
Yumi tiba di apartment dan seperti biasa ibunya belum pulang.
Ia berjalan memasuki kamarnya dan beristirahat sejenak.
"Memalukan sekali...."
Yumi bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang masih tampak kemerahan. Perasaannya menjadi tak nyaman karena telah salah menuduh orang.
Ia berfikir sejenak, apakah anak laki-laki itu akan beranggapan yang tidak-tidak tentang dirinya.
Tapi ia langsung mengubah cara berpikirnya dan tak perduli tentang pendapat orang itu padanya.
Yumi meraih ponsel di tasnya dan mencoba menghubungi Vivian.
"Hai...Vi, bagaimana kabarmu, aku sangat merindukanmu"
*"Hai Yumi, aku juga sama. Oh iya bagaimana sekolahmu hari ini, apa mereka masih saja menggertak mu? "*
Vivian merupakan salah satu sahabat yang dimiliki Yumi dan dua lainnya sedang berada di luar negeri, mereka akan berkumpul bersama pada waktu tertentu saja.
Vivian memiliki karakter yang agak tomboy dan kepercayaan diri yang tinggi, namun tetap tak menghilangkan sisi feminim nya, ia juga lah yang menjaga Yumi selama tinggal di korea.
Terakhir kali, Vivian membantu Yumi untuk memberi pelajaran kepada teman sekelasnya yang selalu menggertak Yumi.
Maka dari itu Vivian beberapa kali memberi pelajaran pada teman sekelas Yumi agar tak mengganggunya lagi.
"Em, sekarang mereka belum melakukan hal buruk lagi semenjak kejadian memalukan waktu itu. Oh ya, kapan kau akan kembali ?".
"Entahlah, pekerjaan ayahku di sini belum selesai. Mungkin sekitar tiga atau empat hari lagi, aku akan menghubungimu jika sudah sampai di Seoul".
Mereka berdua pun mengobrol banyak hal hingga tak terasa hari sudah sore dan Yumi segera mengakhiri panggilan tersebut.
"Vi, aku tutup dulu ya, ada hal yang harus aku lakukan"
"Oke, jaga dirimu dan salam buat bibi", jawab Vivian
" Tentu, jaga dirimu juga, salam untuk paman".Yumi mengakhiri panggilannya dan menuju meja belajarnya.
Sambil menyiapkan beberapa hal untuk sekolah besok, dirinya tak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kecil dari atas meja, lalu mengambilnya dan membuka kotak tersebut.
"Ah aku lupa tentang kalung ini, apa benar tak apa-apa jika aku memakainya, apa nenek itu baik-saja sekarang?, semoga tak terjadi hal buruk padanya", ucap Yumi sambil mengenang kejadian waktu itu.
Ia tertegun sesaat dan memandangi kalung tersebut penuh arti.
Ia mengingat kembali kejadian waktu ia menerima kalung pemberian yang kini berada di tangannya.
gadis itu sangat penasaran dengan nenek tua yang tiba-tiba saja menganggapnya sebagai cucunya itu.
"Semoga saja nenek itu baik-baik saja dan sudah bertemu dengan keluarganya", ia menuju ke cermin dan mengenakan kalung tersebut.
" Kalung yang sangat cantik dan unik, sepertinya ini di buat secara khusus, apa akan baik-baik saja kalau aku makainya", ia merenung sejenak lalu tersenyum dan sangat menyukai kalung tersebut, kemungkinan itu akan menjadi benda kesayangannya nanti karena ia belum pernah melihat kalung seperti itu di tempat lain.
Dirinya sangat menyukai benda-benda unik dan langkah, bahkan ia senang membuat desain pakaiannya sendiri sebelum dikirim ke penjahit, dengan begitu pakaian yang di pakainya tidak akan pasaran dan hanya 1 di dunia ini.
Meskipun pakaiannya bukan dari merek terkenal, tapi untuk kualitasnya bisa di samakan bahkan diatas brand ternama dunia.
Tak jarang terkadang ia akan menjual hasil desainnya kepada salah satu sahabatnya yang memiliki toko fashion mode ternama di luar negeri, hitung-hitung menambah uang sakunya.
Yumi langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menyiapkan makan malam untuknya.
...----------------...
Di Jepang.
