
Dua tahun tak bertemu dengan anaknya, Ibu Romy merasa semakin rindu akan kehadirannya. Dia merasa bahwa sudah waktunya untuk menyusul anaknya yang tinggal di Jakarta. Dengan hati yang berdebar, Ibu Romy bangun pagi-pagi sekali untuk menaiki bus ke Jakarta.
Perjalanan yang panjang dan melelahkan membuat Ibu Romy merasa semakin khawatir dan gelisah. Namun, dia terus menguatkan hatinya dengan membayangkan wajah anaknya yang selalu tersenyum di depan matanya.
Akhirnya sang ibu telah sampai di puskesmas tempat Romy sedang bertugas. Romy sangat terkejut ketika ia melihat ibunya datang tiba-tiba ke puskesmas. Ia merasa sangat senang dan terharu melihat wajah ibunya yang selalu memberikan dukungan padanya selama ini.
"Ibu!" Ucap Romy sambil berlari ke arah ibunya lalu memeluknya dengan sangat erat. Romy sungguh sangat merindukan ibunya.
Ibunya hanya tersenyum sambil menahan haru membalas pelukan sang anak.
"Ibu sendirian? Ayah mana bu?"Tanya Romy kepada sang ibu.
"Iya nak ibu sendiri. Ayahmu sibuk bekerja. Jadi ibu memutuskan untuk menyusul kamu sendirian saja. Kamu sehat nak di sini?" Tanya sang ibu sembari mengenggam tangan anaknya.
"Sehat ibu. Ibu sehat? Maafkan Romy belum sempat pulang ya bu! Kegiatan Romy sangat padat bu." Jelas Romy kepada sang ibu.
"Gak apa-apa nak, yang penting kamu shat ya!" Jawab sang ibu kembali.
Ibu Romy bercerita bahwa ia sangat merindukan anaknya dan ingin melihat langsung keadaannya di Jakarta. Ia merasa khawatir dengan kondisi anaknya yang sedang belajar dan bekerja di kota besar.
"Ibu udah makan? Kita makan dulu ya sekalian ibu istirahat, pasti capek ya bu perjalanannya kan jauh? Ucap anaknya kepada sang ibu.
Romy merasa sangat bersyukur dan senang dapat melihat ibunya lagi. Ia mengajak ibunya untuk duduk dan berbicara di sela-sela waktu istirahatnya di puskesmas. Mereka berbincang-bincang tentang kehidupan Romy di Jakarta, termasuk tugas magangnya sebagai dokter pembantu di puskesmas.
Sang ibu merasa sangat bangga dengan anaknya yang telah berhasil meraih impian untuk belajar di Jakarta. Ia memberikan dukungan dan semangat pada Romy agar terus berusaha dan belajar dengan giat.
__ADS_1
"Ibu bangga nak melihat kamu pakai jas ini!" Sambil membelai jas putih khas dokter yang dipakai oleh Romy.
Romy merasa sangat terharu dengan perkataan ibunya. Ia berjanji untuk terus berusaha dan memperjuangkan masa depannya di Jakarta. Ia ingin membuat ibunya bangga dengan kesuksesannya di masa yang akan datang.
Saat berbincang dengan ibunya diwaktu istirahat kerja. Tiba-tiba Mirna menghampiri Romy. Ia tak mengetahui bahwa wanita yang duduk dengan Romy itu adalah ibunya. Dengan sigap Romy langsung memperkenalkan Mirna kepada ibunya.
"Mirna, ini ibu aku." Ucap Romy memperkenalkan ibunya kepada Mirna.
Mirna memandang sejenak ibunya Romy dari atas kepala hingga ujung kaki. Ia merasa bahwa ibunya Romy adalah seorang dari desa yang tentunya dari keluarga tak mampu. Ia hanya terdiam dan merasa sangat ingin segera pergi.
"Bu, kenalin ini pacar aku di sini." Ucap Romy dengan sedikit tersipu malu.
"Owalah nak kamu sudah punya pacar? Nak Mirna apa kabar?"tanya sang ibu kepada Mirna dengan sangat ramah. Ibunya sangat senang akhirnya Romy mempunyai kekasih.
