
*Ting...ting....ting.... (suara bel masuk).
Sebelum bel berbunyi Yumi dan Joe sudah berada di kelas menunggu kedatangan guru mereka.
Kelas pertama pun di mulai dengan pelajaran Fisika. Dan ternyata hari ini akan di adakan ujian dadakan dari gurunya.
Ada beberapa murid yang tampak gelisah dan ad juga yang tampak biasa saja termasuk Yumi dan Joe.
"Baiklah. Mari kita mulai ujiannya sekarang dan Yumi, tolong bantu ibu bagikan lembar ujian ini"
Yumi segera berjalan ke depan kelas untuk mengambil berkas ujian, namun kakinya tiba-tiba tersandung sesuatu yang membuat dirinya jatuh tersungkur ke lantai.
Sontak semua murid menertawakan kejadian tersebut, mereka juga menyoraki bahkan ada yang menghina gadis malang itu.
Melihat hal tersebut, guru langsung mengambil tindakan tegas pada muridnya yang membuat keributan di kelas.
"Semuanya diam, Yumi apa kau baik-baik saja".
"Aku baik".
Setelah memastikan keadaan gadis itu. Guru kemudian memberikan ancaman bagi siapapun yang membuat ulah lagi akan di keluarkan dari kelas sampai ujian selesai dan akan dihukum menulis 1000 karakter kedisiplinan sebanyak 100 lembar.
Kelas pun kembali senyap dan tak ada yang berani membuka suara lagi.
Yumi yang mengetahui siapa yang membuatnya jatuh tersungkur hanya memutar malas bola matanya.
Entah kenapa, hari ini ia tak ingin berdebat apa lagi meladeni orang tersebut.
Orang yang dimaksud Yumi pun memandanginya dengan senyum dan tatapan menghina ke arahnya.
Yumi sadar, untuk saat ini , ia belum bisa melakukan perlawanan pada orang tersebut karena latar belakang keluarga murid itu cukup berkuasa dan terkenal kejam. Ia harus bisa menjadi kuat dan sukses terlebih dahulu baru bisa membalas semua penghinaan yang dilakukan orang kaya sombong itu.
Dapat bersekolah di tempat ini saja ia sangat bersyukur meski, ia sering mendapat cemooh dan tatapan sinis dari para siswa di sekolah karena latar belakang dirinya yang tak jelas.
Tapi ia tak mengambil pusing akan hal tersebut karena ia cukup yakin dengan Profesionalitas sekolah ini
Bahkan, peraturan di sekolah itu cukup tegas dan sangat mendisiplinkan semua muridnya tanpa terkecuali.
Para murid di haruskan untuk menghormati semua guru tanpa terkecuali karena status keluarga apapun tak berlaku di sekolah tersebut.
Para murid juga dilarang untuk melakukan hal buruk apa lagi sampai membully murid yang lain. Jika pihak sekolah mendapatkan laporan seperti itu. Maka dipastikan murid yang melakukannya akan di keluarkan dan menjadi daftar hitam semua sekolah dan universitas di negara ini dan masih banyak lagi peraturan-peraturan dengan konsekuensi yang membuat mereka takut.
Pasalnya tak hanya hukuman dari sekolah saja yang akan mereka terima, tapi hukuman dari keluarga mereka juga tak dapat mereka hindari karena telah merusak reputasi keluarga mereka sendiri.
Oleh sebab itu, semua murid tak ada yang berani membantah dan patuh pada semua guru karana mereka sangat takut akan konsekuensinya jika melanggar peraturan sekolah.
Tak heran jika sekolah dimana Yumi berada mendapat gelar terbaik di negara tersebut.
Tidak hanya terkenal dengan prestasi yang dicapai sekolah tersebut hingga melahirkan begitu banyak siswa berbakat saja.
Namun juga sangat terkenal dengan kedisiplinan yang begitu ketat hingga membuat para keluarga konglomerat memasukkan anak-anak mereka ke sekolah bergengsi tersebut agar menjadi sosok yang bisa membawa perubahan lebih baik kedepannya dan menjadi penerus keluarga yang layak untuk di banggakan.
