HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU

HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU
BAB 8. PELAJARAN BERHARGA.


__ADS_3

Sejenak suasana hening saat mereka sudah menyelesaikan tawa. Sepertinya mereka sangat puas menertawai ku.


"Rini, kamu ini istri macam apa, mas Hendra bekerja kamu malah keluyuran entah ke mana?" tanya Mira.


Aku sebenarnya sudah sangat jengkel dengan perilaku atau pun perbuatan anak itu. Dia tidak henti-hentinya mengurusi kehidupanku sejak aku menikah dengan mas Hendra.


"Mira, kenapa kamu selalu turut campur dengan urusanku. Aku mau kemana itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu. Ada baiknya kamu diam dan urus-urusanmu sendiri."


"Kalau menyangkut dengan mas Hendra itu adalah urusanku. paham!."


"Memang kamu itu siapa? sehingga terlalu peduli dengan urusan rumah tanggaku dengan mas Hendra."


"Apa kamu sudah lupa aku ini siapa?. Aku ini adik kesayangan mas Hendra." Mira sedikit menyunggingkan bibirnya padaku.


"Adik?. Oh iya kamu adalah adik angkat mas Hendra. Maaf kalau aku sampai lupa."


Seketika wajah Mira berubah merah merona.


"Rini, jaga bicaramu." bentak Bu Teti berdiri dari tempat duduknya.


"Memang ada yang salah dengan ucapan ku? tolong tunjukkan dimana letak kesalahannya biar aku memperbaiki."


Aku benar-benar puas membuat wajah Mira memerah. Bukan karena jatuh cinta tapi lebih tepatnya merah karena malu.


"Kamu benar-benar mantu yang tidak punya tata Krama. Aku heran sama Hendra kok bisa-bisanya dia masih mempertahankan istri sepertimu."


"Aku malah lebih heran lagi, melihat orang-orang seperti kalian ini. Bukanya mengurus kehidupan rumah tangga sendiri malah sibuk mengurus rumah tangga orang lain."


"Rini." Ibu Teti mengangkat tangannya ke udara. Belum juga tangan itu mendarat di pipiku, aku segera menangkapnya.


"Ingat, Aku bukan lagi Rini yang dulu yang dengan mudah kalian perlakukan sesuka hati. Seinci saja dari tubuhku kalian sentuh jangan harap aku akan diam saja. Akan ku kembalikan dua kali lipat dari itu."


Ku hempaskan tangan Bu Teti hingga perempuan paruh baya itu sedikit meringis.


"Awo."


Serly, Mira, Wati dan Dewi segera berdiri mendekati Bu Teti.

__ADS_1


"Apa ibu baik-baik saja?" tanya mereka serentak.


"Ibu baik-baik saja." balas Bu Teti sembari memegangi pergelangan tangannya. Aku tahu ucapannya berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan.


"Rini, kamu benar-benar sudah keterlaluan. Kak Selly, kak Wati dan kamu Dewi bagaimana kalau kita beri pelajaran pada perempuan ini agar dia tahu siapa sebenarnya kita." ajak Mira pada ketiga orang itu.


"Mungkin lebih baik seperti itu sebelum dia semakin melonjak." balas Selly.


"Kalian kira aku takut, majulah sudah lama juga aku tidak merenggangkan otot-otot ku." ku bunyikan jari jemariku slalu meletakkan tasku di atas lantai.


Ku pasang kuda-kudaku sebaik mungkin untuk menangkis serangan mereka.


"Punya nyali juga rupa, ayo sekarang kita serang dia dan jangan beri ampun." ajak Mira lagi.


Aku di kelilingi mereka, Mira langsung menyerang ku, dengan sigap ku tangkis serangannya. Ku tangkap pergelangan tangannya lalu ku putar. Lengkingan suara Mira terdengar nyaring dalam ruangan bak serigala malam yang sedang memanggil kawan-kawanya.


Sedikit ku dorong tubuh Mira hingga terjatuh dilantai.


"Apa masih ada lagi yang ingin bernasib sama seperti dia."


ku tatap mereka satu-persatu sembari tersenyum.


"Benar, aku tidak mau bernasib sama seperti ibu dan Mira kalau kalian mau lanjutkan silahkan, aku mundur." Wati terlihat mundur ke belakang, mengambil tasnya di atas meja lalu melangkah kearah pintu keluar.


