HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU

HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU
BAB 4 . MOBIL BARU


__ADS_3

Segera kutarik tangan Nissa dan kami bersembunyi di dinding bangunan.


"Ada apa mba? kenapa kita seperti tentara yang sedang mengintai musuh."


"Tunggu sebentar, kita jangan ke sana dulu sebelum kedua orang itu pergi."


"Memangnya ada apa dengan dua orang itu." Nisa yang masih terus bertanya seperti burung beo yang ditinggal pergi tuanya selama berhari-hari.


"Nanti mba cerita padamu."


Bu Teti dan Mira yang sedang duduk di sana tiba-tiba berdiri saat pintu ruangan terbuka. Seorang pria berbaju satpam keluar dari dalam sana.


"Bagaimana pak satpam, apa kami boleh menemui Reno sekarang?" tanya Bu Teti.


"Maaf Bu, sepertinya hari ini pak Reno tidak bisa kalian temui soalnya beliau sedang menunggu kedatangan seorang yang sangat penting. Jadi mohon kesediaannya untuk datang lain waktu."


"Tapi pak, Aku ingin sekali menemui kak Reno. Lagian kami ini keluarganya dan termaksud orang penting juga, iyakan ibu?"


"Betul, Reno itu masih famili dekat kami, biarkan kami menemuinya karena ada hal penting yang ingin kami bicarakan dengannya."


"Sekali lagi maaf Bu, sungguh tidak bisa, kalian boleh datang lain waktu. Mari, biar saya antar." ucap pak satpam itu sambil membentangkan tangan kananya kearah pintu keluar.


"Tapi Bu, Mira tidak mau pulang sebelum Mira bertemu kak Reno. Ibu sudah janji pada Mira." Mira merajuk seperti anak kecil yang minta di beliin permen.


"Mira, jaga sikapmu, bagaimana kalau Reno sampai melihatmu seperti ini. Bukanya care, dia malah akan mencapmu sebagai gadis aneh dan tidak punya tata Krama.


Untuk mencapai sebuah tujuan perlu adanya kesabaran ekstra. Ayo kita pulang, besok-besok kita bisa kemari lagi dengan membawa umpan yang lebih besar lagi."


Bu Teti menarik tangan Mira pergi dari tempat itu. Sepeninggalan kedua orang itu, kami keluar dari tempat persembunyian dan melangkah mendekati pak satpam yang sedari tadi memperhatikan kepergian Bu Teti dan Mira.


"Apa pak Renonya ada?" tanya Nisa.


"Beliau ada di dalam, kalau boleh tahu mba-mba ini siapa dan apa tuanya menemui pak Reno?"

__ADS_1


"Aku Nissa dan ini mba Rini. Kami berdua ada keperluan penting dengan beliau."


"Oh, mba Nisa, silahkan, pak Reno sudah sedari tadi menunggu kedatangan anda."


Pak satpam membuka pintu buat kami dan mempersilahkan kami untuk masuk. Aku dan Nisa segera masuk mengikuti pak satpam itu dari belakang.


Tampak di dalam sana seorang pria seumuran mas Hendra sedang duduk di depan meja kerjanya sambil memainkan jari-jemarinya pada papan keyboard laptopnya.


"Permisi pak Reno, tamu yang Anda tunggu sudah datang."


Pak Reno segera menghentikan aktifitasnya dan berdiri menatap kami saling bergantian. Pria yang cukup berwibawa menurutku.


"Ibu Nisa, silahkan duduk, maaf kalau sambutan kami kurang sopan."


"Tidak apa-apa pak santai saja. Perkenalkan ini....."


"Saya Rini asisten pribadi ibu Nisa." segera ku ulurkan tanganku pada pak Reno sebelum Nisa melanjutkan ucapannya.


Tanpa berpikir panjang pak Reno menyambut uluran tanganku.


"Jadi bagaimana dengan keputusannya, apa Bu Nisa bersedia mengadakan kerja sama dengan perusahan kami untuk mensuplay barang dari toko kalian ke perusahan kami."


"Kalau masing-masing pihak mendapat keuntungan dan tidak saling merugikan kami siap. Bagaimana menurut mba Rini." tatap Nisa padaku.


