I Love You My Sister

I Love You My Sister
Tangis pilu Dania


__ADS_3

Jika di kamar Dana sedang melamun, berbeda dengan kamar Dania dan Tomy. Kamar keduanya di penuhi tangis pilu Dania, ibu dari 3 orang anak itu tak henti-hentinya menangis sejak kejadian di maja makan tadi. Hatinya sakit saat Aluna putrinya mempertanyakan identitasnya di rumah ini. Apa selama ini dirinya pernah membedakan dalam memberikan kasih sayangnya kepada ketiga anaknya.


Apa kasih sayang yang ia berikan kepada Aluna tidak cukup untuk membuktikan bahwa dirinya begitu sangat menyayangi putrinya itu.


Lalu kenapa baru sekarang putrinya itu mempermasalahkan semua ini?


Bukankah tadi mereka masih sempat bercanda?


Apa yang terjadi pada putrinya sampai putrinya itu mengungkit tentang identitasnya?


Jika Danish saja tidak di beri tahu kenapa Aluna begitu tega mengatakan semua itu kepadanya.


" Apa aku pernah membedakan dalam memberikan kasih sayangku kepada mereka bertiga mas, sampai Aluna mempertanyakan semua itu kepada kita. Apa aku kurang dalam memberikan kasih sayangku kepada Aluna mas." Dirinya menangis dalam dekapan suaminya. Ia tidak kuat menghadapi semua ini sendiri. Jelas dirinya membutuhkan bahu untuk menumpahkan semua rasa sesak dalam dadanya.


Teganya putrinya mempertanyakan kasih sayangnya selama ini. Apa yang salah dalam kasih sayangnya, sampai Aluna mempertanyakannya.


Apakah ia pernah mengatakan kalau Aluna bukan putrinya?


Bukankah ia tak pernah mengungkit siapa Aluna yang sebenarnya dan darimana dirinya berasal.


" Sudahlah Nia, jangan memikirkan semua ini terus-menerus. Ingat kesehatan mu Nia, aku tidak ingin kau kembali drop hanya karena memikirkan semua ini."


" Bagaimana aku tidak memikirkannya mas, anakku mempertanyakan kasih sayangku mas..." Tangisnya kembali pecah.


Tomy semakin mempererat pelukannya kepada istrinya itu, ia tahu saat ini Dania tidak ingin di debat. Biarkan dirinya menangis sampai puas, ia hanya cukup memberikan pelukan saja.

__ADS_1


Sampai akhirnya Dania tertidur dalam pelukan suaminya setelah puas menangis.


...****************...


Di dalam kamar Aluna menangis dalam diamnya, sungguh sakit saat dirinya harus mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Ia sangat tahu kalau kasih sayang Dania dan juga Tomy begitu besar untuknya. Hanya saja ia tak ingin terlalu jauh dalam melangkah.


Bagaimana pun juga, dirinya bukan anak kandung dari kedua orang tua yang selama ini merawatnya. Cepat atau lambat semuanya pasti akan terungkit, dan dirinya harus siap bukan.


Meski sakit, dia harus kuat dalam menjalani semua ini dan membiasakan diri agar nantinya ia tak kecewa.


Benar yang di katakan oleh bibinya kemarin saat menelpon dirinya. Suatu saat nanti, kebenaran tentangnya pasti akan terungkit kembali dan pastinya ia akan tersingkir. Hanya Danish yang berhak mendapatkan segalanya. Sedangkan Dana? bukankah Dana punya keluarga yang jelas akan menerimanya dengan tangan terbuka.


Lalu apa kabar dengan dirinya? ia tak akan sanggup jika dirinya harus terusir. Bukankah akan lebih baik jika dirinya lebih dulu angkat kaki dari rumah ini. Dia jelas sadar diri siapa dirinya itu.


Air matanya luruh membasahi wajah cantiknya itu, ia butuh kekuatan untuk menghadapi mommy dan juga Daddy besok. Karena dirinya yakin kalau Daddy dan Mommynya pasti akan membahas masalah ini lagi besok.


" Maafkan Luna mommy, maaf Daddy, Luna terpaksa melakukan ini. Hati Luna juga sakit saat Luna harus mengungkapkan semua ini kepada kalian." Tangisnya kembali pecah dan hal itu di dengar oleh Danish. Danish masuk ke dalam kamar kakaknya itu, untungnya kamarnya tidak di kunci.


