Hunter Of Nusantara

Hunter Of Nusantara
Sakit


__ADS_3

Wushhh!


 


 


Dengan cepat, Xora melewati jet tempur dan segera sampai di bandara. Mengabaikan berita tentang fenomena alam yang dibuatnya. "Hentikan!" teriak Xora setelah menyembunyikan kekuatannya. Semua yang ada di sana terkejut.


 


 


"Xo..ra?" panggil Reina tak percaya, matanya terbelalak dengan tubuh bergetar menahan tangis. Ketika akan mendekat, Zaim langsung mencengkram bahunya. "Pesawatnya sudah datang," bisiknya mengintimidasi.


 


 


Gerakan Reina seketika terhenti, kepalanya mengangguk kecil melirik Xora sendu. 'Aku akan selamat untuk adikku tersayang, Xora,' batin Reina mengikuti langkah Zaim. "Untuk apa kamu di sini?" tanya Alsan memicingkan netranya.


 


 


"Apa saya harus mengatakan semuanya pada Anda? Saya pikir, itu tak diperlukan," sindir Xora membuat ayahnya mengepalkan tangan kesal. "Sudah berani ternyata, ckckckck," hina Calisto, putra sulung keluarga Naravinata.


 


 


Xora tak menanggapi sedikitpun perkataannya. Netra biru toska miliknya tertuju pada langkah Reina yang semakin menjauh setiap detiknya. "Aku tak mengizinkanmu pergi Kak!" sentak Xora membuat langkah Zaim dan Reina terhenti.


 


 


"Aku bukan Kakakmu!" bantah Zaim berbalik sambil tersenyum remeh. "Puffttt, apa saya menanyakannya? Oh tentu tidak, saya hanya memanggil Kakak saya, Retaitana Calibrian Naravinata, satu-satunya saudara yang saya akui," balas Xora melunturkan senyum di wajah Zaim.


 


 


"Xora! Beraninya ka ..."


 


 


"Apa? Bukankah itu memang kenyataan?" sela Xora mendekat dan meraih tangan Reina, tapi sebelum itu, Devano, putra kedua di keluarga Naravinata langsung menghadang. "Jangan mengganggu!" peringatnya menatap tajam.


 


 


Kelopak mata Xora mengerjab naik turun, kepalanya miring seraya menyipitkan matanya dan berkata, "bukankah kata itu seharusnya ditujukan untuk anda Tuan Muda Deviliano Roberto Naravinata?" sindir Xora.


 


 


Plak!


 


 


Sebuah tamparan melayang di pipi Xora. "Kak Vanoo!" bentak Reina tak terima ketika Xora ditampar, lebam merah timbul secara perlahan, sudut bibir Xora Xora juga sobek. Sorot mata Xora menjadi semakin dingin.


 


 


"Apa?! Lagian itu juga salahnya!" elak Devano, wajahnya dibuang ke samping dengan tangan melipat sombong di depan dada. "Sudahlah, apa yang dikatakan Devano benar. Semua itu juga salah Xora sendiri mancing emosi Devano, jangan bertengkar!" terang Zulfan, urutan ke-tiga di keluarga Naravinata.


 


 


"Terserah, saya tak ingin bertele-tele, jadi, langsung saja ke inti. Batalkan Death Match ini!" terang Xora to the point, matanya menelisik setiap ekspresi yang tertampil di mimik wajah mereka. "Tak bisa! Kau pikir semudah itu membatalkannya?" jawab Zulfan mencemooh.


 


 


"Nona!" teriak Ren yang datang entah dari mana. Mata Xora melirik ke arah Ren. "Iya Ren," balas Xora dengan senyum mekar layaknya bunga. Begitu menenangkan jika dilihat, tapi tak dielakkan bila Ren juga merasakan sifat Xora yang berubah drastis.


 


 


'Apa yang terjadi?' pikirnya ikut bertanya-tanya. "Siapa yang kau panggil? Tidak ada orang lain di sini selain keluarga kita? Apa kau sudah gila?" hina Calisto tersenyum remeh. Kepala Xora kembali menoleh ke putra sulung keluarga Naravinata ini.

__ADS_1


 


 


"Keluarga? Sejak kapan kalian menjadi keluarga saya? Apakah saya ada mengakuinya Tuan muda Calisto?" sindir Xora menancapkan anak panah transparan pada hati mereka. Sakit, namun ditepis. "Satu-satunya keluarga yang saya miliki hanyalah Kak Reina," imbuh Xora mendapat senyum dari empunya nama.


 


 


"Ah, sudah. Jangan berputar-putar, batalkan Death Match ini, jika tidak bisa. Biarkan saya menggantikannya," ucap Xora to the point. Tak perlu membuang waktu dengan omongan berputar-putar. "Bukankah bagus jika saya mati?" sambung Xora mendapat lirikan dari berbagai makhluk sedarahnya.


