Hunter Of Nusantara

Hunter Of Nusantara
Reina


__ADS_3

Dua panel notifikasi itu muncul di hadapan Xora, bertepatan ketika Flyor membelah tubuh monster  yang tersisa di sekitar mereka. "Harus sampai seratus persen?" tanya Xora dengan nada yang sangat pelan.


[Notifikasi! Benar!]


Membaca notifikasi yang muncul di hadapannya, Xora membeku di tempat. 'Tadi ada banyak Monster yang dibunuh oleh Flyor, tapi, itu hanya sepuluh persennya saja?' batin Xora tak percaya.


'Memangnya, ada sebanyak apa Monster-monster di Dungeon ini?' sambung Xora bertanya-tanya. Dia mendongkakkan kepala menghadap langit yang berwarna biru cerah.


"Miss U?" melihat Xora hanya berdiam di tempat sambil mendongkak menatap langit, tentu saja Flyor penasaran. Flyor memanggil nama samaran milik Xora, membuat Xora menoleh. "Apa yang kaupikirkan?" tanya Flyor yang dipenuhi rasa penasaran.


Tersadar dari lamunannya, Xora segera berdiri dari posisi duduk. "Ah, tidak. Saya tiba-tiba berpikir, berapa banyak waktu yang akan diperlukan jika ingin memusnahkan semua Monster di sini," jawab Xora tersenyum.


Mulai dari ujung rambut, hingga ujung kaki Xora. Semuanya dipenuhi oleh cipratan darah dari monster yang dia dan Flyor bunuh. Berbeda dengan Flyor yang sangat amat bersih. Tak ada noda darah yang menempel di salah satu tubuhnya, atau pakaiannya.


Bergantian dengan Xora, kini Flyor yang membeku di tempat. Kepala Flyor tertunduk dengan tangan mengepal kuat. 'Aku telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memusnahkan monster itu, sejak dunia mulai berubah menjadi aneh dan dipenuhi oleh monster,' batin Flyor.


Kalimat Xora tadi, berhasil memancing semua emosi dan ingatan yang Flyor pendam. Sebelum dunia tempat Flyor berada, dipenuhi oleh monster-monster. Rasa rindu, benci, sedih, bahagia dan lainnya. Semua itu tumpah menjadi tetesan air mata yang lolos menyusuri pipi Flyor.


Melihat air mata jatuh menetes satu per satu. Xora membelalakkan kedua matanya. "Apa yang terjadi? Apakah ada kata saya yang tak sengaja menyinggung Anda? Mohon maafkan saya!" tanya Xora beruntun, tanpa ada koma maupun titik dalam kata-katanya.


Xora mendekat dan menepuk bahu Flyor. Kenangan-kenangan yang sedang terputar jelas dalam benak Flyor pun menghilang, membuat pria dengan surai putih itu tersadar.


'Aku ... menangis?' batinnya bertanya-tanya sambil mengusap pipi yang basah.


Flyor menatap tepat ke manik mata Xora. "Ah, tidak apa-apa. Aku hanya teringat masa lalu saja. Jangan khawatir," jawab Flyor yang melangkah mundur dan memalingkan wajahnya.


"Lebih baik, kita kembali melanjutkan langkah menuju tempat Monster Burung itu berada," sambung Flyor yang berjalan lebih dahulu. Xora terdiam, dia menatap punggung Flyor yang semakin menjauh.


Terasa sangat jelas sekali, bahwa Flyor seperti menyembunyikan sesuatu dan menghindari dia. 'Apa yang dia sembunyikan? Kenapa dia menghindar?' batin Xora yang merasa kebingungan. Dia menggelengkan kepala dan segera mengejar Flyor.


Sama seperti yang sebelumnya, di sepanjang perjalanan menuju sarang Poison Tongue Bird. Ada banyak monster bermunculan, di sana dan di sini. Membuat Flyor dan Xora kembali bertarung untuk memusnahkan mereka. Tak ada ekspresi lelah pada wajah Flyor.


Berbanding terbalik 180 derajat dengan Xora. Wajah gadis itu terlihat pucat, karena darah yang terus-menerus dia gunakan. Setiap pertarungan membuat Xora menggores luka pada dirinya sendiri, agar bisa membuat senjata untuk bertarung membantu Flyor.


Greekhh! Teriak monster yang dibelah oleh Flyor. 'Itu adalah monster terakhir yang tersisa di sini,' batin Flyor melirik ke arah Xora yang membelah setiap tubuh monster, mengambil sesuatu berbentuk bulat. Flyor mengerutkan keningnya melihat itu.


Di pertarungan sebelumnya, Xora juga membelah tubuh monster dan mengambil bola-bola itu. Setelah Xora genggam, bola-bola itu menghilang entah ke mana. Flyor yang sama sekali tidak tahu tentang Hunter ataupun sistem, hanya beranggapan, bahwa Xora adalah seorang penyihir.

