Hello My Love

Hello My Love
7. Paris


__ADS_3

Di tengah kesibukan kota di Paris, sosok pemuda berusia 20 tahun kini tengah berdiri di jendela gedung perusahaannya sambil mengamati suasana di luar.


Matanya memancarkan tatapan yang dingin dan kejam namun jika diperhatikan dengan teliti ada sedikit jejak kesedihan di matanya.


terlihat sebuah kalung yang dimana saat ini sedang di genggamnya dan tampak liontin dari kalung tersebut menggantung indah berbentuk bunga lotus kecil dan sebuah cincin berukiran rumit di jari telunjuk kanannya.


tok tok.. (suara ketukan pintu terdengar)


"Masuk", jawab pria itu tanpa mengalihkan pandangan nya.


"Tuan muda, ini dia berkas yang Anda pinta", seorang pria paruh baya memasuki ruangan dan menyerahkan berkas ke pemuda tersebut.


Namun pemuda tersebut tak bereaksi dan hanya diam melihat keluar jendela.


Walau tak mendapat tanggapan, tapi pria tersebut sabar menunggu reaksi tuannya hampir sekitar 10 menit.


"Tuan... ", ucap pria paruh baya itu lagi, dan kali ini pemuda itu bereaksi padanya.


" Maaf membuatmu menunggu, bagaimana? apa kalian berhasil menemukan petunjuk? "


Pria paruh baya itu hanya menghela nafas berat dan menggelengkan kepalanya


"Tak apa, kita bisa mencari dengan perlahan", ucap pemuda itu sambil menepuk lembut punggung pria paruh baya itu dan memberinya semangat.


Setelah beberapa percakapan singkat, pria paruh baya itu pun pamit dan meninggalkan ruangan tersebut.


Setelah kepergian asisten nya, pemuda itu mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan singkat yang baru saja di terimanya, ia mengerutkan keningnya sesaat ketika membaca pesan tersebut, lalu berjalan kembali ke meja kerjanya sambil mencari beberapa dokumen di laci.


Setelah memeriksa beberapa dokumen ia menghubungi seseorang di ponselnya.


"Aku akan berangkat ke kota Arandel besok siang, tolong siapkan semuanya".


Setelah itu ia kembali ke pekerjaannya yg sempat tertunda dan akan menyelesaikannya hari ini juga.


____


Masih di Kota Paris.


Tepatnya di salah satu gedung Brand Pakaian ternama, kini tengah mengadakan acara tahunannya.


Banyak aktor dan artis top dunia sedang berkumpul di acara akbar tersebut.


Dari kejauhan, tampak dua orang sedang sibuk dengan urusannya sendiri dan tak terlalu menikmati acara tersebut.


"Aku dengar Louvie akan menggaet salah satu group idol di Korea sebagai BA nya, apa rumor itu benar? " , tanya Tiffany penasaran.

__ADS_1


"um..., Erick memberitahu ku bahwa, bulan depan mereka akan membuat kesepakatan kontrak, mereka cukup pintar dalam mengambil langkah ke depan, menurutku itu akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar mengingat penggemar dari group idol itu sangat royal dan selalu mendukung setiap aktifitas mereka, aku bisa menjamin jika kontak sudah terjalin harga saham Louvie akan berada di puncak paling tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya", ucap Nichols menjelaskan pada Tiffany.


"Waahh.....sungguh?, bagaimana bisa kau seyakin itu, sukses dan mendapatkan keuntungan besar? , bukankah di negara mereka sendiri mereka di bully dan diasingkan oleh media bahkan ku dengar group itu banyak memiliki haters. Bagaimana itu akan sukses, yang ada Louvie akan di serang oleh haters mereka dan merugikan perusahaan???", tanya Tiffany heran.


"Intuisi ku ", ucap Nichols singkat dan santai


"....... "


Tiffany terdiam sesaat, ia tau betul seberapa baiknya intuisi Nichols bekerja. Apa yang terucap dari mulutnya pasti akan terjadi. Bahkan banyak perusahaan yang ingin merekrutnya untuk bergabung di perusahaan mereka termasuk dirinya. Cara berpikirnya dan setiap keputusan yang akan diambilnya tak perlu di ragukan lagi, semua pasti akan berjalan dengan baik dan sempurna.


Tak satu pun dari sekian banyak perusahaan yang ingin merekrut gadis itu di Terima oleh nya, tapi justru di tolak mentah-mentah oleh sahabatnya itu.


"Kalau begitu, bisakah kita bekerja sama dengan group itu", akhirnya Tiffany tersadar dari pikirannya.


" Itu tergantung keberuntungan mu", ucap Nichols acuh


"......... "


Melihat Tiffany terdiam lagi, Nichols menghela nafasnya dan berfikir sesaat


"kau bisa mencoba untuk memahami sifat dan karakter dari setiap member mereka terlebih dahulu, lalu cari tau apa yang paling mereka inginkan dan senangi.", ucap Nichols


"Kalau begitu pertemukan aku dengan mereka?, bukankah kau dekat dengan group idol Korea itu dan kau juga yang menyarankan Erick untuk bekerja sama dengan mereka. Kapan kau akan bertemu mereka?, jangan lupa mengajakku juga" reaksi Tiffany semangat.