Jam telah menunjukkan pukul 07.15 malam. Tampak seorang dokter sedang memeriksa seorang pasien VVIP yang sedang koma.
Dokter yang memeriksa terlihat sangat fokus dan raut wajahnya sangatlah tegang. Keheningan dan suara alat medis menambah suasana ketegangan di ruangan itu.
"Dokter, bagaimana kondisi putraku. Apakah ada perkembangan ? ".
Dokter itu hanya menggeleng dan menatap pasiennya dengan tatapan sedih.
"Kau sebut dirimu dokter terbaik di negara ini, tapi kau bahkan tak bisa menyembuhkan putraku",
Wanita tua itu sangat marah dan melempari dokter tersebut dengan barang-barang yang ada di dekatnya.
Dokter yang di lempari tak dapat berbuat apa pun. Ia hanya terdiam menundukkan kepalanya di hadapan wanita tua itu.
"Tenanglah kakak, keponakan pasti akan segera sembuh, aku akan mencarikan dokter terbaik di seluruh dunia untuknya".
Pria tua di samping wanita tua itu menghentikan dan menenangkan kakak perempuannya yang tak bisa menahan emosinya lagi.
Putra satu-satunya dan juga merupakan pewaris keluarganya kini dalam kondisi tak berdaya selama 14 tahun.
Selama itu juga, wanita tua itu telah berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan putranya ke berbagai negara, namun kali ini usahanya juga gagal dan membuatnya sangat sedih dan frustasi.
"Rolan, berjanjilah padaku, kau harus memulihkan kondisi putraku karena hanya dialah yang bisa menjadi harapan untuk Hando Group dan penerus keluarga kita satu-satunya.
Wanita tua itu tak henti-hentinya menitikkan air matanya memandangi putranya yang terlihat sangat pucat.
"Tentu saja kakak, aku pasti akan melakukan yang terbaik"
Pria tua itu merangkul kakaknya dengan hangat untuk menenangkan wanita tua itu. Namum ada seringai jahat terlihat di sudut bibir pria tua yang diketahui sebagai Rolan itu.
...----------------...
Setelah mandi, Yumi segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Namun apesnya bahan makanan telah habis dan mau tak mau ia harus membelinya terlebih dahulu.
"Haish, dasar bodoh. Kenapa aku lupa membeli bahan makanan tadi saat pulang sekolah", gerutunya merutukki kebodohannya sendiri.
Sebelum pergi sekolah, ibunya telah memintanya untuk membeli stock bahan makanan sepulang sekolah, tapi ia lupa untuk melakukan itu.
"Semua ini gara-gara murid baru itu", gerutunya lagi saat mengingat kejadian tadi siang.
Ia kemudian mengambil jaketnya dan bersiap-siap untuk pergi ke supermarket.
Sesampainya di sana ia segera membeli beberapa sayur-sayuran dan buah-buahan, daging, cumi, dan juga berbagai bahan lainnya untuk beberapa hari ke depan, karena ia akan di sibukkan dengan begitu banyak tugas sekolah karena mendekati ujian akhir semester.
Ia pun berjalan ke meja kasir untuk membayar, namun seorang anak kecil berambut kuning berusia 5 tahun muncul dan berlari menabraknya sambil menangis hingga membuat anak kecil tersebut terjatuh.
"Hwaaaa.....mama.....hwaaaa....hiks...hiks...."
"Adik kecil apa kau baik-baik saja, apa ada yang terluka? ".
Yumi memeriksa tubuh anak itu takut jika ia terluka saat terjatuh barusan.
Anak kecil itu tak menjawab dan terus menangis hingga membuat orang-orang yang berada di dekat tempat itu memandangi mereka berdua.
" Nona kenapa adikmu menangis? ", tanya salah satu pengunjung.
" Aku.. aku tidak tau, tp dia bukan adik ku aku juga tak tau apa yang terjadi padanya", jawab Yumi kaget.
Yumi mencoba menenangkan anak kecil itu agar tak menarik lebih banyak perhatian dan tak lama kemudian anak itu pun berhenti menangis.
Melihat anak kecil itu telah tenang, Yumi pun mulai berbicara padanya dengan lembut.
"Sebaiknya kita membawanya ke kantor polisi terdekat untuk menemukan keberadaan orang tuanya", saran salah satu pengunjung di sana.
