IBU TIRIKU KORBAN IBU TIRINYA

IBU TIRIKU KORBAN IBU TIRINYA
Mandul


__ADS_3

Raut sedih terlihat di wajah Laras,dan berlinanglah airmata Laras.Melihat itu Hasan langsung mengira bahwa lamarannya akan ditolak.Terdengar Laras bicara.


"Apa Mas tahu,kalau aku sudah pernah menikah?",tanya Laras.


"Saya tahu dari Arif",jawab Hasan.


"Tapi apa Mas tahu kenapa saya bercerai,dan kenapa saya gagal membina hubungan lagi?",tanya Laras lagi.


"Itu saya tidak tahu,kalau boleh tahu,apa penyebabnya?"tanya Hasan.


"Saya bukannya tak ingin menerima lamaranmu,tapi justru itu yang aku takutkan.Alasan kegagalan pernikahanku dikarenakan tidak memungkinkan aku untuk memiliki keturunan,saya mandul",jawab Laras sambil airmata menetes deras di pipinya.


*Mandul?",Hasan kaget mendengar jawaban itu.


"Iya Mas,aku mandul,saya tahu kamu sudah memiliki 4 orang anak,tapi bukannya tidak mungkin kamu juga menginginkan keturunan dari saya.Jadi lebih baik Mas cari wanita lain saja",lanjut Laras.


Mendengar itu,Hasan langsung terdiam.Dalam hatinya berkecamuk perasaan yang tak karuan.Entah apa yang harus dikatakan pada Laras,benar-benar buntu.Namun ditengah keheningan itu,Laras berbicara lagi.


"Aku sangat berharap bisa menikah lagi,memiliki keluarga lagi,tapi dengan kekuranganku ini membuat aku tak mungkin membina rumah tangga lagi.Jika ada yang ingin menikah denganku,Dia jangan berharap bisa mendapat keturunan dariku.Aku butuh suami yang benar-benar menerima aku apa adanya.Aku tak mau alasan yang sama membuat aku kehilangan keluarga lagi",panjang lebar Laras menjelaskan.


"Maafkan saya,jika pembicaraan ini membuat kamu sedih.Sebenarnya saya sendiripun belum mampu menerima kehilangan Istri saya,hanya saja yang saya pikirkan sekarang ini adalah anak-anak kami.Saya ingin menikahi Laras pun,bisa dibilang hanya seperti memanfaatkanmu saja.Saya hanya butuh kamu demi anak-anak saja,ya walaupun pada akhirnya ya demi Saya juga.Saya butuh pendamping dalam mengurus anak-anakku,saya akui saya tak mampu menghandel mereka sendirian.Meski terkesan seperti itu,saya sangat berharap Laras mau menerima lamaran saya,tolonglah saya,bantulah saya",kata Hasan.


"Lalu bagaimana dengan kekurangan saya?",tanya Laras.


"Jika itu yang Laras takutkan,saya berjanji tidak akan mengungkit masalah itu.Jika kamu tidak percaya pada janji saya,kamu boleh tanya Arif.Dia tahu bahwa saya selalu memegang janji yang saya ucapkan",Hasan mencoba meyakinkan Laras.


"Baiklah,jika Mas Hasan mau menerima kekurangan saya,saya menerima lamaranmu",ucap Laras.


"Lebih baik dipikirkan dulu,aku juga tak mau nanti Laras menyesal sudah menerima lamaran saya.Jangan terburu-buru yah,karena menikah denganku,itu berarti kamu langsung menerima beban sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anak yang bukan lahir dari kandung Laras",Hasan meminta agar Laras memikirkannya.


"Baiklah,akan saya pertimbangkan lagi,tapi seandainya saja saya berubah pikiran,apa tidak apa-apa?",tanya Laras.


"Tidak,apapun keputusannya nanti,saya akan menerimanya",jawab Hasan.


"Terima kasih,Mas",ucap Laras.


"Saya yang seharusnya terima kasih,apalagi hari ini kamu harus lelah membuat putri saya bahagia",ucap Hasan.


"Oh,tidak apa-apa,justru saya pun terbawa suasana,seolah saya sedang mengasuh putri saya sendiri.Tanpa sadar sejenak saya bisa melupakan kehidupan pribadi saya,dengan kata lain saya pun ikut bahagia",jawab Laras.


