Hunter Of Nusantara

Hunter Of Nusantara
Quest kesempatan kedua


__ADS_3

"Eh?!"


Usai mendengar kalimat penawaran yang ditawarkan oleh Flyor, Xora memasang ekspresi terkejut dan tak percaya di balik topengnya. Pada saat yang bersamaan, panel sistem kembali muncul.


[Notifikasi! Anda mendapat Quest Kesempatan Kedua!]


[Notifikasi! Menampilkan Quest!]


Misi: Menerima tawaran yang terakhir dari pria misterius yang Anda temui di dalam Dungeon. Pelajari dan kuasai semua teknik berpedangnya.


Reward: Skill ???


Waktu: -


*Penolakan Quest akan membuat Anda mendapatkan penalti yang lebih besar dari sebelumnya.


[Terima] [Tidak]


Xora ingin menolak, tapi dia teringat dengan penalti yang kemarin muncul. Mau tak mau, Xora menerima misi dan berkata, "Aku mau."


[Notifikasi! Anda menerima Quest!]


Flyor yang mendengar jawaban seperti apa yang dia harapkan pun tersenyum. "Oke, latihan akan dimulai ketika aku kembali. Karena kamu telah bangun dan bisa menjaga diri sendiri, aku akan keluar dulu," ucap Flyor.


Flyor berjalan menuju pintu. Berbeda dengan Xora yang mendengar kalimat Flyor. Xora langsung mengangkat kepalanya, dan menatap ke arah pria bersurai putih itu. "Tunggu, Anda ingin kemana?" tanya Xora yang ikut-ikutan bangkit dari kasur.


Xora berjalan mendekat ke arah Flyor yang berhenti, tepat di depan pintu. "Aku ingin memusnahkan semua monster-monster yang ada di sini," jawab Flyor tersenyum masam, dan kembali melanjutkan langkahnya.


Senyum masam Flyor yang terukir untuk sepersekian detik itu, ditangkap dengan jelas oleh kedua mata Xora. Sontak saja, benak Xora dipenuhi banyak pertanyaan. Tetapi Xora tidak melontarkan satupun pertanyaan, melihat suasana yang tidak mendukung untuk bertanya.


Xora menarik napas dan kemudian berkata, "Saya ikut!"

__ADS_1


"Tujuan dari keberadaan saya di sini, sama seperti Anda. Saya ingin memusnahkan semua Monster Burung di sini!" sambung Xora. Flyor kembali berhenti melangkah dan berbalik, menatap Xora yang sangat serius. Senyum pun terbit pada sudut bibir Flyor.


'Terima kasih, tapi Monster di sini tidak hanya burung itu,' batin Flyor menutup matanya.


Flyor ingin menangis, tapi dia menahannya. Hari-hari yang sebelumnya suram seperti musim dingin, perlahan dihiasi oleh berbagai warna sejak Xora datang. Ada banyak rasa terima kasih yang begitu besar dari Flyor untuk Xora.


Di sisi lain, Xora yang melihat Flyor berdiam diri dan menutup mata pun, kini mengerutkan keningnya. Dia bertanya-tanya dalam hati, dan penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Flyor.


Xora menundukkan kepalanya, dia mengira bahwa Flyor akan menolaknya. 'Dia pasti akan menolakku bukan? Tapi tak apa, meskipun dia menolak. Aku akan tetap menyelinap keluar untuk memusnahkan Poison Tongue Bird!' batin Xora sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Boleh, tapi kauharus berjanji, nanti tidak terluka parah ketika kita kembali!"


Tak seperti apa yang Xora pikirkan, justru Flyor mengizinkannya. Xora melepaskan kepalan tangannya dan menatap Flyor dengan binar senang. "Baik, saya berjanji!" jawab Xora.


Pada akhirnya, Flyor mengajak Xora menuju sarang Poison Tongue Bird berada. Namun sebelum itu, Flyor kembali ke pinggir jurang, tempat dia bertarung dengan Xora kemarin.


"Kenapa kita datang ke sini?" Xora bertanya sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Dia mengingat tempat ini, tak lain dan tak bukan adalah tempatnya bertarung dengan Flyor.


"Eh?" Xora lantas melihat ke arah Flyor yang mengamati pedangnya. 'Pantas saja tadi pagi aku tidak melihat pedangnya,' batin Xora menghela napas pelan.


Puas mengamati pedangnya, Flyor memasukkan pedang itu ke dalam sarung yang tergantung di sisi kiri pinggulnya. Flyor melangkah ke arah Xora. "Sebelum kita ke sarang Monster Burung itu, aku ingin mencari herbal dulu," ucap Flyor berhenti melangkah setelah melewati tubuh Xora.


