
Selesai makan malam bersama, Rina mengajak mereka bertiga untuk pergi mall untuk berbelanja dan melepaskan penantnya selama bekerja, tempat itu tak jauh dari apartment, cukup hanya 15 menit untuk sampai jika menggunakan mobil.
Tapi karena ia ingin membakar kalori di tubuhnya setelah banyak makan tadi, maka ia menyarankan untuk berjalan kaki saja.
Yumi dan Ana tak keberatan sama sekali, tapi mereka khawatir dengan Hana, apakah gadis kecil ini akan mampu berjalan.
Yang tak disangka, justru Hana yang paling bersemangat untuk pergi.
"Kakak ayo cepat bersiap-siap, aku ingin melihat seperti apa mall itu, apa di sana banyak makanan dan juga mainan?. Orang-orang sering membicarakannya, aku sangat penasaran dan ingin kesana", ucapnya sambil melompat-lompat kecil.
" Apakah ini pertama kalinya Hana pergi ke mall", tanya Yumi dan di jawab dengan anggukkan oleh Hana.
Melihat reaksi yang di tunjukkan Hana, mereka bertiga tertegun dan menatapnya dengan khawatir.
'Apakah hidupnya begitu sulit, apa yang di alami anak ini dalam hidupnya, kenapa tubuhnya terlihat seperti kurang gizi', pikir Rina
'Cindy, jika benar dia anak mu dan kau adalah orang yang selama ini aku cari, apa yang sebenarnya terjadi padamu, kenapa kau meninggalkan anak sekecil ini sendirian di tempat umum', pikir Ana.
Melihat berapa semangatnya Hana untuk pergi, Ayumi segera bersiap-siap begitu juga dengan Rina dan Ana.
Tak lupa juga ia memasukkan obat anti alerginya untuk berjaga-jaga jika nanti alerginya kambuh saat mencoba beberapa jajanan pasar kegemarannya.
Mereka semua berangkat ke tempat itu hanya dengan berjalan kaki saja sambil menikmati keindahan malam yang bertabur bintang di langit cerah.
Ana melihat anaknya yang sedang menjelaskan beberapa hal di sekitar kepada Hana dengan semangat dan kebahagiaan di wajah putrinya, membuatnya tersentuh dan tersenyum hangat.
"Maaf jika selama ini ibu terlalu sibuk dan tak begitu memperhatikanmu sayang", sudah lama sekali dirinya tak mengajak anaknya u tuk pergi berlibur, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan ia lupa untuk memperhatikan kebahagiaan putrinya, Ana merasa diri sangat egois selama ini terhadap putrinya.
"Tak masalah bu, dengan ibu tetap ada di sisiku itu cukup bagiku", Ayumi memeluk ibunya dengan erat.
Baginya tak masalah jika mereka jarang liburan bersama, yang terpenting ibunya selalu bersamanya dalam keadaan baik dan sehat.
Hana yang melihat keakraban mereka merasa iri, pasalnya semenjak ia terlahir ke dunia, ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, meski iya memiliki ibu tapi dirinya tak pernah di perlakukan dengan baik oleh orang tuanya. Bahkan ia tak di izinkan oleh ibunya untuk bertemu ayahnya walau hanya sekali.
Selama ini Hana hanya akan melihat ayahnya dari kejauhan dan tak di perbolehkan mendekat, karena ibunya bilang bahwa ayah sangat membenci dirinya karena telah terlahir di dunia, maka dari itu ia tak berani untuk mendekat dan hanya akan bersembunyi dan melihat dari kejauhan.
Ia hanya mendapat kasih sayang dari ibu asuhnya selama ini, tp kasih sayang itu berbeda dengan kasih sayang dan kehangatan pelukan seorang ibu kandung bukan.
Ayumi yang melihat raut sedih di wajah Hana segera mengajaknya ikut bergabung dalam susana hangat tersebut dan berpelukan bersama.
"Apa kalian sedang melakukan drama keluarga, aku di sini, apa kalian lupa? ", celetuk Rina, tapi pada akhirnya Ana menariknya dak ikut berpelukan bersama.