Yumi dan pengunjung lain pun setuju tentang usul tersebut
__ADS_1
"Baiklah adik kecil yang manis, boleh kakak tau siapa namamu? ".
"Um, Hana ", gadis kecil itu menanggung agak takut.
"Wah, nama yang indah sekali. Jangan takut aku akan menemanimu sampai kita menemukan ibumu. Kalau begitu, Hana sayang dimana ibumu sekarang? .
Anak kecil itu menggeleng sedikit dan mulai menangis kembali.
Lagi-lagi Yumi mencoba menenangkan anak kecil itu, lalu menanyakan dimana gadis kecil itu tinggal, Namun sayangnya gadis kecil malang itu tak mengetahui alamat tempat tinggalnya.
Setelah tenang, Yumi membawanya ke tempat bagian informasi terlebih dahulu untuk menemukan ibu anak tersebut ,barang kali masih berada di supermarket , tapi hampir setengah jam mereka menunggu dan tak ada yang datang menemui mereka untuk menjemput anak kecil itu.
"Sebaiknya kita membawanya ke kantor polisi untuk melaporkan hal ini sekarang, di tambah hari sudah semakin larut malam". Ucap karyawan yang berada di bagian informasi tersebut
Dari kejauhan, Joe berjalan mendekati mereka dengan membawa beberapa kantong belanjaan.
Ia kemudian memberikan kantong tersebut pada Yumi karena gadis itu melupakan belanjaannya tadi.
Yumi memutar bola matanya malas, lagi-lagi pria itu mengikutinya. Namun ia tak punya waktu untuk berdebat dengan orang itu karena harus menemukan orang tua Hana.
Joe menawarkan diri untuk menemani mereka ke kantor polisi terdekat dan Yumi pun setuju.
Yumi dan Joe kemudian membawa Hana ke kantor polisi untuk membuat laporan dan mencari apakah orang tua anak itu telah membuat laporan kehilangan anaknya.
Hana masih terlihat ketakutan sepanjang jalan, Joe dan Yumi mencoba menghiburnya dengan bernyanyi lagu kesukaan anak tersebut dan menceritakan cerita dongeng agar Hana lebih tenang
Melihat anak itu tertidur di gendongan Joe, Yumi mengulum senyum dan menatap mereka penuh arti.
"Ternyata dia baik juga"
Mereka pun tiba di post polisi terdekat dan segera menceritakan rincian kejadian tersebut pada petugas polisi di sana.
petugas mencoba menghubungi keluarga tersebut namun tak mendapatkan respon dari mereka. Bahkan membawa anak itu kembali ke rumahnya namun tak ada tanggapan dari dalam seperti rumah tersebut kosong dan tak berpenghuni.
Yumi merasa aneh dengan kejadian ini, tidak mungkin polisi mendapatkan informasi yang salah dalam data kependudukan, tp kenapa rumah yg mereka datangi seperti kosong dan tak di tempati dalam waktu yang lama.
"Ini sangat aneh, seperti ada seseorang yang mencoba menghalangi kami untuk mengali. informasi lebih tentang gadis kecil itu", ucap salah satu petugas polisi.
" Ini tak sesederhana yang terlihat, mungkinkah ada konspirasi?, siapa sebenarnya anak ini", ungkap Joe dengan ekspresi gelisah.
"Kami akan menyelidiki masalah ini lebih lanjut, jangan khawatir kami akan melakukan yang terbaik untuk masalah ini", ucap polisi yang di ketahui bernama woobin tersebut.
Karena tak menemukan hasil apa pun di kantor polisi setelah menunggu waktu cukup lama. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
Tapi Yumi merasa gelisah dan tak tega meninggalkan gadis kecil itu sendirian di kantor polisi, ia khawatir ketika Hana bangun ia akan ketakutan dan menangis sepanjang malam karena berada di tempat asing.
Ia memutuskan untuk membawa anak kecil tersebut pulang kerumahnya karena telah larut malam.
"Paman, apakah aku boleh membawanya ke rumahku sampai orang tuanya datang menjemput adik kecil ini".
Petugas polisi pun menyetujui keinginan Yumi, karena mereka pun hanya akan menitipkan anak tersebut pada panti asuhan sampai orang tuanya datang.
