
Pagi harinya semua di kumpulkan Tomy di ruang keluarga, ada Aluna, Dana, Danish, Dania, dan juga dirinya. Kini dirinya harus bisa memimpin keluarganya dengan baik. Jangan sampai keluarganya hancur berantakan dan sampai terpecah belah.
Bagaimana pun caranya Tomy harus bisa menyakinkan putrinya itu untuk tetap tinggal bersama dengannya. Dia tidak mungkin bisa membiarkan Aluna tinggal sendirian di apartemen.
Dana dan Danish duduk di samping Aluna dengan Aluna berada di tengah-tengah keduanya. Danish sempat menepuk pundak kakaknya itu untuk sekedar memberikan kekuatan. Tepukan nya seakan mengatakan bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja.
" Aluna " panggil Tomy dan Aluna pun menatap ke arah Daddy nya itu.
" Kemarilah duduk di antara mommy dan juga Daddy nak..." pintanya lembut. Ia tidak ingin sedikit pun membuat anaknya itu takut jika sampai ia berkata kasar.
Aluna berjalan menghampiri kedua orang tuanya itu, Daddy-nya mengelus rambut indah putrinya. Jujur saja, saat ini Tomy ingin menangis melihat penampilan anaknya yang berantakan. Mata yang sembab yang ia yakini kalau putrinya itu tidak tidur nyenyak semalaman.
" Apa yang sebenarnya terjadi sampai Aluna mengatakan ingin pergi dari rumah ini nak..." ucapan lembut Tomy dan usapan lembut tangannya di rambut Aluna membuat air mata Aluna jatuh begitu saja.
Hati Dana begitu sakit melihat adik yang begitu ia sayangi harus menangis seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi kepada Aluna, sampai Aluna seperti itu.
" Dad, maafin Aluna...." hanya kata maaf yang mampu Aluna ucapkan kepada Daddy nya saat ini.
Jujur saja, ia ingin mengatakan apa alasannya sampai ingin tinggal sendiri. Tapi mulutnya seakan terkunci rapat dan tak sanggup untuk mengatakan kebenarannya kepada Daddy-nya.
Melihat anaknya yang semakin kacau, hati Tomy semakin teriris melihatnya. Inikah putrinya yang selalu ceria itu? kemana perginya Aluna nya yang dulu? Hanya dengan satu kali ucapan ia menyerah? Ini bukan Aluna putrinya.
__ADS_1
Tomy langsung membawa putrinya itu ke dalam pelukannya.
" Menangis lah sayang, menangis lah nak.... jika menangis memang bisa membuat mu tenang, maka menangis lah anakku." Tomy semakin mempererat pelukannya terhadap putrinya itu.
Jangan tanyakan bagaimana Dania sekarang, ia hanya mampu menangis sendiri tanpa ingin ada yang menyentuhnya. Bahkan saat Dana ingin mendekat dan memeluknya, Dania langsung mengangkat tangannya sebagai penolakan.
" Aluna Anastasya, Daddy mohon berhentilah menangis nak...." Pinta Tomy, hatinya sakit mendengar kedua wanitanya menangis. Sedangkan ia hanya bisa memeluk salah satu dari mereka.
" Daddy tolong biarkan Luna tinggal sendiri di apartemen dad, Luna gak mau terjadi masalah lagi kayak dulu." Aluna memberanikan diri menatap wajah Daddy-nya. Meski sebenarnya ia tak sanggup untuk menatap mata teduh itu.
Tanpa aba-aba Dania langsung membalik Aluna sampai membuat Aluna tersentak dan semua orang yang ada di ruang keluarga itu kaget melihat apa yang di lakukan oleh Dania.
" Sorry mommy, But maybe this is for the best mom..." Dania memeluk putrinya itu. Ia tidak akan sanggup jika harus terpisah dengan putrinya.
Selama 18 tahun Dania merawat Aluna dan selama itu juga Aluna tak pernah jauh darinya. Lalu kenapa hari ini putrinya memintanya untuk melepaskannya pergi. Dania jelas tidak mau terpisah dari Aluna nya.