Dari kejauhan, ketiga pengawal yang mengawasi nona mudanya ikut bahagia dan mengabadikan moment tersebut untuk di sampaikan ke tuannya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka tiba di Mall.
Berjalan memasuki kawasan Mall, hal pertama yang di lihat Yumi adalah stand makanan favoritnya, namun yang jadi masalah adalah di cemilan itu ada beberapa bahan yang akan membuat dirinya mengalami alergi.
"Bu, boleh kah ?"
Ayumi menatap ibunya dengan memelas dan mata memohon. Melihat hal itu, Hana juga tak mau kalah dan ikut bersikap manja memperlihatkan ekspresi imut memohonnya pada Ana.
Tak tahan lagi melihat tingkah kedua anak itu, Ana tertawa lepas.
"Hahahaha....baiklah..baiklah...hentikan tatapan imut itu", Ana mencubit gemas kedua anak itu dan mengajak mereka untuk membeli makanan yang mereka inginkan.
"Tapi jangan merengek pada ibu saat alergi mu kambuh", Ana terkekeh
" Tak masalah, aku bisa mengatasinya, aku tinggal mengolesi salep dan meminum obat setelah itu", ucap Yumi percaya diri.
Mereka berpisah, Yumi dan Hana pergi membeli cemilan lalu membawa Hana ke tempat bermain,sedangkan Ana dan Rina melanjutkan jalannya dan singgah di beberapa toko pakaian, dan akan bertemu lagi di tempat awal mereka berpisah setelah 2 jam kemudian.
Setelah lelah bermain, Yumi dan Hana beristirahat di salah satu cafe.
"Paman, pesan 2 jus Avocado ".
Setelah membeli minuman mereka mencari tempat duduk dan mengobrol beberapa hal kecil.
"Bagaiman perasaanmu, apa kau menikmatinya? ", tanya Yumi ke Hana
" Ini sangat menyenangkan, di sini banyak permainan yang aku suka dan juga banyak hal yang menyenangkan, itu....emm....bisakah kita kembali kesini lagi?", ungkap Hana dengan ekspresi yang berubah-ubah di wajahnya.
"Tentu, kenapa tidak, kakak akan mengajak mu ke sini sesering mungkin jika Hana sangat menyukainya", Yumi mengelus lembut kepala gadis kecil itu.
Melihat sekelilingnya, tatapan Yumi terhenti saat melihat seseorang tak jauh dari tempatnya berada dan mengenali orang tersebut.
"Kenapa dia ada di mana-mana? ".
Tak ingin bertemu orang tersebut, Yumi segera mengajak Yumi pergi ke tempat lain.
Tapi seseorang menabraknya dengan keras, hingga membuatnya terjatuh.
*buk
" ssshhh....sakit sekali", Yumi jatuh hampir terlentang dan merintih. Hana yang di sampingnya ikut membantunya bangun.
"Hei, gunakan matamu, apa kau buta. Lihat pakaian ku jadi kotor gara-gara kau", orang itu melotot dam memarahi Yumi, ia juga mencari dan memaki gadis itu.
" Bibi, andalah yang duluan menabrak kami dan menyebabkan kakakku terjatuh, kenapa anda marah dan bukannya meminta maaf", teriak Hana pada wanita yang menabrak Yumi tadi.
__ADS_1
" Yaakk.....Kau anak kecil tau apa, Diam... ", bentak wanita itu.
" Hentikan, jangan membentak anak kecil, sikap dan ucapanmu menunjukan betapa buruknya karakter anda nyonya, Anda lebih tua dari kami seharusnya memberi contoh yang baik pada anak-anak ", ucap Yumi kesal.
Jelas-jelas wanita ini sengaja menabraknya dengan keras barusan, tapi apa masalahnya dia bahkan tak mengenal wanita ini, kenapa mencoba membuat masalah dengannya.
" Kau, apakah begini caramu berbicara dengan orang yang lebih tua?, teriak wanita itu lagi.
"Saya akan menghormati seseorang yang pantas di hormati, tapi sepertinya anda tak berhak mendapatkan hal itu dari saya", tegas Yumi
Wanita itu menjadi sangat marah dan langsung menjambak rambut Yumi.
