
Namaku Rini, usiaku saat ini 30 tahun. Aku adalah anak tunggal dari pasangan Gunawan Sri muliani. Aku bekerja sebagai pengusaha. Mulai dari baju, hijab, aksesoris berupa kalung, cincin gelang, dan alat cosmetic.
Semua itu aku rahasiakan dari suami, mertua bahan pada orang tuaku sekali pun. Mereka menganggap aku selama ini hanya ibu rumah tangga biasa dan tidak berpenghasilan sama sekali.
Aku memiliki beberapa karyawan yang membatu kegiatanku selama ini untuk memasarkan barang-barang dagangan kami melalu media online.
Sementara mas Hendra suamiku 40 tahun adalah seorang karyawan disebuah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran.
Gaji pokok mas Hendra terbilang tinggi 6 juta perbulan diluar dari bonus jika mas Hendra bisa menjual beberapa produk yang di pasarkan oleh perusahaan.
Walau demikian, gaji sebanyak itu tidak cukup bagi kami. Ibu dan bapak mas Hendra sering sekali meminta uang setiap bulannya padahal gaji saudara-saudara mas Hendra juga tinggi.
Mas Hendra memiliki saudara 2 orang dan bekerja pada perusahaan yang sama dengan mas Hendra. Rudy kakak mas Hendra dan Ridwan paling bungsu.
Sebagai seorang istri aku terkadang mengeluh dengan semua itu, tapi mas Hendra selalu bilang kalau dia masih memiliki tanggung jawab pada kedua orang tuanya bahkan pada saudara-saudaranya sekali pun.
Lain ceritanya saat ibu atau ayahku meminta bantuan mas Hendra pasti selalu bilang tidak ada dengan seribu alasan.
Untungnya kami belum di karuniai momongan, kalau itu sampai terjadi betapa sulitnya aku untuk meminimalisir pengeluaran kami.
Dulu aku bekerja di sebuah toko pakaian milik temanku. Toko kami lumayan ramai dan diminati banyak kalangan. Saat mas Hendra melamar ku, ku putuskan berhenti dari toko itu dan ingin fokus menjadi seorang ibu rumah tangga seperti ibuku.
Ini yang membuat keluarga mas Hendra tidak suka denganku. Mereka pikir dengan berhentinya aku dari toko itu otomatis sebagian besar gaji mas Hendra akan jatuh ke tanganku tapi nyatanya tidak, mas Hendra lebih mengutamakan mereka di banding aku sebagai istrinya.
Kehidupan kami berlanjut seperti itu-itu terus hingga suatu hari ibu Teti, mertuaku datang ke rumah bersama seorang perempuan muda sambil membawa tas dan koper.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu mereka langsung masuk.
"Rini cepat kemari!" teriak ibu mertuaku dari arah sofa.
Aku yang saat itu sedang duduk meladeni costumer segera berdiri dan keluar dari kamar.
"Ada apa ibu memanggilku?" tanyaku saat sudah berdiri di depan ibu mertuaku itu.
"Pantas saja Hendra jarang pulang ke rumah, ternyata begini rupanya kelakuanmu, hanya bersantai ria saat suami mengais rezeki diluar sana. Istri macam apa sebenarnya kamu ini Rini." tatap sinis Bu Teti padaku.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya Bu. semua yang ibu tuduhkan itu salah, Aku sudah bersih-bersih rumah, mencuci dan juga memasak. Apa salah jika aku beristirahat sejenak untuk membuang lelahku?"
"Coba kamu lihat itu Dewi kelakuan istri Hendra yang sudah seperti Ratu ini. Setiap ditanya pasti dia pandai sekali menjawab." tatap Bu Teti pada perempuan yang ada di sampingnya.
"Jika ibu hanya ingin menyalahkan ku pada orang asing, ada baiknya aku kembali ke kamar. Permisi!"
Belum juga aku berbalik badan, kembali terdengar suara tinggi Bu Teti.
"Kamu ini benar-benar tidak ada sopan-sopanya. Cepat bikinkan kami minuman dingin dan keluarkan semua kue yang kamu simpan."
Aku sudah tidak ingin meladeni ucapan ibu mertuaku itu. Ku percepat langkahku menuju kearah dapur untuk membuat apa yang di pesannya.
Setelah mencoba dan takarannya Aku anggap pas. Segera ku ku letakkan minuman dingin itu di atas nampan dan membawanya ke ruang tamu.
"Silahkan diminum." ku letakkan masing-masing gelas dihadapan mereka.
"Kuenya mana?"
"Sudah hampir satu tahun ini Rini tidak pernah bikin kue."
