Hunter Of Nusantara

Hunter Of Nusantara
Gempar


__ADS_3

"Huffff haaahhhh," suara napas terdengar semakin panjang setiap kali dirinya bernafas.


 


 


BOOOMMM!


 


 


Energi mana di tubuhnya kembali meledak, matanya terbuka secara perlahan, memperlihatkan manik mata biru toska memandang kosong di depannya. "Waktunya keluar," gumamnya datar tanpa ada emosi sedikitpun.


 


 


Di dunia nyata....


 


 


Mata seorang gadis berkulit agak kusam mengerjap halus. "Ternyata berhasil," gumamnya menatap warna kulitnya yang bisa diubah-ubah menjadi warna putih ke gelap. "Aku tak perlu kasih sayang mereka, ini waktunya sadar dari mimpi halu belaka," monolognya bangkit dari kasur dan melangkah menuju cermin.


 


 


Tangan kanannya merentang ke samping. Secercah cahaya muncul dan perlahan membesar hingga membentuk sebuah baju. Xora menutup matanya, dan secara mengejutkan, baju itu langsung terpasang pada dirinya.


 


 


"Ding ... Sistem aktif!" Xora menatap layar panel yang muncul di depannya.


 


 


"Host?!" Seru sistem terkejut melihat perubahan emosi pada Xora yang bahkan tak mencapai sebuah keinginan untuk hidup. "Apa yang terjadi?!" sentak sistem, namun terus diabaikan.


 


 


Xora menggulir panel sistem, mencari kotak segel ular yang tersimpan dalam bentuk item di penyimpanan sistem. Tangannya terulur menggapai item yang muncul di depannya.


 


 


BOOMM!


 


 


Ledakan kecil terdengar menggema di mansion yang sepi. Wujud seekor ular raksasa langsung muncul di depan Xora yang datar. "Salam kepada Majikan!" sapanya menunduk.  Xora tak menjawab, tapi sebagai gantinya, dia mengangguk.


 


 


"Kontrak di antara kita sudah terpasang," jelas Xora membuat ular itu terdiam. "Saya akan terus mematuhi anda ..." Tapi Xora menghentikan ucapannya.


 


 


"Tak perlu, kau bebas. Tapi akan muncul jika aku panggil," sela Xora datar. Sistem terdiam, apa yang terjadi di alam bawah sadar hostnya, hingga tak menampilkan keinginan untuk hidup.


 


 


Mata yang tadinya menatap biasa langsung berbinar kagum melirik Xora. "Ma..majikan?! Apa itu benar? Bolehkah?" tanya si ular. Xora mengangguk. Dirinya berbalik arah, melangkah ke pintu. "Namamu Elfont," jelas Xora singkat lalu pergi setelah membuka pintu.

__ADS_1


 


 


"Ding! Misi Host selesai!"


 


 


Elfont mengangguk, kemudian mengecilkan tubuhnya dan pergi ke sebuah tempat.


 


 


Tap tap tap!


 


 


"Di mana kak Reina?" tanya Xora tanpa melirik panel sistem sedikitpun. Kakinya terus melangkah, di kamarnya tak ada siapa-siapa, bahkan Ren yang bertugas menjaganya. 'Begitu bodohnya aku, tak mengetahui kasih sayang seorang,' batin Xora tersenyum kecut.


 


 


Tangannya mengepal, sorot mata bulatnya menjadi tajam, namun penuh kejujuran. "Dia sudah berada di bandara Host," jawab sistem memberikan peta lokasi Reina berada. Xora hanya mengangguk dan mempercepat langkahnya.


 


 


'Apa yang Host lalui di dalam sana? Emosinya tidak seperti sebelumnya,' batin sistem melihat grafik emosi Xora di layarnya. 'Ini sangat buruk! Keinginan untuk hidupnya tak terlalu kuat, harus mencari cara!' pikir sistem.


 


 


Jika memiliki tubuh, mungkin matanya akan terlihat serius dengan tangan mengepal memperlihatkan kemarahan. "Aku akan terbang ke sana," ungkap Xora menatap langit di halaman belakang mansion saat ini.


 


 


 


 


Tapi sayang, apapun yang sistem katakan, semua dianggap angin lalu bagi Xora. Mata biru toska bersiluet pedang itu langsung memandang panel sistem dengan sendu. "Apa kau juga akan meninggalkanku bila misi sudah selesai?" tanya Xora menunduk.


