
Dua puluh tahun yang lalu, Dana beserta keluarga kecil Tomy terpaksa meninggalkan negara kelahiran mereka dan juga keluarga mereka. Hanya demi melindungi Dana, Tomy rela meninggalkan semuanya dan berada di negeri orang. Meski ia sudah terbiasa jauh dari keluarga, tetap saja ada hal yang tak pernah bisa ia tinggalkan begitu saja.
Setiap tahunnya keluarganya selalu berkunjung untuk menemui anak-anak mereka. Davino tak pernah melewatkan setahun pun tanpa melihat putranya. Putra yang begitu ia banggakan karena hanya Dana harta yang paling berharga dari Dina istrinya.
Davino jelas tak rela anaknya pergi dari dirinya begitu saja dan tinggal bersama dengan orang lain, meski orang itu Tomy sekalipun. Tapi ia sadar, ini demi kebaikan putranya, ini demi keselamatan putranya. Dan mau tidak mau, rela tidak rela ia harus ikhlas melepaskan Dana bersama Tomy.
Tujuh tahun yang lalu Dana memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Amerika. Tempat dimana Dina dulu juga pernah tinggal dan menimba ilmu. Mewujudkan impian dari ibunya itu sudah menjadi tekat Dana. Dana bangga karena dirinya bisa masuk dan mewujudkan impian Umminya.
Dana dia yakin, Umminya pasti bangga padanya.
Sudah dua bulan ini dirinya kembali tinggal bersama dengan Tomy dan Dania. Hari-harinya yang dulu hampa tanpa teriakan Mommynya, kini dua bulan yang lalu dirinya bisa mendengarkan suara berisik dari Dania.
Teriakannya setiap pagi, siang, sore dan malam, sudah kembali menjadi kebiasaannya. Dia begitu bahagia karena bisa mendengarkan teriakan Mommynya setiap kali memanggil dirinya untuk makan atau sekedar berkumpul.
Inilah Dania, orang yang begitu ia cintai setelah ummi dan juga bundanya. Bagi Dana, tak ada bedanya antara Dania maupun Dini. Tapi keduanya jelas tak bisa menggeser posisi Dina di hatinya. Bagi Dana, Umminya is number one dan tak ada tandingannya.
Meski tak pernah melihat atau mengenal sosok ibu yang telah melahirkannya. Dana tetap masih bisa melihat wajah cantik umminya lewat bundanya yaitu Dini, melihat keteduhan mata Dina lewat Davina mamanya.
Dana bersyukur karena masih di kelilingi oleh banyak orang baik dan masih banyak orang yang begitu mencintainya. Meski begitu, kadang dirinya jelas sering kali merindukan sosok Dina.
...****************...
" Danaaaaa" teriakan Dania memanggil Dana. Meski masih berada di tangga dan belum sampai kamarnya Dana, Dania sudah berteriak.
" Mommy " teriak Danish putranya.
" Gak pagi, gak siang, gak sore, gak malam kenapa sih mommy sukanya teriak-teriak. Gak capek apa tuh mulut" omel Tomy. Sudah menjadi kebiasaan mereka setiap harinya seperti ini.
Setiap kali Dania teriak memanggil nama anak-anaknya, Danish selalu meneriaki Mommynya balik dan Tomy yang mengomel.
" Lama-lama aku pasang alat peredam suara agar meski teriak sekalipun suaramu tak terdengar." ucap Tomy.
__ADS_1
Dania hanya mengerucutkan bibirnya, hal itu yang selalu dia lakukan setiap kali Tomy memarahinya.
" Ish Daddy jangan galak-galak sama mommy, apa Daddy gak kasian sama mommy." ucap Aluna membela Mommynya.
Drama itu selalu terjadi antara anak dan juga ibu itu, keduanya memang kompak kalau membuat Tomy merasa bersalah. Dan benar saja, detik itu juga Tomy langsung meminta maaf kepada Dania. Dania pun tersenyum manis kearah suaminya itu.
Jangan tanyakan Danish, dia akan mengatai Daddy nya "husband is afraid of wife" Tomy langsung melotot disana. Ia tidak pernah terima anaknya mengatai dirinya kalau dirinya takut pada istrinya.
Tomy bukannya takut pada istri, tapi ia hanya tidak mau Dania terluka. Hanya itu saja, apakah itu salah?