Namun, kebahagiaan ibu Romy hanya sebentar. Mirna tidak membalas dengan senyum dan salam. Ia justru memandang Romy dengan tatapan sinis dan berkata, "Maaf ya saya sangat sibuk hari ini, mungkin lain kali saja ngobrolnya." Ucap Mirna dengan sedikit ketus.
"Tapi, Romy, kamu tahu. Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, dan kamu datang menggangguku. Kamu tidak menghargai waktu dan privasiku," sahut Mirna dengan nada tajam.
Ibu Romy yang mendengarkan percakapan mereka menjadi cemas. Ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Ia berusaha meredakan suasana dengan bertanya kepada Mirna tentang pekerjaannya. Namun, Mirna tetap bersikeras untuk pergi dan meninggalkan Romy dan ibunya.
"Sudah nak, tidak apa-apa. Mungkin Nak Mirna sedang sibuk. Gak apa-apa kalo ngobrol kan lain kali juga bisa nak." Jelas sang ibu mencoba mencairkan suasanya yang sedikit tidak enak itu.
Mendengar perkataan ibunya Rimy membuat Mirna bergegas pergi meninggalkan mereka begitu saja. Ibunya Romy akhirnya mengetahui bahwa kekasihnya Romy tidak baik untuknya. Ibunya berpesan agar Romy tetap fokus kepada kuliah dan magangnya dari pada harus berpacaran.
"Nak, ibu tahu dia sangat cantik dan kamu menyukainya kan? Tapi ibu berpesan lebih baik kamu fokus kuliah ya sayang. Selesaikan kuliahmu segera dan jadilah dokter yang baik budi." Ucap sang ibu.
__ADS_1
"Baik bu, maafin Romy dan Mirna ya bu jika ada salah-salah kata atau kurang sopan sama ibu." Ucap sang anak dengan wajah yang sedih.
"Tidak apa-apa nak." Sang ibu tersenyum lembut.
"Yasudah ibu tak lama ya Nak, ayahmu berjanji akan menjempu tibu sore ini di terminal." Ucap sang ibu.
"Loh kok cepat sekali bu?" Tanya Romy.
"Ibu hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja nak." Jawab sang ibu.
"Ibu gak mau menginap di kost Romy? Besok Romy antar ke terminal ya?" Ucap Romy yang belum mau ditinggalkan oleh sang ibu.
"Tidak nak, ibu sudah bilang kepada ayahmu tidak akan menginap nak." Jelas sang ibu.
Romy pun tidak bisa berkata apa-apa lagi karena ia pun sadar bahwa kegiatannya kali ini sangat sibuk dan tidak memungkinkan untuk menemani ibunya lebih lama lagi.
"Yasudah ibu hati-hati ya! Kabarin Romy kalo sudah sampai sana." Pesan sang anak.
"Iya nak, kamu juga jaga diri di sini ya sayang!" Ucap sang ibu sambil memeluk erat anak semata wayangnya tersebut.
Romy pun menyempatkan diri untuk mengantar ibunya sampai ke terminal di Jakarta. Ia sangat sedih melihat ibunya menaiki bus. Ia berjanji suatu saat nanti akan membelikan kendaraan untuk orang tuanya agar tidak lagi naik kendaraan umum.
Setelah beberapa hari berlalu, Romy mulai memikirkan kata-kata ibunya dengan lebih serius. Ia menyadari bahwa kekasihnya memang tidak selalu membuatnya bahagia, dan ia lebih sering merasa terbebani oleh hubungan mereka.
Romy kemudian memutuskan untuk fokus pada kuliah dan magangnya. Ia mengalihkan perhatiannya dari kekasihnya dan memfokuskan dirinya untuk meraih cita-citanya. Ia memtuskan hubungannya dengan Mirna.
__ADS_1
Dalam perjalanannya, Romy bertemu dengan seseorang yang membuatnya merasa lebih bahagia dan terinspirasi. Ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu harus datang dari hubungan engan orang lain, tetapi juga dapat ditemukan dalam pencapaian diri sendiri.