
Novi merasa sedih dan kecewa karena sudah satu minggu lebih tidak bisa masuk sekolah. Dia masih dirawat di rumah sakit karena kelelahan dan masalah kesehatan setelah mendaki Gunung Merbabu. Selama di rumah sakit, Novi merenung dan berpikir tentang sekolahnya.
"Ma, Hari inj jadwal ujian Novi di sekolah." Ucap Novi dengan lemas kepada Ibunya.
"Iya sayang, kamu sabar ya! Mama udah minta untuk penundaan sayang. Kata gurumu kamu bisa menyusul setelah keluar dari rumah sakit ya!". Ucap ibunya.
"Novi sedih ma gak bisa iku ujian." Ucap Novi sambil memgusap air matanya.
"Iya sayang, Novi yang semangat ya! Novi pasti sembuh sayang!" Ibunya terus memberikan semangat kepada Novi.
Di sisi lain, Romy sedang sibuk dengan ujian di sekolah. Dia ingin mendapatkan nilai terbaik dan meraih peringkat satu di kelasnya. Romy ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa sukses dalam pendidikan.
Romy menjalani hari-harinya dengan giat belajar. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Untuk mendapatkan nilai ujian yang tinggi dan membuktikan kepada ayahnya bahwa ia bisa menjadi dokter, Romy selalu berusaha semaksimal mungkin.
Namun, di balik kegigihannya dalam belajar, Romy merasa kesepian karena tidak ada Novi. Tidak banyak teman yang bisa diajak ngobrol di perpustakaan, dan ketika pulang sekolah, Romy selalu kembali ke rumah sendirian. Meskipun begitu, Romy tetap berusaha tidak meratapi kesepiannya dan selalu berpikir positif.
Suatu hari, ketika sedang belajar di perpustakaan, Romy melihat seorang siswi pindahan yang baru masuk ke sekolah mereka. Siswi itu terlihat bingung dan tidak tahu harus ke mana. Romy merasa iba dan memutuskan untuk mendekatinya.
"Udah tahu mau ke mana?" tanya Romy ramah.
"Belum tahu, halo namaku Rima, baru pindah ke sini," jawab siswi itu memperkenalkan dirinya kepada Rony.
Selanjutnya Romy memperkenalkan dirinya dan membantu Rima untuk menemukan kelasnya.
“Yaudah, aku temani ke kelasmu ya!” Tawar Romy.
__ADS_1
“Oke Makasih ya Romy!” Ucap Rima.
Sejak hari itu, mereka mulai menjadi teman akrab di sekolah. Romy merasa senang bisa memiliki teman baru yang bisa diajak ngobrol. Rima adalah anak yang baik, kebetulan ia pun seorang pecinta alam sama seperti Novi.
Ketika liburan sekolah tiba, Romy dan Rima memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka sering jalan-jalan dan mengeksplor tempat-tempat baru di kota mereka. Romy merasa kesepiannya sudah tidak lagi terasa ketika bersama Rima.
Kembali ke sekolah setelah liburan, Romy semakin semangat belajar. Ia merasa memiliki teman baru membuatnya lebih termotivasi untuk berprestasi. Ia juga mulai terbuka untuk berteman dengan orang lain di sekolah.
Romy menyadari bahwa memiliki teman tidak hanya bisa menghilangkan kesepian, tetapi juga bisa memberikan pengaruh positif dalam hidupnya. Dengan teman-teman yang baik.
Namun ada satu hal yang di lupakan oleh Romy, sahabatnya Novi. Romy telah melupakan Novi yang sedang berjuang di rumah sakit. Ia terlalu asyik dengan teman barunya sampai melupakan sahabat lamanya Novi. Ia sudah lama tidak menjenguk Novi ke rumah sakit karena kesibukannya.
Sementara itu, Novi terus berjuang untuk sembuh dari sakitnya. Dia merasa sedih dan kesepian karena tidak bisa bertemu teman-temannya di sekolah. Ia pun sedikit merindukan Romy, sudah satu bulan lebih Romy tak menjenguk Novi ke Rumah sakit. Namun, dia tetap berusaha kuat dan optimis agar bisa segera pulih dan kembali ke sekolah.