" Danish minta maaf sama Daddy" perintah Mommynya. Dan Danish pun langsung menurut. Inilah kelebihan Dania, dia bisa membuat suami dan anaknya tidak bisa membantahnya
" Ish kamu juga sama aja kan kayak Daddy, takut sama mommy...hahaha" tawa Aluna pecah melihat tatapan tajam Danish kearahnya.
Meskipun lebih tua Aluna, hal itu tak membuat Danish takut begitu saja terhadap Aluna. Hanya pada mommy dan juga kakak Dana nya saja Danish takut.
" Dimana kakakmu Lun? tanya Dania kepada Aluna.
" Di mana lagi kalau bukan si ruang kerjanya " jawab Aluna.
Meskipun Aluna bukan putri kandungnya, baginya Dana, Aluna dan juga Danish mereka tetaplah putra putrinya.
Dania mengetuk pintu ruang kerja anaknya itu, tapi tidak ada jawaban. Hal itu membuatnya kembali kesal, karena pasalnya ia sudah mengetuk pintu itu beberapa kali.
Tomy datang menghampirinya dan langsung menekan tombol di samping pintu. Itu adalah tombol Bel yang sengaja di pasang untuk memanggil orang yang ada di dalam. Karena orang yang berada di dalam itu termasuk orang yang gila kerja.
" Pencet bel Nia, sudah berapa kali aku katakan padamu kalau putramu itu tak akan membukakan pintunya kalau sudah di dalam bersama berkas-berkas kesayangannya itu." ucap Tomy kepada Dania.
" Maaf aku lupa mas...heheheh" Dania selalu saja lupa akan hal itu.
Tak lama setelah itu, Dana membuka pintunya..
__ADS_1
" Sayang ayo makan " ajak Dania pada putranya.
" Kalian turun aja duluan, nanti aku nyusul mau beresin semuanya dulu." jawab Dana.
Dania tidak peduli dan dia langsung ingin menyeret putranya agar mau turun. Tapi tangan Tomy mencegahnya
" Turunlah duluan, biar aku bantu putramu beres-beres agar cepat selesai." perintah Tomy kepada istrinya itu. Dania tidak membantah perintah suaminya. Dan ia pun turun sendiri
" Nyonya kalah nih ye...." ejek putranya.
Tak ingin berdebat yang akan membuat gaduh seisi rumah, Dania lebih memilih untuk diam saja tak menanggapi ucapan anaknya itu.
" Ish kamu itu ya, senang sekali menggoda mommy." Aluna memukul bahu adiknya itu.
" Sakit Luna..." teriak Danish kepada Luna.
" Luna... Luna aku ini kakakmu bukan adikmu jadi sopan lah sedikit kepadaku Danish." ucap Aluna pada adiknya itu.
" Diam " teriak Dania. Dan hal itu berhasil membuat keduanya terdiam.
" Sehari aja bisa gak kalian gak bertengkar, mommy pusing tau gak sih." ucap Dania lagi. Kedua anaknya itu tak ada satupun yang menjawabnya
Jika di ruang makan terjadi adu mulut, lain lagi di ruang kerja Dana.
" Daddy mau bicara sama kau nak, duduklah." perintah Tomy kepada anaknya itu. Dana duduk di samping Tomy
" Daddy memintaku kembali ke sini bukan untuk sibuk dengan perusahaan ataupun rumah sakit Dana. Daddy tau tugas mu menjadi seorang dokter jelas membuat dirimu super sibuk nak. Tapi ingat kau juga harus jaga kondisi mu. Apa kau tidak kasian pada mommy mu yang selalu mengkhawatirkan kesehatan mu nak." Tomy melirik putranya yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya.
" Maafin Dana Daddy..." sesal Dana.
Bukan dirinya tak pernah tau kecemasan yang selama ini di rasakan oleh orang tuanya. Tapi dirinya melakukan ini semua juga demi mewujudkan keinginan umminya. Hanya itu saja tidak lebih.
__ADS_1
" Jangan terus-terusan kau seperti ini nak, hanya itu yang Daddy mau darimu. Dan sekarang ayo turun." Tomy merangkul anaknya.
Ia tau Dana punya alasan untuk setiap tindakan yang ia lakukan. Meski anaknya itu tak mengatakan masalahnya, tapi Tomy dapat merasakan kegelisahan anaknya itu. Dana sangat mirip dengan Dina, jadi mudah baginya mengetahui semua yang di sembunyikan oleh Dana.