IBU TIRIKU KORBAN IBU TIRINYA

IBU TIRIKU KORBAN IBU TIRINYA
Restu....


__ADS_3

Sementara itu setelah meninggalkan ketiga anaknya,sesuai dugaan Dina,Hasan memang pergi menuju ke rumah orangtua Hasan.Rencananya Hasan dan Laras ingin meminta restu dari orangtua Hasan.Sepanjang jalan mereka mengobrol,sedangkan Irma asik duduk di pangkuan Laras dengan nyamannya,seolah dipangku Ibu kandungnya.Mereka membicarakan yang terjadi baru saja di rumah Hasan.


"Aku minta maaf atas sikap anak-anakku,mungkin kamu berpikir kami kurang dalam mendidik anak-anak kami",Hasan merasa malu atas sikap anak-anaknya.


"Gak apa-apa,Mas,aku mengerti ko,karena aku pernah diposisi mereka",kata Laras.


"Maksudmu?",Hasan sedikit kaget dengan yang dikatakan Laras.


"Ya,aku pernah berada diposisi mereka,posisi dimana aku tidak suka dengan kehadiran wanita lain yang menurutku dan mereka akan membuat Ayah kami akan melupakan Ibu kami.Dengan kata lain kami juga takut,kasih sayang Ayah kami akan tertumpah pada wanita baru tersebut.Belum lagi rumor tentang buruknya Ibu Tiri,membuat kami berusaha keras menolak kehadiran Ibu baru",jelas Laras.


"Yah tak dipungkiri,Aku pun berpikir seperti itu,Aku takut wanita yang aku nikahi,memiliki sifat dan sikap seperti Ibu Tiri yang diketahui banyak orang.Tapi aku yakin,kamu tidak akan seperti itu.Berharap seandainya Anakku belum bisa menerimamu,kamu mau dan sanggup bersabar dengan mereka",ucap Hasan.


"Tentu,Mas,aku akan berusaha sekuat mungkin,agar mereka bisa menerima Aku bersama kalian",jawab Laras.


"Oh ya,Mas,aku baru terpikir,bagaimana jika orangtuamu tidak merestui kita?",Laras melanjutkan pembicaraan.


"Kenapa kamu berpikir begitu?",Hasan balik bertanya.


"Ya aku kan bukan dari keluarga berada,dan aku yakin Orangtuamu bukan dari kalangan seperti kami",Jawab Laras.


"Oh,orangtuaku memang bisa dibilang masih keluarga ningrat,apa yang mereka katakan,kita harus nurut.Ya kalau mereka tak merestui,ya kita gak jadi nikah",kata Hasan.


"Hmm,mungkin aku harus bersiap mental donk,siapa tau mungkin beliau juga akan bicara seperti Citra.Beliau juga mungkin tak mau punya menanti dari kelas bawah seperti aku",wajah Laras terlihat khawatir.


Sebentar Hasan melihat wajah Laras yang terlihat tak tenang,lalu Hasan bicara lagi.


"Kamu gak usah takut seperti itu,orangtuaku bukan type orang yang akan benci atau tidak suka pada seseorang karena status sosialnya,malah Aku sejak kecilpun diajari untuk menghormati siapapun,dan itupun kami ajarkan pada anak-anak kami",Jelas Hasan.


"Benarkah?",tanya Laras.


"Benar,makanya Aku membawa kamu pada anak-anak,karena Aku pikir akan mudah berbicara pada mereka,tapi ternyata tidak sesuai dengan yang aku pikirkan.Sikap Citra memang berbeda dengan adik-adiknya,tapi Aku tak menyangka Dia bisa bicara seburuk itu",Hasan menjelaskan lagi.


"Apa anak-anak tidak akan mengadu pada Beliau?",tanya Laras lagi.


"Pastilah,kita pergi sebentar,mereka gak akan buang waktu,langsung telpon sama Eyang mereka",jawab Hasan.


"Itu berarti ada kemungkinan,orangtua kamu akan menolak kehadiran aku",kata Laras.


"Kenapa kamu mendadak banyak yang dipikirkan?,sebelumnya kamu seperti sangat yakin semuanya akan lancar?",tanya Hasan.


"Itu dia,Mas,kejadian tadi membuat Aku memikirkan hal itu.Tadinya hanya dengan melihat anak-anak kamu,Aku merasa bahagia sekali.Tapi melihat penolakan mereka,seolah membuat Aku tersadar,bahwa segalanya tidak akan semudah yang Aku pikir",Jawab Laras.

__ADS_1


"Termasuk mungkin orangtuaku yang akan tidak merestui karena menuruti aduan dari cucu-cucunya?",tanya Hasan.


"Iya,itu salah satunya",jawab Laras.


"Orangtuaku itu bijaksana,mereka tidak akan begitu saja mendengar dan menuruti apalagi membenarkan aduan dari siapapun.Mereka pasti akan bertanya dulu pada semua pihak,jika mereka mengatakan kita salah atau benar,itu artinya mereka sudah mengetahui permasalahan sebenarnya.Dan beliau tidak perduli siapa yang salah atau benar.Meski hanya pembantu,kalau menurut Beliau benar,Beliau akan bilang benar.Dan meski kami keluarga beliau,jika kami salah,kami akan disalahkan.Tidak dulu ataupun sekarang.Mengadu pada mereka terkadang,bahkan sering hanya buang-buang waktu saja,jika hanya sekedar ingin dibela mereka",jelas Hasan panjang lebar.


