
"Fuji, akhirnya Lo masuk juga gue kangen tau sama Lo."ujar Jihan teman baru Fuji semenjak menetap di negara kelahiran sang Kakek bersama Kedua orang tuanya, kedua Kakak nya dan kedua adiknya.
"Berisik, lagian gue cutinya beberapa hari aja ogep Lo kayak nggak ketemu gue setaun tau nggak, lebay anjir."umpat Fuji pada teman nya itu karna pagi-pagi sudah membuat mood Fuji berantakan.
"Heheh sorry sorry, gue kesepian kalau lo nggak masuk, lo kan tau teman sekaligus sahabat gue kan cuma elo."
"Iya iya bawel, ayo masuk keburu telat."
"Oke."
Mereka langsung menuju ke kelas mereka karna sebentar lagi waktu belajar mengajar akan segera di mulai.
.
.
.
Kring. kring
Bel tanda istirahat berbunyi, semua murid langsung berhamburan untuk ke kantin mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
"Aeelah, tu guru botak ngasih materi nggak kira-kira ya rasanya mau pecah pala gue mikirin angka-angka yang bejibun itu."umpat Jihan pada Pak Bondan guru matematika.
"Makanya belajar biar tu otak pinter dikit, lah ini kagak malah isi nya cogan semua."
"Yeee elo kagak tau aje, mikirin cogan itu enak tau."
"Dih, ogah gue mending gue ngasih susu sama coklat ini buat ayang Damar, byee."ujar Fuji yang langsung pergi ke kelas Damar untuk memberikan susu dan roti yang sudah di beli Fuji tadi pagi.
Setelah sampai di depan kelas Damar, Fuji langsung memanggil Damar.
"Damar."panggil Fuji dengan senyum mereka di bibirnya melihat sang pujaan hati.
Damar mendengar namanya di panggil hanya menatap datar wanita yang sedang berdiri di depan kelasnya itu.
Melihat Damar yang tidak bergerak sama sekali dari tempat duduknya, Fuji merasa sedikit kecawa karna hampir dua tahun Fuji mengejar-ngejar Damar dan menyatakan cintanya pada Damar, yang Fuji dapatkan hanyalah umpatan dan hinaan yang Damar lontarkan untuk nya. Dasar Fuji nya saja yang kepala batu, sudah di tolak mentah-mentah masih aja mau dekat-dekat sama Damar.
"Nih buat Lo di makan ya, jangan di kasih ke orang lagi, nanti gue sedih Lo." ujar Fuji menyerahkan susu dan roti pada Damar.
"Thanks."
"Lo terima pemberian dari gu,,." belum selesai Fuji bicara Damar sudah memotong nya.
"Sinta."panggil Damar pada cewek yang tidak jauh dari tempat duduknya.
Sinta yang merasa namanya di panggil langsung menghampiri Damar.
"Ngapain Lo manggil gue Dam."tanya Sinta karna heran saat Damar memanggilnya.
"Nih buat Lo."Damar menyerahkan pemberian Fuji pada Sinta, Fuji yang melihat itu merasa sakit saat pemberiannya tidak di hargai oleh Damar. Tapi Fuji berusaha sabar tidak mengamuk lagi seperti biasanya.
"Kok Lo kasih ke dia sih Dam."tanya Fuji lembut.
__ADS_1
"Terserah gue dong, lo ngasih ke gue berarti itu udah punya gue, jadi gue udah berhak ngasih itu ke siapa aja."ujar Damar tanpa memikirkan bagaimana perasaan Fuji.
"Apa Lo nggak suka rasanya, biar nanti gue ganti rasa lain."ujar Fuji.
"Gue nggak butuh, gue bisa beli sendiri."
Fuji hanya diam mendengar perkataan Rama, ingin rasanya Fuji meluapkan semua kekesalannya pada Damar, tapi Fuji juga nggak mau nanti Damar malah tambah menjauhinya.
"Ya udah deh kalau gitu gue mau ke kelas dulu ya, bye Damar."ujar Fuji yang tak pernah luntur memberikan senyum indah nya pada Damar.
"Cih."sarkas Damar.
Setelah keluar dari kelas Damar, Fuji tidak langsung ke kelasny melainkan ke taman belakang sekolah untuk menenangkan hatinya yang tersakiti untuk kesekian kalinya karna orang yang sama.
Fuji duduk di kursi panjang yang tersedia di sana sambil termenung membayangkan semua perlakuan Damar padanya, tanpa sadar Fuji meneteskan air matanya.
"Apa sesakit ini rasanya mencintai seseorang tapi orang itu tidak mencintai kita, kapan lo sadar Dam dengan sikap Lo sama gue itu bikin gue sakit hati."Isak tangis Fuji.
Setelah merasa tenang barulah Fuji meninggalkan taman menuju kelasnya tanpa Fuji sadari ada laki-laki yang memperhatikan dari atas pohon dekat taman.
"Dasar gadis bodoh, mau aja sama laki-laki bangsat."ujar laki-laki itu yang masih betah nangkring di atas pohon.