Dia ibunya dan sampai kapanpun dirinya tidak akan membiarkan Aluna pergi jauh darinya. Dania jelas tak akan pernah sanggup jauh dari putri satu-satunya itu. Meskipun Aluna bukan putri kandungnya, tapi bagi Dania Aluna tetaplah putrinya.
" Dunia boleh mengatakan kalau kau bukan putri ku, tapi mommy tak akan pernah membiarkannya memisahkan mommy denganmu. Kau cahaya yang menerangi gelapnya kehidupan rumah tangga mommy nak. Disaat mommy ingin menyerah kau datang memberikan harapan besar buat mommy. Kau kekuatan mommy dan Daddy sayang. Bagaimana mungkin mommy bisa hidup jauh darimu. Melepaskan mu bukanlah maunya mommy nak....please jangan tinggalkan mommy sendirian Luna." Dania kembali memeluk putrinya itu.
Danish yang selalu di juluki manusia batu saja bisa menangis melihat adegan mommy dan anak itu. Apa kabar dengan Dana, amarahnya memuncak saat dirinya mendengar tangisan pilu Mommynya. Dirinya berjanji tak akan pernah melepaskan orang yang sudah berani membuat mommy dan adiknya menangis.
__ADS_1
Tomy melihat kilatan amarah di mata Dana, sifat Davino itu jelas menurun dalam diri Dana. Dan Tomy tau apa yang akan terjadi jika putranya itu marah.
" Keputusan Daddy sudah bulat Luna, kau tidak akan pernah meninggalkan rumah ini dan tinggal di apartemen sendirian. Setuju atau tidak kau harus menurut, atau jangan harap Daddy akan mau bertemu denganmu lagi." Tomy berdiri dari duduknya.
Meninggalkan semua orang di ruang keluarga, tapi sebelum itu dia menepuk pundak putranya. Itu artinya dia menunggu putranya itu di suatu tempat.
Dana dan Danish mendekat kearah dua wanita yang begitu mereka cintai itu. Memeluk mereka secara bersamaan sebelum akhirnya Dana juga meninggalkan ruang keluarga untuk menemui daddy-nya.
Kini hanya tinggal tiga orang yang masih betah berpelukan, setelah puas menumpahkan semua rasa sedih mereka. Aluna menatap tajam adiknya itu, sedang yang di tatap hanya bisa cengar-cengir saja. Ia tau maksud tatapan kakaknya itu apa, yang pasti soal bagaimana Daddy-nya bisa tau apa yang terjadi.
" Sorry I obviously can't see you crying, sis, that's why I recorded your confession and sent it to daddy. " Aluna hanya bisa menghela nafas.
Pengakuan adiknya itu membuatnya bertambah kesal pada adiknya itu. Bagaimana bisa Danish punya fikiran itu dan bodohnya dia tidak menyadari semuanya. Malahan dengan mudahnya dirinya menceritakan semuanya kepada adik yang tak tau diri itu.
Lain lagi kejadian yang terjadi di ruang kerja utama, dimana dana dan Tomy kini sama-sama berdiri di jendela menatap pemandangan luar. Suasana masih hening, baik Dana maupun Tomy tak ada yang mau memulai pembicaraan. Keduanya masih asik dengan dunia mereka sendiri.
Sampai akhirnya deheman Tomy membuat dana akhirnya tersadar dengan tujuannya datang ke ruangan ini menemui daddy-nya.
Bukannya berbicara, Tomy justru berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah map berwarna merah dan menyerahkannya kepada Dana. Dana menerima map dari Daddy-nya itu tanpa berniat ingin membukanya, karena dia mengira kalau itu merupakan salah satu berkas perusahaan yang harus ia tangani.
Tanpa Dana duga, Tomy justru merebut Map itu lagi dan membukanya lalu menyerahkannya ke tangan Dana lagi.
__ADS_1