
Aku bangun dari atas tempat tidur dengan bermalas-malasan lalu keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ke dapur. Kulihat mas Hendra sedang duduk di sana menatap hidangan yang ada di atas meja. Hidangan yang mereka buat semalam.
"Ada apa mas memanggilku?" Aku yang saat itu berdiri tepat di depan mas Hendra dengan meja makan sebagai perantara.
"Mana sarapan pagi ku. Kenapa sekarang kamu lambat sekali membuatnya" mas Hendra sedikit membentak ku. Tidak biasanya dia marah-marah saat mau berangkat kerja soalnya semua kebutuhannya sudah aku siapkan.
Mulai dari sarapan, kopi panas serta kebutuhan kantornya.
"Apa mas sudah lupa, kalau mulai hari ini bukan aku yang memasak buat mas tapi Dewi, asisten rumah tangga baru kita."
"Kenapa sekarang kamu sudah padai menjawab. Kamu itu istriku jadi sudah selayaknya kamu menyiapkan semua kebutuhanku termaksud sarapan sebelum aku berangkat kerja."
"Betul, aku memang istri mas. Semalam pakaian mas sudah aku rapikan serta kebutuhan kantor mas sudah aku masukkan kedalam tas. Kalau soal sarapan mas, aku angkat tangan. Buat apa kita ada pembantu kalau aku juga yang memasak dan bersih-bersih rumah. Bagaimana kalau aku panggilkan Dewi untuk membuatkan sarapan buat."
Belum juga aku berbalik badan, Dewi sudah muncul sambil memijit kepalanya.
"Maaf, kalau aku lambat bangun, tiba-tiba kepalaku terasa sakit." Dewi duduk di samping mas Hendra.
"Sakit kenapa Wi, apa kamu sudah minum obat?" terlihat kepanikan di wajah mas Hendra sambil mendekatkan wajahnya kearah Dewi untuk memperjelas pertanyaannya.
"Sudah mas tapi sakitnya tidak hilang-hilang juga." Dewi semakin manja.
Aku yang berdiri di sana sangat risih melihat kedua orang yang ada di hadapanku saat itu. Satu suami yang tak peka dan satu lagi pembantu yang tidak tahu posisinya.
"Ada baiknya kita ke dokter, mas takut kamu ada apa-apa Wi," mas Hendra membantu Dewi untuk berdiri.
Keduanya pergi begitu saja tanpa mempedulikan kalau aku juga ada di sana. Aku ingin sekali mencegah mas Hendra, tapi mana dia mau mendengarkan ku, apa lagi saat itu Dewi lagi sakit. Ku tarik nafas dalam-dalam dan menghempaskan ya dengan kasar.
Aku duduk di kursi dan memperhatikan masakan yang dibuat oleh Dewi dan mas Hendra semalam. Ada satu ekor ikan goreng di atas piring dan masih utuh. Jadi semalam mereka hanya makan 1 ekornya ikan saja berdua! Sungguh romantis.
Ku alihkan pandanganku kearah mangkuk yang berisi sayur tumis. Sungguh menggugah selera apa lagi sayur andalanku ada di sana, labu siam di iris tipis-tipis.
Sakin penasaran dengan rasanya, kucoba untuk menyicipi. Awalnya biasa-bisa saja, tapi setelah berada di Indra perasa, Aku segera berdiri dan berlari kearah westafel.
Ke keluarkan semua sayur yang sudah masuk dalam mulutku. Kok bisa rasanya seperti itu. Terlalu banyak garam dan penyedap rasa.
Pantas saja mas Hendra tidak mau sarapan dengan masakan Dewi karena rasanya seperti permen nano-nano, manis, asam asin.
__ADS_1
Terus apa saja yang dilakukan Dewi saat menjadi asisten rumah tangga?Atau jangan-jangan majikanya memecatnya Lantara ini. Ini awal penderitaan mas Hendra, sejak kami menikah mas Hendra tidak pernah mengeluh tentang rasa masakan ku.
Dia selalu menghabiskan apa yang ada di atas piringnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, aku segera bersiap-siap. Rencananya hari ini ada seseorang yang ingin bertemu.
Kata Nisa dia sangat tertarik dengan barang-barang jualan kami. Setelah berdandan seadanya, Aku segera keluar rumah dan tidak lupa menguncinya.
Ku simpan kunci di tempat biasa, jika mas Hendra pulang dengan mudah dia menemukanya.
Ku kemudikan sepeda motorku kearah toko, toko yang aku bangun dengan hasil jerih payah ku selama ini.
Ku percayakan Nisa yang mengelola agar mas Hendra dan keluarganya tidak curiga.
Hampir 20 menit perjalanan akhirnya aku tiba juga disebuah toko besar yang berdiri di pusat kota.
