HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU

HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU
BAB 6. ANCAMAN MAS HENDRA


__ADS_3

"Sama-sama apa maksudmu?" Aku mendekati Dewi dengan tubuh sedikit bergetar menahan amarah.


"Aku dan kamu sama-sama posisinya di rumah ini. Itu kata bibi Teti padaku." tampak terlihat ketakutan di wajah Dewi saat aku meninggikan suaraku.


"Ha..ha...ha. Apa kamu lupa, ini rumahku bukan rumah ibu Teti. paham!"


"Tapi uang untuk membangun rumah ini berasal dari mas Hendra otomatis pemilik rumah ini adalah Bu Teti juga karena Hendra adalah putranya."


"Masih ngotot juga rupanya perempuan ini berdebat denganku. Dewi kamu itu tidak tahu apa-apa jadi kamu diam saja sebelum kamu malu sendiri jika kamu mengetahui semuanya."


"Apa yang tidak aku tahu di sini. Mas Hendra yang mencari uang dan kamu tinggal menikmatinya saja bukan?."


"Terus apa urusanmu, mas Hendra itu suamiku jadi wajar jika aku menikmati jerih payahnya. Yang tidak wajar itu jika kamu yang menikmati jerih paya mas Hendra."


"Tapi bu Teti pernah bilang sebelum aku tinggal disini, uang mas Hendra adalah uangku juga jadi posisi kita di rumah ini sama."


"Dasar tidak tahu diri, syukur-syukur aku mengizinkanmu tinggal di sini, tapi kamu sama sekali tidak ada terima kasihnya. Kalau kamu masih betah tinggal disini sopan sedikit dan hargai pemilik rumah."


"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" tantang Dewi


Ucapan Dewi benar-benar menguji kesabaran ku. Kuangkat tanganku untuk memberinya pelajaran tapi tiba-tiba, sebuah tangan kekar menghalangiku dari belakang.


"Rini, hentikan." bentak mas Hendra lalu menghempaskan tanganku.


"Mas, istrimu mau menyakitiku, dia ingin mengusirku dari sini lantaran aku ingin membuatkan sarapan pagi buat mas." Dewi memeluk lengan mas Hendra dengan sedikit memperlihatkan rasa takutnya.


"Pintar sekali perempuan ini bermain drama di depan mas Hendra. Rupanya dia ingin bermain-main denganku!"


"Rini, hanya gara-gara hal sekecil itu saja kamu ingin menyakiti Dewi. Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu."


"Mas Hendra, apa kamu tahu duduk persoalannya kenapa aku ingin berbuat itu padanya. Dengarkan baik-baik, apa aku salah jika aku menegurnya baik-baik, tetapi di melonjak dan mengatakan posisi kami di rumah ini sama."


Tampak mas Hendra menatap kearah Dewi dan dengan sigap Dewi menggeleng.

__ADS_1


"Tidak seperti itu maksudku mas, aku hanya mengatakan padanya kalau aku yang akan membereskan selimut dan bantal yang semalam mas pakai tidur, tapi ibu Rini malah marah dan mengatakan kalau aku ingin berkuasa rumah ini."


Seketika ku kerutkan dahi ku. Perempuan ini benar-benar pandai membolak-balik fakta. Aku yakin dia bukan asisten rumah tangga biasa.


Dan fatalnya lagi mas Hendra seperti mempercayai ucapanya.


"Kamu dengar sendiri bukan apa yang di katakan Dewi. Sekali lagi aku melihat kamu memperlakukan Dewi seperti itu jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada rumah tangga kita."


"Kamu pikir aku takut, untuk apa mempertahankan sebuah rumah tangga jika salah satu penghuninya lebih mempercayai orang lain ketimbang pasangannya. Aku akan mencari bukti agar aku bisa memberi alasan pada orang tuaku jika kelak kita benar-benar berpisah. Dan ini untukmu." ku lempar kain segi tiga itu kearah Dewi dan bergegas melangkah ke kamar.


