
"Gam, ngapain kita ke sini."tanya Fuji saat tau jalan yang Agam tempuh saat ini.
"Danau sayang."ujar Agam.
Fuji yang mendengar Agam memanggilnya dengan sebutan sayang langsung malu, wajah nya sudah merah seperti kepiting rebus mendengar panggilan sayang dari Agam.
*Oh tuhan jantungku rasanya mau loncat dari tempatnya.*batin Fuji menjerit.
"Kenapa, kok muka nya merah gitu Yang."tanya Agam yang berpura-pura tidak tau kalau Fuji saat ini tengah salting karna panggilan sayang darinya.
*Aissh sial imut banget sih calon pacar gue kalau lagi salting kayak gini, akhhhh.*batin Agam yang sangat gemas dengan Fuji.
"N-nggak kenapa-napa kok."ujar Fuji berusaha mengelak.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang menurut Fuji karna terus di goda oleh Agam menarik nafas lega, setelah meraka sampai di tempat yang mereka tuju.
"Danau."tanya Fuji melihat danau yang sering mereka datangi di hias seindah mungkin di tambah dengan pencahayaan dari bulan yang menambah kesan indahnya, membuat Fuji begitu terpesona.
"Ayok."ujar Agam yang langsung mengandeng tangan Fuji menuju jembatan di tengah danau.
"Kita ngapain ke sini malem-malem Gam." tanya Fuji.
"Inget nggak waktu pertama kali gue bawa lo ke sini."tanya Agam yang tak menjawab pertanyaan dari Fuji.
"Inget, kenapa emang."ujar Fuji.
"Semenjak saat itu lo udah gue klaim jadi pacar gue."ujar Agam yang sudah mengumpulkan begitu banyak keberanian untuk menyatakan perasaan nya kepada Fuji.
Fuji yang mendengar ucapan Agam seketika termenung, berusaha mencerna perkataan Agam barusan. Apa ini serius atau hanya untuk sekedar candaan belaka. Namun yang Fuji lihat ada ketulusan yang di pancarkan oleh mata Agam kepadanya.
*Seandainya ini mimpi gue nggak mau bangun lagi, gue udah ngerasa bahagia walau sekedar mimpi.*batin Fuji.
"Gue udah nggak kuat nahan rasa ini lagi sama lo, semakin gue tahan rasa ini semakin besar buat lo."ujar Agam lagi.
Sedangkan Fuji hanya diam mendengarkan perkataan Agam sampai selesai baru dia bisa menjawab semua ini.
"Gue nggak tau apa lo juga ngerasa yang sama kayak gue, tapi satu hal yang harus lo tau, semenjak gue bawa lo ke sini gue udah jatuh cinta sama lo, tapi lebih tepatnya saat pertama kali lo pindah ke sekolah. Semenjak itu gue selalu liat lo dari jauh, karna lo selalu ngejar-ngejar Damar." ujar Agam menjeda ucapannya, sedangkan Fuji yang mendengar ucapan Agam kaget, saat tau kalau Agam sudah mencintainya sejak lama.
"Kenapa lo nggak bilang sama gue."tanya fuji.
"Karna lo waktu itu tergila-gila sama bocah curut itu."
"Emang keliatan banget ya kalau gue ngejar-ngejar Damar."
"Ya iyalah, udah di tolak juga masih aja mau deketin."ujar Agam yang merasa kesal saat mengingat kalau dulu Fuji begitu mencintai Damar.
"Kayaknya lo salah paham deh."ujar Fuji.
"Salah paham gimana."beo Agam.
"Gue nggak cinta sama Damar, ya bisa di bilang terobsesi aja, masa seorang Fuji kalah sama gadis lemah kayak Gladis. Nggak terima jiwa gue kalau harus kalah dari Gladis."ujar Fuji yang baru sadar sekarang, kemaren kemana aja lo Fuji.
"Terus."
__ADS_1
"Kalau Mama gue cerita, kalau kita jatuh cinta itu jantung kita pasti berdebarkan, tapi sayang nya gue nggak ngerasain itu waktu dekat sama Damar, tapi kalau sama lo..."ujar Fuji menggantung ucapannya.
"Sama gue kenapa."
"Nggak tau ah."ujar Fuji yang malu kalau harus mengatakan kalau dia berdebar saat dekat dengan Agam.
"Jantung lo rasanya mau loncat kalau lo dekat sama gue."tebak Agam yang tepat sasaran saat melihat raut wajah Fuji yang langsung memerah.
"Dih kepedean banget lo."ujar Fuji yang berusaha mengelak agar dirinya tidak malu sendiri.
"Udah nggak usah di tutupin lagi, lagian gue bawa lo ke sini juga mau ngungkapin perasaan gue."ujar Agam.
Deg
*Astaga jantung gue.*batin Fuji yang merasa jantungnya berdetak begitu cepat.
"Fuji."panggil Agam sambil menggenggam kedua tangan Fuji.
Agam langsung berlutut di hadapan Fuji, membuat Fuji menahan nafasnya melihat Agam berlutut di hadapannya.