Xora membalikkan tubuhnya, menatap surai putih Flyor yang berterbangan karena embusan angin. Terpana sejenak saat melihat surai putih milik Flyor, Xora segera tersadar dan mengerutkan kening. "Herbal? Untuk apa?" tanya Xora yang melangkah ke sisi kanan Flyor.


Kepala Flyor menoleh ke kanan, menatap manik mata Xora yang ada di balik topeng. "Tentu saja sebagai penawar dari racun Monster Burung itu," jawab Flyor yang mengalihkan pandangannya menuju hutan. Dia mulai melangkah masuk ke dalam hutan. Xora pun mengikutinya dari samping.


'Racun?' batin Xora bertanya-tanya.


Matanya terbelalak saat mengingat air liur yang mampu melelehkan apapun. 'Ini akan sangat berguna jika aku mengetahuinya!' sambung Xora dalam hati. Sorot matanya berbinar cerah, dan itu ditangkap dengan kelas oleh Flyor.


Flyor segera mencari herbal yang dibutuhkan. Usai mendapatkannya, Flyor langsung mengunyah herbal itu secara mentah-mentah. "Mentah-mentah?" lirih Xora tak percaya.

__ADS_1


Xora melangkah mundur, menatap Flyor dengan tatapan ngeri. Seakan melihat hantu. Bagi Xora, yang lebih mengerikan dari hantu adalah memakan sayur atau tumbuhan secara mentah-mentah.


"Kenapa dimakan mentah-mentah?" tanya Xora dengan ekspresi yang tiba-tiba merasa pahit di balik topeng, seolah dia ikut memakan tanaman herbal itu.


Flyor menoleh dan memuntahkan herbal yang barusan dia kunyah. "Tentu saja agar ini efektif. Dan lagi, rasanya tidak seburuk yang kaubayangkan," jawab Flyor yang mengoleskan herbal bekas kunyahannya, ke seluruh bagian tubuhnya. Mulai dari ujung rambut, sampai ujung kaki.


Xora kembali melangkah mundur, tapi ada rasa penasaran dalam benaknya. "Bohong! Semua tumbuhan berjenis sayuran yang dimakan mentah-mentah itu sangat tidak enak!" seru Xora, membantah semua pernyataan Flyor.


Suara kekehan kecil pun terdengar, asalnya adalah Flyor. Xora mengernyitkan alisnya tak suka, saat Flyor terkekeh. Itu terlihat seperti sedang mengejeknya. 'Ternyata dia memiliki sisi seperti ini, lucu,' batin Flyor.


"Kenapa Anda tertawa!?" tanya Xora dengan nada tinggi.


Mendengar kalimat itu, Flyor benar-benar ingin tertawa kencang. Tetapi dia tak berani, entah kenapa dia tak ingin Xora marah kepadanya. "Tidak-tidak. Aku hanya tertawa karena kaubilang semua tumbuhan sayuran itu tidak enak, jika dimakan mentah-mentah. Tapi, dunia ini sudah berbeda. Ada tumbuhan sayuran yang rasanya begitu manis, meskipun dimakan mentah-mentah," jawab Flyor dengan senyum.


Tentu saja di balik senyumnya, Flyor menahan tawa dengan sekuat tenaga. "Mana ada! Itu pasti sebuah kebohongan bukan? Saya tak ingin memakannya, lebih baik saya mati dari pada memakannya. Jika Anda sudah selesai, ayo kita kembali ke tujuan awal. Yaitu memusnahkan Monster!"


Xora memalingkan wajahnya yang mengenakan topeng dan menatap ke arah lain, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. 'Kenapa Miss U mendadak terlihat imut seperti ini?' tanya Flyor sembari menggelengkan kepalanya.


Flyor menyisakan beberapa herbal untuk berjaga-jaga. "Baiklah-baiklah. Mari kita menuju sarang Burung Monster."


Kini, Flyor dan Xora pun berjalan menuju sarang Poison Tongue Bird. Seperti apa yang Flyor katakan dalam hatinya. Monster di sini tak hanya Poison Tongue Bird saja, tapi masih ada banyak.


Selama perjalanan, Xora dan Flyor terus menerus bertemu monster-monster lain yang lebih berbahaya dari Poison Tongue Bird. Keduanya bertarung bersama-sama untuk mengalahkannya.


[Notifikasi! Proses Pembersihan Dungeon mencapai 8 persen.]


[Notifikasi! Butuh sampai 100 persen untuk bisa benar-benar memusnahkan Dungeon!]


_____


Revisi

__ADS_1


__ADS_2