
Tanpa melawan, Xora mengekor di samping Reina seraya tersenyum. 'Beginikah rasanya kasih sayang Kakak?' batin Xora mengulum senyum menatap sang kakak. Sedangkan Devano hanya mengekor di belakang. Pikirannya masih tertuju pada sosok Xora yang cantik dan sexy, mampu membangkitkan hasrat terpendam siapapun penontonnya.
Tak lama melangkah, mereka sampai di titik perkumpulan. Melihat Xora, Alsan berdehem mengalihkan perhatian yang lain. "Oke, kamu sudah datang. Kita setuju kalau kamu menggantikan Reina anak kami," jelas Alsan memandang yakin pada Xora.
Reina yang mendengar perkataan si ayah mengelus lengan Xora seakan memberikan kekuatan. Senyum senang terlukis jelas di bibirnya. Namun benaknya tak seperti itu, mau bagaimanapun jahatnya sang ayah. Sosoknya tetaplah orang tua, rasa sakit masih jelas dirasa oleh Xora,
'Setidaknya rasa sakit sudah berkurang, dan perlahan akan menghapus keberadaan kalian selamanya,' batin Xora kecut. Tak bisa berharap lebih selain sang kakak yang berada sebagai penopang keinginannya untuk hidup.
"Baiklah, saya terima," tegas Xora terlihat seperti tak terluka. Alsan mengangguk dan yang lain menyeringai. 'Kenapa perasaanku gak enak?' batin Reina mencengkram celana trainingnya. Sorotnya menangkap sesuatu yang ganjil.
Beberapa saat kemudian, Xora sudah berdiri di belakang pesawat ditemani sang kakak. "Xora, lebih ba ..."
"Tidak, tetap aku yang akan menggantikan Kakak, keputusanku sudah bulat," sela Xora cepat, mengalun begitu tegas membungkam Reina. Helaan nafas panjang berasal dari Reina. "Kamu harus hati-hati," bisiknya memeluk sang adik yang lebih pendek darinya.
"Baik Kakak," balas Xora pelan mengeratkan pelukannya. Tepuk tangan menggema kasar bagian di tempat Xora saat ini. "Hentikan suasana harunya, sudah waktunya terjun!" sela Alsan tak suka dan langsung memisahkan pelukan itu.
__ADS_1
Xora mengepalkan tangan tak suka, tapi tak bisa melakukan apa-apa dan hanya menuruti perintahnya. Memastikan semua perlengkapannya siap, Xora berdiri di ujung pintu pesawat. "Ingat hal tadi Kakak," pesan Xora sebelum terjun.
Reina mengangguk pelan. Matanya melirik sinis pada sang ayah yang selalu menolak untuk mengakui adiknya. "Aku membenci kalian," gumam Reina pelan yang hanya di dengar olehnya sendiri, menatap sendu pada Xora tadi.
"Kenapa Zaim diam? Bukannya ini waktunya dia terjun?" tanya Reina menyadari itu. Tapi hanya senyum sinis responnya. Sesaat, kepala Reina melambat. Tapi kemudian, matanya membulat tak percaya diiringi senyum sinis yang semakin berkembang dari Zaim.
"Aku tak mungkin ikut lompat bersamanya, heh, biar saja dia mati di sana!" ejek Zaim melangkah pergi, dan dengan cepat, Reina cengkram lengannya. "Apa yang kalian lakukan!" teriak Reina melirik yang lain, dan responnnya sama, hanya membuang muka.
"Kalian ... bagaimana bisa," lirih Reina menunduk, tangannya yang mengepal mulai melemah. "Aku tak percaya, kalian bisa seperti ini," imbuh Reina melepas cengkramannya pada Zaim dan pergi dari sana. Merasa sudah jauh, senyum menyeringai terukir di garis bibirnya.
_____
"Apa?" tanya Xora membuka parasutnya, mencari titik tempat yang cocok sebagai landasannya. Energi sihirnya mulai tersebar, menyusuri setiap bagian di dalam hutan, mulai dari medan pasir hisap, sungai, jebakan hingga wilayah para predator.
"Jangan gunakan kekuatan sihir Anda terlalu sering, itu bisa bahaya," jawab Sistem lirih, nada khawatir terpancar jelas, namun sayangnya, Xora sama sekali tak menggubrisnya.
__ADS_1
Beberapa jam di udara, akhirnya Xora menemukan tempat yang tepat. Kepalanya menoleh pada layar transparan. "Semua risiko bisa kuterima, bahkan bila itu kematian yang menyiksa." Sistem langsung bungkam.
"Jujur, saya kecewa Host, Anda telah berubah dalam waktu sekejab, kehangatan Anda menguap entah kemana," tutur Sistem menusuk relung hati Xora.
Kepalanya langsung menunduk. "Aku lelah ditinggalkan Sistem, kau tau itu," lirih Xora mengepalkan tangan. Kepalanya kembali mendongkak dengan siluet tajam dari sorotnya. "Xora baru telah terlahir, kembali untuk mengubah takdir!"
Langit seketika bergemuruh mengeluarkan petir, seakan sedang mencatat ucapan Xora. "Host," lirih Sistem tak percaya.
"Waktunya dua bulan, lebih baik aku menjelajahi hutan," gumam Xora mulai bergerak menyusuri pohon, tanpa terasa waktu berlalu, langkahnya terhenti di pinggir sungai yang mulai pasang. Ratusan ikan piranha dan purwarupa makhluk predator dalam air juga mulai bergerak dengan bebas mencari mangsa.
"Host, maaf, Sistem akan pergi dulu, permisi." Setelah kalimat yang terucap dengan cepat, panel layar yang selama ini selalu bersamanya, walau hanya sebentar telah pergi entah kemana. Tubuh Xora terpaku di pinggir sungai.
Matanya memandang pada sungai luas di depannya. "Pasang dan surut, sama seperti kehidupan. Lelah." Nadanya terdengar pasrah, ingatannya kembali tertuju pada saat di pesawat tadi.
'Aku selalu berusaha untuk mengerti orang lain, tapi tidak pernah ada yang berusaha mengerti tentangku.' Kosong
__ADS_1
________
🙏🙏author jarang update untuk ke depannya.