
Seminggu kemudian Hasan kembali mendatangi panti,Hasan sengaja menjemput Laras.Hasan berencana mengajak Laras untuk bertemu anak-anak Hasan yang lain dan juga ingin mengenalkan Laras pada kedua orangtua Hasan.Sesampainya di Panti,Hasan langsung menemui kepala Panti untuk meminta izin membawa Laras.Setelah mendapat izin,Hasan langsung membawa Laras menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah,Hasan lalu memanggil ketiga anaknya yang sedang ada di kamarnya masing-masing.Setelah mereka berkumpul,Hasan memulai percakapan.
"Kalian tidak ada yang membantu Bu Dewi?",tanya Hasan pada ketiga anaknya.Dewi adalah asisten rumah tangga Hasan.Dewi ini sudah dianggap keluarga,bahkan bagi mendiang Istri Hasan,Dewi ini sudah seperti adiknya.
"Aku lagi ada tugas Sekolah,Pah",Jawab Dina.
"Kamu,Citra,sedang sibuk apa?,sedang sibuk cari kosmetik keluaran baru?,",Tanya hasan pada anak sulungnya.
"Tau aja,Papahku emang pengertian",sambil nyengir.
"Bantuin dong Bu Dewi,kasian Dia harus mengerjakan segalanya sendiri",Kata Hasan dengan sedikit menasehati.
"Ah Papah,itu semuakan pekerjaan Dia,lagian kalau Aku bantuin,bisa rusak tanganku".Jawab Citra.
"Ah Kamu,kalau dikasih tahu jawab melulu,terus kamu Bayu?",Akhirnya Hasan bertanya pada Bayu.
"Aku baru datang,habis joging",jawab Bayu.
"Kalian satupun gak ada yang bantuin beres-beres rumah?".Hasan bicara dengan sedikit kesal.
Namun kemudian Dina bertanya,"Pah,ini siapa?".
Hasan baru sadar,kalau ada Laras bersamanya,"Ah iya,Papah lupa memperkenalkan kalian.Ini Laras,Laras kenalkan ini Citra,Bayu dan Dina,anak-anak saya".
"Saya Laras",ucap Laras,sambil bersalaman dengan Citra.
"Buset,ni tangan atau ampelas kayu?,kasar banget",tanya Citra.
"Jaga bicara Kamu,yang sopan!",Hasan sedikit meninggikan suaranya.
"Bener kok,coba aja!".Jawab Citra.
"Papah sudah tahu",ucap Hasan.
Setelah bersalaman,mereka pun duduk.Hasan memulai pembicaraan.
"Nah kalian kini sudah saling kenal,Papah akan menjelaskan kehadiran Laras di rumah kita",ucap Hasan.
"Apa Mba Laras mau bekerja disini?",tanya Bayu.
"Ya bagus deh,jadi Bu Dewi gak kelabakan",timpal Citra.
"Bukan,Laras...".Jawab Hasan,namun ucapan terpotong oleh Dina.
"Lalu mau apa,Mba Laras disini?",tanya Dina.
"Makanya dengarkan dulu,jangan ada yang bicara!",Hasan agak kesal menjawabnya.
"Ya udah,kami akan diam",jawab Citra.
__ADS_1
"Ya sudah,Papah Lanjutkan.Sebenarnya sudah beberapa hari Papah ingin bicara pada kalian,tapi Papah pikir lebih baik jika Laras juga ada disini.Sekalian supaya kalian mengenal langsung orangnya",Hasan mulai menerangkan alasan kehadiran Laras.
"Lalu apa hubungannya dengan kami?",tanya Bayu.
"Ya sebenarnya tanpa bicara dengan kalian dulu,sebenarnya Papah bisa langsung melakukannya.Tapi ya apa salahnya jika Papah bicara dulu dengan kalian",lanjut Hasan.
"Sebenarnya apa sih pointnya,kenapa terasa bertele-tele begini sih,Pah?".tanya Citra.
"Baiklah Papah akan langsung saja bicara pada pokoknya.Kita tahu bahwa Bunda kalian baru saja meninggal,hari demi hari terlihat seperti tidak terkendali dan kacau balau.Semua serba tidak teratur,baik kalian ataupun keadaan rumah ini.Kalian seperti kehilangan arah dan jujur ternyata yang semula Papah anggap akan bisa kita lalui tanpa adanya Bunda kalian,ternyata tidak semudah yang Papah pikir.Papah tak sanggup menjalani ini sendiri,terlebih melihat adik kalian Irma,hati Papah merasa sedih,Dia seperti kehilangan sosok yang bisa mendampingi Dia,menemani Dia dan menyayangi Dia.Memang benar disini ada Bu Dewi dan Pengasuh,tapi mereka cuma kalian anggap pekerja saja,bukan keluarga",ungkap Hasan.