Mas Hendra yang kini tertegun melihatku, dia sungguh tidak percaya kalau aku membalas ucapannya dengan lantang tanpa takut sedikit pun.


Jam sudah menunjukkan puku 9 pagi, Aku keluar kamar dengan dandan seperti biasa. Ku perhatikan kondisi rumah, sepertinya sudah sepi.


Mobil mas Hendra sudah tidak ada di garasi sedangkan Dewi entah kemana rimbanya. Untuk apa juga aku mempedulikan mereka.


Ku hidupkan mesin motorku dan kulajukan dengan kecepatan sedang menuju kearah rumah orang tuaku.


Segera ku parkir kendaraan ku di garasi mobil tua ayahku. Ku ketuk daun pintu dan tidak lupa mengucap salam.


Sedikit demi sedikit daun pintu terbuka dan muncul seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dan bugar dengan baju daster kebesaranya.


"Rini, kenapa tidak beri kabar kalau kamu mau datang." Ibu memelukku dengan sangat erat, seperti seorang ibu yang sudah hampir belasan tahun tidak bertemu putri semata wayangnya padahal hampir sekali seminggu aku datang kesana.


Ku sambut pelukan ibuku. Ada kedamaian saat aku melakukan itu.


"Kalau Rini beri tahu, bukan suprise namanya." balasku sambil tertawa kecil. Ku genggam erat kedua tangan beliau yang mulai timbul kerutan-kerutan kecil.


"Sri siapa yang datang? kenapa tidak disuruh masuk saja." ayahku yang muncul dibelakang ibu.


"Siapa lagi kalau bukan anak kesayangan kamu ini." ibu sedikit bergeser kesamping hingga aku dan ayah berhadapan.


ku Salim tangan pria paruh baya yang masih terlihat tegap bak Daddy Corbuzier.

__ADS_1


"Ayo masuk, tidak enak dilihat tetangga."


Kami segera masuk dan langsung menuju sofa.


"Rini, kenapa wajahmu murung seperti itu?" tanya ayahku yang sedari tadi melihatku termenung tidak seperti biasanya.


Ayah memang selalu tahu apa yang aku rasakan. Ada benarnya juga kata orang-orang selama ini kalau hubungan antara ayah dan anak gadisnya itu sangat dekat apalagi menyangkut perasaan.


"Tidak apa-apa kok ayah, cuman masalah kecil saja."


"Kamu bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan ayah. Apa ini ada hubungannya dengan Hendra?"


"Ayah ini, hubungan kami baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan kami. Kalau pun ada Rini pasti akan bicarakan ini pada kalian berdua. Benar Rini baik-baik saja, kalian jangan kuatir." ku keluarkan jurus Pamungkas ku dengan memberi senyum termanis ku pada mereka berdua.


Aku terpaksa berbohong agar mereka tidak kepikiran dengan masalahku dengan mas Hendra. Takutnya mereka kuatir saat aku pulang ke rumah. Setelah mengobrol singkat, kami melanjutkan dengan makan siang. Ibu memang pandai memasak, walau bahanya seadanya, tapi soal soal rasa hampir sama dengan masakan para koki terkenal.


Aku kembali pamit pada mereka karena Nisa tiba-tiba meneleponku. Kembali ku lajukan kendaraan ku menuju kearah toko.


Sama seperti biasa kondisi toko sangat ramai oleh para pelanggan yang datang. Ada yang beli atau pula yang datang hanya segedar melihat-lihat.


Setelah meminta izin pada karyawan toko, aku langsung menuju ke ruangan Nisa. Ku ketuk pintu sebanyak dua kali hingga muncul Niza dari balik pintu.


"Akhirnya mba Rini muncul juga."


"Memangnya ada hal penting apa sehingga kamu memanggilku kemari."


"Masuk dulu dan kita bicara didalam ."


Kami berdua segera masuk dan duduk di sofa.


UNTUK EPISODE SELANJUTNYA SILAHKAN MAMPIR DI YOUTUBE


"HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU"

__ADS_1


__ADS_2