
Sejak hari itu Fuji menepati janjinya untuk menjauh dari Damar, sementara Damar merasa hidupnya semakin berkurang sejak Fuji menjauhinya.
"Elo di sini, gue nyariin lo dari tadi tau, tau nya Lo nangkring di sini." Fuji berkata kepada laki-laki yang tengah di carinya.
"Ngapain."
"Bawa gue ke tempat kemarin lagi dong, gue belum puas di sana udah lo minta pulang aja.
"Nanti pulang sekolah."
"Elo janji ya, awas lo bohong gue patahin tu pala lo."
"Ndeee iyo cek den pakak kau mah." ujar Agam dengan menggunakan bahasa minangnya.
"Lo bisa ngomong minang juga." tanya Fuji dengan antusias saat mengetahui bahwa Agam juga berbicara bahasa minang.
"Kenapa." tanya Agam.
"Ehh nggak papa, ya gue kaget aja lo bisa ngomong minang, gue pikir Lo bukan keturunan Minang gitu."
"Siapa bilang gue bukan keturunan Minang."
"Haa." cengo Fuji.
"Gue juga punya garis keturunan Minang."
"Maksud lo."
"Ibu gue orang Minang asli dan ayah gue baru orang luar."
"Jadi lo bisa ngomong bahasa minang."
"Ya bisalah, gue gede di sana, lagian gue di sini juga ikut bokap gue ."
"Terus nyokap lo." tanya Fuji.
"Nyokap gue udah meninggal waktu gue umur tiga taun."
"Ow maaf, gue.. nggak bermaksud buat bikin lo sedih."
"Tenang aja."
"Terus Lo nggak ada niat gitu buat kunjungi saudara Nyokap lo.
"Ada tapi nanti.''
"Kapan."
"Kalau gue udah ada calon."
"Calon apa." tanya Fuji.
"Calon istri lah bego."
"Ooo, gue kira calon apaan." Kata Fuji.
.
.
Sepulang sekolah, semua siswa berkerumun untuk keluar dari kelas mereka.
"Agam." Panggil Fuji yang melihat Agam sudah duduk manis di atas motornya.
"Berisik. suaro lo kayak toa mesjid nyaring amat, pecah gendang telinga gue nanti."
__ADS_1
"Lo nggak berencana untuk tinggalin di gue."
"Ck, ya udah naik." ujar Agam.
"Oke." jawab Fuji yang langsung naik ke motor Agam yang di bantu tangan Agam karna tinggi motor Agam yang tidak setara dengan tubuh mungil Fuji.
"Ni motor tidak bisa di serendah apa, tinggi itu nggak nyampe gue." sarkas Fuji menggerutu.
"Diem."
"Ck, gitu aja sewot kayak cewek datang bulan lo tau nggak."
"Mau jalan nggak nih, berisik mulu kayak ibu-ibu penggosip."
"Ya ayo jalan, ngapain masih di sini."
"Pegangan."
"Lo mau modis ya sama gue."
"MODUS BUKAN MODIS BEGO." jawab Agam yang telah kehilangan kesabaran, menghadapi sikap Fuji tanpa mereka berdua sadari, Damar menahan ketidaksukaannya ketika dia melihat Fuji boncengan dengan pria lain.
Gladis yang melihat Damar terus memperhatikan Fuji membuatnya emosional, lagi-lagi Fuji.
"Dam, lo liat siapa." kata Gladis, yang sudah dalam keadaan marah saat Damar terus memperhatikan Fuji.
"Ehh tidak ada siapa-siapa, pulang sekarang." tanya Damar.
"Ayo." jawab Gladis.
*Liat aja lo Fuji, gue akan membuat semua orang menjauh dari lo.*batin Gladis terlihat penuh kebencian terhadap Fuji yang selalu dikelilingi oleh orang-orang baik.
"Dam." panggil Gladis.
"Tadi kamu liat Fuji sama Agam."tanya Gladis.
"Kenapa."
"Kamu cemburu ya."ujar Gladis.
"Aku cemburu,hahahah ya nggak lah. Ini kan yang aku mau, dia jauhin aku. Buat apa juga aku cemburu, aku nggak ada rasa sama dia kok."
"Kamu serius, tapi kok tadi kamu kayak marah dia deket sama Agam."ujar Gladis.
"Nggak usah bahas dia bisa."ujar Damar.