"Lalu?",ucap Citra.
"Iya,Pah,apa maksud Papah?",tanya Dina.
"Oleh sebab itu,Papah berniat dan akan menikah lagi dalam waktu dekat",akhirnya Hasan mengatakan.
Mendengar itu,spontan saja ketiga anak Hasan itu kaget dan spontan bicara,"Menikah..?",ucap ketiganya.
"Iya,kami akan menikah",jawab Hasan.
"Apa gak salah,kita baru kehilangan Bunda,kita masih berduka,Pah",Ucap Citra.
"Ya,kita memang masih berduka,terlebih Papah.Hanya saja kalian seperti kehilangan sosok seorang Ibu,makanya Papah memutuskan untuk menikah lagi,agar kalian lebih terurus.Lagipula Laras adalah wanita yang Papah pikir bisa membimbing kalian",Hasan mencoba menjelaskan.
"Enggak,Pah,Aku gak mau punya Ibu Tiri,jangan-jangan,Irma malah jadi korban pertama Dia.Seperti biasa,di depan Papah pura-pura baik,dibelakang Papah,Dia pasti melakukan sesuatu yang jahat".itulah penolakan Dina.
"Saya tahu,kalian akan berpikir seperti itu,tapi saya janji,saya tidak akan melakukan semua yang kalian takutkan",Laras mencoba meyakinkan anak Hasan.
"Diam!,Gue lagi bicara dengan Papah Gue,Lu gak punya hak bicara,apalagi pake ngerayu segala.Lu dapat info dari siapa sih kalau Papah Gue seorang Duda",bentak Citra.
"Maaf,Pah,aku juga gak setuju,lagipula kami sudah besar dan bisa mandiri",ucap Bayu.
"Tapi dimata Papah tidak seperti itu,semuanya tidak seperti yang kamu katakan,baiklah kalian bertiga memang sudah besar,sudah dewasa,tapi bagaimana dengan Irma?.Dia masih kecil,masih butuh kehangatan seorang Ibu.Memang ada pengasuh Irma,tapi Dia hanya sekedar bekerja dengan baik saja".Hasan memberikan penjelasan .
"Enggak,Pah,dengan alasan apapun,Aku gak akan menerimanya",ucap Citra.
"Iya,Pah.Apa mungkin Papah sudah melupakan Bunda?,sehingga begitu saja ingin mengganti Bunda",Wajah Dina terlihat sedih.
Mendengar itu,Hasan tersenyum dan berkata,"Kamu itu ngomong apa,Nak,tak ada yang bisa menggatikan Bunda di hati Papah.Bunda kalian adalah Wanita yang penuh kesempurnaan".
"Kalau begitu,aku mohon Papah jangan menikah lagi",ucap Dina.
"Alasan Papah menikah lagi,justru karena kalian.Semua demi kalian".
"Jadi Papah tetap akan menikah?,meski kami menolak?",tanya Bayu.
"Benar",Hasan menjawab dengan halus.
"Kayanya percuma kami memohon sama Papah,sepertinya Papah udah kena pelet,sampai sebegitu kuatnya ingin menikah lagi",Kata Citra.
"Maaf,saya tidak pernah melakukan hal seperti itu,lagi pula kami baru saja saling kenal",ucap Laras sambil tersenyum.
__ADS_1
"Alah,yang gituan gak perlu nunggu tahunan kali,sekali liat juga langsung kecantol",Citra bicara dengan sangat kasar.
"Citra,Papah mohon,tenanglah.Kita bicara dulu baik-baik",pinta Hasan.
"Maaf,Pah,aku bukannya mendukung Kak Citra,tapi aku tak mau punya Ibu Tiri.Aku gak kepikir bakalan punya Ibu Tiri",Dina pun bicara lagi.
"Iya,Pah,Bayu mohon pertimbangkan lagi!",ucap Bayu.
"Maafkan,Papah mengajak Laras kesini,tujuannya agar kalian saling mengenal lebih dulu.Tadinya Papah berharap kalian akan mengerti,dan berharap kalian bisa menerimanya,tapi ternyata tidak sesuai yang Papah harapkan.Namun apapun alasan penolakan kalian,keputusan Papah sudah bulat,kami tetap akan menikah",Hasan tetap pada pendiriannya.
"Oh begitu,silahkan saja,silahkan Papah menikah lagi,tapi di hari Papah menikah,kami akan pergi dari rumah ini",Ancam Citra dengan penuh amarah.