Tak sembarang orang bisa bersekolah di tempat bergengsi tersebut.
Mereka harus memenuhi beberapa syarat dan harus lulus seleksi dengan kemampuan mereka sendiri tanpa melihat latar belakang keluarga mereka.
Yumi sendiri termasuk siswa berbakat dan terpintar di urutan kedua dari sekolah tersebut, sehingga ia mendapatkan beasiswa dan kebebasan dari segala bentuk biaya serta fasilitas sekolah yang ia dapatkan sangat mudah di akses olehnya.
Maka dari itu, semua guru sangat menyukai bakat dan kecerdasan gadis tersebut karena merupakan salah satu tunas kualitas terbaik mereka.
Tentu tak mudah baginya untuk mendapat gelar siswa terbaik kedua di sekolah tersebut. Sebab itu membutuhkan begitu banyak usaha dan perjuangan yang tak mudah.
Alasannya juga tak semata-mata untuk mendapatkan masa depan yang cemerlang, tapi juga karena ia tak ingin membebani ibunya dengan urusan biaya sekolahnya.
Ia ingin tumbuh menjadi sosok mandiri yang hanya mengandalkan tekat dan kemampuannya sendiri dan tak mengandalkan belas kasihan orang lain meski ia tahu betul semua hal itu kedepannya tak akan mudah dilakukan.
.....
Yumi mencoba berdiri dan bangun dari posisi jatuhnya. Saat berhasil berdiri, ia mengernyitkan dahinya merasakan sakit di pergelangan kakinya.
Mencoba beberapa kali menggerakkan kakinya yang terkilir dan rasa sakitnya mulai berkurang, Ia kemudian melanjutkan jalannya untuk mengambil dan membagikan lembar ujian pada teman-temannya.
Ujian pun berlangsung selama 2 jam dan di lanjutkan dengan mata pelajaran berikutnya hingga jam istirahat tiba.
........
Bel pun berbunyi, dan para murid segera berjalan ke luar kelas tapi ada juga yang tetap tinggal di dalam kelas termasuk.
Seperti biasa, Yumi menyantap bekal makan siang istimewa buatan ibunya di dalam kelas.
Joe jangan ditanya, saat ini ia tengah di kerumuni oleh para gadis bahkan siswi dari kelas lain juga berdatangan ingin mendekatinya.
Sesaat kemudian tiga siswa wanita menghampiri meja Yumi dan mulai mengganggunya menikmati makan siang istimewanya itu.
"Hei gadis miskin, berhenti memakan makanan sampah itu, perutku mual mencium baunya"
"Benar, menjijikan sekali"
"Menyebalkan, bahkan anjingku saja tak mau memakan makanan seperti itu"
"Hei, jangan samakan anjing di rumah kita dengan ****** ini, bahkan levelnya jauh dibawah hewan peliharaan di rumah kita, hahahaaa"
Ucap ketiga murid wanita itu kepada Yumi yang tengah menikmati makan siangnya. Bahkan salah satu dari mereka melempar kotak makan siangnya ke tempat sampah.
__ADS_1
"Hei, kbalikan padaku....!!, teriak Yumi
Yumi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan hingga tiga kali dan mendekapkan kedua tangannya ke bahu hingga membentuk seperti menyilang.Ia mencoba menenangkan diri dan tak menghiraukan kehadiran ketiga murid itu.
Dirinya menatap kotak makan siangnya dari jendela yang kini jatuh ke lantai bawah kelas mereka ke tempat sampah.
'Ah....makan siang ku yang malang. Kalian bertiga apa kalian tak ada kerjaan lain selain mengganggu ku' gumam Yumi pelan namun ternyata dapat di dengar oleh salah satu dari mereka.
"Apa yang kau gumam kan barusan hah, apa kau ingin melawan kami sekarang hah. "
Ucap murid wanita yang bernama Yuna itu dengan seringai jahatnya. Ia menjambak dan menarik rambut Yumi hingga gadis itu merintih kesakitan.
*Plak
Sebuah tamparan mendarat di sebelah pipi Yuna. Dan tangannya di cengkram kuat oleh seseorang.