 


 


'Apa yang dikatakannya benar, ada bagusnya juga dia mati,' pikir Alsan mengulum senyum, walau di hatinya ada perasaan aneh. "Ekhem, kami akan mendiskusikannya, bisakah kau menjauh," balas Alsan yang mendapat tatapan tak percaya.


 


 


"Kenapa begitu kejam! Dia juga anakmu! Adikku!" teriak Reina tak percaya. Bulir bening mengalir dari sudut pipinya. "Dia bahkan rela disakiti hanya demi mendapatkan kasih sayang kalian, kejam, kalian tak pantas untuk hidup," lirih Reina menunduk.


 


 


"Kak," panggil Xora terharu, tubuhnya mendekat, kini tak ada yang menghalangi. "Ayo kita berbicara sebentar, biarkan mereka berdiskusi," sambung Xora lembut menangkup kedua pipi sang kakak di tangannya. Reina mengangguk.


 


 


Mereka berdua mulai berjalan menjauh dari zona keluarga yang bahkan tak pantas disebut manusia. "Dia sudah mulai membantah, jadi bagaimana Ayah? Apa Ayah setuju?" tanya Devano melirik Reina, lalu kembali menatap ayahnya.


 


 


"Yang dia katakan juga ada benarnya, lebih baik jika dia mati, bukankah itu akan menghemat persediaan makanan di rumah?" tanya Zaim mendekat, mereka berkumpul membentuk lingkaran satu sama lain. Dagu Alsan terjepit oleh kedua jarinya ketika mendengar apa yang putrinya ucapkan.


 


 


Berkata seperti itu seolah rumah mereka adalah tempat miskin yang tak bisa menampung lebih banyak orang. "Aku setuju dengan Adik, Ayah. Tapi, lebih bagus lagi jika kita juga ikut membuang Reina. Dia sudah mulai membantah," jelas Zulfan, putra nomor urut ke-tiga dalam keluarga Naravinata.


 


 


 


 


"Tapi Ibu ...."


 


 


"Tak ada tapi-tapian Dev," sela sang ibu pada Devano. Seketika, Devano terdiam tak bergeming. Helaan nafas terdengar, walau pelan, namun panjang. 'Liat saja, aku akan membunuhmu Reina!' batin Devano mengepalkan tangannya.


 


 


Ada sebuah dendam yang tak diketahui saudara mereka yang lain di antara keduanya. Kisah pendek yang hancur menghancurkan persaudaraan Devano dan Reina. "Jadi, kita memutuskan untuk membuang si Buruk Rupa dan mempertahankan Reina, bukankah begitu Istriku?" jelas Alsan berdehem membuyarkan suasana yang tak mengenakkan ini.


 


 


"Baik Ayah," balas semuanya mengangguk. Walau seorang tak setuju. "Devano, panggil mereka," titah sang ayah. Devano merespon anggukan kecil dan segera menjauh mencari kedua saudarinya.


 


 


"Terima kasih sudah menyayangiku Kak." Suara lembut nan mempesona terdengar mengharuskan Devano bersembunyi di balik dinding. Sedikit mengintip, rona merah merangkak naik tatkala memandang wajah cantik Xora.


 


 


"Xora?" gumamnya tak percaya, kulitnya yang tadi agak kusam, kini berwarna putih susu bersih membuat siapapun betah setiap melihatnya. "Bagaimana bisa," lirihnya menutup mulut. Ketika membayangkan wajah Xora, sesuatu mengeras di bawah sana.


 


 

__ADS_1


'****! Ga mungkin suka ama Adik sendiri!' batinnya tak menyadari pengakuannya. Pas ngintip lagi, Xora sudah tidak di tempat. "Lah? Kemana?" gumamnya pelan meneliti setiap sudut. Keluar dari persembunyiannya, seseorang menepuk bahu dari belakang.


 


 


"Fu*k, siapa itu!" jerit Devano terkejut dan beringsut mundur. Pas melihat si pelaku, yang tak lain adalah Xora. Matanya kembali memicing tak percaya. "Warna kulitnya kembali kusam?" lirih Devano tak percaya.


 


 


'Apa tadi itu cuman ilusi? Tapi keliatan nyata,' batin Devano menolak untuk percaya apa yang dia liat itu benar-benar nyata. Begitu mendengarnya, kening Xora mengkerut. 'Apa tadi dia ngintip?' batin Xora memicingkan netranya.


 


 


Kemudian Devano tersadar dan menatap Xora dengan lekat. "A..ah, ayo kembali. Tadi dipanggil," jelas Devano membuat kedua gadis di depannya mengangguk. Reina menatap Xora. "Ayo kembali, udah dipanggil tuh," ajak Reina menarik tangan sang adik.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2