Orang-orang di sekitarnya hanya memperhatikan pertikaian itu dan tak ada yang berani melerai.
Hingga ada tangan seseorang mencengkram tangan wanita dengan kuat dan menghentikan nya menjambak rambut Yumi.
"Aaarrggghh..... sakit... lepaskan...... apa yang kau lakukan..... cepat lepaskan tanganmu dariku", teriak wanita itu sambil merintih kesakitan.
*krack (suara tulang patah)
" Aaarrggghh..... tanganku..... ", wanita itu mengerang kesakitan
Yumi terkejut dan membulatkan matanya melihat adegan itu, dia tau siapa pria yang baru saja mematahkan tangan wanita yang menabraknya tadi.
" Pak, tolong hentikan, anda membuat tangan wanita itu patah, saya takut masalah lain akan timbul dan semakin rumit", ucap Yumi pada pria yang di ketahui sebagai kepala sekolahnya.
Yumi takut jika masalah ini sampai ke kantor polisi dan melibatkan kepala sekolahnya, Bila-bila dirinya akan di keluarkan dari sekolah karena masalah ini.
"Siapa pun yang mencoba untuk menyakiti mu maka aku akan menghukumnya secara langsung", ucap Daren dingin.
Yumi semakin terkejut dengan reaksi kepala sekolahnya, dia tau orang ini sangat tegas dan kejam. Tapi yang membuatnya bingung adalah apa maksud dari kalimat yang di ucapkannya barusan.
Yumi tak ingin ambil pusing dan menganggap itu adalah bentuk perlindungannya terhadap para siswa di sekolahnya.
Kini wanita yang tadi menabrak Yumi kini gemetar ketakutan, awalnya ia tak begitu memperhatikan pria di depannya, tapi ketika dia melihat wajah pria itu lebih jelas, ada jejak ketakutan dan keterkejutan di wajah wanita tersebut.
Tak lama, beberapa orang berpakaian seperti pengawal membawa pergi wanita itu, sedangkan Daren membawa Yumi dan Hana ke tempat lain.
Di sisi lain Joe yang juga berada tak jauh dari tempat kejadian tak terlalu memperhatikan karena pikirnya itu hanya pertengkaran dua wanita yang merebutkan suaminya.
Saat hal itu terjadi, ia sempat melihat salah satu wanita sedang menjambak rambut wanita satunya dan wanita yang sedang dijambak tak kelihatan wajahnya karena membelakangi posisinya berada, lalu tak lama ia melihat beberapa orang ber jas hitam menghampiri mereka dan pertengkaran pun tak lama berhenti. Melihat itu Joe langsung kembali mengobrol dengan 2 orang di depannya.
Sampai di rest area Yumi, Hana dan Daren duduk dan beristirahat.
"Bagaimana kondisimu, apa ada yang sakit saat kau terjatuh tadi?", tanya Daren cemas.
" Aku baik-baik saja, Terima kasih pak, maaf sudah merepotkan anda", Yumi membungkuk mengucapkan terimakasih kasih.
Yumi reflek menutup mulut Hana saat menyebut kalimat wanita jahat di hadapan Daren dan mengingatkannya untuk tak berbicara kasar pada orang lain, Hana pun mengangguk patuh.
" Jangan berterima kasih padaku, aku memang sedang mencari wanita itu selama ini, dia telah melakukan sesuatu yang buruk pada orang yang kukenal".
"Dan gadis kecil, jangan panggil aku paman, aku tak setia itu kau tau", ucap Daren sambil mengacak rambut Hana.
Setelah beberapa percakapan kecil, Yumi dan Hana pun pamit pada Daren karena sudah waktunya untuk mereka berdua menemui Rina dan juga Ana.
Di tempat lain, Ana dan Rina menunggu kedatangan kedua anak itu sambil mengobrol ringan dan tak lama mereka berkumpul.
"Apa kalian sudah selesai bersenang-senangnya? ", tanya Ana
" Ya, bibi kami sudah selesai mari kita pulang aku sangat mengantuk sekarang", ucap Hana sambil berjongkok
Ana tertawa melihat tingkah lucu Hana yang menggemaskan.