"Apa yang kau lakukan, cepat lepaskan. Jika tidak ,aku akan melaporkan hal ini pada divisi kedisiplinan sekolah, aku juga akan menyebarkannya di media".
Orang tersebut ternyata adalah Joe yang tak tahan lagi melihat perlakuan kasar Yuna kepada Yumi. Ia juga menunjukkan rekaman dari tindakan kasar yang dilakukan gadis itu pada Yumi.
Flash back on.
*Setibanya di kelas, Joe terus memperhatikan Yumi yang sedang sibuk membaca sebuah buku. Hingga guru datang dan menyuruh gadis itu membagikan lembaran ujian.
Saat itu Joe masih memegang ponsel di tangannya dan merekam suasana kelas dan tanpa sengaja merekam saat Yuna dengan sengaja mengekang kaki Yumi hingga membuat gadis itu tersungkur ke lantai.
Awalnya ia tak begitu ambil pusing melihat tindakan Yuna, tapi saat gadis itu ingin membuat ulah lagi. Joe langsung merekam kejadian saat Yuna dan kedua temannya mulai menghampiri meja gadis itu kemudian menjambak rambut gadis malang itu.
Meski di kerumuni para siswa wanita, tapi matanya tetap mengawasi Yumi, hingga akhirnya ia melihat kejadian ini.
Karena geram dan sudah tak tahan lagi melihat kelakuan ketiga murid wanita itu yang semakin kasar. Joe segera berhenti merekam dan menghentikan tindakan kasar mereka*.
Flash back off.
Yuna menjadi gugup dan pucat saat mendengar ancaman itu. Ia pun segera melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Yumi dan segera meninggalkan kelas.
ia tak mau menanggung konsekuensi jika namanya tercemar dan di ketahui oleh orang tuanya.
"Tunggu saja, aku akan membuat perhitungan padamu nanti"
Yumi memutar bola matanya dengan malas saat mendengar ucapan Yuna sebelum meninggalkan kelas.
"Apa kau baik-baik saja"
"Terima kasih, tapi jangan lakukan itu lagi. Aku bisa mengatasinya sendiri"
Tanpa bantuan dari Joe, sebenarnya ia bisa saja melawan dan membungkam Yuna dan temannya, tp ia tak menyangka bahwa Joe akan datang membantu.
Yumi kembali duduk dan membereskan mejanya yang cukup berantakan akibat ulah dari ketiga iblis wanita barusan.
Karena merasa kesal, Joe kembali ke mejanya dan memainkan game yang ada di ponselnya.
"Dasar gadis aneh", melirik Yumi sesaat lalu melanjutkan bermain game lagi tanpa menghiraukan murid-murid wanita yang mengelilinginya.
Para gadis itu sangat takjub dengan cara bermain Joe dan beberapa dari mereka bahkan mengajaknya untuk bertanding tapi tetap tak di hiraukan oleh Joe.
Yumi melirik nya sesaat lalu menggelengkan kepalanya saat melihat reaksi pemuda itu pada teman-temannya di kelas.
.......
Jam istirahat pun berakhir dan para murid telah kembali ke kelas termasuk Yuna dan kedua sahabatnya.
Para murid menunggu kedatangan guru mereka sambil memainkan ponselnya.
...****************...
*Pulang sekolah bawa kutu buku itu ke gudang di belakang sekolah*
^^^*oke, tapi Yuna bagaimana jika Joe juga mengikuti kutu buku itu*^^^
*Tenang saja, biar aku urus itu. Tugas kalian hanya membawa kutu buku itu ke gudang*
^^^*Oke*^^^
...****************...
Yuna mengirim pesan ke salah satu sahabatnya dan menyimpan ponselnya setelah guru tiba di kelas.
2 jam berlalu
Kelas pun akhirnya selesai dan para murid segera pergi meninggalkan kelas termasuk Yumi yang kini siap-siap untuk pulang ke rumah menemui Hana.
Ia tak sabar untuk mengajak gadis kecil itu pergi jalan-jalan bersamanya. Untuk pertama kalinya ia merasa menjadi seorang kakak walau pun hanya sebentar tapi itu sudah cukup baginya.