"Oh begitu",kata Laras.


"Iya,makanya dulu kalau Aku dan almarhum jika ada masalah,kami menemui mereka untuk mendapat nasehat mereka,jadinya masalah kami tidak malah tambah besar,justru dapat diselesai",Hasan menambahkan lagi.


"Syukurlah kalau begitu",Laras sedikit lega setelah mendengar penjelasan Hasan.


"Aku yakin,nanti setelah bertemu,mereka akan menyukaimu,dan kamu pun akan menyukai mereka",kata Hasan.


"Saya memang berharap seperti itu,setidaknya aku bisa lebih dekat dengan orangtuamu juga",ucap Laras.


"Syukurlah,jika kamu seperti itu,kita berdo'a saja semoga kita diberi kelancaran",kata Hasan.


"Aamiin,oh ya apa masih jauh,Mas?",tanya Laras.


"Yah kalau tidak macet,10 menit lagi sampai",jawab Hasan.


"Aku sebenarnya ingin membelikan sesuatu untuk oleh-oleh,sayangnya aku tak punya uang sedikitpun",ungkap Laras.


"Dapat,hanya saja ketika aku menerima uang,biasanya aku habiskan untuk membeli sesuatu untuk anak-anak Panti",jawab Laras.


"Padahal itu hak kamu,untuk anak Panti sudah ada jatahnya masing-masingkan?",tanya Hasan lagi.


"Iya,tapi rasanya seneng banget jika bisa melihat mereka tersenyum ceria ketika mendapat sesuatu dari Aku",jawab Hasan.


"Oh,itu sebabnya,kenapa banyak anak Panti menyukaimu?",tanya Hasan.


"Ya mungkin itu sebabnya",jawab Laras.


"Tapi setelah menikah nanti,kamu tidak perlu melakukan hal seperti itu lagi,semua biaya rumah tangga sudah ada masing-masing peruntukannya,jadi uang untuk kamu itu hanya kamu gunakan untuk keperluan kamu saja.Jika ada keperluan tambahan,kamu bicara padaku",kata Hasan.


"Akan saya coba,Mas",kata Laras.


"Kok akan coba?",tanya Hasan.


"Ya sesudah berumah tangga,segalanya belum tentu sesuai dengan rencana,apalagi urusan uang,Mas",jawab Laras sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ya terserah padamu saja,tapi sebisa mungkin bicarakan denganku",Kata Hasan.


"Iya,Mas",jawab Laras.


"Oh,iya kamu mau membelikan apa untuk orantuaku?",tanya Hasan.


"Aku sudah bilang,aku tak punya uang,Mas",jawab Laras.


"Aku yang belikan,kamu yang kasih ide,aku juga ingin membelikan sesuatu untuk mereka,tapi aku bingung mau beli apa.Dulu sih kalau mau menemui mereka,Dina yang selalu punya ide",kata Hasan.


"Oh,Dina anak kamu itu ya?",tanya Laras.


"Bukan,nama Bunda anak-anakku adalah Dina juga,dulu saat lahir anakku yang itu,kami pikir dia adalah anak bungsu kami.Istriku ingin sekali punya anak yang diberi namanya,yah Dia lah Dina.Tapi ternyata setelah sekian lama,ternyata muncul Irma",Hasan menjelaskan lagi.


"Oh begitu,itu artinya nama itu masih tetap hidup meski Istrimu sudah tiada kini",kata Laras.


"Bukan cuma nama saja yang sama,tapi karakter mereka juga mirip,Dina tidak terlalu memperdulikan dirinya,berbeda denga Citra,yang hobby pernak-pernik wanita.Dina seperti tak tertarik hal seperti itu,mungkin karena sikapnya yang tomboy dan cuek",kata Hasan.


"Mungkin suatu hari ada momen yang akan merubah hidupnya",kata Laras.


"Semoga saja,oh ya kita berenti disana dulu,mungkin disana ada yang bisa kita beli",Hasan sambil bersiap memarkirkan mobilnya.


"Iya,Mas",jawab Laras.


Setelah memarkirkan mobil,mereka pun turun.


"Irma,ayo Papah yang gendong,kasian Tante Larasnya",ucap Hasan.


"Gak mau,Irma mau sama Mamah aja",jawab Irma.


"Mamah?",Hasan dan Laras berkata berbarengan.


"Iya",jawab Irma.


"Ah,maaf,Ras,Irma...",Hasan merasa tak enak dengan Laras.


"Udah gak apa-apa,Mas,Irma biar saya yang gendong,lagian Saya udah biasa ko",kata Laras.


"Bukan itu maksudku,tapi...",Hasan coba menjelaskan.


"Iya,saya mengerti",potong Laras.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu,ayo!",ajak Hasan.


Mereka langsung masuk kedalam pusat perbelanjaan tersebut.


__ADS_2