HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU

HUBUNGAN GELAP SUAMI DAN PEMBANTUKU
BAB 2 . POSISIKU DI GANTIKAN DEWI.


__ADS_3

Tampak senyum kemenangan terpancar di bibir Bu Teti. Sepertinya dia sangat puas karena Hendra memuluskan rencananya.


"Apa perlu kita mempekerjakan asisten rumah tangga? sedangkan selama ini mas Hendra selalu bilang kalau gaji mas Hendra hanya pas-pasan untuk biaya hidup sehati-hari. Kalau hanya masak nas i dan goreng tempe saja, Aku juga bisa."


Aku sangat jengkel melihat ibu dan anak yang duduk di hadapanku saat ini. Uang bulanan hanya 1 juta sebagai jatah perbulan ingin mempekerjakan asisten rumah tangga? Ah sungguh diluar nalar orang normal sepertiku.


"Apa? jadi mas Hendra hanya makan nasi dan goreng tempe saja di rumah ini?" perempuan yang bernama Dewi itu segera melepaskan pegangannya pada lengan mas Hendra.


Mas Hendra dan ibunya saling menatap.


"Bukan begitu Dewi, selama ini Hendra dan istrinya itu berhemat kerena Hendra berencana untuk membangun rumah ini agar lebih bagus lagi. Jadi kamu tenang saja setelah kami tinggal di sini uang bulanan akan Hendra tambahkan dan kamu yang akan memegang uang belanja setiap bulanya. Betulkan Hendra."


Tampak bu Teti memberi kode pada mas Hendra agar mengangguk. Awalnya mas Hendra ragu-ragu tapi setelah kode kedua dari mata Bu Teti mau tidak mau Hendra mengangguk dan terpaksa tersenyum.


"Ha..ha dari mana mas Hendra dapat uang untuk membangun rumah pemberian orang tuaku ini. Aduh kenapa ibu Teti makin berumur makin lucu. Mungkin dia keseringan menonton stend up komedi jadi pikirannya sudah kemana-mana." tawaku dalam hati.


"Oh..., jadi begitu rupanya. Mas Hendra ini benar-benar suami yang bisa diandalkan. Mas Hendra relah makan seadanya demi untuk masa depan yang lebih baik." kembali perempuan itu mendekat pada mas Hendra.


Entah kenapa, hanya sedikit kecemburuan dalam hatiku melihat hal itu. Ataukah perasaanku pada mas Hendra mulai memudar seiring perlakuannya padaku selama ini?"


"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusan kalian. Aku menerima kalau dia menjadi asisten rumah tangga di rumah ini. Mulai hari ini aku akan berleha-leha. Untuk apa seorang nyonya bekerja kalau sudah ada asisten rumah tangga di sini."


"Rini, jangan karena Hendra mempekerjakan Dewi, kamu seenaknya ingin jadi nyonya besar. Dewi ini anak juragan di kampung kami, sawah orang tuanya banyak jadi kamu tidak boleh seenaknya berbuat sesuka hatimu padanya. Lagian yang memberi gaji disini Hendra bukan kamu." kembali Bu Teti melempar kata padaku.

__ADS_1


"Terus untuk apa kami mempekerjakan dia disini kalau aku juga yang harus turun tangan. Aku heran sama ibu ini, kenapa ibu lebih membelah dia ketimbang aku, menantu ibu sendiri, atau jangan-jangan ibu membawa perempuan ini ke mari karena ada maksud lain." kini tatapanku tajam kearah Bu Tety.


"Rini......," kembali suara tinggi 19 oktaf Bu Tety bergema dalam ruangan tamu.


"Sudah-sudah, kenapa hal seperti ini kalian perdebatkan. Dan kamu Rini, Dewi tinggal di rumah ini hanya bantu-bantu kita saja, bukanya menjadi asisten rumah tangga sungguhan. Dewi ini keluarga dekat kami jadi keluarga dekat kamu juga."


"Mana bisa seperti itu. Kalau asisten rumah tangga ya asisten rumah tangga saja. Dari awal dia datang kemari memang tujuannya menjadi asisten keluarga bukan?. Lain lagi ceritanya kalau kalian tadi memperkenalkan dia sebagai keluarga."