Yumi pun pergi meninggalkan kelas dan berjalan menuruni tangga. Jalannya sedikit pincang karena rasa sakit di pergelangan kakinya mulai terasa kembali.
"Kenapa masih terasa sakit"
Di lantai dasar, ternyata dua murid wanita yang tak lain adalah sahabat dari Yuna sudah menunggunya di pintu keluar gedung sekolah.
Yumi melihat kehadiran mereka kini memutar malas bola matanya, 'apa lagi sekarang, apa kalian ingin bermain peran? , baiklah...aku akan meladeni kalian kali ini' , gumam yumi dalam hati, dan tampak sedikit tersenyum di ujung bibirnya
Sungguh, sebenarnya ia begitu malas untuk meladeni mereka karena ia ingin segera pulang untuk bermain bersama Hana. Tapi tampaknya itu tak akan berjalan lancar mengingat kedua orang itu sampai menunggunya di depan pintu.
__ADS_1
Yumi berjalan menuruni tangga dan terus berjalan ke pintu keluar tanpa melihat dan tak menghiraukan kehadiran dua orang itu. Ia berjalan cukup cepat dengan kaki pincang tanpa menoleh ke arah lain hingga sampai di gerbang sekolah.
Kedua gadis yang mengawasi Yumi entah bagaimana perhatiannya teralihkan oleh sekelompok siswa yang tiba-tiba berkerumun di dekatnya, hal tersebut membuat mereka tak bisa melihat dengan jelas posisi Yumi saat ini.
Tangan Yumi tiba-tiba di tarik paksa oleh seseorang dan saat melihat siapa itu, tenyata itu Joe yang menarik tangannya hingga gadis itu merasa kesakitan di pergelangan tangannya.
"Lepaskan, apa yang kau lakukan"
"Hei, kubilang lepaskan....!! "
Joe tak menjawab dan terus membawa gadis itu menuju Halte Bus yang tak jauh dari situ. Tepat mereka sampai, bus tujuan mereka pun tiba bersamaan dan Joe langsung membawa gadis itu memasuki bus tanpa melihat ekspresi kesakitan di wajah Yumi.
"Ku bilang lepaskan.... hiish", Yumi meringis kesakitan
Setelah berada di dalam bus, Joe barulah mau melepaskan tangan Yumi dan menoleh ke arah gadis itu.
Joe terkejut saat melihat wajah Yumi yang sedang meringis kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya dan berdiri dengan tidak stabil.
"Apa kau baik-saja".
"Ada apa? kenapa kau menarik ku sekuat itu, apa aku barang bagimu hah". Yumi marah dan melototi pria tersebut
Bukannya menjawab, gadis itu malah balik bertanya dan menggerutu tak jelas sambil menahan sakit di kaki kiri dan pergelangan tangannya.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu, sungguh....duduklah dulu aku akan menjelaskan pada mu".
Joe menyarankan gadis itu untuk duduk karena tak tega melihat wajah gadis itu yang terlihat sedang menahan sakit.
Yumi sendiri tak mau mendengar perkataan anak laki-laki itu barusan. Ia tetap berdiri dan menunggu penjelasan dari Joe sambil memelototinya.
"Lupakan...."
Yumi memandangi Joe dengan tatapan sinis dan tajam.
"Yumi, dengarkan aku dulu sebenarnya...... ", Joe menjelaskan alasan atas apa yang di lakukannya barusan, tapi Yumi tak tertarik dan mengabaikannya.
" Lalu apa? , Bahkan jika kau tak membantuku pun aku sudah memiliki rencana ku sendiri untuk memberi pelajaran gadis sombong itu", gerutu Yumi.
"Tapi Terima kasih, lain kali jangan melibatkan dirimu lagi, aku bisa mengurus semuanya sendiri". Yumi menghela nafas panjang, meskipun ia sangat berterima kasih dengan pemuda yang selalu membantunya dan melindunginya selama di sekolah, ia juga tak bisa melibatkan orang-orang yang telah baik padanya dalam hal buruk yang terjadi padanya.
Yumi sangat khawatir bahwa masalah yang di hadapinya akan semakin rumit dan akan melukai orang-orang di sekelilingnya, maka dari itu dirinya mulai memberanikan diri dan menghadapi segalanya sendiri.