Gelap, itu yang dia lihat di dalam kamar kakaknya, hanya ada suara tangis memilukan dari Aluna. Suara Aluna bagaikan suara belati yang menyayat tubuhnya. Hatinya sangat sakit saat dirinya harus mendengarkan tangis kakaknya.


Jika kakaknya begitu terluka, lalu kenapa dia harus mengatakan hal itu tadi.


" Maaf mommy maafin Luna, Daddy maafin Luna...." Dia mendekati sumber suara. Kakaknya berada di lantai kamarnya sedang menangis memeluk kedua kakinya. Sedang wajahnya di sembunyikan di antara kedua lututnya.


Danish semakin mendekati kakaknya, saat dirinya sudah berada di hadapan Luna dirinyapun berlutut di hadapan kakaknya itu. Dia langsung memeluk Luna, Luna kaget saat ada orang yang memeluknya. Tangisnya seketika itu berhenti, ia menyalakan lampu dengan menggunakan remote kontrol yang sedari tadi ia pegang.

__ADS_1


" Da....nish" ucapnya terbata saat ia menyadari kalau adiknya sedang berada di hadapannya.


" Jangan menangis kak, ada aku disini yang akan selalu menemani kakak." Danish membawa Aluna kedalam pelukannya dan hal itu berhasil membuat Aluna kembali menangis.


" Maaf " hanya satu kata yang mampu Aluna ucapkan. Dirinya tidak sanggup mengatakan apapun lagi kecuali kata maaf. Dirinya sungguh sangat merasa bersalah, karena sudah mengecewakan mommy dan juga daddy-nya.


" Kakak tidak salah dan aku yakin tak ada niatan sedikitpun di hati kakak untum menyakiti hati mommy dan juga Daddy kan? tanya adiknya itu.


Ia menganggukkan kepalanya, hal itu memang benar kalau dirinya jelas tak ada punya niatan untuk menyakiti hati kedua orang tuanya itu.


" Kakak pasti punya alasan melakukan semua ini, cerita padaku kak. Apa yang membuat kakak sampai melakukan hal ini?" tanya Danish.


Sungguh Aluna tak ingin menceritakan semuanya kepada adiknya itu. Tapi ia butuh melepaskan setiap beban yang menimpa pundaknya. Ia tidak sanggup jika harus menanggung semua ini sendirian. Pada akhirnya, dia memilih menceritakan segalanya kepada Danish. Bagaimana kemarin bibinya mencaci maki dirinya, mengatakan kalau dirinya anak tak tau di untung dan tak tau diri.


Kakak sepupu dari Mommynya itu seakan tak punya perasaan saat mengatakan hal itu kepadanya. Bukankah ia juga punya seorang anak perempuan. Lalu kenapa ia tega mengatakan hal itu kepada Aluna. Apa salahnya selama ini sampai bibinya tega melakukan hal itu.


" Aku tidak tau apa yang membuatnya mengatakan hal itu kepadaku Danish, tapi sungguh hatiku sangat sakit saat mendengarnya mengatakan hal itu kepadaku." tangisnya kembali pecah saat ia selesai menceritakan segalanya kepada Danish.


Tanpa dia duga ternyata adiknya itu sedang merekam pembicaraan dirinya dan mengirim rekaman itu kepada Daddy nya.


" Jadi kakak tadi mengangkat telpon darinya saat kita menunggu Daddy dan kak Dana datang" tanya Danish dan hal itu di angguki kepala oleh Aluna.


" Teganya bibi mengatakan hal itu kepada kakak " ucapnya.


" Saat itu aku baru saja membuat story kebersamaan kita di meja makan bersama mommy dek. Dan bibi langsung saja menelponku dan mengatakan hal yang tak seharusnya di katakan."

__ADS_1


" Sudah jangan di ingat lagi oke" adiknya begitu tenang dalam mengahadapi masalah ini.


Saat rekaman yang di kirimkan oleh anaknya itu di buka oleh Tomy tangan Tomy pun terkepal. Dia tidak menyangka kalau saudara sepupu istrinya itu begitu tega mengatakan hal itu kepada putrinya.


__ADS_2