"Nah, sekarang kamu lihat sendiri bukan Hendra, bagaimana sifat asli istrimu ini. Di depanmu saja dia baik tapi di belakang dia seperti harimau yang siap menerkam."


"Rini, mulai besok, uang bulanan akan aku serahkan pada Dewi untuk mengatur kebutuhan keseharian kita. Kita sudah dua tahun menikah tapi aku rasa-saja kamu tidak bisa untuk diandalkan. Aku juga bosan hanya tempe dan sayur bening saja lauknya setiap hari."


Sebelum menjawab aku mencoba tersenyum.


Tanpa permisi, ku tinggalkan mereka diruang tamu dan masuk kedalam kamar. Dari dalam kamar terdengar canda tawa mereka. Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikap mas Hendra apalagi ibunya itu. Dia lebih membela orang lain ketimbang Aku.


Biarlah, mungkin Tuhan sudah menentukan garis nasib ini untukku.


Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda tadi. Ku balas semua pesan yang masuk dan Alhamdulillah ada 8 orang yang memesan baju dan alat cosmetic padaku.


Ku kirim pesan pada Nissa agar segera mengemas barang-barang pesanan costumer dan mengirim ke alamatnya. Jam sudah menunjukkan pukul 18 sore, aku segera berdiri dan menuju ke kamar kecil. Ku ambil air wudhu untuk melaksanakan kewajiban ku sebagai muslim.


Setelah menghadap SANG PENCIPTA. Kembali ku rapikan mukenah serta sajadahnya dan menyimpannya di lemari.

__ADS_1


Aku keluar dari dalam kamar dan berencana ke dapur. Belum juga aku tiba di ruangan itu, tiba-tiba aroma masakan tercium di Indra penciumanku. Ku lanjutkan langkahku ke sana dan mendapati Dewi sedang menggoreng ikan sedangkan mas Hendra membersihkan alat dapur.


Sejak kami menikah mas Hendra tidak pernah melakukan hal itu. Ke dapur saja mas Hendra hanya datang saat ingin makan atau mengambil air minum dan selebihnya jangan harap, dia mau memegang piring kotor apalagi mau membantuku seperti sekarang ini dia lakukan pada Dewi.


"Kalian lagi masak apa?" tanyaku pura-pura menghentikan obrolan mereka yang sedari tadi hanya mendengar obrolan masa lalu mereka.


"Kami masa sayur tumis dan ikan goreng, kata mas Hendra sudah lama dia tidak makan masakan seperti ini. Tapi porsinya hanya untuk dua orang saja." balas Dewi sambil membolak-balik ikan di atas wajan.


Kembali mulutku terbuka sempurna mendengarkan ucapan Dewi. Jadi selama ini mas Hendra tidak makan ikan yang jauh lebih besar dari ikan yang sekarang Dewi goreng saat aku ada uang lebih, sungguh terlalu laki-laki ini menyangkal apa yang telah aku masak untuknya.


Mas Hendra hanya diam mendengarkan perbincangan kami. Dia sama sekali tidak merasa dengan apa yang diucapkan Dewi.


"Tidak apa-apa, aku masih bisa makan yang ada."


Segera kuambil piring dan ku isi dengan nasi tadi siang. Sayur bening dan tempe makanan favoritku. Eee...Bukan Favorit tapi itu saja yang ada hampir tiap hari. Selesai makan, aku langsung ke kamar, soal piring biar Dewi yang membereskan, toh dia dapat gaji di rumah ini.


Ku lanjutkan pekerjaanku hingga mas Hendra datang dan langsung membungkus tubuhnya dengan selimut.


Waktu terus berlalu hingga tidak terasa pagi menjemput. Aku yang biasanya bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan buat mas Hendra sebelum berangkat kerja masih betah dalam selimut buluh. Kan ada Dewi yang mengganti tugasku kali ini.


"Rini, mana sarapanku?" teriak mas Hendra dari arah dapur.


Bagi teman-teman penasaran di YouTube sudah bab 4 dan setiap hari upload. Silahkan berkunjung dan jangan lupa dukungannya. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2