Sebelum menemui ibunya, Yumi telah meminta pada Hana untuk merahasiakan kejadian yang dialaminya tadi di cafe karena tak ingin membuat ibunya khawatir. Hana cukup pintar dalam menilai situasi dan menyetujui permintaan Yumi
Mereka pun tiba di rumah setelah menunggu beberapa saat supir pribadi Rina untuk menjemput mereka. Karena Hana sudah kelelahan dan tak mungkin bagi mereka untuk pulang ke rumah dengan jalan kaki meskipun itu sebenarnya lebih menyenangkan, sebab mereka bisa melihat hal-hal yang tak bisa mereka lihat jika menggunakan mobil.
Tiba di rumah mereka langsung beristirahat dan tidur. Rina juga kembali ke rumahnya setelah mengantar mereka.
Yumi terbangun tengah malam karena merasa haus di tambah beberapa ruam muncul di kulitnya dan mulai terasa gatal.
Yumi turun ke bawah dan akan ke dapur mengambil air minum dan menelan beberapa pil obat.
Sayup-sayup dirinya mendengar suara seseorang, lalu mencari asal suara tersebut.
Mengikuti asal suara dan ternyata mengarah pada toilet dekat ruang tamu dan terdengar suara seseorang sedang muntah. Yumi mengetuk pintu untuk memastikan.
"Bu, apa kau baik-baik saja?", tanya Yumi khawatir karena dia tau ibunya yang ada di dalam.
Tak lama, pintu toilet terbuka dan tampak wajah Anak yang pucat.
" Ibu baik-baik saja, kenapa kau di sini, apa ibu membuatmu terbangun", kawan Ana dengan suara lemah.
"Tidak, aku terbangun karena haus dan lupa minum obat alergi ku, jadi aku turun ke dapur untuk minum dan sekalian minum obat. Tapi apa ibu yakin, ibu baik-baik saja? ibu terlihat pucat dan lemah."
"Aku akan mengantar ibu kembali ke kamar"
"Ibu baik, dan kau pergilah kembali tidur, Hana akan gelisah saat menyadari kau tak ada di kamar"
__ADS_1
"Hana tampak kelelahan setelah bermain dan dia tak akan sadar jika aku tak ada , tidurnya sangat nyenyak, dia akan terbangun saat pagi bu. Jadi aku akan menemani ibu malam ini", ucap Yumi menjelaskan.
Ana mau tak mau menuruti perkataan anaknya dan Yumi segera mengantar ibunya kembali ke kamar dan menemaninya.
Yumi memeluk ibunya sambil tidur, sebenarnya mereka berdua tidak benar-benar tertidur.
Ana saat ini sedang berkeringat dingin menahan rasa tak nyaman di tubuhnya hal itu membuatnya sulit untuk tidur.
Sedangkan Yumi merasa dirinya harus tetap terjaga karena dia bisa merasakan tubuh ibunya yang sedikit gemetar dan berkeringat saat memeluk ibunya.
Yumi mengerutkan keningnya dan merasa gelisah. menurutnya suhu ruangan cukup dingin tapi sekarang ibunya sedang berkeringat bahkan pakaian yang dikenakan Ana hampir basah karena keringat di tubuhnya hal itu membuat Yumi semakin khawatir.
Ana kembali bangun dan mengambil posisi duduk di kasur. Yumi juga melakukan hal yang sama.
Sesaat, Yumi memperhatikan ibunya yang saat ini tampak lemah.
"Ibu yakin baik-baik saja?, aku akan hubungi tante Rina".
Yumi bangkit dari tempat tidur dan akan mengambil ponselnya, tapi hal itu di cegah oleh Ana
"Tetaplah di sini, ibu hanya kelelahan nanti juga akan baik"
"Apa sudah minum obat?", tanya Yumi
" Ya".
Ayumi kemudian berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya sambil menggenggam tangan wanita itu. Entah kenapa hatinya sangat gelisah saat melihat kondisi ibunya sekarang. Ia mersa ibunya mulai bertingkah aneh akhir-akhir dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Bu, aku tau ini bukanlah hak ku untuk mengetahui masalah pribadi ibu, Tapi bisakah ibu mempercayaiku?. Maksudku maukah ibu berjanji padaku, jika ibu membutuhkan sesuatu, ibu harus menghubungi dan mendatangiku terlebih dahulu, sebelum ibu meminta kepada orang lain. Aku hanya memiliki ibu di dunia ini dan aku tak ingin terjadi hal buruk pada ibu".