 


 


Sistem tak mampu mengeluarkan suara, pernyataan Xora benar. Dirinya akan langsung menghilang begitu Xora menyelesaikan misi. Ya, eksistensinya hanya untuk misi, tak ada untuk yang lain. "Maaf Host," lirih sistem menjawab.


 


 


"Heh, pada akhirnya, semua meninggalkanku," lirih Xora mendongkak menatap langit biru dan cuaca cerah. Netra biru toskanya menjadi sorotan cahaya matahari dan bersinar dengan indah layaknya permata. Energi berwarna merah muda mulai menyelimuti tubuhnya.


 


 


"Host!" bentak sistem tak setuju dengan pemikiran Xora, walau itu semua benar. "Di setiap pertemuan ada perpisahan, itu sudah jadi pengetahuan umum. Buat perpisahan itu menjadi perpisahan paling berkenan untuk diingat. Bukan paling berkenan untuk dijadikan halangan," terang sistem.


 


 


"Tapi tetap saja akan berpisah. dan ujung-ujungnya akan kehilangan bukan?" balas Xora berkaca-kaca. Energi berwarna merah muda itu berpusat pada punggung Xora, membentuk sebuah sayap yang sedang melipat.


 


 

__ADS_1


Wushhhh!


 


 


Hembusan angin langsung terasa begitu kencang ketika energi bercampur cahaya merah muda itu menghilang, kabut putih menutupi tubuh Xora. "Ho..host!" sistem tak mampu berkata apa-apa lagi pada host di depannya saat ini.


 


 


"Kau tau Sistem, aku tak akan pernah membuat seseorang berkorban untukku, apapun alasannya. Karena aku ada untuk berkorban demi orang lain," jelas Xora tersenyum mendongkak secara perlahan dan mengibarkan sayapnya.


 


 


'Apa ini akan ada badai?' batin orang-orang melihat langit yang langsung mendung, padahal tadi cuacanya sangat cerah. "Kini ganti posisi, bertugas melindungi dari bayangan." Dalam sekali kepakan, gelombang angin terasa begitu kuat, menghentak tubuh Xora yang terhimpit diantara sepasang sayap untuk terbang.


 


 


Untuk kedua kalinya, sistem tak bisa berkata-kata dan hanya memandang dengan kagum melihat host terbang membelah awan, melesat begitu cepat ke arah bandara. "Ke..kecepatan apa ini?" ungkap seorang pilot jet tempur melihat benda melesat dengan cepat dan akan melewati mereka.


 


 


"Melapor ke markas, sebuah benda dengan kecepatan tinggi melesat menuju bandara publik, diperkirakan, dalam hitungan menit, benda itu akan melewati kami!" lapornya pada markas tempur.


 


 


"Bwahahaha, jangan bercanda Joe!" ucap petinggi menyebut nama si pilot jet, mengira bawahannya itu bercanda. Namun, kemudian suasana langsung menjadi serius. "Saya tak bercanda, kami akan merekamnya!" balas Joe si pilot.


 


 


"Host, beberapa jet tempur berada di depan anda. Kemungkinan besar, gambaran tentang foto anda akan terlihat di kamera mereka!" ungkap sistem memberitahu dan menampilkan keadaan di depan sana. Xora hanya melirik panel tersebut.


 


 


Sudut bibir kanan Xora mengembang ke atas. "Mereka tak akan bisa merekamku," balas Xora percaya diri. Energi merah muda dalam bentuk butiran debu menyebar ke segala arah di sekitar Xora. Para awan mendung berkumpul membuat lorong panjang menuju bandara.


 


 


"Rekam! Rekam! Ada fenomena aneh!" teriak seorang youtuber pada temannya melihat awan menggulung membentuk lorong. "Host, sepertinya anda membuat dunia gempar," puji sistem, Xora hanya membalas dengan lirikan senyum dan mempercepat sayapnya.


 


 


Di bandara....


 


 


"Ayah, sepertinya akan ada badai!" Alsan menatap wajah putra sulungnya yang terlihat khawatir. Tapi kemudian, netranya melirik Reina dan Zaim yang sudah siap untuk bertaruh antara mati atau hidup di arena pertama. Hutan Amazon.


 


 


"Apa kalian tetap akan bertanding?" tanya Alsan mendapatkan perhatian dari kedua putrinya. Mereka berdua mengangguk secara serentak dengan keyakinan di sorot manik mata masing-masing.


 


 


_______

__ADS_1


Jangan Lupa tinggalkan jejak!


__ADS_2