"Wati, jangan pergi kamu!" teriak Selly tapi Wati sama sekali tidak menghiraukan ucapannya, dia malah terus berjalan hingga hilang dibalik pintu.


"Itukah yang kalian bilang keluarga yang saling membantu, saat ada masalah kalian lebih mengutamakan menghilang dari pada menolong. Sungguh miris kalian ini. Sekarang pilih, kalian yang menyerang atau aku yang menyerang kalian. Aku hitung sampai tiga. Satu, dua, ti...."


"Awas kamu, ini belum berakhir suatu saat kami akan membalas lebih dari ini. Ayo Bu kita pulang." Selly memegang pergelangan tangan Ibu Teti lalu membawanya pergi di ikuti Mira dari belakang sedangkan Dewi berlari masuk kedalam kamar.


Aku tersenyum melihat ketakutan mereka. Semoga dengan ini mereka tidak lagi macam-macam denganku.


Ku perbaiki kembali tatanan rambut serta bajuku. Setelah merasa cukup aku segera keluar.


Pintu kubiarkan terbuka begitu saja biar untuk sementara waktu Dewi yang menjadi satpamnya.


Sedikit kutarik gas motorku dengan kecepatan tidak seperti biasa. Aku berharap tiba sebelum pukul 7.30 di sana.

__ADS_1


Menempuh perjalanan kurang dari 15 menit akhirnya aku tiba juga di perusahaan megah itu. Segera ku parkir kendaraan ku dan bergegas masuk ke dalam.


Aku sangat risih dengan pandangan orang-orang yang ada di sana terutama kaum Adam yang tidak sedikit melepaskan pandanganya kearah ku.


"Sepertinya dia pegawai baru di sini, dari cara berpakaian dia bukan orang biasa." terdengar bisikan dari salah seorang pegawai perempuan yang duduk di meja resepsionis pada temanya.


"Sekarang kita tidak bisa melihat orang dari penampilannya saja. Bisa jadi itu hanya barang pinjaman. Biasalah zaman sekarang, bergaya bukan milik." balas temanya sembari menunduk tertawa.


Ku dekati mereka berdua.


"Apa saya boleh menemui pak Reno sekarang?"


"Kalau boleh tahu ada keperluan apa hingga mba ingin menemui beliau?" jawab salah seorang dari mereka.


"Tolong katakan padanya, kalau utusan dari toko R&HG sudah datang."


"Oh...hanya utusan. Tolong mba sabar menunggu karena biasanya pak Reno jarang sekali membuang waktunya untuk tamu yang kurang penting." diangkatnya gagang telepon yang ada di depannya lalu mulai menekan satu-persatu angka yang ada di sana


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan perempuan itu. Terkadang orang akan baru menganggap kita disaat kita memiliki jabatan tinggi.


"Hallo, maaf sebelumnya jika saya mengganggu sedikit kerjaan bapak. Begini pak, seorang utusan dari toko R&HR datang. Apa saya suruh dia menunggu di ruang tunggu setelah semua pekerjaan bapak selesai?"


"Kenapa baru bilang, Beliau itu tamu penting bagi perusahaan. Cepat antar dia kemari sebelum proyek kerja sama mereka batalkan." terdengar bentakan pak Reno hingga membuat perempuan itu sedikit menjauhkan gagang telepon dari daun telinganya.


"Baik pak, saya akan segera mengantar beliau keruangan bapak." dengan tubuh sedikit bergetar karyawan itu menutup sambungan teleponnya.


"Maaf sebelumnya ibu, kami benar-benar tidak tahu kalau anda adalah tamu penting pak Reno. Mari biar saya antar."


"Tidak usah repot-repot mengantarku, aku bisa sendiri keruangan bos kalian itu.


Satu hal yang harus kalian ingat dengan kejadian ini, tidak semua orang yang kalian lihat itu biasa pasti biasa-biasa saja begitu pun sebaliknya orang yang kalian lihat luar biasa belum tentu sesuai kenyataan. Jangan hanya memandang kulit karena kalian akan tertipu dengan bijinya."


Ku tinggalkan mereka berdua yang hanya bisa menunduk diam mendengar setiap ucapan ku.


Aku terus melangkah dengan perasaan legah karena bisa memberi pelajaran berharga bagi orang-orang yang selalu memandang orang dari sisi luarnya saja.


SUDAH BAB 13 DI YOUTUBE DAN TENTUNYA UPLOAD SETIAP HARI.

__ADS_1



__ADS_2