
"Sebenarnya ada hal penting apa sehingga kamu memanggilku kemari?" ku ulang kembali pertanyaan ku pada Nisa saat kami sudah duduk di sofa.
"Begini mba, kerja sama kita dengan pak Reno kini sudah mulai di jalankan tapi yang menjadi kendala disini, pak Reno ingin salah satu perwakilan dari kita ikut terjun dalam menjalankan proyek itu. Kalau aku yang ikut dengan mereka siapa yang akan mengawasi toko ini?."
Sesaat kami terdiam.
"Biar aku yang ikut mereka." ucapku sembari menghempas nafas panjang.
"Apa mba yakin? apa tidak sebaiknya mba yang berada di sini biar Aku yang ke sana. Masa bos yang terjun kelapangan sedangkan anak buah yang enak-enakan duduk di kantor."
"Kamu ini. Kalau aku yang berada di toko ini para pegawai akan curiga denganku, tapi bila aku yang ke sana keadaan akan baik-baik saja."
"Aku heran sama mba ini, semua identitas mba harus mba sembunyikan dari orang-orang. Atau jangan-jangan ada rencana besar yang sekarang mba susun rapi tanpa sepengetahuanku."
"Setiap orang pasti ada privasi yang tidak boleh orang lain ketahui bahkan keluarga sekali pun. Seiring berjalanya waktu kamu juga pasti tahu kenapa aku melakukan semua ini."
"Baiklah kalau mba belum mau cerita padaku. Terus kapan rencananya mba akan ke kantor pak Reno untuk mengajukan diri?"
"Makin cepat makin baik. Mungkin besok pagi aku akan kesana."
Nisa langsung mengangguk kecil.
"Bagaimana keadaan toko saat ini, apa kamu dan teman-teman ada kendala?"
"Toko berjalan baik dan tidak ada sedikit pun kendala serius yang kami hadapi. Semua berkat ide-ide mba, semua pemasaran barang-barang kita laris manis baik di toko maupun di dunia Maya."
"Bagus kalau begitu. Jika kamu dan yang lain menghadapi masalah, secepatnya kabari aku biar kita segera cari solusinya."
"Pasti itu mba."
Setelah obrolan singkat itu, aku pun segera pamit untuk pulang dan mempersiapkan apa saja yang harus aku siapkan untuk memulai pekerjaan baruku besok bersama perusahaan pak Reno.
Kembali ku kemudikan sepeda motorku menuju ke rumah. Setibanya di sana pintu pagar tertutup.
__ADS_1
Ada mobil mas Hendra di sana, tidak biasanya dia pulang secepat ini. Ku buka pintu pagar lalu mendorong sepeda motorku menuju garasi.
Ku putar knop pintu dan sedikit mendorongnya. Belum sempat ku langkahkan kakiku menuju ke kamar, tiba-tiba pintu kamar tamu terbuka. Kamar yang selama ini di tempati Dewi.
Mas Hendra keluar dari dalam kamar itu dengan hanya berbalut handuk.
"Ya TUHANku, apa yang di lakukan mas Hendra di kamar Dewi? apa mas Hendra sudah mengingkarinya janji suci pernikahan kami?"
Segera ku ikuti mas Hendra yang saat itu menuju ke dapur.
"Mas, Apa yang barusan mas lakukan di dalam kamar Dewi?"
Mas Hendra yang saat itu meneguk air seketika tersendat sehingga air yang berada di dalam mulut keluar jatuh dan membasahi lantai.
"A...aku tidak melakukan apa-apa." mas Hendra terbata-bata dengan kedua mata melotot.
"Sepertinya mas sedang menyembunyikan sesuatu."
"Menyembunyikan apa maksudmu Rini ?"
"Tadi Aku ke kamar Dewi hanya membatunya karena tiba-tiba perutnya sakit. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu, jadi buang jauh-jauh prasangka buruk mu itu terhadap kami."
Terdengar suara meninggi mas Hendra, akhir-akhir ini dia senang sekali memperdengarkan suara 9 oktafnya itu padaku.
"Loh, aku tidak berprasangka buruk pada kalian, aku hanya bertanya apa yang mas lakukan di dalam kamar Dewi itu saja tapi kenapa mas marah seperti ini?"