"Ya sudah mari saya antar kamu kembali ke Panti,ini sudah mau menjelang malam",ajak Hasan.


"Ah iya,saya duduk dibelakang lagi untuk menjaga Irma",sahut Laras.


"Baiklah,terima kasih",ucap Hasan.


Sepanjang perjalanan pulang,mata Laras hanya tertuju pada si kecil Irma yang tertidur pulas.Hanyalah perasaan bahagia yang kini ada dihatinya.Ketika menjelang sampai di Panti,Irma terbangun,matanya langsung tertuju pada wajah Laras yang sedang memandanginya.


Tiba-tiba saja si kecil itu bicara,"Tante ikut Irma pulang aja,temenin Irma di rumah!".


"Hm,Irma ingin Tante ikut Irma?",tanya Laras sambil tersenyum.


"Iya,Tante baik seperti Bunda",ucap Irma.

__ADS_1


"Iya nanti kita ajak Tante Laras main lagi ya,sekarang Tante Laras harus pulang dulu",ucap Hasan.


"Irma pengen selamanya sama Tante,Tante gak usah pulang lagi ke rumah Tante,pulangnya ke rumah Irma aja.Irma punya banyak mainan sama boneka,kita bisa main sepuasnya",rupanya Irma sudah sangat menyukai Laras.


Mendengar ucapan itu,Hasan sudah tak mampu lagi menjawab celotehan Irma.Mengerti situasi itu,Laras berbicara pada Hasan,dan tiba-tiba saja...


"Mas,sepertinya aku tak perlu berfikir lagi,aku menerima lamaranmu,lagipula sepertinya anakmu ini membutuhkan aku",ucap Laras dengan penuh keyakinan.


"Benarkah?,kamu yakin?",Hasan kaget mendengarnya.


"Iya,aku yakin",jawab Laras.


"Syukurlah kalau kamu sudah yakin",ucap Hasan.


"Kalau begitu,besok aku akan ke Panti lagi,untuk menentukan hari pernikahan kita",lanjut Hasan.


"Iya,Mas",jawab Laras.


"Maukan Tante,ikut ke rumah Irma",tanya Irma.


"Iya,tapi nanti,bukan sekarang",jawab Laras.


"Hore,janji ya",Irma begitu gembira mendengar jawaban Laras.


Sesampainya di Panti,Arif sedang ada diluar menunggu kedatangan mereka.


"Ah,akhirnya kamu pulang juga",ucap Arif.


"Maaf,Kak",Laras meminta maaf.


"Ya sudah,gak apa-apa,gimana,apa kalian sudah membicarakannya?",tanya Arif.


"Sudah,Kak",jawab Laras.


"Syukurlah",ucap Arif.


"Kami sudah bicara dan aku sudah melamar Laras,dan termyata Laras sudah memberikan jawabannya langsung",Hasan menjelaskan.


"O ya?,lalu apa jawabannya?",Arif penasaran.


"Aku menerima lamarannya,Kak",Jawab Laras.


"Syukurlah,saya bahagia mendengarnya",Ucap Arif.


"Terima kasih,Rif",ucap Hasan.


"Terima kasih apa,aku tak melakukan apa-apa ko",Arif menepis ucapan Hasan.


"Ya semua in berkat saranmu",kata Hasan.


"Ya aku cuma memberi saran,semuanya tetap kalian yang memutuskan",jawab Arif.


"Jadi mulai hari ini kalian pacaran?",lanjut Arif.

__ADS_1


"Sepertinya kami tak perlu pacaran lagi,kami sepertinya sudah melewati masa itu dulu bersama pasangan kami terdahulu",jawab Laras.


Hasan merasa heran,lalu Dia bertanya,"Kamu yakin tak ingin melalui masa seperti itu lagi?,ya memang kita sudah pernah merasakan hal seperti itu,tapi kamu juga masih muda,mungkin kamu juga perlu pengenal aku dan anak-anakku lebih baik lagi".


"Iya benar kata Hasan,jangan sampai kamu menyesalinya nanti".timpal Arif.


