
Namun, Xora merasa ada yang kurang. Seperti ada yang hilang.
'Ah Ren?' pikir Xora melepaskan pelukannya dan menelisik sekitar, namun tak menemukan sosok yang dicari-cari.
"Di mana Ren?" tanya Xora pada Wyvern dan Griff yang sedang melamun. Tapi kemudian mereka tersadar saat Xora menoel-noel pipi mereka.
"Ah, Nona? Apa yang anda lakukan?" tanya Wyvern melirik Xora dengan tatapan bertanya. Sementara Griff tak bertanya ataupun mengeluarkan suara, dia hanya melirik Xora.
"Menyadarkan kalian," jawab Xora melipat kedua tangannya dan menaikkan salah satu alisnya meminta jawaban
atas pertanyaanya. 'Ah, kami melamun!' pikir mereka kembali fokus.
"Di mana Ren?" tanya Xora ulang dengan nada penuh ketegasan. 'Apa perlu memberitahukannya?' tanya Griff pada Wvyern melalui transmisi suara.
Wyvern mengangguk dan menjawab, 'Tak ada gunanya menyembunyikan fakta dari Nona.' Griff mengangguk setuju, matanya melirik Xora yang tengah terdiam di antara mereka meminta penjelasan.
Griff langsung menjelaskan dari a sampai z lengkap tanpa kebohongan atau tambahan. Ekspresi Xora ketika mendengarnya terkejut, terharu, kesal, benci dan penuh kehangatan saat mengetahui ada yang menyayanginya.
"Aku harus keluar," gumam Xora yang mampu di dengar Wyvern dan griff. Keduanya saling melirik kemudian berkata, "Tidak! Anda harus menyelesaikan bagian dari 'Pernafasan Mana' sebelum anda keluar!"
Kata tegas tak terbantahkan membuat Xora yang menunduk seraya menahan air mata, kini mendongkak memandang kedua figur penting dalam hidupnya. Sebenarnya ada tiga, cuman yang tadi di jelaskan. Yang satu lagi keluar menjaga keluarganya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Xora mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri dan meluapkan semua emosinya. Suasana yang tadinya sendu berubah drastis penuh ekspresi serius.
"Tunjukkan semua bentuk kekuatan anda," tegas Wyvern serius. Jika sudah menyangkut tentang hidup dan mati nonanya, tentu saja dia harus serius.
Griff langsung maju, "Caranya adalah menutup mata anda dan tarik nafas lalu hembuskan, sebagai mana anda bernafas seperti biasa, namun dengan durasi tarikan dan hembusan yang lebih panjang," jelas Griff yang langsung mendapat anggukan paham dari Xora.
Xora menutup matanya, menarik nafas dan menghembuskannya secara berulang dengan durasi yang lebih lama. Wyvern dan Griff saling melirik ketika melihat raut wajah nonanya. Senyum kecil tak lupa untuk terbit dari bibir masing-masing.
__ADS_1
Dushhh!
Tubuh Xora langsung dipenuhi energi-energi sihir yang sering disebut energi mana. "Lumayan untuk manusia," puji Wyvern bergumam. Balutan energi di tubuh Xora terasa lebih kuat dari manusia biasanya. Bahkan bisa dikatakan jauh.
'Bentuk energi Nona sama seperti yang kemarin bangkit,' pikir mereka melihat perpisahan energi dari tubuh Xora dan membuat berbagai bentuk energi. Mulai dari gas, cair hingga uap. "Nona hanya perlu meningkatkannya agar bisa menggunakannya sesuka hati," gumam Griff yang disetujui Wyvern.
"No ...."
BOOMMM!
Suara ledakan langsung tercipta dari tubuh Xora, menyela seruan Wyvern yang terbelalak. "No...na!" seru Griff terpental bersama Wyvern ke jarak yang cukup jauh dan berbeda. 'Keadaan Nona!' batin Wyvern dan Griff.
Brashhhh!
Tubuh mereka langsung menghantam air dan berguling berapa kali, namun, dengan cepat dan khawatir, mereka langsung melesat tak memperdulikan rasa sakit yang berada di tubuh mereka.
"Sekarang, aku harus apa?" tanya Xora membuka matanya dan memandang mereka berdua secara bergantian. Wyvern berlutut, begitu juga dengan Griff di sampingnya. "Sekarang, anda perlu membuat penyimpanan tempat untuk menyimpan Energi Mana!" jawab Wyvern tanpa mendongkak sama sekali.
Xora mengangguk mendengar jawaban Wyvern, tapi alisnya merajut bingung seraya menatap mereka. "Kenapa berlutut? Bangun, aku bukan seorang penguasa hingga perlu kalian hormati," sindir Xora tak suka.
