
Xora mendongkak menatap langit, yang dipenuhi dengan para Poison Tongue Bird. Para Poison Tongue Bird itu terbang ke sana ke mari, seperti menjaga pintu goa. Mendengar kalimat Xora, Flyor menoleh ke arah Xora yang berada di sampingnya.
Flyor mengernyitkan alisnya dan bertanya, "Kaumenyebut Monster Burung itu dengan nama Poison Tongue Bird?"
Xora menoleh dan mengangguk. "Ya," jawab Xora dengan senyum yang bisa dilihat oleh Flyor, karena dagu dan bibir Xora tidak ditutupi oleh topeng. "Seperti yang Anda katakan sebelumnya, air liur mereka mengandung racun. Makanya mereka dinamakan seperti itu," sambung Xora.
Mata Flyor membola. 'Gadis ini benar-benar seorang Penyihir! Dia mengetahui segalanya, bahkan memberikan monster itu nama,' batin Flyor yang beralih menatap para Poison Tongue Bird. Flyor benar-benar salah paham terhadap Xora.
"Bagaimana kita menyerangnya? Apakah Anda merasa yakin untuk melawan para Poison Tongue Bird itu?" Xora bertanya dan menoleh, menatap wajah Flyor. Flyor pun menoleh ke arah Xora.
Senyum smirk Flyor terukir jelas pada bibirnya. Hawa membunuh mulai terpancar jelas dari tubuh Flyor. "Tentu saja aku masih bisa, bahkan ini akan menjadi sangat mudah," jawab Flyor sembari mengeluarkan 'Aura' miliknya.
Xora sama sekali tidak melihat Aura yang dikeluarkan oleh Flyor, tetapi Xora bisa merasakannya. Aura yang Flyor keluarkan itu berwarna biru, terlihat seperti asap tipis yang menyelimuti setiap jengkal tubuh Flyor. Mulai dari ujung rambut, sampai ujung jari kaki.
"Kali ini aku berubah pikiran, mari kita serius. Lihat dan perhatikan dengan seksama, bagaimana cara aku mengayunkan pedang ini. Jangan maju, perhatikan saja!" Flyor berdiri dan keluar dari semak belukar tempatnya bersembunyi. Flyor mengalirkan Aura miliknya menuju pedang.
Poison Tongue Bird yang berterbangan di langit-langit pun melihat keberadaan Flyor, dan langsung menukik turun. Menyerang Flyor dengan cakaran. Di sisi lain, Xora terkejut dengan mata terbelalak di balik topengnya.
Xora sangat ingin membantu, tapi dia tak bisa menyangkal perintah dari Flyor. Di mana, Flyor tadi memerintahkannya untuk tidak maju. Flyor juga memberikan perintah, agar Xora hanya memperhatikan dengan seksama saja.
'Cih! Untuk apa aku menuruti perintahnya, bagaimana jika dia mati?!' batin Xora dengan rasa kesal yang luar biasa.
Xora mulai berdiri. Dia mencoba untuk melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, tetapi Xora tidak bisa, dia sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Ada sisi dari dirinya yang ingin menuruti perintah dari Flyor untuk tetap diam.
"Diam saja di tempatmu seperti yang kukatakan!" Flyor berteriak sambil menebas pedangnya ke atas. Srashh! Tiba-tiba, Poison Tongue Bird yang menukik turun dengan cakarnya. Langsung terbelah menjadi dua.
Mendengar teriakan dari Flyor, Xora langsung terduduk kembali di tempatnya. Kedua mata Xora terbuka dengan jelas. Xora juga melihat apa yang barusan terjadi, tapi dia memasang ekspresi tidak percaya di balik topeng itu.
__ADS_1
'Dia ... dia barusan mengayunkan pedangnya, dan tubuh Poison Tongue Bird itu terbelah menjadi dua? Padahal jaraknya cukup jauh!' batin Xora. 'Dan lagi, Poison Tongue Bird itu memiliki bulu yang lebih keras dari baja!' sambung Xora dalam hati.
"Bagaimana bisa?" hanya itu kata yang mampu diucapkan oleh Xora, seusai dia melihat Flyor melakukan hal yang di luar nalar. Xora bungkam, tak tahu lagi harus berkata apa.
Xora hanya melihat saja, bagaimana cara Flyor bertarung dan membantai koloni Poison Tongue Bird di depan matanya. Dia benar-benar lupa perintah dari Flyor, yang meminta Xora untuk mengamati caranya mengayunkan pedang.
Butuh waktu yang cukup lama, sampai Flyor benar-benar membersihkan langit dari koloni Poison Tongue Bird. Tubuh para Poison Tongue Bird yang terbelah pun bergeletakan di atas tanah. Tanah yang sebelumnya berwarna coklat, kini menjadi warna hijau akibat darah para Poison Tongue Bird.