"R&HG" toko yang atas namaku sendiri. Rini Haryanti Gunawan. Kondisi toko saat terlihat ramai, Dari kalangan anak-anak sampai orang tua berbondong-bondong datang untuk belanja. Ku parkir kendaraan ku di tempat biasa lalu masuk kedalam toko.
Para pegawai toko tersenyum melihatku. Mereka hanya tahu kalau aku sahabat baik Nisa, bukan bos mereka.
"Apa Nisanya ada?" tanyaku pada kasir yang bertugas di sana.
"Kalau begitu terima kasih. Ngomong-ngomong toko hari ini terlihat ramai." tanyaku basa-basi.
"Alhamdulillah, Bukan cuman hari ini saja kok mba, sudah hampir 2 bulan ini omset penjualan semakin meningkat, apalagi sekarang kami di wajibkan untuk share ke media sosial tentang toko ini dan apa saja yang kami jual."
"Luar biasa, Nisa benar-benar pandai melihat peluang bisnis. Kalau begitu saya kedalam dulu. tetap semangat."
"Tentu mba, kami akan terus memajukan toko ini semampu kami karena banyak bonus yang akan menanti."
Setelah obrolan singkat itu, Aku segera menuju ruangan Nisa. Setibanya di sana segera ku ketuk pintu dan muncul seorang perempuan cantik berhijab.
Ya, siapa lagi kalau bukan si cantik Nisa, partner kerja sekaligus sahabatku.
"Silahkan masuk bos!." ucapnya sambil menunduk dan diselingi sedikit tawa.
Ku plototkan mataku padanya sambil melirik ke kiri dan ke kanan siapa tahu ada yang mendengar ucapan Nisa barusan. Masih aman dan terkendali.
__ADS_1
"Kebiasaan deh!." ku tepuk punggung Nisa, bukanya merasa sakit, Nisa malah semakin terbahak sambil menutup pintu.
"Kenapa sih mba Rini tidak mau kalau orang sampai tahu kalau toko ini adalah toko mba Rini? Biasanya, orang akan bangga dan sebisa mungkin memberi tahu pada dunia kalau mereka memiliki segalanya. Beda halnya dengan mba, yang tak ingin orang tahu kalau mba juga memiliki apa yang mereka punya."
Nisa menarik kursi dan mempersilahkan ku untuk duduk.
"Kalau aku seperti mereka, aku takut akan menjadi sombong dan tidak bisa menghargai orang lain dan melupakan orang-orang yang selama ini telah membantuku berjuang membesarkan usaha yang mulai ku rintis dari nol."
"Hati mba Rini benar-benar baik. Sejak aku bergabung bersama mba, perekonomian keluarga kami berubah drastis. Bukan cuman aku saja bahkan para karyawan juga merasakan dampaknya. Terima kasih mba atas semuanya."
"Sama-sama, aku juga bangga bisa memiliki karyawan sekaligus sahabat seperti kalian. Ngomong-ngomong apa hari ini kita jadi menemui pengusaha itu?."
"Tentu mba, pagi ini saja bos mereka sudah beberapa kali menghubungi dan menanyakan jam berapa mba bisa ke kantor mereka untuk membicarakan kerja sama itu."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang mumpung hari belum meninggi."
"Oke bos." Nissa berdiri sambil memberi hormat.
Sekali lagi ku tepuk pundak Nisa.
"Sudah aku bilang jangan panggil bos, mba aja itu sudah menjadi kebanggaan bagiku."
Setelah semua persiapan beres. Kami berdua menuju kesebuah perusahaan ternama di kota ini dengan mengendarai mobil milik Nissa.
Setibanya di sana, Nisa langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Sejenak aku terhenti tatkala melihat mobil yang sudah tidak asing bagiku. Mobil dinas mas Hendra, terus untuk apa mas Hendra kemari?"
"Mba, itu mobil siapa?" tanya Nisa ikut menatap mobil dinas mas Hendra.
"Bukan mobil siapa-siapa, cuman penasaran saja siapa tahu ada rezeki mba juga ingin memiliki mobil seperti itu."
"What? mobil aku saja dua kali lebih mahal dari mobil itu. Mba jangan bercanda, mba malah bisa membeli 10 kali lipat dari mobilku."
"Kamu ini. Ayo kita masuk dari mengurusi hal yang tidak penting."
Kami berdua segera masuk kedalam gedung mewah itu. Kantor sekaligus perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran. Kembali langkahku terhenti tatkala melihat sosok Bu Teti dan Mira, perempuan yang mereka anggap sebagai anak sendiri alias anak angkat duduk di depan ruangan pemilik perusahaan itu.
SUDAH BAB 5 DI YOUTUBE.
__ADS_1