*Kalau yang gue baca di novel, kalau cowok berlutut kayak gini berarti dia mau nembak cewek, jangan-jangan...*batin Fuji yang sudah keringat dingin menantikan apa yang akan di katakan oleh Agam.
"Gue nggak kayak cowok-cowok lain yang bisa berkata-kata manis buat nembak pacarnya, gue cuma cowok kaku yang cuma bisa to the point aja. Gue suka sama lo, lo maukan jadi pacar gue Fuji Aurora Quennzi Bagaskara."ujar Agam dengan lantang.
*Tuh kan bener, apa kata gue.*batin Fuji.
"Gu-gue."gugup Fuji.
"Kalau lo belum siap jawab sekarang nggak masalah masih ada hari esok."ujar Agam yang paham kalau Fuji saat ini masih kaget dengan kenyataan kalau dirinya menembak Fuji untuk jadi pacarnya.
Agam yang mendengar jawaban Fuji seketika senyuman terbit dari bibir indahnya, mendengar wanitanya mengatakan kalau dia mau menjadi pacarnya seorang Agam Prabumi Regantara.
"Lo serius."tanya Agam memastikan pendengarannya.
"Iya, gue mau jadi pacar lo."jawab Fuji dengan lantang.
Agam langsung berdiri dan memeluk dengan erat, menyalurkan rasa bahagianya yang tiada tara.
"Jadi mulai malam kita pacaran."ujar Agam.
"Iya." jawab Fuji seadanya.
"Mulai besok lo berangkat bareng Mas Pacar, oke sayang."ujar Agam yang tak tau kalau saat jantung Fuji rasa nya mau loncat dari tempatnya.
"Iya."hanya kata `iya` yang bisa Fuji ucapkan saat ini.
*Oh tuhan apa ini rasanya jatuh cinta, aaaa gue rasanya mau terbang.*batin Fuji.
.
.
.
__ADS_1
Pagi harinya di kediaman keluarga Bagaskara kedatangan tamu yang tak lain dan tak bukan adalah Agam, yang akan menjemput kekasih hatinya yang baru tadi malam di tembak nya. (ckk ilah di tembak oik.)
"Ngapain lo pagi-pagi ke sini dah."ujar Leon.
"Mau jemput Tuan Putri lah."ujar Agam dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah tampannya.
"Tuan Putri, lo pikir ini kerajaan yang ada Tuan Putri nya, kesambet lu ya pagi-pagi udah ngehalu."ujar Leon yang tak tau saja kalau semalam Agam sudah menembak Fuji jadi pacarnya.
"Agam."panggil Fuji yang baru saja keluar dari pintu.
"Pagi sayang, udah siap berangkat."
"APA, SAYANG."teriak Leon yang kaget saat laki-laki gila di depannya ini memanggil Kakaknya dengan sebutan sayang.
"Ckk berisik bego, masih pagi ini."ujar Fuji yang kupingnya langsung budeg dengar teriakan Leon yang melengking.
"Sorry-sorry replek gue."ujar Leon cengengesan.
"Berangkat sekarang aja, nanti telah udah siang ini."ujar Fuji.
"Et et et, tunggu dulu dong Ji."ujar Leon.
"Ji Ji Ji, eh dodol gue ini Kakak lo, panggil Kakak kek ini malah Ji-Ji aja, gue sumpahin lu kualat sama gue."ujar Fuji yang selalu saja adu bacot dengan adiknya satu ini.
"Lo sama cowok gila ini pacaran Kak."tanya Leon.
"Eh tu mulu sekate-kate bener bilang gue gila, gue ini masih waras ya."ujar Agam yang tak terima di cap gila oleh laki-laki di depannya ini.
"Ck, gue nggak ngomong sama lo, mending tuh mulut diem."
"Ck, bisa nggak sih kalian berdua nggak ribut."
"NGGAK."jawab mereka secara serentak.
"Oh tuhan, ini masih pagi jangan bikin mood gue jelek deh."ujar Fuji yang sudah jengah mendengar perdebatan antara pacar dan adiknya itu.
"Dia duluan sayang."ujar Agam.
"Enak aja, lu duluan bego."
"DIAM NGGAK KALIAN."bentak Fuji yang sudah muak.
Mereka berdua langsung diam setelah mendengar teriakan dari Fuji yang menandakan kalau saat ini mode on macan akan segera hidup. Dari pada di terkam lebih baik mereka berdua cari aman saja.
"Lo masuk siap-siap buat berangkat, dan buat lo kita berangkat sekarang."ujar Fuji memberi perintah pada kedua laki-laki sableng itu dan dengan patuhnya mereka menganggukkan kepalanya.
"Ngapain masih di sini, sana masuk."usir Fuji.
"Sabar napa, ini mau jalan."ujar Leon.
"Ayok berangkat."ujar Fuji pada Agam yang hanya diam di tempat.
"Iya."jawab lesu Agam.
__ADS_1
Setelah perdebatan panjang antara Agam dengan Leon, akhirnya Agam dan Fuji bisa berangkat setelah Fuji mengeluarkan teriakan emasnya yang langsung membuat mereka berdua kicep dan menuruti semua perintah Fuji.