"Core-nya!" gumam Xora pelan. Xora baru sadar, bahwa Poison Tongue Bird telah dibantai oleh Flyor.
Xora segera berlari keluar dari semak belukar tempatnya bersembunyi, lalu mengambil setiap core yang ada pada bangkai Poison Tongue Bird. Xora memasukkan semuanya ke dalam penyimpanan yang tersedia pada sistem.
Flyor yang melihat Xora mengumpulkan core pun, berjalan ke salah satu pohon yang cukup rindang. Di bawah pohon itu, Flyor duduk dan mengamati Xora dari kejauhan.
"Sepertinya, aku terlalu banyak menggunakan Aura," gumam Flyor yang merasa kelelahan. 'Lebih baik aku memanfaatkan waktu ini, untuk beristirahat sambil menunggu dia selesai mengambil bola-bola dari monster,' sambung Flyor dalam hati.
[Notifikasi! Pembersihan Dungeon mencapai 13 persen!]
Berhasil mengambil semua core dari bangkai para Poison Tongue Bird, notifikasi dari sistem pun muncul tepat di depan wajah Xora. Xora tersenyum masam dan bergumam, "Masih ada banyak yang harus dimusnahkan."
Bangkit dari posisi berjongkok, Xora melangkah menuju Flyor yang duduk di bawah pohon rindang. Xora duduk di samping pria bersurai putih itu. "Tadi, kaumengamati caraku mengayunkan pedang bukan?" tanya Flyor.
Kepala Flyor menoleh dan menatap topeng Xora. Xora pun balik menatap Flyor dengan tubuh yang tiba-tiba menegang di tempat. Di dalam hati, Xora berkata, 'Gawat! Aku tadi tidak memperhatikan caranya mengayun pedang!'
"Dari tatapanmu, kaupasti tidak memperhatikanku," tebak Flyor.
Nada Flyor begitu dingin, membuat Xora tersentak saat Flyor menebak dengan sangat tepat. "Maaf," jawab Xora sembari menundukkan kepalanya. Flyor menghela napasnya pelan.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang. Sesampainya di rumah, kauharus mengayunkan pedang sebanyak 500 kali." Xora langsung menoleh dengan mata terbelalak lebar. "Kita juga akan menunda pembersihan sarang Poison Tongue Bird ini, sampai kaumenguasai teknik berpedang," sambung Flyor sambil berdiri dari posisi duduk.
"Hah?! Tidak!" Xora langsung ikut berdiri dan membantah hukuman dari Flyor.
Flyor dengan ekspresi dingin langsung menoleh ke arah Xora. "Hukumanmu ditambah jadi 1000 kali," balas Flyor. Dia berlalu meninggalkan Xora yang membeku di tempat.
Tersadar bahwa dia ditinggal oleh Flyor, Xora lantas segera berlari menuju rumah Flyor. Sesampainya di sana, Xora diberikan pedang kayu yang beratnya luar biasa oleh Flyor.
"Sa–saya harus mengayunkan pedang seberat ini?" tanya Xora dengan nada tidak percaya sembari mencoba mengangkat pedang kayu di genggamannya. Pedang kayu itu berukuran kecil dan pas di genggaman Xora, tapi beratnya luar biasa.
Flyor yang mengambil kursi dan meja, lengkap bersama teh dan camilan di atasnya. Dia menoleh ke arah Xora dan mengangguk pelan sambil menjawab, "Ya. Jika kautidak dapat mengayunkannya, aku tidak akan mengajarkanmu teknik berpedang."
[Notifikasi! Jika Flyor tak ingin mengajarkan Anda teknik berpedang. Maka misi dianggap gagal, Anda akan mendapatkan penalti lebih berat dari yang kemarin diterima!]
Usai Flyor melayangkan kata-kata ancaman, panel sistem pun muncul dan memberikan peringatan. Xora membelalakkan matanya tak percaya. 'Ah? Jadi ... mau tak mau aku harus menerima penalti kalau Flyor menolak mengajarkan teknik berpedang?' batin Nefa.
Lagi dan lagi, Flyor melihat ekspresi Xora. Dia tersenyum saat Xora terlihat terkejut karena ancaman darinya. "Jadi, apa hukuman mengayunkan pedang itu masih terasa berat untukmu?" tanya Flyor sembari mengangkat cangkir teh, lalu menyeruputnya secara perlahan.
Mendengar hal itu, Xora beralih menatap Flyor dan langsung mengangguk. Dia menjawab dengan nada meminta, "Ya! Ini saja sangat berat untuk diangkat. Apalagi diayunkan sampai 1000 kali, tolong kurangi lagi!"
Flyor lantas meletakkan cangkirnya dan tersenyum. Saat melihat senyum di bibir Flyor itu, firasat Nefa tiba-tiba menjadi tidak enak.
"Oke, hukuman mengayunkan pedang ditambah menjadi 2000 kali."
_____
Revisi :)
__ADS_1