__ADS_1


Itulah alasan yang masuk akal bagi Flyor. Keyakinan Flyor, bahwa Xora adalah seorang penyihir semakin kuat. Sebab Xora bisa membuat senjata menggunakan darah.


"Selain itu, aku penasaran. Bagaimana wajahnya di balik topeng, dan kenapa dia mengenakan topeng? Apakah wajahnya terlalu cantik, atau justru terlalu jelek?" lirih Flyor yang sangat amat penasaran. Tetapi dia tak berani untuk meminta Xora membukanya. Flyor pun hanya mengamati setiap gerak-gerik Xora.


Saat mengamati Xora, Flyor terfokus pada bagian bibirnya yang berwarna merah muda, dan dagunya yang putih mulus. Meski ada cipratan darah para monster yang dibunuh di sana.


"Tidak mungkin Miss U jelek. Bibirnya merah dengan dagu yang mulus, dia pasti cantik," sambung Flyor menduga-duga.


Di sisi Xora, Xora menukar semua core monster yang dia dapat menjadi poin distribusi. Total poin distribusi yang dimiliki Xora adalah 23. Total itu masih digabung dengan poin yang kemarin Xora sisakan.


"Tampilkan biodata," ucap Xora.


[Notifikasi! Menampilkan biodata ....]


Nama : [Ixora Asteria Putri Naravinata]


Usia   : [18 tahun]


Job : Vampire


Skill   : [Duplication LV.1 (Aktif)] [Vampire Mode LV.1(Aktif)] [Shape Changer LV.1 (Pasif)] [Blood Control LV.1 (Pasif)] [Vampire Eye's LV.1 (Pasif)] [Fire Resistance LV.1 (pasif)]


Penyimpanan : [Whip of War and Beauty x1(Rare)] [Face Creamx1 (Epic)] [Core of Poison Tongue Bird x1 (Legendary)]


Blood : [4+]


STR   : [4+]


AGI   : [2+]


VIT    : [6+]


INT : [2+]


LUCK : [3+]


Charm : [7+]

__ADS_1


Beauty : [7+]


Distribution Poin : [23]


"Digunakan untuk bagian mana saja ya?" tanya Xora, menatap panel di hadapannya dengan serius.


[Notifikasi! Anda mendistribusikan empat poin untuk Beauty!]


[Notifikasi! Anda mendistribusikan dua poin untuk Charm!]


[Notifikasi! Anda mendistribusikan tiga poin untuk Blood!]


[Notifikasi! Anda mendistribusikan tiga poin untuk LUCK!]


[Notifikasi! Anda mendistribusikan enam poin untuk Strength!]


[Notifikasi! Anda mendistribusikan tiga poin untuk Vitality!]


[Notifikasi! Anda mendistribusikan dua poin untuk Agility!]


Xora terus menggunakan poin distribusinya, untuk meng-upgrade status yang dia inginkan. Selesai menghabiskan semua poin distribusinya, Xora merasakan perubahan yang cukup jelas pada tubuhnya. Dia tersenyum.


'Aku penasaran, bagaimana wajahku sekarang. Apakah masih sama atau sudah berbeda?' batin Xora yang penasaran. Tetapi Xora belum bisa, dan masih belum mau untuk melepas topengnya.


Xora merasa takut, bila nanti topengnya dilepas dan wajahnya tak ada perubahan. Kemudian itu dilihat oleh Flyor. Mungkin, perlakuan Flyor akan berbeda dan tak lagi sama seperti ini.


Xora bangkit dari duduknya. Dia menengok ke arah kiri dan tersentak. "Sejak kapan Anda diam di sana dan menatap saya?" tanya Xora sambil mengelus dada.


"Ah, tidak apa-apa. Saya baru saja selesai membunuh monster di sana," jawab Flyor berbohong. Jari Flyor menunjuk pada monster yang dia bunuh tadi. Xora pun mengikuti arah jari Flyor menunjuk. Xora langsung bangkit dan mendekat, lalu mengambil core monster itu.


Kali ini, Xora tidak menjualnya karena hanya ada satu. Jadi, Xora menyimpannya di 'inventory' atau 'penyimpanan' sistem. Untuk ke sekian kalinya, Flyor masih merasa kagum saat melihat bola-bola yang diambil dari monster itu, menghilang tanpa ada jejak saat Xora menyentuhnya.


Tak ada lagi monster di sekitar mereka, Flyor dan Xora kembali berjalan menuju sarang Poison Tongue Bird. Makhluk yang selalu Flyor bunuh setiap harinya. Sayang beribu sayang, tak ada satu pun kemajuan dalam rencana Flyor, dalam memusnahkan monster yang ada di tempat ini.


Usai perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Xora dan Flyor sampai di sarang Poison Tongue Bird. Sarang Poison Tongue Bird bukan berada di atas pohon, melainkan di dalam goa yang cukup besar.


"Kita baru di pintu goa, tetapi sudah ada banyak sekali Poison Tongue Bird-nya," ucap Xora.

__ADS_1


______


Revisi :)


__ADS_2