"......... "


"Bukan aku, tapi temanku di Korea sangat dekat dengan mereka, aku hanya kenalan biasa dan sangat sulit untuk menghubungi apalagi bertemu dengan mereka di tengah jadwal padat group itu". Nichols menghela nafas untuk kesekian kalinya.


Ia bisa saja meminta bantuan temannya di Korea untuk mengatur pertemuan mereka, tapi masalahnya sudah bertahun-tahun lamanya ia kehilangan kontak dengan sahabatnya tersebut dan tak tau bagaimana kabarnya saat ini.


Nichols merupakan putri tunggal dari pengusaha ternama dan terbesar di Kanada. Hal tersebut mengharuskannya untuk berpindah-pindah negara dan mengikuti ayahnya sejak usia 8 tahun dalam memperluas usaha di berbagai negara.


Itu sebabnya Nichols kehilangan kontak beberapa teman dan sahabatnya saat ini.


Melihat Nichols yang melamun, Tiffany menepuk pundaknya.


"Hei, kenapa melamun? "


"Lupakan, kau bisa bertanya di komunitas penggemar mereka jika kau ingin mengetahui group tersebut, mungkin saja kau bisa menjadi salah satu dari penggemar kedepannya", ucap Nichols santai setelah tersadar dari lamunannya


" apa kau gila, aku tidak suka K-Pop", ucap Tiffany cemberut


Nichols terkekeh melihat ekspresi yang di tunjukkan sahabatnya itu.


"Mereka berbeda dari K-Pop yang kau ketahui selama ini, hanya itu yang bisa aku katakan, kau akan tau saat memahaminya nanti, bisakah kita keluar dari topik ini? "

__ADS_1


"Apa nama komunitas penggemarnya? ", tanya Tiffany penasaran


Nichols tampak tak berdaya saat meladeni antusiasme sahabatnya itu dan agak malas menjelaskan lebih banyak lagi, jadi ia langsung menunjukkan komunitas penggemar group idol tersebut di ponselnya.


Tiffany pun mulai bergabung pada fandom idol tersebut dan mulai menyelidiki secara perlahan.


Ditemani Nichols di sampingnya, Tiffany mulai mencari dan bertanya beberapa hal yang tak ia pahami kepada Nichols.


Nichols hanya menjelaskan hal yang diketahui nya dan selebihnya membiarkan Tiffany untuk mencarinya sendiri.


" Aku akan ke Korea minggu depan untuk menemui temanku, apa kau mau ikut, sekalian aku juga ingin liburan", ajaknya pada Tiffany.


"Kedengarannya menyenangkan, aku akan ikut setelah urusanku selesai di sini, jadi kau bisa pergi duluan dan aku akan menyusul mu ", ucap Tiffany


Mereka berdua melanjutkan berbicara membahas beberapa hal lainnya sampai acara selesai lalu kemudian berpisah satu sama lain.


Nichols telah tiba di hotel. ia berjalan menuju lift untuk kembali ke kamarnya.


Saat pintu lift akan tertutup, ada sebuah tangan menghalangi pintu dan akhirnya terbuka kembali.


Tampak sosok pria berusia 20 tahunan memasuki lift membuat Nichols terkejut.


Pria itu memiliki postur tubuh yang sangat proporsional, kulit halus seputih susu, wajah yang sangat tampan dan kharismatik, aura bangsawan dan menawan tampak terpancar darinya.


Namun wajahnya yang tanpa ekspresi dan dingin membuat Nichols cepat tersadar dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Pemuda itu memasuki lift bersama dengan pria paruh baya di belakangnya dan pintu lift pun tertutup.


Nichols akan menekan tombol lantai 14, namun pemuda itu juga akan menekan angka 14 sehingga Nichols reflek menarik kembali tangannya.


Sekilas dirinya sempat melihat cincin yang di kenakan pemuda tersebut di jari telunjuknya, seketika Nichols mengerutkan keningnya. Ia merasa pernah melihat cincin tersebut di suatu tempat, tapi ia lupa dimana dirinya melihat benda itu. Tepat saat itu ponselnya berbunyi dan ia segera mengecek pesan yang masuk.


"Apa sisanya sudah di bereskan? ", tanya pemuda itu pada asistennya


"Penerbangan ke Arandel tinggal 2 jam lagi, semua hal sudah di bereskan, anda tinggal mengemaskan barang anda di hotel", ucap pria paruh baya tersebut.


Pemuda itu mengangguk dan kembali terdiam.


Nichols saat ini sedang fokus pada ponselnya tapi ia juga bisa mendengar percakapan kedua orang tersebut.


Tak lama pintu lift terbuka dan mereka menuju kamar masing-masing.


Nichols sudah berada di kamarnya saat ini dan telah mengganti pakaiannya dengan piyama favoritnya.


Ia merebahkan tubuhnya di kasur sambil mengingat ingat sesuatu. Sekarang ia ingat dimana ia pernah melihat cincin pemuda tadi.

__ADS_1


"Kota Arandel?, siapa sebenarnya orang tadi?, mungkinkah dia...........


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2