"Aku sependapat dengan ibu Nisa, selagi masing-masing pihak saling percaya, kenapa kita tidak coba kerja sama ini."


"Baiklah kalau kalian sudah merasa siap, tolong dibaca kontrak kerja samanya, kalau ada yang kurang berkenan bisa kita ubah agar masing-masing pihak tidak berat sebelah." Pak Reno menyerahkan masing-masing kertas pada kami.


Aku dan Nisa langsung membaca dengan teliti surat kontrak kerja sama itu. Ada sedikitnya dua kali kami mengulang membaca isi dalam kertas kontrak tersebut hingga kami meletakan di atas meja.


"Bagaimana menurut mba Rini?"


Aku hampir saja menggaruk kepalaku. Aku tahu Nisa sebenarnya mengerti kalau aku pasti setuju dengan isi dari surat kontrak itu. Mungkin karena merasa tidak enak hati padaku maka sebelum mengambil keputusan Nisa bertanya terlebih dulu.

__ADS_1


"Kalau menurutku, isi dalam kontrak kerja sama ini cukup menguntungkan dua belah pihak dan aku setuju kalau kontrak kerja sama ini segera di jalankan."


"Sama seperti mba Rini, Aku juga sepakat untuk itu."


"Baiklah kalau ibu Nisa sudah setuju ada baiknya kita tandatangani surat perjanjian ini agar proyeknya segera dijalankan."


Nisa dan pak Reno saling bertukar kertas untuk menanda tangani surat kontrak kerja sama tersebut.


"Satu untuk ibu Nisa dan satu lagi untukku. Semoga kontrak kerja sama ini berjalan dengan baik." pak Reno menyerahkan selembar kertas pada Nisa yang sudah mereka tanda tangani bersama.


"Aamiin ....,"


Setelah melakukan perbicangan sedikit serius kami pun mohon undur diri. Kembali Nisa melajukan kendaraannya ke toko. Di sepanjang perjalanan aku hanya diam.


Ada dua hal yang mengganggu pikiranku saat itu. Pertama tentang mobil dinas mas Hendra dan yang kedua tujuan Bu Teti dan Mira ke kantor pak Reno. Tidak berselang lama kemudian akhirnya kami tiba juga di toko.


Aku langsung mohon diri pada Nisa dengan alasan ada hal penting yang harus aku selesaikan. Kembali ku kemudikan sepeda motorku pulang ke rumah, aku berharap tiba di sana sebelum mas Hendra pulang mengantar Dewi.


Setibanya di rumah, kembali kedua mata indah ku disuguhi pemandangan yang cukup menakjubkan, sebuah mobil berwarna putih dengan harga fantastis terparkir di halaman rumah.


Aku sempat bertanya dalam hati siapa gerangan sultan yang datang berkunjung ke rumah kami.


Segera ku parkir kendaraan ku sakin penasarannya.


Terdengar suara riuh di dalam rumah. Suara-suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Sepertinya ada pesta besar-besaran di dalam sana.


Aku segera masuk dan mendapat mas Hendra, keluarga besarnya dan tidak ketinggalan Dewi hadir di tengah- tengah mereka berkumpul di ruang tamu. Sebuah tumpeng raksasa terduduk di atas meja dengan berbagai makanan sedap mengelilingi.


"Eee...nyonya besar sudah datang." sambut Mira seolah-olah mengejekku.


"Nyonya besar apaan seperti itu. Dari dandanan saja tidak mencerminkan orang berada." sambung Selly istri mas Rudy dikuti tawa serentak dari mereka.


"Sudah-sudah, sebagai satu keluarga kita tidak boleh saling mencela. Rini, ayo duduk dan kita sama-sama menikmati keberhasilan suamimu karena sudah bisa membeli mobil walau hanya menyicil. Baru satu hari Dewi disini sudah ada perubahan besar di rumah ini bagaimana kalau sampai setahun mungkin rumah ini sudah Hendra sulap jadi istana." pak Herman bapak mertuaku menambahkan.

__ADS_1


UNTUK BAB 5 TIDAK Author SHERE DISINI. BAGI TEMAN-TEMAN YANG PENASARAN YUK MAMPIR DI YOUTUBE.



__ADS_2