"Tapi, anda adalah ..." Griff tak sanggup mengutarakan pendapatnya, terlalu hina untuk dia sebut gelarnya. Xora tambah penasaran dibuatnya. "Ka..kami tidak bisa menjelaskannya Nona, tapi, mohon gunakan cadar jika anda ingin keluar," mohon Wyvern.
"Apa maksud kalian?" tanya Xora mendekat. Tapi, ketika semakin dekat, tubuh Griff dan Wyvern gemetar membuatnya menghentikan langkah. "Ada apa?" tanya Xora dengan suaranya. Tetes demi tetes jatuh menitik ke lantai air alam bawah sadar.
Wyvern langsung mengulurkan tangannya, sebuah api muncul membara, tapi bukan menghanguskan, melainkan memunculkan buku. "Nona, sa..saya sudah menyalin ingatan saya, Griff dan Ren ke dalam buku ini. Maaf, kami tidak bisa menjelaskan lebih lanjut!" Jelas Wyvern terbata-bata. Dirinya bangkit dari posisi berlutut dan melangkah ke belakang, lalu mengubah wujudnya menjadi naga.
"Saya akan menjaga alam bawah sadar anda, tapi saya tidak bisa memunculkan diri saya. Maaf, saya mohon pamit." Xora menatap tak percaya, tangan kanannya terulur ingin menggapai. Mengetahui Wyvern sudah pergi, Ren juga melakukan hal yang sama.
"Nona, saya akan menjaga anda dari jauh." Mata Xora mennggenang, pandangannya mulai kabur dipenuhi tumpukan air mata. "Ja..jangan pergi!" teriak Xora, Wyvern dan Griff melirik sedih pada Xora, tapi mereka tak menghentikan kepakan sayap dan terus menambah kecepatan hingga menghilang dari pandangan Xora.
__ADS_1
'Kami harus menguatkan diri!' pikir mereka berdua sebelum menghilang.
"Griff! Wyvern!" teriak Xora, namun tidak didengarkan. Xora memegang kepalanya dan mengacak rambutnya frustasi. 'Apa yang salah dariku? Kenapa mereka pergi dari sisiku?' batin Xora menatap kosong.
Kemudian, pandangannya beralih menatap buku yang tergeletak di atas air, namun tak basah. Bersicepat, Xora langsung mengambilnya. Keningnya mengernyit melihat sampul buku yang berjudul, "The Memories."
Xora lantas menatap arah kepergian dua figur penting dalam hidupnya. "Apa ini Wyvern," lirih Xora menatap sendu. Bergegas Xora membukanya, tapi yang terlihat bukanlah tulisan melainkan gambaran berbentuk rekaman.
Fokus Xora terpaku pada satu titik, video yang direkam dari penglihatan Wyvern. Semuanya terlihat dari pandangan Wyvern, mulai dari kecil hingga besar beserta segala tragedi diperlihatkan jelas tanpa ada gambar buram, kualitasnya bahkan lebih tinggi dari yang HD.
Satu demi satu, lembaran buku terus bergerak secara otomatis, hingga halaman buku yang tebal itu kembali habis.
Brakk!
Tubuh Xora tergusur kebawah. "Hiks." Suara tangis terisak-isak diperdengarkan dari balik helaian rambut putih peraknya. Air mata menitik setetes demi setetes, menyapa setiap lekuk pipi Xora. "A..aku akan menunggu, aku yakin!" gumam Xora menguatkan dirinya.
Kini Xora hanya berdiri sendiri, namun selalu diawasi dari jarak jauh. "Kuharap kalian segera kembali," lirih Xora mengusap air mata yang tersisa. 'Aku kembali dilukai, ditinggalkan namun diawasi. Miris,' pikir Xora.
Memperbaiki rambutnya dan menyugar rambutnya dengan tangan, menyisakan dua poni rambut di pipinya. Bagian belakang rambutnya dibiarkan terurai, menatap langit. "Jika memang aku harus membenci, maka aku akan membenci kalian," gumam Xora menatap kosong.
Tubuhnya mengambil posisi bersila, melakukan pernafasan durasi panjang atau disebut 'Pernapasan Mana' secara berulang-ulang. Dirinya kembali dibaluti energi Mana, namun kali ini terasa jauh lebih tebal dan kuat.
Entah berapa hari berlalu, Xora tak henti-hentinya melakukan pernapasan mana sambil terus melakukan teknik untuk menciptakan penampungan energi di alam bawah sadar. Sedikit, dan pelan, sebuah daratan tercipta, danau terbentang luas di daratan alam bawah sadar.
Griff dan Wyvern yang mengawasi dari jarak jauh terkejut. Namun tak diurungkan, jika senyum bahagia terbit dari bibir mereka.
_____
Jangan lupa tinggalkanjejak dan tambahkan ke dalam fvorit kalian yaaa!
__ADS_1