Bus tiba-tiba berhenti mendadak saat mereka tengah berdebat dan hal tersebut membuat tubuh gadis itu tak siap hingga hampir jatuh terlentang, namun segera di sambut oleh Joe dan membuat mereka berdua berpelukkan.
Tatapan mata mereka bertemu dan waktu terasa seperti terhenti sesaat hingga suara seseorang menyadarkan mereka.
"Apa yang terjadi, kenapa berhenti mendadak? ", tanya salah satu penumpang bus tersebut.
" Ah, maafkan aku, tadi ada seekor kucing tiba-tiba melintas, maaf atas ketidak nyamanannya, kita akan berangkat sekarang", ucap sopir Bus
Suasana canggung antara mereka pun tercipta dan refleks, Yumi langsung memilih untuk duduk di kursi kosong di dekatnya tapi ternyata Joe sudah mendudukinya terlebih dulu hingga membuat Yumi duduk di pangkuan Joe.
Mereka berdua terkejut dan segera berdiri kembali. Lagi-lagi suasana semakin menjadi canggung antara keduanya. Bahkan wajah Yumi semakin memerah akibat kejadian barusan di alaminya.
"Ehem (berdehem)...kau duduk saja di sini dan aku akan duduk di kursi belakang saja..ya....benar...kursi belakang saja..."
Joe menggaruk kepalanya yang tak gatal dan segera duduk di kursi belakang bus. Tanpa ia sadari, telinganya memerah dan itu dapat di lihat jelas oleh seorang pria paruh baya yang duduk di sebelahnya, memandangi sambil terkekeh geli.
"Apa kau menyukai gadis itu"
"Tidak"
"Benarkah, tapi aku bisa melihat itu, bahkan telingamu saja memerah saat kalian tadi berpelukan"
"........."
"Jika suka, maka katakan suka. Jangan sampai kau menyadarinya saat gadis itu tak bisa kau gapai lagi di masa depan".
Pria tua itu menasehati Joe dan menghela nafas berat, di matanya tampak kerinduan yang begitu mendalam pada seseorang, tak lama kemudian matanya berkaca-kaca dan menatap ke luar jendela bus.
"Dulu, aku pernah mencintai seseorang, namun karena egoku sendiri, aku tak sempat mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada wanita yang kucintai itu, hingga ia pergi dan tak pernah kembali lagi"
Joe menoleh ke arah pria paruh baya itu yang sedang memandang keluar jendela. Ia tertegun mendengar kata-kata pria itu.
Dirinya tak tau apakah itu rasa suka atau peduli yang ia rasakan pada gadis aneh itu. Ia hanya ingin melindunginya saja karena sedikit penasaran dengan kehidupan gadis itu yang selalu ditindas oleh teman-temannya dan selalu sendirian dimanapun dia bertemu dengannya.
Joe merasa bahwa tak mungkin ia menyukai gadis yang baru di temuinya beberapa hari lalu dan lagi pula setiap kali bertemu mereka selalu berselisih.
Joe menatap kembali ke arah Yumi yang kini tengah menunduk di kursi di depannya.
"Sebenarnya, kehidupan macam apa yang kau lalui hingga membuatmu selalu menyendiri seperti ini"
Yumi tak mendengar percakapan mereka berdua karena terlalu shock dengan kejadian barusan. Wajahnya memerah dan tangannya sedikit gemetar.
"Haish, dasar orang mesum. Kenapa orang itu suka muncul tiba-tiba di dekatku", gerutunya dalam hati.
Ia tak berani mengatakan sepatah kata pun karena terlalu malu saat ini. Ia pun menunduk dan menggunakan tasnya untuk menutupi wajahnya itu.
Bus akhirnya sampai di Halte pemberhentian tak jauh dari Apartment mereka. Joe dan Yumi kemudian turun dari bus dan langsung berjalan menuju apartment.
"Maaf"
Joe menundukkan kepalanya dan meminta maaf pada gadis itu.
__ADS_1
Yumi tak menjawab dan segera mempercepat langkah kakinya yang pincang itu meninggalkan Joe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...