya namun jawaban dokter Rina membuatnya bingung.
Rina mengatakan bahwa ibunya telah pulang ke rumah jam 2 siang tadi tapi ia sendiri memastikan bahwa ibunya belum pulang ke rumah hingga sekarang karena dia sudah berada di rumah sebelum jam makan siang.
Melihat kekhawatiran anak sahabatnya itu, Rina menyarankan pada Yumi untuk menunggu saja di rumah sampai ibunya itu pulang.
"Pulanglah, tenang saja ibumu pasti akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir"
Yumi pun mengangguk mengerti dan kembali ke apartemennya menunggu ibunya pulang hingga tertidur pulas.
Ana sendiri sampai ke rumah tepat pukul 03.00 pagi dan melihat putrinya yang tertidur di sofa ruang TV menunggunya pulang. Ia menyelimuti gadis itu dan mengelus kepala putrinya dengan lembut.
Tampak air mata menetes dari wajah lembut itu. Ia menatap lama waja gadis kecilnya itu sebelum pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
"Maafkan ibu sayang" (mengecup kepala Yumi).
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...