Yumi kemudian memberikan alamat dan nomor teleponnya pada petugas polisi woobin sebelum membawa gadis kecil itu pergi bersamanya.
"Kami akan menghubungimu jika ada perkembangan dari kasus ini, Aku akan mengantar kalian pulang agar lebih aman karena ini sudah larut malam.
mereka pun menyetujui gagasan tersebut, karena Hana sedang tertidur dalam pelukan Yumi sekarang dan tak mungkin baginya untuk menggendongnya sepanjang perjalanan kembali ke rumah.
Joe tersenyum penuh arti memandangi Yumi yang sedang memberikan informasi pribadinya pada petugas.
Ia kemudian membantu Yumi menggendong anak kecil itu hingga kembali ke apartemennya
Awalnya Yumi menolak bantuan Joe, tapi pemuda itu tak mau mengalah, dan akhirnya mau tak mau Yumi menyetujui bantuannya
Tiba di gerbang tentunya para security apartemen menanyakan identitas anak kecil itu pada mereka.
Bukan karena tak mempercayai mereka. Tentunya mereka sangat mempercayai Yumi karena mereka sangat terkesan dengan sikap jujur dan dermawannya selama ini.
Dengan bantuan woobin, sua berjalan lancar saat Yumi menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada penjaga apartment dan untungnya itu disambut dengan antusias oleh security di situ.
Yumi membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Joe masuk karena ia tahu bahwa anak itu pasti kelelahan setelah menggendong anak kecil itu sepanjang perjalanan menuju apartment.
Joe membaringkan tubuh anak kecil yang berada di punggungnya itu ke atas sofa dengan perlahan.
"mama.."
Anak kecil itu terbangun dengan terkejut dan melihat ke sekelilingnya mencari keberadaan ibunya.
"Kau sudah bangun Yumi kecil. Emm...jangan takut sekarang kau ada di rumah kakak dan mulai sekarang kita akan tinggal bersama sampai kakak menemukan ibumu ya"
Yumi mengelus dengan lembut kepala Yumi kecil dan memeluknya.
Anak itu terdiam sesaat sebelum mengangguk patuh.
Joe yang melihat interaksi keduanya hanya tersenyum lembut dan segera kembali ke apartment nya yang ternyata berada tak jauh dari tempat Yumi.
"Aku pulang dulu, jika ada sesuatu kau bisa memanggilku. Tak ku sangka ternyata kita tetangga", Joe segera memberi nomor apartment nya pada Yumi dan bergegas pergi.
Yumi tak begitu mendengarkan ucapan anak laki-laki tersebut. Ia sedang larut dalam pikirannya sendiri sekarang.
Joe melangkah keluar pintu dan meninggalkan mereka.
Yumi tersadar saat mendengar suara pintu terbuka dan mencari keberadaan Joe.
"apa yang dikatakannya barusan"
Gadis itu memiringkan sedikit kepalanya sambil menatap kepergian anak laki-laki tersebut dan tampak sedikit kerutan di keningnya.
Petugas Woobin pun segera pamit dan meninggalkan Yumi, karena ada beberapa hal yang harus di kerjakannya.
"Hana sayang, kau bisa tunggu di sini sementara kakak akak memasak makan malam untuk kita, walau sangat terlambat untuk dikatakan makan malam sekarang", ucap Yumi terkekeh.
Dalam waktu singkat, makanan telah siap,
Mereka kemudian makan malam bersama dan mengobrol sebentar sebelum tidur.
Yumi membawa Hana kecil ke kamar tamu tepat di sebelah kamarnya dan menemaninya sampai gadis kecil itu tertidur nyenyak.
Yumi juga ikut tertidur bersamanya karena kelelahan dan malam juga sudah semakin larut.
Tak lama setelah mereka berdua tidur pulas, Ana dan Rina tiba di apartment.
Rina menunggu di ruang tamu dan Ana seperti biasa masuk ke kamar Yumi untuk melihat putri kesayangannya itu.
Namun saat mendapati anaknya tak berada di kamarnya ia menjadi panik dan segera mencoba mencari ke seluruh ruangan.
Saat melihat pintu kamar di sebelah kamar putrinya sedikit terbuka, Ana pun memeriksanya.
Seketika ia menjadi lega saat mendapati putrinya ternyata tertidur di kamar sebelah sambil memeluk anak kecil di sisinya.