"Kalau tidak bisa bikin, beli toh."
"Terus kemana saja uang yang setiap bulan diberikan Hendra padamu. Oh...aku tahu kami pasti mengirim pada orang tuamu bukan! mengaku saja."
"Astaga" Seketika aliran darahku mengalir ke atas kepala. Bisa-bisanya orang ini menuduhku seperti itu.
"Maaf sebelumnya Bu, ayah dan dan ibuku tidak pernah sekali pun meminta uang padaku. Bila pun mereka meminta, mereka menganggapnya sebagai pinjaman dan akan mengembalikan dalam keadaan utuh. Dan bukankah selama ini ibulah yang sering meminta uang pada mas Hendra dengan dalih kalau mas Hendra masih memiliki tanggung jawab besar pada orang tuanya."
Ku keluarkan semua unek-unek dalam hati yang hampir dua tahun ini aku simpan rapi.
"Rini jaga bicaramu." ibu Teti mencoba berdiri tapi dihalangi oleh perempuan yang duduk di dekatnya.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku. Tolong tunjukkan biar aku bisa memperbaikinya."
"Aku sungguh menyesal sudah mengizinkan Hendra menikah denganmu. Nanti kalau Hendra datang aku akan laporkan ini padanya."
__ADS_1
Belum juga ucapan ibu Tati terselesaikan terdengar suara mobil dinas mas Hendra. Seketika itu juga bu Teti tersenyum.
"Rasakan kamu sekarang."
Kali ini aku diam. Aku ingin melihat reaksi mas Hendra saat ibunya mengadu tentangku. Sedikit demi sedikit pintu terbuka dan muncul mas Hendra dari balik pintu.
Ibu Teti langsung berdiri dan menyambutnya dengan sangat ramah.
"Akhirnya kamu datang juga hendra. Kami sudah sedari tadi menunggumu. Coba lihat apa yang disuguhkan istrimu pada kami. Hanya sirup yang rasanya juga kurang manis."
Ku kerutkan dahi ku, perasaan tadi aku memasukkan takaran lebih dari anjuran pada kemasan botol sirup itu.
"Rini, benar apa yang barusan ibu bilang?" tatap tajam mas Hendra padaku.
"Mas bisa lihat sendiri, dari warnanya saja, sirup itu sudah dipastikan rasanya manis terus kenapa ibu mengatakan kalau sirup buatan ku kurang manis!. Baiknya bila ada kesempatan aku bisa temani ibu memeriksakan diri ke dokter, takutnya ibu ada gejala gula."
Aku begitu senang saat kata-kataku membuat wajah perempuan paruh baya itu merah menyala.
"Lihatlah Hendra kelakuan istrimu, di depanmu saja dia tegah berkata itu pada ibu, apalagi jika kamu tidak ada." Bu Teti masih saja melancarkan aksinya agar Hendra berpihak padanya dan menyalahkan ku.
"Sudahlah Bu, ada baiknya kita duduk." ibu Tety mengikuti kata mas Hendra, duduk dengan perasaan masih tidak terima kekalahannya.
"Mas Hendra," Perempuan yang sedari tadi hanya diam kini mendekat pada mas Hendra dan memegangi lengannya dengan manja.
"Dewi, loh kenapa kamu ada disini?"
Seketika wajah mas Hendra berubah antara kaget, heran dan gembira.
"Ibu yang membawanya kemari. Ibu kasihan padanya, majikanya memecatnya tanpa alasan. Dan satu lagi kata Dewi kalau dia sangat rindu denganmu." Bu Teti sedikit melempar pandang padaku lalu tersenyum.
"Kasihan juga kamu Dewi, tengah-tengahnya majikan mu memperlakukan itu padamu. Terus rencana kamu selanjutnya apa?"
"Dewi mau bekerja di rumahmu. Katanya biar gajinya kecil asalkan bisa selalu bersamamu." seperti tadi bu Teti masih melempar senyumnya padaku sebelum menyelesaikan ucapannya.
"Kalau itu tidak masalah bagiku, Aku bisa memberi gaji lebih tinggi dari gaji tempat kamu bekerja dulu." ucap mas Hendra dengan percaya diri yang cukup tinggi.
__ADS_1
Beda halnya denganku, seketika kedua mataku terbuka sempurna saat mendengarkan ucapan itu keluar dari mulut mas Hendra.
Tanpa mendengarkan saran ku, mas Hendra langsung mengiyakan saja padahal kalau urusan rumah aku bisa mengerjakannya sendiri, toh selama ini baik-baik saja walau tidak mempekerjakan asisten rumah tangga sekali pun.