
Davino sudah sadarkan diri, dan kini di ruangan itu hanya ada Dana dan juga Davino. Duduk disisi kiri ranjang abhinya, Dana sempet terdiam. Ingin menangis, ia tak mampu melakukan. Dirinya harus kuat untuk sekarang, meski hatinya jelas sedang tidak baik-baik saja.
Davino menatap putranya itu, putra yang begitu ia banggakan selama ini di hadapan dunia. Ini lah putranya, Dana putra Agata bukti cinta antara dirinya dan juga Dina. Putra yang sudah setahun ini tidak dia temui dan kini dirinya sudah ada di hadapannya.
" Maaf " satu kata dan hal itu mampu membuat gejolak di hati Dana.
" Untuk?" tanyanya, ia tidak ingin menghakimi abhinya untuk saat ini.
" Untuk semua perbuatan abhi yang pastinya sangat menyakitimu nak. Abhi tau kau pasti sangat kecewa, maka dari itu katakan semua rasa kecewa mu pada abhi. Abhi siap menerima semua kemarahan dirimu.
" Dana satu hal yang harus kau ketahui, Tomy tidak pernah salah dalam hal ini. Sama halnya saat itu soal Dina, itu juga yang saat ini di hadapi olehnya. Abhi yang meminta agar Tomy menyembunyikan semua hal darimu tentang penyakit abhi.
Davino terdiam saat tangan kokoh putranya menggenggam tanganya. Benarkah putranya sudah besar sekarang ini? Secepat itukah? padahal dirinya baru saja mendekatkan diri dengan putranya itu.
__ADS_1
" Abhi boleh Dana meminta sesuatu pada abhi?" sudah saatnya Dana mengutarakan apa yang ia mau.
" Abhi tau apa yang kau inginkan Dana, abhi akan melakukannya asal dengan satu syarat."
" Apa? apapun yang abhi minta Dana berjanji pasti akan menuruti semua yang abhi inginkan."
" Menikahlah" Dana terdiam, permintaan abhinya memang bukan lah permintaan yang berat. Tapi untuk saat ini semua itu jelas memberatkan dirinya.
Bagaimana mungkin dirinya menikah sedang ia sendiri tidak mempunyai calon untuk menjadi pendamping hidupnya. Bahkan sampai saat ini dirinya tidak tau dimana wanita bercadar itu. Wanita yang mampu menggetarkan hatinya pada pandangan pertama. Yang mampu mencuri hatinya dan membuatnya gelisah setiap kali mengingat pertemuan mereka.
" Abhi sudah ada calonnya Dana, menikahlah dengan melati putri dari Imel dan juga Andreansyah. Dia merupakan wanita pilihan Ummi mu, karena sejak kalian belum lahir ummi mu meminta agar suatu saat nanti kau bisa menjadi menantu dari keluarga mereka. Persahabatan Imel dan juga Dina akan semakin kuat disaat anak-anak mereka menjalin sebuah ikatan pernikahan."
" Tapi bagaimana abhi bisa tau kalau ini adalah permintaan ummi?
__ADS_1
" Kalau kau tidak percaya, datanglah dan temui Imel, dia tau semuanya. Bukankah kau sangat mempercayai bunda mu itu?
Dana terdiam, ia tau abhinya tidak mungkin mengarang cerita ini bukan? lalu apakah ia bisa menerima Melati sebagai calon istrinya? sedang ia sendiri tak tau bagaimana Melati yang sekarang. Dan apakah mungkin Melati mau menikah dengan dirinya?
Hati Dana begitu gelisah, disisi lain ada abhinya yang begitu ia cintai. Tapi hatinya sudah terpatri dengan wanita bercadar yang sampai sekarang belum ia ketahui siapa namanya. Haruskah ia melupakan wanita itu dan mencoba membuka hatinya untuk Melati. Ataukah ia bicara saja kepada abhinya itu? toh dirinya juga tidak tau apakah melati mau menikah dengannya bukan?
" Kenapa diam, apa kau tidak percaya pada abhimu sendiri nak? tanya Davino kepada Dana. Dana menggeleng, ia tak sampai hati untuk menyakiti hati abhinya dengan mengatakan kalau dirinya tidak ingin melanjutkan perjodohan ini.
Apa salahnya jika ia menemui bundanya lebih dulu dan menemui Melati adik kecilnya dulu. Toh tidak ada salahnya bukan? bukankah ia menyayangi Melati. Mungkin saja dari rasa sayang itu rasa cinta akan tumbuh dalam dirinya.
Dan mungkin rasa yang ia rasakan buat wanita bercadar itu hanya sebuah rasa kagum semata. Bukan rasa cinta kepada lawan jenis. Bukankah selama ini dirinya menjaga hatinya agar tak sampai mencintai wanita selain istrinya nanti. Bukankah ia mau seperti Dina yang hanya akan mencintai suaminya sampai ia mati.
Melihat wajah penuh harap dari abhinya, Dana pun akhirnya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia mau menemui bundanya itu hari ini juga.
__ADS_1
Rasa syukur terucap secara langsung dari bibir Davino, ia begitu bahagia karena satu keinginan Dina akhirnya bisa ia laksanakan.