Hal tersebut membuat Ana mengerutkan keningnya dan penasaran dengan anak kecil tersebut.
"Kenapa ada anak kecil bersama Yumi di sini, siapa gadis kecil ini? "
Ia berencana untuk membangunkan putrinya untuk bertanya. Namun itu tak jadi di lakukannya saat melihat wajah Yumi yang tertidur dengan pulas.
"ah.. besok saja aku menanyainya, putriku yang malang kamu pasti sangat kesepian kan, maafkan aku yang belum sempat menyisihkan waktu untukmu akhir-akhir ini".
Ana pun keluar dari kamar anaknya setelah menyelimuti dan mengecup kening putrinya.
__ADS_1
Ia kemudian kembali ke ruang tamu menemui Rina yang telah menunggunya dengan sabar.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang dan maafkan aku Rin. Aku selalu saja menyusahkan dan merepotkan mu berkali-kali". Ana merasa sedih dan tak berdaya jika sudah berhadapan di depan saatnya itu.
"Jangan bicara begitu, kita ini sahabat dan sudah tugasku membantu sahabatku ini. Tapi Ana, mau sampai kapan kau merahasiakan semua ini dari Yumi. Dia pasti akan sangat sedih jika tahu bahwa kau menyembunyikan hal ini darinya"
"aku tau, tp sekarang belum waktunya, aku akan memberi tau Yumi jika sudah saatnya".
Ana tak ingin menjadi beban untuk putrinya sekarang. Ia hanya ingin putrinya menikmati hidupnya dengan bahagia hingga seseorang bisa menjaga dan melindungi putrinya di masa depan.
Dengan begitu ia bisa merasa tenang dan bisa segera memberi tahukan kondisinya tersebut pada putrinya nanti.
Rina hanya bisa menghela nafas panjang mendengar jawaban sahabatnya itu.
..........
Pagi hari pun tiba. Yumi memegangi kepalanya yang agak sedikit pusing.
ia bangun dan mengambil posisi duduk menyandar sambil melihat Hana tertidur pulas di sampingnya dan itu membuatnya tersenyum bahagia.
"Setidaknya untuk sekarang aku tak akan kesepian sampai Vivian kembali"
Yumi mengecup pipi chubby gadis kecil itu dengan gemas.
"Hoaamm (menguap)....pagi kak Yumi", mengucek kedua matanya.
Hana terbangun dan menatap wajah Yumi dengan mata puppy, sontak hal tersebut membuatnya memeluk Yumi kecil.
"Sudah bangun ya, apa aku membangunkan kamu?, umm....begini Hana, kakak akan pergi ke sekolah dan akan pulang pukul 2 siang. Apa kamu bisa menunggu kakak di rumah sendirian hingga kakak pulang?"
"um, aku sudah terbiasa di tinggal sendiri di rumah".
Hana mengangguk dengan semangat namun saat anak kecil itu tersenyum, terdapat kesedihan dan kesepian di matanya.
Tentu Yumi dapat melihat dan merasakan hal tersebut.
Yumi bangun dan segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah tapi ia masih bimbang dengan meninggalkan Hana sendirian di rumah.
Setelah bersiap-siap dan membantu Hana membersihkan diri. Mereka berdua segera menuju ruang makan untuk sarapan dan memberitahu ibunya mengenai Yumi kecil.
"Selamat pagi, waahh....apa tante Rina menginap di sini semalam ?".
"Ya, tante berencana akan menginap beberapa hari disini untuk menemani ibumu karena ibumu sedang mengambil cuti. Oh ya, siapa gadis kecil di sampingmu Yumi ?".
Rina mencoba membuat alasan agar Yumi tak mencurigai mereka berdua.
Yumi pun menceritakan kejadian yang di alaminya semalam pada mereka berdua.
"Wahh...nama yang indah seperti orangnya. Apa aku boleh tau siapa nama ayah dan ibumu sayang".
Sejujurnya Ana cukup terkejut dengan kebetulan seperti ini, bagaimana tidak, wajah gadis ini mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama tak di temui nya dan sampai sekarang ia tak tau bagaimana kabar orang tersebut.
Namun ia sangat senang menerima kehadiran gadis kecil tersebut. Ia juga penasaran dengan siapa orang tuanya.