"Ma, aku boleh tanya sesuatu enggak?" Tanya Novi dengan lemah.
"Iya sayang kenapa nak?"jawab sang ibu.
"Tadi Novi denger pas mama ngobrol sama dokter ma. Ma apa bener aku sakit leukimia?"Ucap Novi lemah.
Ibunya hanya menangis mendengar pertanyaan anaknya. Ia tak mampu membajawab satu katapun.
"Ma Jawab Novi ma!" Novi bertanya kepada ibunya sembari menangis.
"Maafin mama ya Nak!" Ucap sang Ibu sambil terus menangis juga.
__ADS_1
"Terus nanti biaya rumah sakitnya gimana ma? Itu kan mahal? Tanya novi kembali. Ia tak ingin merepotkan orang tuanya oerihal biaya rumah sakit.
"Mama pasti cari cara sayang, kamu pasti sembuh. Kamu harus semangat sayang!" Ucap ibunya.
"Ma, jangan bilang siapa-siapa aku sakit ya. Aku gak mau temen-temen aku nanti jauhin aku!" Pesan Novi kepada mamanya. Novi meminta sang ibu untuk merahasiakan pemyakitnya dari teman-temannya.
"Iya sayang, Novi sehat, Novi gak sakit!" Sang ibu terus memberikan semangat kepada Novi.
Ibunya merasa sedih saat mendengar bahwa Novi harus menjalani banyak prosedur medis seperti kemoterapi dan lain-lain untuk menyembuhkan penyakitnya. Ia takut Novi akan menderita selama proses pengobatan dan merasa sedih melihat putrinya yang harus menghadapi semua itu.
Namun, sang ibu tetap berusaha untuk menjadi pendukung yang kuat bagi Novi selama proses pengobatan. Ia membantu Novi untuk tetap positif dan bersemangat dalam menghadapi semua prosedur medis yang harus dijalani.
Sang ibu selalu mendampingi Novi selama pengobatan dan memberikan dukungan moral yang dibutuhkan. Ia selalu memastikan bahwa Novi mendapatkan perawatan yang terbaik dan tidak merasa sendirian.
Meskipun proses pengobatan bisa sangat sulit dan menyakitkan, ibu Novi selalu berusaha untuk membuat Novi merasa nyaman dan tenang. Ia memberikan kekuatan dan harapan kepada Novi agar tetap bersabar dan berjuang untuk sembuh.
Di sisi lain ia pun merasa khawatir dan cemas tentang biaya rumah sakit dan biaya sekolah yang harus ia tanggung. Ia tidak ingin Novi, anaknya, semakin sakit karena mereka tidak mampu membayar biaya pengobatan yang diperlukan.
Biaya rumah sakit yang tidak sedikit membuat ibunya sadar bahwa untuk membayar semua biaya tersebut, ia harus bekerja keras. Namun, ia juga menyadari bahwa ia tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Ia perlu bantuan dari suaminya dan keluarganya.
Maka, Sang ibu memutuskan untuk berbicara dengan suaminya dan keluarganya tentang situasi keuangan mereka. Ia berharap mereka dapat bekerja sama untuk mengatasi masalah ini dan memberikan dukungan satu sama lain.
Dalam saat-saat sulit ini, ibu Novi terus menguatkan dirinya dan memohon pada Tuhan agar memberikan kekuatan dan keberanian kepada keluarganya. Ia berdoa agar mereka dapat melewati masa sulit ini dengan bersama-sama dan dengan kesabaran serta keteguhan hati.
Meskipun banyak hal yang dipikirkan sang ibu, namun ia tetap berusaha untuk menjadi ibu yang kuat dan menyayangi anaknya dengan segenap hati. Ia percaya bahwa dengan keyakinan dan kerja keras, mereka akan dapat mengatasi semua rintangan dan kesulitan yang dihadapi.
__ADS_1