"Oww, oke."
.
.
"Lo abis darimana Dek, kok baru pulang jam segini."tanya Lintang yang tak sengaja berpapasan dengan Fuji di ruang tamu.
"Ehh ada lo bang, gue abis nenangin diri."
"Lo ada masalah , pake nenagin diri segala, gaya lo."
"Biasa la bang, masalah percintaan gue."ujar Fuji yang selalu terbuka dengan kedua abangnya tentang masalah asmaranya begitu juga dengan kedua abangnya.
"Damar lagi."
"Hmm."
"Lo di apain lagi sama dia, biar gue tabok tu pala jigong, bisa-bisanya dia bikin adek kesayangan gue galau kayak gini."
__ADS_1
"Nggak usah lebay deh, gue yang patah hati aja biasa aja kenapa elo yang lebay sih bang."
"Gaya elo, nanti di kamar lo nangis darah."
"Idih, itu dulu ya, sekarang gue udah sadar kali kalau masih banyak cowok di dunia. Bahkan yang jauh lebih baik dari dia juga banyak kayak Ag.."ujar Fuji yang langsung sadar danĀ berenti bicara.
"Ag siapa, lo lagi deket sama cowok ya."
"Dih kepo, udah ah gue mau ke kamar dulu, capek, bye abangku."ujar Fuji yang ngacir ke kamarnya.
.
.
"Dasar gadis bodoh, masa ngurusin tikus kecil kayak dia aja kamu nggak bisa, dasar nggak berguna."ujar seorang wanita pada seorang gadis yang terduduk sambil menangis.
"Aku udah coba segala cara Mah, dia nya aja yang banyak di kelilingi orang-orang baik."ujar gadis itu menjawab perkataan Mama nya.
"Pake otak nya dong, biar rencananya berhasil."ujar wanita dengan kasarnya.
"Iya Mah."jawab gadis itu pasrah.
*Ini semua gara-gara lo, gue bakalan bales ini semua, lo harus ngerasain apa yang gue rasain dasar gadis brengsek.*sarkas gadis membatin.
.
.
Di pagi hari yang cukup cerah, banyak sekali muda-mudi yang melakukan olahraga pagi karna hari ini hari minggu, yang membebaskan bagi mereka semua untuk menikmati hari libur sebelum besoknya kembali ke rutinitas seperti biasa.
Sama hal nya dengan Fuji yang tengah melakukan joging keliling komplek perumahannya di temani kedua abang dan kedua adik kembarnya.
"Bang istirahat dulu yok, capek nih."ujar Fuji.
"Istirahat di sana aja, ada bangku kosong tuh."tunjuk Lintang pada bangku kosong di bawah pohon.
"Oke deh."jawab Fuji yang langsung berlari dan langsung duduk di sana.
"Hufftt, capek juga ya lari keliling komplek ini, mana luas banget lagi."gerutu Fuji.
"Namanya juga olahraga Kak, ya pasti capek la, kalau nggak capek nggak olahraga namanya, gitu aja nggak tau."ujar Leon.
"Tau apa lu bocah."ujar Fuji yang tak pernah akur dengan adik bontotnya itu beda lagi dengan Leo, yang dingin sama seperti Langit yang sangat irit bicara.
"Kalian bisa nggak sehari aja nggak usah ribut, pusing gue liat lo berdua ribut terus."ujar Lintang.
"Tuh dia yang mulai kok."ujar Fuji yang tak mau di salahkan.
"Lah kok gua sih, elu kali kak, jangan salahin gue dong."
"Ehh, gue itu yang tua dari elu ya, jangan ngelawan elu sama gue, mau gue kutuk lo jadi kuda laut haa."
"Dih gue nggak takut, tua beberapa bulan aja songongnya minta ampun, apalagi kalau tua nya lebih dari setaun, udah terbang lo kali yak."ujar Leon yang tak mau mengalah dari Fuji.
"Berani lo sama gue."ujar Fuji yang sudah menyingsingkan lengan baju ke atas begitu juga dengan Leon.
"Ribut kalian di sini gue tendang kalian ke kandang macan punya Papa."ujar Langit dingin yang langsung membuat mereka berdua diam karna mendengar ucapan Langit.
"Wiss, ngeri cok."gumam Fuji.
"Kayak malaikat maut lu bang."gumam Leon.
.
.
__ADS_1