"Um (mengangguk), teman-teman ibu biasa memanggilnya Cindy dan ayahku bernama Williams"
*Deg..
Ana mematung dan memegang dada kirinya yang terasa sakit. Yumi yang melihat reaksi ibunya sontak menjadi panik dan segera menghampiri ibunya.
"Apa yang terjadi, ibu baik-baik saja, bagian mana yang sakit, ayo ibu katakan padaku sekarang", Yumi panik
Ana tersadar dan tersenyum lembut melihat ke khawatiran yang di tunjukkan putrinya.
"Ibu baik-baik saja sayang, kau harus berangkat ke sekolah sekarang dan biar Hana bersama ibu"
"Apa ibu yakin. mom, jika sakit katakan sakit, jangan menyembunyikannya dariku", ucap Yumi dengan khawatir.
"Benar Yumi, ada tante yang akan menemani ibumu, apa kau lupa jika tante cantikmu ini seorang dokter juga"
Rina mencoba membujuk gadis itu dan pada akhirnya Yumi pun mengangguk patuh dan segera menyelesaikan sarapannya.
Ia berpamitan pada mereka dan segera berangkat ke sekolah.
Tiba di halte bus, ia bertemu kembali dengan Joe dan menaiki bus bersama.
Joe menyapa Yumi dan gadis itu hanya membalas dengan senyuman.
Setibanya di sekolah, seperti biasa Yumi akan ke perpustakaan terlebih dahulu untuk membaca buku lainnya sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Joe juga melakukan hal yang sama hingga membuat gadis itu merasa sedikit kurang nyaman dan leluasa.
"Kenapa kau mengikuti ku lagi"
"Hei ini sekolah, bukan rumahmu. Aku juga ingin ke perpustakaan sekolah untuk mencari bahan penelitianku nanti"
"........."
"Hei, apa kau juga ke perpus untuk mencari tema penelitian yang akan kau siapkan saat uji praktikum kimia nanti?"
Joe merangkul bahu Yumi dan hal tersebut membuat mereka seketika berhenti berjalan.
"Apaan sih, jangan sentuh-sentuh, kita tak seakrab itu ya"
Yumi mendengus kesal dan menggigit tangan Joe yang sedang merangkulnya.
Ia berlari meninggalkan anak laki-laki tersebut tanpa menoleh kebelakang.
Mendapat gigitan dari gadis tersebut, Joe meringis menahan sakit dari gigitan tersebut.
"Hei gadis aneh tunggu aku"
Yumi tak menjawab dan hanya mempercepat langkah kakinya pergi meninggalkan joe.
Joe menjadi tertarik dengan tingkah gadis di hadapannya yang ternyata berbeda dari kebanyakan gadis yang ia temui selama ini.
Setiap ia bertemu dengan para gadis maka mereka akan segera menggoda dan mendekatinya dengan berbagai trik untuk di jadikan pacar olehnya.
Namun ia tak tertarik akan hal tersebut karena sudah terbiasa dengan tingkah para gadis itu padanya.
Bahkan di sekolah ini para murid gadisnya pun sama saja. Setiap hari mereka selalu melakukan berbagai cara dan trik untuk mendekatinya.
Joe terkekeh melihat gadis dingin di depannya itu yang mulai memasuki gedung perpustakaan.
"Sangat imut"
Joe mengikutinya memasuki gedung perpustakaan.
Yumi memilih beberapa buku tentang pengetahuan medis dan Joe masih sibuk memilih beberapa buku yang akan menjadi sumber acuan dari penelitiannya.
Yumi sendiri sangat menyukai tentang pengetahuan medis semenjak duduk di kelas 2 SMP.
Ia bahkan beberapa kali akan berkunjung ke rumah sakit milik Rina untuk bertanya pada ibu dan tantenya itu tentang beberapa hal yang tak dimengerti nya.
Ia berencana untuk menjadi seorang dokter spesialis bedah terbaik di dunia dan akan membantu menyembuhkan mereka yang tak memiliki uang untuk berobat.
Ia juga berkeinginan untuk mendirikan rumah sakitnya sendiri suatu hari nanti.
Dan ibunya tentu sangat mendukung keinginan putrinya itu karena hal tersebut juga menjadi keinginan terbesarnya bersama sahabatnya itu, namun belum tercapai hingga sekarang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...