"Untuk apa,Kak,Mas,toh masa pacaran tidak membuat aku mengenal pasanganku,aku baru tahu semua tabiat pasanganku setelah menikah.Dia hanya melihat semua kelebihanku,disaat Dia tahu kekuranganku,Dia langsung mengembalikanku kesini."Laras menjelaskan sambil tertunduk menahan rasa sedih.


"Lagipula,Mas Hasan sudah mau menerima kekuranganku dan aku sudah siap menerima kekurangan ataupun kelebihan Mas Hasan dan anak-anaknya.Apapun yang terjadi,Aku akan berusaha menganggap mereka anak-anakku seperti anak kandungku sendiri.Karena Aku tak mungkin memiliki darah dagingku sendiri",lanjut Laras.


"Apa maksudmu dengan tidak mungkin punya anak?",tanya Arif.


"Alasan Mas Andri menceraikan Aku,karena Aku mandul,Kak",jawab Laras sambil berlinang air mata.


"Apa...?",alangkah kagetnya Arif setelah mengetahui jawaban Laras,Dia baru mengetahuinya sekarang mengapa Laras bercerai dengan Suaminya dulu.


"Memangnya kamu tak mengetahuinya,Rif?",tanya Hasan.


"Aku baru tahu sekarang,sungguh,kalau saja Aku tahu,mungkin saja Aku juga tak berani memberimu saran",jawab Arif.


"Apa beberapa orang yang dulu pernah dekat denganmu juga kamu beritahu tentang ini?",tanya Arif lagi pada Laras.


"Iya,Kak,dan mereka langsung tak menemuiku lagi,bahkan mereka juga menghentikan donasi pada panti",jawab Laras sambil tak henti menyapu airmata yang berlinang dipipi.


"Kenapa kamu pendam rasa sedihmu ini?,setidaknya kamu bisa cerita pada istriku agar beban hatimu sedikit ringan",tanya Arif.


"Apa benar-benar tidak ada yang tahu tentang masalah kamu,Ras?",tanya Hasan.


"Gak ada,Mas,lagipula aku tak mau semua orang melihat aku seperti wanita cacat,mungkin sebagian akan simpati,tapi mungkin sebagian akan menggap aku wanita yang seharusnya tak ada di dunia",kembali airmata mengalir lagi.


"Ya sudahlah,yang sudah terjadi biarlah terjadi,yang penting mulai hari ini kamu akan mulai melalui hidup baru bersamaku",ucap Hasan.


"Apa kamu serius akan menerima Laras apa adanya?",tanya Arif pada Hasan.


"Aku sudah mengatakan pada Laras,aku akan menerimanya,dan Laras pun bersedia menerima aku,meskipun aku masih belum bisa melupakan mendiang Istriku",jelas Hasan.


"Jika begitu syukurlah,aku mohon jaga Adikku ini",kata Arif.


"Aku akan berusaha menjaganya",jawab Arif.


"Oh ya Mas,kamu bicarakan dulu dengan keluargamu.Maksudku Orangtuamu,anak-anakmu dan juga keluarga mendiang istrimu!",Laras mengingatkan Hasan.


"Tentu,aku akan membicarakannya dengan mereka,kecuali keluarga mendiang istriku",jawab Hasan.


"Kenapa?,apa hubungan kalian tidak begitu baik?",tanya Laras.


"Mendiang istriku sebatang kara sejak kecil,makanya Dia berharap punya banyak anak,agar anak-anak kami bisa memiliki tetap memiliki saudara meski kami sudah tiada,tidak seperti kami yang cuma anak tunggal di keluarga kami.Dan ternyata Tuhan mewujudkan impian kami dengan memberi kami 4 orang anak",jelas Hasan.


"Oh begitu,ya sudah ini sudah malam,lebih baik kamu pulang,kasian juga Irma",Laras menyuruh Hasan pulang.


"Baiklah,kamu juga istirahat,jangan kamu pikirkan lagi tentang masa lalu kamu",Hasan menasehati.


"Rif,aku pamit",kata Hasan pada Arif.

__ADS_1


"Ya,hati-hati di jalan",kata Arif.


Akhirnya Hasan meninggalkan Laras dan Arif yang masih berdiri di depan panti.


__ADS_2