
Bukan tanpa alasan Andre meminta Dana dan juga Dani untuk mengikuti dirinya ke ruangannya. Disana sudah ada Tomy, Fatur dan juga satu orang yang di yakini adalah dokter. Dan benar saja, dia merupakan dokter yang selama ini menangani Davino. Dani sudah sangat akrab dengan dokter itu, berbeda jauh dengan Dana. Karena ini pertama kalinya bertemu dengan dokter yang selama ini menangani abhinya.
Andre meminta agar Dana dan Dani duduk mendengarkan penjelasan dari dokter Aditya. Dokter spesialis otak yang selama ini menangani abhinya itu.
Dana hanya pernah mendengar nama dokter Aditya, tapi dirinya sama sekali tak pernah tau kalau dokter Aditya itu seumuran dengan orang tuanya. Yang Dana kira, dokter Aditya itu masih muda seumuran dengan dirinya.
Dokter terbaik lulusan Jerman, yang begitu di banggakan karena tak pernah gagal dalam menangani pasiennya. Dirinya menjadi idola bagi semua perempuan. Maka dari itu, Dana mengira kalau dokter Aditya itu masih sangat muda, tapi nyatanya ia pantas di panggil ayah olehnya.
" Nak kenalkan, dia ini dokter Aditya...salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Dia juga yang selama ini menangani abhimu, dan dia juga merupakan adik sepupu dari Imel istri ku."
__ADS_1
" Kau pasti sudah mendengar riwayat tentang dokter Aditya kan dalam seputar dunia kedokteran selama ini. Ya dia orangnya. Dokter spesialis otak yang kualitasnya sudah tidak di ragukan lagi." ucap Andre memperkenalkan Aditya
" Nak, kami butuh bantuanmu...karena ayah yakin hanya kamu yang bisa membujuknya untuk melakukan operasi secepat mungkin. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini Dana. Ayah mohon bantu kami untuk membujuk abhi mu agar mau di operasi." Andre meminta pada Dana. Dana menatap mata ayahnya, mata yang kata Imel begitu meneduhkan itu.
Memejamkan matanya, hatinya kembali merasakan sakit mengingat apa yang sekarang di alami abhinya. Betapa bodohnya ia sampai ia tak tau akan penyakit abhinya yang ternyata sudah lama.
" Boleh Dana menemui abhi, ayah, Dana mohon..." pinta Dana pada Andreansyah. Andre menatap Aditya, meminta persetujuan darinya.
Dana mengangguk mengerti dengan apa yang di katakan oleh Aditya. Memang benar, abhinya butuh istirahat dan tidak bisa di ganggu untuk saat ini.
__ADS_1
...****************...
Dini sudah sadar, Dana pun menemui ibu sambungnya itu. Orang yang dirinya sebut dengan bunda, orang yang merupakan kakak kembar dari ibu kandungnya. Orang yang selama ini mengobati setiap kerinduannya terhadap umminya. Wajah yang begitu mirip membuat Dana bisa menatap dan memeluk Dini di saat dirinya rindu akan sosok umminya.
Selama ini, setiap kali dirinya rindu kepada Dina, Dini selalu ada untuknya dan menjadi Dina untuk putranya itu. Menjadi obat untuk kerinduannya terhadap sosok mendiang sang ibu.
" Bunda, maaf karena selama ini Dana tidak pernah menyadari semua tentang kalian. Rasa sakit abhi, rasa sakit bunda dan juga yang lainnya. Dana minta maaf untuk itu, Dana mohon maaf dari bunda." Air mata Dini jatuh luruh begitu saja. Melihat putranya menunduk, ia tak tega.
Seakan tak percaya dengan Dana yang ada di hadapannya kini, Dini mengangkat dagu putranya itu. Menatap mata indah milik Dana, mata itu begitu mirip dengan mata Dina. Mata yang begitu meneduhkan bagi siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
Ia tak percaya bahwa orang yang duduk di hadapannya itu adalah Dana putranya. Kenapa Dana harus menundukkan wajahnya, dimana Dana yang selalu mendongakkan wajahnya dengan penuh wibawa. Dimana Dana putranya yang begitu tegas, keras, dan juga berani. Kenapa putranya harus menunduk meski itu di hadapannya.
Jelas Dini tidak rela kalau putranya itu harus tertunduk di hadapan seseorang meski itu dirinya sekalipun. Dana harus selalu mengangkat kepalanya dengan tegap dan penuh kewibawaan. Dana harus menunjukan kepada dunia siapa dirinya sebenarnya.