Kini mas Hendra terdiam dan tidak berani menatapku.
"Mas satu kali lagi, mumpung Rini tidak ada di rumah, Dewi masih.....," Dewi yang tiba-tiba muncul dan seketika menghentikan ucapannya tatkala mas Hendra memplototkan kedua matanya.
"Apa maksudmu satu kali lagi dengan tidak adanya aku di rumah ini! Oh....jangan-jangan dugaan ku selama ini benar kalau kalian sudah melewati ambang batas di rumah ini." Aku sedikit menyunggingkan bibirku.
"Rini, kamu jangan asal bicara, kami ini masih punya harga diri dan tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Aku benar-benar tidak terima jika kamu menuduh kami seperti itu."
__ADS_1
Terlihat mata mas Hendra memberi kode pada Dewi.
"Betul mba Rini, tadi aku hanya meminta mas Hendra untuk membantuku memijit kepalaku karena akhir-akhir ini aku sering sekali merasa pusing dan mual." Dewi yang tidak berani menatapku.
"Oh tadi sakit perut dan sekarang sakit kepala. Sebenarnya mana yang harus aku percaya. Ingat sepandai-pandainya kalian menyembunyikan sesuatu dariku, suatu saat nanti akan tercium juga olehku.
Dan ku ingatkan pada kalian, jika sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri maka jangan salahkan aku jika sesuatu yang tidak pernah kalian pikirkan akan menimpah kalian berdua. Camkan itu baik-baik."
Aku segera pergi meninggalkan mereka yang hanya bisa menunduk terdiam. Perasaanku benar-benar kacau saat itu tapi tetap aku sembunyikan agar mereka tidak melihatku lemah.
Hari itu aku hanya keluar kamar saat pesanan ku diantar oleh kurir, selebihnya aku hanya berdiam diri di dalam kamar. Aku tidak akan melepaskan mereka dulu sebelum mereka merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar.
Malam itu mas Hendra tidak masuk kamar. Mungkin dia tidur di sofa atau pulang ke rumah orang tuanya.
Tidak terasa pagi menjemput, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Aku segera menyiapkan kebutuhanku. Aku berdandan lebih anggun dari hari-hari biasa.
Aku tidak ingin karyawan di kantor pak Reno menganggap perwakilan dari toko kami tidak proporsional dalam bekerja apalagi ini hari pertama bagiku.
Ku kunci kembali lemari rahasiaku lalu keluar dari dalam kamar. Tampak di ruang tamu terlihat ramai. Di sana ada Bu Teti, Mira, Selly istri mas Rudy, Wati istri mas ridwan adik mas Hendra dan tidak ketinggalan Dewi ikut nimbrung duduk di tengah-tengah mereka.
Melihatku keluar dari dalam kamar tampak pandangan mereka tidak lepas dariku. Mereka bak melihat bidadari. Aku maksudnya, perempuan yang jarang sekali berdandan pas berdandan, bahkan jarum jam akan berhenti berdenting.
"Bu, coba lihat Rini, semua yang di pakainya modis dan bermerk. Apa jangan-jangan uang yang di beri mas Hendra selama ini dia gunakan untuk membeli barang-barang mewah itu." Mira sedikit berbisik pada Bu Teti.
"Benar Bu, coba lihat tas yang dia gunakan, harga tas itu kisaran 7 sampai 8 juta keatas. Kalau bukan uang dari mas Hendra tidak mungkin dia bisa membeli tas semahal itu bukan?" sambung Selly.
"Mungkin hanya imitisi saja. Uang yang di beri mas mu selama ini kan cuman satu juta perbulan. Coba pikir berapa tahun dia bisa berhemat untuk membeli tas mahal semahal itu." ibu Teti tanpa melepaskan pandanganya dari ujung kaki sampai ujung kepalaku.
"Bisa jadi, mau bergaya tapi barang imitasi. Aduh TUHAN, dimana aku simpan wajahku ini kalau sampai orang-orang tahu kalau barang yang aku pakai bukan ORI alias palsu."
Mira sedikit memperbesar suaranya dan di sambut tawa dari mereka berlima.
SUDAH BAB 13 DI YOUTUBE.
__ADS_1