Ayumi mencoba sekuat mungkin untuk tak meneteskan air matanya dan ia berharap Ana akan menceritakan semua kesulitan yang di alaminya pada putrinya itu.
Ana yang mendengarkan ucapan putrinya, tak kuasa menahan air mata dan akhirnya ia menitikkan air matanya yang telah susah paya iya bendung.
Ayumi yang melihat ibunya terdiam dan menangis mengusap lembut wajah wanita tersebut dan menyeka air matanya.
"Yakinlah bu, anda telah melakukan semuanya dengan sangat baik, semua akan baik-baik saja kedepanya"
Ayumi lalu bangun dan langsung memeluk erat ibunya sambil menepuk-nepuk pundak Ana dengan lembut untuk menenangkannya.
'Ibu, tenang saja. Aku akan segera mencari keberadaan Ayah dan kakak. Aku juga akan membuat ayah membayar semua yang telah ibu lalui selama ini', gumamnya dalam hati.
Entah kenapa, Yumi merasa yakin bahwa hal ini ada hubungannya dengan Ayahnya yang membuat ibunya menjadi seperti ini.
...----------------...
*Tok...tok...tok... (Suara ketukan pintu)
"Masuk".
"Ada perlu apa tuan muda memanggil kami"
"Awasi gadis ini secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, dan juga laporkan padaku semua aktifitasnya"
Kedua pengawal itu melirik satu sama lain saat melihat foto yang di tunjukkan oleh tuan muda mereka.
"Bukankah dia merupakan salah satu murid di sekolah anda tuan. Apa gadis itu melakukan hal buruk pada sekolah", jawab salah satu pengawal.
"Apa kau mempertanyakan perintah ku sekarang? ", ucap Daren dengan nada menekan.
"Maafkan kami tuan muda".
Tak banyak bertanya lagi, kedua pengawal itu segera pergi dengan gemetar.
Tak lama setelah kedua pengawal itu keluar, seseorang yang terlihat seumuran dengan pria tersebut memasuki ruangan.
Daren yang melihat kedatangannya, menyambut dengan malas.
"Bagaimana?".
"Tenang saja, ular itu akan menanggung semua akibatnya tak lama lagi. Dan orangku sedang melakukan penyelidikan menyeluruh pada wanita itu", jawab pria tersebut yang di ketahui sebagai kepala Detektif dan juga merupakan salah satu sahabat Daren. Dia jugalah yang membantunya menemukan keberadaan adik kecilnya itu beberapa hari yang lalu dan merahasiakannya.
"Bantu aku satu hal lagi, aku akan bayar berapapun untuk ini".
"Hei bung jangan seperti itu, apapun untuk sahabatku. Apa kau memintaku untuk mencarikan istri untukmu? ". goda Aron
Daren tampak memutar malas bola matanya lalu menghajar sahabatnya yang suka asal bicara itu.
*buk
Daren memukul lembut perut sahabatnya tersebut, namun Aron malah semakin memprovokasinya dan perkelahian keduanya tak terhindarkan. Tapi bukan seperti perkelahian pada umumnya, itu terlihat seperti perkelahian dua anak kucing yang sedang bermain dan bercanda.
Setelah merasa kelelahan, Keduanya berhenti dan mulai berbicara serius mengenai permintaan yang ingin di sampaikan oleh Daren pada Aron.
Selesai dengan diskusi pendek mereka, Aron pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Daren juga segera melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk di meja sesaat Aron meninggalkan ruangannya.
"Aaahhh, aku juga ingin refreshing seperti anak nakal itu untuk menyegarkan otakku dari semua pekerjaan ini. Ternyata, berinteraksi langsung dengan Hana membuatku merindukan tingkah lucunya".
__ADS_1
Daren memutuskan untuk menemui adiknya besok di apartment Ayumi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...