"Lo darimana aja sih Ji, gue nyariin lo dari tadi tau."ujar Jihan setelah bertemu dengan orang yang di carinya.
"Abis ketemu sama ayang Damar dong, emang elo jomblo akut hahahaha."gelak tawa Fuji setelah bisa mengontrol sakit hatinya.
"Elo itu ya sadar dong, udah tolak berkali-kali juga masih aja mau dekat-dekat sama tuh cowok sialan."Jihan bahkan tau bagaimana perjuangan Fuji menarik perhatian Damar, tapi yang di dapat Fuji malah hinaan yang membuat Fuji sakit hati.
Fuji juga keras kepala, udah di tolak masih aja mau dekat-dekat sama Damar.
"Gue emang nggak pernah jatuh cinta sih, tapi Lo juga harus mikir pake otak dong jangan pake dengkul, tu cowok udah nolak elu mentah-mentah masih aja di deketin, elu budeg ya."ujar Jihan yang sudah sangat geram dengan Fuji.
"Namanya juga usaha, nggak ada kali usaha yang mengkhianati hasil tau. Gimana nanti kalau Damar udah jatuh cinta sama gue, gue pasti bakalan jadi wanita yang paling bahagia di muka bumi asalkan kamu tau ya."ujar Fuji dengan bangganya.
"Mending mimpi Lo jangan ketinggian deh, nanti jatuh sakit tau."
"Nggak akan."jawab Fuji dengan percaya dirinya yang tinggi.
"Terserah elo, nanti kalau lo di tolak lagi sama Damar baru tau rasa lo, gue orang pertama yang bakalan ketawain lo ya."
"Kita liat aja nanti."
.
.
.
"Dam."panggil Gladis.
Sontak Damar langsung menoleh pada gadis yang saat ini berdiri anggun di depannya.
"Cantik."puji Damar tanpa sadar.
__ADS_1
"Kamu bilang apa Dam." ujar Gladis.
"Emm, anu itu eee ka-kamu cantik banget hari ini."ujar Damar kemudian.
"Kamu juga ganteng banget hari ini."ujar Gladis.
"Kita berangkat sekarang."tanya Damar.
"Baik."jawab Gladis.
*Sebentar lagi kamu bakalan jadi milik aku seutuhnya Damar.*batin Gladis.
.
.
.
"Bang ngapain sih kita ke sini, udah tau aku paling males pergi ke pesta kayak gini ini malah di ajak langsung."sungut Fuji pada Langit.
"Udah nurut aja kata Mama sama Papa jangan banyak protes."ujar Langit cuek.
"Ishh nggak asik, tau ah males."ujar Fuji yang langsung melenggang pergi meninggal kan Langit.
Sedangkan dari arah luar terdapat pasangan yang begitu menarik perhatian para tamu undangan begitu juga dengan Fuji yang penasaran siapa orangnya.
Deg
*Damar, Gladis.*batin Fuji yang membuat mood nya tambah memburuk.
"Jadi ini alasan kamu nggak mau jemput aku, ya padahal kamu juga nggak niat sih. Tapi kenapa nggak bilang kalau kamu pergi sama Gladis, gadis yang paling aku benci Damar. Apa ini balasan kamu sama aku."gumam Fuji menatap kecewa pada Damar.
Hingga tak sengaja tatapan Damar dan Fuji bertemu, Damar dapat melihat tatapan kecewa dari Fuji, namun dia tidak ambil pusing. Toh dia juga tidak menyukai Fuji, tapi dia menyukai gadis yang saat ini ada di sampingnya.
Fuji langsung memutuskan kontak matanya dengan Damar dan pergi meninggalkan pesta itu dengan perasaan yang sangat kecewa, melihat orang yang selama ini dia cintai, yang selama ini dia perjuangkan malah menggandeng wanita lain.
"Gue benci sama lo, gue sama Lo DAMAR."teriak Fuji begitu kencang di tepi danau yang tidak jauh dari tempat acara.
"Dasar gadis bodoh."ujar seseorang dari belakang Fuji.
Mendengar orang lain mengatakan nya bodoh, Fuji tidak terima dan langsung balik badan melihat siapa orang yang sudah mengatainya.
"Lo ngapain di sini haa."bentak Fuji saat tak mengenali laki-laki di hadapannya.
"Ini tempat umum, jadi siapa pun bebas ke tempat ini."ujar laki-laki dingin.
"Gue juga tau ini tempat umum, tapi danau ini luas apa salahnya elo pergi ke arah sana atau situ kek, ngapain malah ke tempat gue."
"Terserah gue dong, yang jalan ke sini itu kaki gue bukan kaki Lo kan yang gue pinjem."jawab laki-laki.
"Dasar cowok sama aja, brengsek."umpat Fuji dan langsung meninggalkan danau itu dengan perasaan kesal yang teramat dengan laki-laki yang di jumpainya di danau itu.
.
__ADS_1
.