Mendengar itu,Laras mencoba menenangkan Citra,"Citra...,tidak perlu seperti itu,kita hanya belum saling mengenal saja,sehingga kamu tidak mau menerima saya.Kalian hanya takut akan sesuatu yang belum kalian lalui.Nanti jika kita sudah bersama menjadi keluarga,kalian akan benar-benar mengenal saya",
Namun tanpa diduga,ucapan yang lebih kasar dari Citra,tiba-tiba terdengar sangat menyakitkan di telinga Laras",Apa hak Lu bicara?,siapa yang suruh Lu bicara?,Lu gak punya hak apa-apa disini.Lu ngaca dikit,Lu gak ubahnya seperti ******* yang merayu Om-om kesepian".
Dada Laras terasa mendadak seperti tertabrak sesuatu,langsung terasa sesak.Dan Hasan,demi mendengar kata-kata anak sulungnya itu,langsung membentak Citra,"Citra!,sejak tadi Papah sudah mencoba bersabar,tapi makin kesini ucapanmu makin keterlaluan.Kamu jangan seenaknya menghina orang.Cepat minta maaf!".
"Kalian liat kan?,belum jadi Istri Papah saja,Papah langsung belain Perempuan ****** ini",Rupanya Citra benar-benar kehilangan akalnya.
"Papah bilang,cepat minta maaf pada Laras!",perintah Hasan.
"Iya Kak,lebih baik minta maaf dulu,ucapan Kakak emang kasar banget",Bayu mengingatkan Citra.
0
"Nggak,Aku gak akan minta maaf.Papah mau menghukumku?,terserah.Aku gak takut,dan aku tetap tidak akan menerima perempuan ****** ini di rumah ini",Tantang Citra.
"Oh jadi kamu menantang Papah?,baiklah kalau begitu....",Kata-kata Hasan terhenti,ketika terdengar suara Laras.
"Mas,Saya mohon hentikan pembicaraan ini,Saya tidak mau melihat pertengkaran kalian Ayah dan Anak,mungkin mereka benar,kita harus memikirkan lagi rencana pernikahan kita",ucap Laras.
"Ngapain dipikirin lagi,batalin aja,cari aja laki-laki lain,yang bisa bayar gede.Gak usah ngimpi pengen jadi nyonya di rumah ini",Hinaan terus mengalir dari mulut Citra.
"Benar-benar gak bisa jaga mulut,terus saja menghina orang",Hasan bicara dengan penuh emosi.
"Kak,udah hentikan dulu dong,kalau kaya gini,gimana kita bisa bujuk Papah!",Dina mencoba menghentikan ucapan Citra.
"Diem Lu dekil,kalau Papah beneran mikirin anaknya,harusnya batalin donk.Jangan mentang-mentang Dia orangtua kita,egois banget",Citra tak menghiraukan kata-kata Dina.
"Egois?,menurut kamu Papah egois?,baiklah kalau begitu,jadi kita tak perlu melanjutkan pembicaraan ini.Percuma kita lanjutkan.",Ujar Hasan.
"Ya iyalah,lagian Papah sembarangan mungut perempuan gak jelas dari pinggir jalan",Lagi-lagi Citra mengeluarkan kata-kata hinaan.
"Cukup,jangan bicara lagi!,kalian menerima atau tidak,kami tetap akan menikah.Kalian mengancam ingin pergi,silahkan saja.Kalian bilang,kalian sudah besar dan mandiri silahkan.Ayo,Ras kita menemui orangtuaku!.Maafkan anak-anakku,sepertinya kami gagal mendidik anak kami,entah belajar dari mana,bisa dengan berani menghina orang",Akhirnya Hasan mengakhiri pembicaraan sambil mengajak Laras.
"Gak apa-apa,Mas,tapi..."jawaban Laras tiba-tiba dipotong Citra.
"Alah gak usah so baik hati deh,Lu senengkan akhirnya berhasil merayu Papah,dan jadi nyonya dirumah ini.Tapi jangan harap kami akan membiarkan perempuan hina seperti Lu bisa ....",Omongan Citra pun terhenti.
"Diam!!!!!",Bentak Hasan dengan suara keras,saking kerasnya,ketiga anaknya sampai terkesima,mereka kaget bukan kepalang,ini pertama kalinya mendengar Ayah mereka membentak.
__ADS_1
"Ayo,Ras",ajak Hasan.
Hasan dan Laras pun meninggalkan anak-anak Hasan yang masih terkesima.Hasan dan Laras lalu menuju rumah orangtua Hasan sambil membawa Irma.Saat percakapan antara Hasan,Laras dan Anak-anak,Irma dititipkan pada Dewi dan bermain di luar rumah,sehingga tidak mengetahui kejadian itu.